Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Nasihat Ibu Mertua


__ADS_3

Gia terlihat mulai panik kala Baby Adelia menggeliat dan membuka matanya, tangannya terlihat bergerak dan juga kakinya terlihat dia goyang-goyangkan.


Hal itu membuat Gia makin panik, apa lagi kala melihat bibir Baby Adelia yang mulai mengkerucut.


"Ibu! Tolong Gia," teriak Gia tanpa sadar.


Elsa yang mendengar teriakan suaminya berusaha untuk segera menyelesaikan ritual mandinya, sedangkan Bu Anira langsung berlari dengan tergesa.


"Ada apa? Kenapa berteriak?" tanya Bu Anira sambil membuka pintu kamar Gia.


Gia tak menjawab dia terlihat sedang menyeimbangkan gerakan Baby Adelia.


"Astaga!" pekik Bu Anira saat melihat cucunya yang terus menggeliat dengan bibir yang terlihat mengkerucut sempurna di pangkuan Gia.


Bu Anira segera mengambil Baby Adelia dari pangkuan Gia, lalu dia pun terlihat berusaha untuk menenangkan Baby mungil itu.


"Cup, cup, cup. Cucu Nenek yang cantik ngga boleh nangis, ya?" Bu Anira terlihat menimang-nimang putri Elsa, sesekali dia terlihat mengecup pipi gembil Baby Adelia.


Gia langsung bangun dan menghampiri Bu Anira, dia memperhatikan Bu Anira yang begitu lihai menenangkan buah hatinya.


"Kamu tuh ya, megangin anak aja ngga bisa. Katanya mau nambah, terus ini apa?"


Ibu mertuanya yang selalu diam kini mulai berceloteh melihat tingkah menantunya itu, antara lucu dan tak habis pikir.


Itulah yang Ibu Anira rasakan, bisa-bisanya menantunya itu malah sama sekali tak bisa menggendong putrinya sendiri.


"Gia pasti akan belajar, Bu. Jangan marah, Gia hanya takut jika Baby Adelia akan jatuh. Abisan dia uget-uget kaya gitu, bikin aku panik." Gia langsung mengusap tengkuk lehernya.


"Ya, kamu harus belajar. Bagaimana cara mengurus Baby yang benar, kamu juga harus belajar cara berkasih sayang dengan anak dan istrimu. Sekarang anak kamu sudah tiga, jangan sampai ada yang merasa iri hati," ucap nasihat Bu Anira.


Gia langsung memeluk Bu Anira dan mengecup pipinya, dia sangat bahagia sekali punya mertua seperti Bu Anira.


Karena sikapnya malah lebih mirip seperti ibu kandungnya, tak seperti mertua lainnya. Bahkan kalau Gia membuat Elsa kesal pun, Bu Anira selalu bisa jadi penengahnya.


"Terima kasih ya, Bu. Gia sangat senang punya ibu mertua kaya Ibu, Ibu sangat baik sama Gia. Sangat-sangat baik," ucap Gia tulus.


"Sama-sama," jawab Bu Anira.


Elsa terlihat sudah menyelesaikan ritual mandinya, dia keluar dari kamar mandi sudah sekalian memakai baju gantinya.


Saat melihat Gia, dia tehrlihat sedang memeluk Bu Anira dari belakang. Dagunya pun dia sandarkan di pundak Bu Anira, hal itu membuat Elsa ingin tertawa.

__ADS_1


Gia benar-benar terlihat seperti anak kecil yang sedang bermanja kepada ibunya.


"Ada apa, Bu, Mas?" tanya Elsa.


Gia langsung melerai pelukannya dengan Bu Anira, lalu dia langsung menghampiri Elsa dan memeluknya dengan erat.


"Tadi Baby Adel ngulet-ngulet, Yang. Aku takut dia jatuh, jadinya refleks aku panggil ibu," Adu Gia.


Elsa langsung menggelengkan kepalanya, Gia sudah berusia tiga puluh satu tahun. Tapi untuk urusan gendong saja, dia terlihat sangat kaku dan terkesan tidak bisa.


"Belajar, Mas. Jadi kalau aku butuh bantuan, Mas bisa bantu gendong Baby Adel," ucap Elsa.


"Iya, Sayang. Maaf, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu. Dua hari aku akan bekerja, besok aku akan cari Babysitter biar kamu ngga kerepotan. Kamu ada yang bantu kalau aku ngga ada," ucap Gia.


Elsa tersenyum mendapatkan perhatian dari Gia, dulu dia sangat kesulitan saat melahirkan kedua putrinya.


Apa lagi saat hendak menyusui kedua putrinya, dia harus menahan rasa sakit akibat operasi caesar yang dia jalani.


"Sebenarnya, tanpa bantuan Babysitter pun aku pasti bisa mengurus Baby Adelia, Mas. Karena dia sangat anteng, apa lagi ada ibu yang akan membantu kalau urusan Aurora dan Aurelia," Kata Elsa.


"Jadi, Mas ngga usah nyari Babysitter?" tanya Gia.


"Ngga usah, Mas. Kamu tahu, dulu aku mengurus kedua Babyku sambil bekerja. Masa ngurus satu Baby saja ngga bisa?" kata Elsa.


Dia benar-benar merasa sangat bersalah, karena telah menyuruh Elsa untuk pergi jauh meninggalkan dirinya.


Bahkan dia merasa sangat bersalah, jika dia mengingat kala dirinya meminta Elsa untuk menggugurkan kandungannya.


"Maaf," kata Gia.


Gia terlihat menunduk dan mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya, Elsa yang melihat suaminya menangis pun langsung mengusap air mata di kedua pipi suaminya.


"Jangan menangis, Mas. Semuanya sudah berakhir, kita harus melanjutkan hidup kita dengan lebih baik lagi," ucap Elsa.


Gia langsung menganggukkan kepalanya, lalu dia mengecupi setiap inci wajah istrinya.


"Terima kasih, Sayang. Karena kamu sudah mau memaafkan semua keslahan aku," ucap Gia.


"Sama-sama, Mas," jawab Elsa.


"Ehm, maaf bila Ibu menggangu suasana romantis diantara kalian. Tapi--"

__ADS_1


Bu Anira terlihat menunjuk Baby Adelia dengan ekor matanya, Gia dan Elsa langsung melihat ke arah Baby Adelia yang terlihat sedang menggeliat dengan bibirnya yang terlihat mengkerucut sempurna.


Wajahnya sudah terlihat memerah, dia terlihat ingin menangis karena sudah terlalu lama menahan rasa hausnya.


"Ya Tuhan, maafkan Bunda ya, Sayang." Elsa langsung menghampiri Bu Anira dan mengambil Baby Adelia dari gendongan Ibunya.


"Ya sudah, kalau begitu Ibu permisi dulu," pamit Bu Anira.


"Iya, Bu," jawab Elsa.


Setelah kepergian Bu Anira, Elsa langsung duduk di tempat tidur. Dia pun mulai membuka tiga kancing bajunya, tak lama kemudian dia pun mengeluarkan sumber makanan yang sangat dibutuhkan oleh Baby Adelia.


Baby Adelia pun, dengan cepat langsung melahap sumber makanannya. Dia terlihat begitu kehausan dan menghisap sumber makanannya tersebut dengan sangat cepat.


Gia terlihat membulatkan matanya dengan sempurna, lehernya terasa kering seketika dan dia terasa susah untuk menelan salivanya.


"Gede banget, Yang. Aku juga mau," ucap Gia.


Gia langsung duduk disamping Elsa dan mengusap dada istrinya, Elsa langsung memelototkan matanya.


Menurutnya, kelakuan Gia benar-benar seperti anak kecil.


"Mas!" ucap Elsa dengan suara tertahan.


"Mas pengen, Yang. Gede banget ini," ucap Gia.


Kembali Gia mengusap dada istrinya, hal itu membuat Elsa geram. Dia sedang menyusui bayinya, kenapa Gia malah seakan mengajak dia untuk bermain-main.


"Mas! Jangan macem-macem, ingat ya! Masa nifasku itu sampai empat puluh hari, kamu ngga boleh pegang-pegang. Kalau pengen nanti kamu yang bingung sendir," jelas Elsa.


"Iya, Maaf. Aku ngg akan gitu lagi," ucap Gia lesu.


+


+


+


Selamat malam, selamat beristirahat. Semoga coretanku ini bisa menemani masa istirahat kaleyan.


Jangan lupa kasih like, koment, vote sama hadiahnya. Buat yang udah ngasih, terima kasih banyak.

__ADS_1


Kalian yang terbaik pokoknya, terima kasih karena sudah mau membaca karya-karya Othor yang kelewat soleha ini.


❤😁😁😁😁😁😁❤


__ADS_2