
Elsa benar-benar tak percaya, jika kedua putrinya dengan mudah menghampiri Gia dan bahkan membantunya.
Sedangkan Gia terlihat tersenyum dengan sangat manis, dia senang, dia bahagia. Bahkan hatinya terasa menghangat, saat di kembar menuntunnya masuk ke dalam rumah sederhana itu.
"Duduk dulu, Om." ucap Aurora, Gia menurut.
"Tadi, aku dengar Om, laper." ucap Aurelia.
Gia menganggukan kepalanya, dia sangat senang mendapatkan perhatian dari kedua putri Elsa.
"Sebentar ya, Om. Aku ambil nasi dulu buat, Om." ucap Aurora.
Senyum di bibir Gia makin mengembang, dia sangat senang karena mendapatkan perhatian dari putri kembar milik Elsa.
"Aku juga ke dapur ya, Om. Mau buatin minum buat, Om." ucap Aurelia.
"Iya, silahkan." ucap Gia.
Aurora dan Aurelia pun nampak pergi ke dapur, sedangkan Elsa, duduk tak jauh dari Gia. Jangan lupa dengan Ibu Anira, karena diam-diam, Ibu Anira melihat interaksi antara Gia, Elsa dan kedua cucunya.
"Em... Sa, makasih." ucap Gia.
"Untuk apa?" tanya Elsa.
"Untuk perhatian dari kalian, aku senang." ucap Gia.
"Siapa yang--"
Ucapan Elsa terhenti, Karena kedua putrinya datang menghampiri mereka. Aurora datang dengan membawa sepiring nasi beserta lauknya, sedangkan Aurelia membawa secangkir lemon tea hangat.
"Makan, Om." ucap Aurora seraya menyerahkan piring yang dia bawa.
Dengan senyum menawannya, Gia mengambil piring yang berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya dari tangan kecil Aurora.
Dengan perlahan, Gia mengendok nasi tersebut lalu menyuapkan nya kedalam mulutnya. Wajah Gia yang tadinya terlihat sumringah, tiba-tiba berubah.
Dahinya terlihat mengernyit dalam, bibirnya mengkrucut dan matanya berkedip-kedip sambil menatap Aurora.
"Kenapa, Om? Enak kan makanan yang aku siapkan?" tanya Aurora.
Gia menganggukan kepalanya, tapi sedetik kemudian, dengan sisa tenaganya Gia berlari ke luar rumah Elsa. Gia memuntahkan semua yang ada di mulutnya, bahkan semua yang ada di dalam perutnya ikut keluar.
Elsa langsung berlari, begitu pun dengan Aurora dan Aurelia. Elsa dengan cekatan memijat tengkuk leher Gia, walaupun terasa lemas, tapi Gia senang karena Elsa terlihat perduli.
"Minum dulu, Om." Aurelia memberikan satu gelas lemon tea yang dia buatkan khusus untuk Gia.
__ADS_1
Dengan cepat Gia pun mengambil segelas lemon tea hangat yang dibikinkan oleh Aurelia, tanpa pikir panjang Gia pun langsung meneguknya.
"Hoek,, "
Gia, langsung kembali muntah saat meminum lemon tea hangat yang yang di berikan Aurelia.
Elsa pun jadi heran, dia berlari mengambil tisu dan mengelap wajah Gia. Wajah Gia yang awalnya memang sudah terlihat pucat, kini makin memprihatinkan.
"Kamu kenapa sih? Kenapa dari tadi muntah mulu?" tanya Elsa heran.
Gia langsung merangkul pundak Elsa, kemudian dia mendekatkan bibirnya tepat di kuping Elsa.
"Kayaknya, anak-anak kamu ngerjain aku deh." ucap Gia.
Elsa langsung kesal mendengar ucapan Gia, tanpa sadar Elsa pun mendorong Gia hingga dia jatuh duduk di tanah.
"Aduh, jahat banget sih kamu." ucap Gia dengan suara lemahnya.
" Habisnya kamu nuduh-nuduh begitu, aku nggak suka ya, anak aku dituduh kayak gitu!!" kesal Elsa.
Aurora dan Aurelia yang melihat perdebatan Bundanya dengan Gia langsung tersenyum, mereka telah berhasil melancarkan misi.
"Bun, kami masuk dulu. Sepertinya, kalian butuh ngobrol berdua." ucap Aurelia.
Tanpa mendengar jawaban dari Bundanya, Aurora dan Aurelia langsung masuk ke dalam kamarnya. Gia yang masih lemas, merasa kesusahan untuk bangun. Dia pun, meminta Elsa untuk membantunya berdiri.
"Manja," ucap Elsa.
Walaupun mengatakan hal seperti itu, tapi Elsa tetap membantu Gia untuk berdiri dan menuntunnya untuk kembali duduk di ruang tamu.
"Sa, aku yakin mereka milik aku kan? Mereka jail banget, ngga ada rasa kasihannya. Mirip aku banget," ucap Gia.
"Mereka anak aku, kamu ngga usah ngaku-ngaku. Anak kamu udah aku gugurin," ucap Elsa.
"Tuh kan, secara ngga langsung kamu udah ngaku kalau kamu udah ngandung anak aku. Aku yakin kamu ngga kejem, kamu ngga mungkin gugurin anak kita kan, Sa?" tanya Gia.
"Ngga usah ngomong yang aneh-aneh, kamu dari dulu ngga pengen anak dari aku. Kamu hanya menjadikan aku sebagai pelampiasan dari kekesalan kamu," ucap Elsa.
"Sa, liat aku. Tatap mata aku, coba bilang ke aku kalau mereka bukan milik aku." ucap Gia.
Elsa menurut, dia memberanikan diri untuk menatap Gia.
"Mereka bukan milik kamu, mereka anak ku. Hanya anak ku," ucap Elsa tegas.
"Aku tetap ngga percaya, kita tes DNA." ucap Gia.
__ADS_1
"No, mereka milik aku. Ngga usah minta yang aneh-aneh, sekarang kamu pulang." ucap Elsa.
Mata Gia langsung berubah suram, sedih sekali pikirnya. Hanya ingin mendengar sebuah kebenaran, tapi sulit.
Padahal, Ajun sudah menyelidiki semuanya. Elsa melahirkan tepat sembilan bulan setelah Gia memperkosanya, bahkan Elsa sama sekali tak pernah dekat dengan lelaki manapun.
Elsa hanya fokus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan kedua putrinya, bahkan Ibunya Elsa pun turut serta dalam mencari nafkah untuk membiayai kehidupan kedua cucu kembarnya.
"Oke, jangan marah lagi. Tapi kamu. mau Maafin aku kan?" tanya Gia.
"Iya, kamu sudah aku maafkan. Tapi, rasa kecewa itu masih ada, ngga bisa hilang gitu aja." ucap Elsa.
Gia langsung menunduk, dia tahu jika kesalahannya sangatlah fatal.
"Tapi, kamu mau kan berteman sama aku?" tanya Gia.
"Ngga tahu," jawab Elsa.
"Kamu jahat, kamu belum Maafin aku berarti." ucap Gia.
Elsa terlihat kesal, kemana pria arogan yang selalu terlihat menyebalkan itu, pikirnya. Kenapa pria yang ada di hadapannya terlihat sangat lemah? Bahkan terkesan cengeng.
"Pulang sanah, ini udah mau malem." usir Elsa.
"Ck, kamu nyebelin. Tapi, lain kali aku mau kasini lagi. Boleh?" tanya Gia.
"Terserah!! " jawab Elsa kesal.
Gia pun tersenyum," Aku pulang." pamit Gia.
"Hem," ucap Elsa.
Dengan langkah lemah, Gia keluar dari rumah Elsa. Supir pribadi Gia dengan sigap, langsung menuntun Tuan mudanya.
Setelah melihat kepergian Gia, Elsa pun merasa tenang. Tapi, Elsa merasa penasaran. Kenapa Gia bisa muntah-muntah saat memakan makanan yang diberikan oleh Aurora?
Bahkan, dia terlihat kembali muntah saat mendapatkan minuman dari Aurelia. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Elsa pun langsung mencicipi makanan dari piring yang di sediakan oleh Aurora.
Elsa terlihat sangat kaget, saat dia merasakan makanan yang dia cicipi. Ternyata rasa makanan tersebut sangat asin, Elsa langsung berlari menuju wastafle yang berada di dapur untuk memuntahkan makanan yang ada di dalam mulutnya.
Elsa yang masih penasaran dengan rasa minuman yang di buat oleh Aurelia, Elsa pun kembali ke ruang tamu dan mencicipi minuman yang disediakan oleh Aurelia tersebut.
Matanya langsung membulat sempurna, saat merasakan minuman yang dibikin oleh Aurelia. Ternyata minuman itu terasa sangat asam, Elsa pun kembali berlari ke dapur untuk memuntahkan minuman tersebut.
Elsa sampai menggelengkan kepalanya, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kedua putrinya terlihat begitu ingin mengerjai Gia?
__ADS_1
Berbagai pertanyaan pun, terlintas di dalam pikiran Elsa.