
Pukul 11 siang meeting pun telah berakhir, setelah merapikan semua berkasnya Ajun dan Gia pun langsung masuk ke dalam ruangan mereka.
Ajun langsung duduk dan bersiap untuk menyimpan berkas yang sudah Gia dan Tuan Kiyosi tanda tangani, namun... baru saja dia mau menyimpan berkasnya, Gia sudah menghampirinya dan duduk tepat di depan Ajun.
"Hei! Apakah kamu lupa dengan permintaan ku?" tanya Gia seraya menaik-turunkan alisnya.
"Ya ampun, kamu sudah seperti perempuan genit, Tuan." kata Ajun seraya menyimpan berkasnya.
"Jangan berbicara seperti itu, aku kan sudah bilang dari pagi, kalau aku ingin makan rujak cingur. Jangan pura-pura lupa," kata Gia mengingatkan.
Gia langsung membayangkan rujak cingur yang terlihat nikmat, bahkan rasanya air liurnya seakan hendak menetes. Ajun hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat Gia yang terbengong-bengong sambil melamun.
"Jadi dibeliin rujak cingurnya?" tanya Ajun.
Gia pun seakan tersadar dari lamunannya, dia langsung menatap Ajun dengan binar bahagia dimatanya.
"Tentu saja jadi, aku sudah tak sabar untuk memakan rujak cingur itu. Pasti enak," kata Gia.
Gia langsung mengambil dompetnya dan memberikan uang Rp100.000 kepada Ajun, "jangan lama."
"Tergantung," kata Ajun seraya bangun dan mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan tersebut.
" Jangan lama pokoknya," kata Gia memperingatkan.
"Tergantung pokoknya, kalau misalkan nyari pedagangnya susah. Ya... lama." kata Ajun, Gia hanya bisa mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Ajun.
Berbeda dengan Ajun yang langsung tersenyum senang, karena Tuannya tidak bisa berbicara lagi. Ajun pun langsung berjalan menuju parkiran, setelah itu dia pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobil tersebut.
Dia menyisir jalanan mencari pedagang rujak cingur yang ada di daerah tersebut, tetapi setelah berputar-putar sekitar 1 jam Ajun tak kunjung juga menemukan tukang rujak cingur. Dia pun menjadi kesal dibuatnya.
"Sial! Harus kemana mencari tukang rujak cingur itu?" ucap geram Ajun.
Mata Ajun terus saja mencari pedagang rujak cingur tersebut, bahkan Ajan menjalankan mobilnya dengan sangat perlahan. Namun, tetap saja dia tak menemukan tukang rujak cingur tersebut.
"Aku menyerah," ucap Ajun.
Ajun lalu menepikan mobilnya, dia langsung mengambil ponselnya dan segera menelpon Gia.
"Halo! Kenapa lama sekali?" sahutan dari seberang sana.
Padahal Ajun belum berbicara, namun Gia sudah sewot duluan.
"Ya ampun, Tuan. Aku sudah berkeliling dan ternyata tidak ada tukang rujak cingur di mana-mana," kata Ajun.
__ADS_1
"Pokoknya aku nggak mau tahu, pulang kamu harus membawa rujak cingur. Kalau tidak bawa, nggak usah kerja lagi." Kata Gia dan Gia pun langsung memutuskan panggilannya.
Ajun pun jadi prestasi dibuatnya, dia memang sudah lama bekerja dengan Tuan Dirja. Bahkan sudah 11 tahun lamanya dia mengabdi pada perusahaan milik keluarga Pranadtja, namun dia tidak pernah berkeliling daerah situ.
Dia tidak pernah tahu apa saja yang ada di daerah situ, dia hanya bekerja dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk mensejahterakan hidupnya.
Ajun benar-benar dibuat pusing dengan permintaan Gia tersebut, dia lebih memilih untuk menghadapi sepuluh preman sekaligus daripada mencari tukang rujak cingur seperti ini, pikirnya.
Saat dia sedang memikirkan rujak cingur, tiba-tiba saja di pikirannya terlintas wajah Gadis.
"Wah... pasti anak itu tahu di mana yang namanya tukang rujak cingur, dia kan orangnya suka keliling," kata Ajun bermonolog.
Ajun pun langsung melajukan mobilnya, kemudian dia pun memberhentikan mobilnya tepat di depan kedai sop buah milik Pak Galuh.
"Permisi, Pak. Maaaf mengganggu," sapa Ajun .
"Eh? Ya, Tuan. Ada apa?" tanya Pak Galuh.
"Gadisnya ada nggak?" tanya Ajun.
"Oh, ada. Lagi di rumah, lagi istirahat. Katanya badannya pada sakit semua," kata Pak Galuh.
"Oh, boleh kan, Pak, kalau saya menemuinya?" tanya Ajun sopan.
Ajun pun langsung melangkahkan kakinya menuju rumah Gadis, rumah sederhana yang terletak tepat di belakang kedai sop buah milik Pak Galuh.
Tiba di sana, Ajun pun langsung mengetuk pintunya dan tak lama kemudian nampak lah seorang perempuan membukakan pintu tersebut.
Mata Ajun terlihat tak berkedip, karena dia melihat Gadis yang hanya memakai tanktop dan celana pendek di atas paha.
Bahkan dada Gadis begitu terlihat menantang, Ajun pun jadi tahu jika ukuran dada Gadis ternyata sangat besar.
"Om!" pekik Gadis.
Ajun langsung mengerjakan matanya beberapa kali, kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Selama ini dia tidak pernah melirik perempuan sama sekali, karena dia memang tidak ingin kecewa.
Makanya dia tidak pernah berniat untuk mendekati perempuan atau bahkan berpacaran, tapi saat melihat tubuh Gadis yang aduhai, bahkan dengan hanya menggunakan baju yang minim bahan membuat jiwa jomblo Ajun meronta seketika.
"Om! Om Kenapa, sih?" tanya Gadis.
"Eh? Tidak apa-apa, itu... saya cuma mau nanya, kamu kenapa pakai baju seperti itu?" tanya Ajun.
Gadis memperhatikan penampilannya, lalu dia pun segera berlari menuju kamarnya. Dia merasa sangat malu karena menemui Ajun dengan hanya memakai baju kurang bahan seperti itu.
__ADS_1
"Dasar gadis aneh," ucap Ajun.
Tak lama kemudian, Gadis pun keluar kembali dari dalam kamarnya. Dia sudah memakai celana panjang dan juga kaos lengan panjang.
"Ada apa, Om?" tanya Gadis.
"Itu, saya mau tanya. Kamu tahu enggak di mana tukang rujak cingur berjualan?" tanya Ajun.
"Memangnya kenapa, Om?" tanya Gadis.
"Itu, Tuan Muda minta dibeliin rujak cingur dan aku tidak tahu dimana penjual rujak cingur tersebut." Adu Ajun pada Gadis.
Untuk sesaat Gadis nampak terdiam karena baru kali ini dia mendengar Ajun berbicara dengan banyak kata, biasanya lelaki di depannya itu sangat irit kata.
"Ditanya kok malah bengong?" kata Ajun.
"Maaf, Om. Aku terkejut karena Om mengajak aku berbicara, biasanya kan Om irit banget ngomongnya," kata Gadis salah tingkah.
"Sudah, jangan banyak bicara. Sekarang saya tanya Kamu tahu nggak tukang tukang rujak cingur di daerah sini?" tanya Ajun.
"Tentu saja tahu, Om. Mau. minta diantar?" tanya Gadis.
"Ya, kamu mau nganter saya pa ngga?" tanya Ajun.
Tanpa banyak bicara, Gadis langsung menutup pintu rumahnya dan mendorong tubuh besar Ajun. Ajun hanya mengikuti keinginan Gadis sambil menggelengkan kepalanya.
Dasar Gadis Barbar, pikirnya. Setelah masuk kedalam mobilnya, Ajun pun melajukan mobilnya sesuai dengan instruksi dari Gadis.
Baru saja mereka melakukan perjalanan selama 10 menit, Gadis sudah meminta Ajun untuk memberhentikan mobilnya.
Ternyata tukang rujak cingurmya, tak jauh dari kantor milik keluarga Pranadtja. Hanya saja posisi letak tukang rujak cingur tersebut berada di sebuah gang.
Andai saja dari awal Ajun meminta bantuan pada Gadis, tidak akan mungkin dia sampai 1 jam setengah masih berada di luar kantor, pikirnya.
Setelah membeli rujak cingurnya, ajon kembali mengantarkan gadis lalu dia pun Ajun pun segera pergi ke kantor Pranadtja untuk memberikan pesanan dari Gia.
Tentunya dia mengantarkan Gadis terlebih dahulu, setelah itu barulah dia pergi ke perusahaan Pranadtja.
Setelah kepergian Ajun, Gadis langsung menghentakan kakinya. Lalu dia berjalan masuk kedalam rumahnya.
"Dasar Om tidak peka, sudah tidak berterima kasih, tidak pula membelikan aku makanan. Bujang tua nyebelin!" umpat Gadis.
Setelah puas mengumpat, Gadis pun lalu masuk kedalam rumahnya dan kembali merebahkan tubuhnya, sedangkan Ajun kini sudah sampai di ruangannya bersama dengan Gia.
__ADS_1