Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Pelepasan Pertama


__ADS_3

Hari ini Ajun terlihat sangat bahagia, begitu pun dengan Gadis. Bahkan seluruh keluarga dan juga kerabat serta para tamu undangan yang hadir ikut berbahagia diacara pernikahan Ajun.


Setelah janji suci terucap, acara di lanjutkan dengan bersua foto. Semua mengantri ingin berfoto dengan dua insan yang tengah berbahagia tersebut.


Elsa yang mengagumi sosok Ajun dari dulu pun, bahkan meminta Ajun untuk bersua foto berdua saja.


Bahkan Elsa meminta Ajun untuk menggendongnya, Gia sempat melayangkan protesnya. Begitu pun dengan Gadis, dia nampak cemberut.


"Yang, jangan minta yang aneh-aneh!" tolak Gia.


"Ini keinginan Baby kita, Sayang. Masa kamu tega melihat Baby kita ileran kalau lahir nanti," ucap Elsa memelas.


Sebenarnya itu dirasa tidak beralasan oleh Gia, masalahnya Elsa tengah hamil besar. Bahkan dokter berkata jika dalam bulan ini Elsa diprediksikan akan melahirkan.


Namun, tetap saja mereka tak tega melihat wajah Bumil yang terlihat memelas itu, dan pada akhirnya Gadis dan Gia membiarkan Elsa berfoto dengan Ajun.


Ajun terlihat menggendong Elsa ala bridal style, sedangkan Elsa terlihat mengalunkan tangannya di leher Ajun. Mereka saling tatap seakan pasangan yang saling mencinta.


VB dan Dina pun turut hadir dalam acara tersebut, Dina pun tak mau kalah dengan Elsa. Dia meminta VB untuk memotretnya bersama dengan Ajun.


Ajun dududk anteng di kursi pelaminan, sedangkan Dina terlihat memeluk Ajun dari belakang. Dagunya pun dia sandarkan di pundak Ajun, Gadis terlihat kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Tuan Alfonso pun datang menghibur, dia memeluk dan menggendong putri kecilnya. Tentu saja hal itu diabadikan oleh jeperetan fotografer ternama.


Aurora dan Aurelia pun tak mau kalah, merka bahkan terlihat meramaikan pesta pernikahan Ajun, mereka bernyanyi sambil bermain musik.


Semua orang menatap kagum pada kedua anak kembar itu, penampilan mereka benar-benar sangat memukau.


Penyanyi ibu kota pun banyak yang datang untuk meramaikan acara pernikahan Ajun, Tuan Alfonso benar-benar merealisasikan ucapannya.


Dia menciptakan pernikahan termegah untuk Gadis Berliana, darah daging yang tak pernah dia tahu keberadaannya.


Dia sempat menyesal karena merasa mengabaikan Gadis, karena seharusnya dia mencari tahu dari dulu agar tak menyesal seperti ini.


Namun, dia tetap senang karena Gadis sama sekali tak menyimpan dendam padanya. Justru Gadis dengan tangan terbuka merangkul Tuan Alfonso dan langsung mengakui keberadaannya.


"Dad, sangat bahagia." Tuan Alfonso langsung memeluk putrinya.


"Aku pun, terima kasih, Daddy." Gadis mengeratkan pelukannya.


"Ehm, Dad. Jangan lama-lama, nanti aku cemburu," ucap Ajun.


"Ya Tuhan, aku Daddynya." Tuan Alfonso terlihat berdecak tak suka.


Ajun dan Gadis lalu tertawa bersama, mereka benar-benar terlihat bahagia. Hingga waktu menunjukan pukul sepuluh malam.


Acara pun telah selesai, semua tamu undangan terlihat pulang. Kerabat dan sanak saudara pun ikut pulang.


Hanya Gadis dan Ajun saja yang masih bertahan di hotel, karena mereka akan menghabiskan malam pertama mereka di salah satu kamar hotel khusus pengantin yang sudah disiapkan oleh Tuan Alfonso.


"Daddy pulang dulu," ucap Tuan Alfonso.


"Ya, Bapak juga," ucap Pak Galuh.


"Iya, Pak. Iya, Daddy," jawab Gadis.


Setelah berpamitan, kedua orang tua itu pulang ke rumah Tuan Alfonso. Sedangkan Ajun langsung menuntun Gadis untuk masuk ke dalam kamar pengantin mereka.


Saat tiba di depan kamar hotel, Ajun terlihat merogoh saku celananya. Dia mencari ID Card untuk membuka kamar hotel tersebut, sayangnya dia sudah mencari berkali-kali namun ID Card tersebut tak ketemu juga.


"Yang, ID Cardnya nggak ada," adu Ajun.


Gadis langsung menatap Ajun dengan tatapan penuh protes.


"Kok bisa sih, Om?" tanya Gadis.


"Om nggak tahu, tapi seingat Om... Daddy memberikannya kepada Om dan Om langsung memasukkannya ke saku celana," ucap Ajun.


Ajun berusaha untuk membela dirinya, karena dia pun tidak tahu kenapa ID Card itu bisa hilang.


"Ya ampun, Om. Padahal ini udah malem banget, aku udah cape. Gaunnya berat banget," keluh Gadis.


Wajah Ajun terlihat menyiratkan rasa penyesalan, namun harus bagaimana dia pun tak tahu.


"Maaf," jawab Ajun.


Gadis terlihat menghela napas berat, kemudian dia pun mengingat jika Tuan Alfonso menugaskan beberapa Bodyguardnya untuk menjaga dirinya.


"Coba telepon anak buah Daddy, minta dicarikan di Ballroom hotel. Siapa tahu terjatuh di sana," usul Gadis.

__ADS_1


"Kamu benar, Sayang," ucap Ajun.


Ajun pun langsung menganggukkan kepalanya, dia mengambil ponsel yang berada di saku celananya.


kemudian dia pun menelpon salah satu Bodyguard dari Tuan Alfonso, setelah mendengarkan kata 'Iya' Ajun langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Katanya mau dicariin," jawab Ajun.


Gadis pun terlihat bisa bernapas dengan lega.


"Semoga saja cepet ya, Om. Gadis udah ngga sabar pengen cepet-cepet buka baju, berat, Om," keluh Gadis.


Ajun pun menyeringai, dia melihat ruang ganti yang dia pakai sebelum dia menikah tak jauh dari kamar pengantin mereka.


"Bagaimana kalau kita ganti baju dulu aja," usul Ajun.


Gadis terlihat mengernyitkan dahinya, namun beberapa detik kemudian, menurutnya usul Ajun juga bagus.


"Di mana, Om?" tanya Gadis.


"Di sana, Sayang. Tempat yang kita pakai tadi untuk memakai gaun pengantin," jawab Ajun seraya menunjuk ruang ganti.


Gadis pun mengikuti arah jari telunjuk Ajun, lalu kemudian dia tersenyum kala mengingat tempat itu lah yang menjadi tempat dirinya berganti baju sebelum mereka mengungkapkan janji suci.


"Boleh, Om," jawab Gadis tanpa pikir panjang.


Ajun dan Gadis pun langsung berjalan ke arah ruang ganti, mereka lalu masuk ke ruangan tersebut. Tak lupa Ajun mengunci terlebih dahulu ruangan tersebut.


Gadis terlihat berdiri di depan cermin, dia berusaha untuk membuka gaun pengantinnya.


"Susah, Om," keluh Gadis.


Ajun pun langsung menghampiri Gadis dan membantu Gadis untuk melepaskan gaun pengantinnya.


"Kamu seksi banget, Yang," puji Ajun.


Tentu saja Gadis terlihat sangat seksi di mata Ajun, karena kini Gadis hanya memakai dalamann saja.


Ajun langsung mengangkat tubuh mungil Gadis dan mendudukannya di atas meja rias, untuk sesat Ajun memandang wajah Gadis yang terlihat begitu cantik, lalu dia usap pipinya Gadis. Gadis nampak tersipu.


Mata Ajun kini tertuju pada bibir mungil Gadis, dia usap bibir Gadis. Lalu, dia langsung menautkan bibirnya dengan bibir wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya itu.


Padahal di atas kepala Gadis masih terdapat banyak aksesoris yang menempel dengan sempurna, bahkan tiara kecil yang terlihat sangat cantik pun belum diturunkan.


"Emph..." terdengar lenguhan manja dari bibir Gadis.


Ajun yang merasa tak sabar pun langsung membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya tanpa melepaskan tautan bibirnya.


Setelah pakaian Ajun tercecer di lantai, Ajun langsung duduk di bangku yang berada di depan meja rias.


Lalu, Ajun langsung membuka kain penghalang terakhir yang menutupi area pribadi istrinya.


Tanpa Gadis duga, Ajun langsung mengangkat kedua kaki Gadis dan Ajun langsung mencicipi buah peach yang terlihat menggoda di depan matanya.


Gadis langsung menjambak rambut Ajun kala benda tak bertulang itu mulai menelusup ke dalam celah dalam buah peach tersebut.


Tangan Ajun pun seakan tak mau tinggal diam, tangan itu mulai merambat dan bermain di dada istrinya, memainkan ujung dada istrinya dan sesekali menariknya dengan sedikit kasar.


"Om!" pekik Gadis.


Ajun tersenyum kala melihat Gadis yang terlihat begitu menginginkan dirinya, Gadis bahkan mengalami pelepasannya setelah benda tak bertulang itu bermain selam lima belas menit di sana.


Ajun mendongakkan kepalanya, lalu dia pun menatap Gadis dengan penuh damba.


"Boleh ngga, Yang?" tanya Ajun.


Gadis terlihat menggigit bibir bawahnya, dia merasa tak tahan lagi. Namun, dia bingung harus melakukannya di mana.


Karena di ruang ganti itu hanya banyak bangku saja, tak ada tempat yang enak untuk bergumul.


"Tapi, Om," ucap prote Gadis.


Ajun langsung mengangkat tubuh Gadis dan mendudukannya di atas pangkuannya, "Sekarang ya?"


Ajun terlihat memelas, Gadis pun pasrah. Dia langsung menganggukkan kepalanya, Ajun terlihat sangat senang.


Dia langsung mengarahkan miliknya ke dalam liang kelembutan milik istrinya, Gadis sempat memekik karena kaget.


Bahkan dia langsung mencengkram pundak Ajun dengan kuat, Ajun yakin jika pundaknya pasti terluka.

__ADS_1


Ajun langsung menautkan bibirnya kembali, tangannya pun dengan lihay membantu pinggul Gadis untuk segera bergerak maju mundur sesuai keinginannya.


Ajun langsung memejamkan matanya, rasanya ini kenikmatan pertama yang sangat luar biasa dia rasakan selama dia hidup di dunia ini.


"Ya Tuhan, gini nih enaknya dapet yang udah bolong. Langsung tancep di mana aja udah enak banget, tapi... ini terasa sempit banget. Enak," gumam Ajun dalam hati.


"Ya ampun, Om. Sesek banget," ucap Gadis di sela kegiatan panasnya.


Ajun langsung tersenyum saat Gadis memuji miliknya, ''punya kamu juga sempit, Sayang."


Tangan Ajun terus saja membantu pergerakan pinggul istrinya, sesekali memaikan ujung dada istrinya. Hal itu membuat Gadis merem-merem keenakan, Ajun sangat senang setiap kali menatap wajah istrinya. Gadis terlihat begitu menikmatinya.


Ajun sebenarnya merasa lucu saat wajah Gadis yang masih lengkap di balut make up, kepalanya yang masih terlihat memakai aksesoris.


Tapi, dia dengan tak sabarnya mengajak Gadis untuk main kuda-kudaan, lucu sekali, pikirnya.


Hal yang harusnya mereka lakukan di atas ranjang pengantin, kini malah dilakukan di atas bangku kecil di depan meja rias.


Namun walaupun seperti itu, tak mengurangi rasa nikmat yang memuncak di dalam dadanya.


"Om, dikit lagi." Gadis mencengkram lengan Ajun dengan kuat.


"Tunggu bentar, Yang." Ajun yang ingin merasakan pelepasan secara bersamaan pun langsung menggerakkan pinggulnya dengan capat.


Tak lama kemudian, Gadis terlihat memeluk Ajun dengan erat. kepalanya dia benamkan di ceruk leher Ajun, sedangkan Ajun langsung menggigit puncak dada istrinya sedikit kasar.


"Ough, Sayang," Ajun langsung mengerang panjang, sedangkan miliknya langsung menyeburkan cairan putih lengket ke dalam rahim istrinya.


Nafas mereka terlihat tersenggal, permainan pertama yang mereka lakukan dengan durasi dua puluh menit itu berhasil membuat peluh dan berhasil memunculkan sensasi kenikmatan pertama yang mereka rasakan setelah menikah.


Gadis dulu memang pernah melakukannya dengan Danish, tapi Gadis melakukannya karena dipaksa. Dia sama sekali tak merasakan kenikmatan apa pun kala itu.


Hanya rasa sakit, dan rasa sesal yang dia rasakan kala itu. Apa lagi saat mengetahui dirinya hamil, dia begitu terpuruk, malu dan enggan untuk keluar dari dalam rumah.


Berbeda dengan hari ini, dia merasa sangat bahagia. Rasa nikmat yang dia rasakan begitu terasa sampai ke sumsum tulangnya.


"Terima kasih, Om." Gadis langsung memandang lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu.


Ajun tersenyum, lalu dia menyeka keringat di dahi istrinya.


"Kamu makin cantik, Sayang. Aku juga mau ngucapin terima kasih sama kamu, karena kamu sudah mau menikah dengan aku. Punya kamu enak banget, Yang," ucap Ajun.


Gadis langsung memukul bahu Ajun dengan pelan, Ajun langsung terkekeh melihat tingkah istrinya tersebut.


Tok! Tok! Tok!


"Ya ampun, Sayang. Siapa sih yang menganggu?" keluh Ajun. "Siapa?" teriak Ajun.


"Saya, Tuan. Saya sudah menemukan ID Cardnya,'' terdengar suara salah satu Bodyguardnya Tuan Alfonso di luar sana.


Ajun dan Gadis saling pandang, lalu Ajun pun langsung menurunkan Gadis dari pangkuannya. Mereka pun segera mencari baju dan memakainya dengan cepat.


Tentunya mereka memakai baju ganti yang terlihat nyaman untuk di pakai.


Ajun pun segera membuka pintu ruangan tersebut, lalu seorang Bodyguard langsung menyodorkan ID Cardnya pada Ajun.


"Terima kasih," ucap Ajun.


"Sama-sama, Tuan," ucapnya.


Setelah berterima kasih, Ajun dan Gadis langsung melangkahkan kakinya menuju kamar pengantin mereka.


Sedangkan Bodyguard tersebut nampak tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


"Kok bisa ya, mereka melakukannya di sini? Apa di dalam ada kasurnya?" tanyanya lirih.


Karena penasaran, Bodyguard tersebut langsung membuka pintu ruang ganti itu. Namun, dia tak menemukan tempat tidur disana.


Hanya ada gaun pengantin dan baju milik Ajun yang tergeletak di dekat meja rias, Bodyguard tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Sebenarnya dia sudah datang dari 20 menit yang lalu, namun saat mendengar suara erangan dari Gadis dan juga Ajun dari dalam sana.


Jadi dia tak berani mengetuk pintu, dia hanya berdiri saja di depan ruang ganti tersebut. Sesekali dia mengusap telinganya yang terasa panas, karena ruangan tersebut ternyata tidak kedap suara.


+


+


Maafkan Othor ya....

__ADS_1


__ADS_2