Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Gempa


__ADS_3

Gadis terlihat begitu lelap dalam tidurnya, sedangkan Ajun terus aja memandang wajah Gadis yang terlihat begitu tenang.


"Kami cantik, muda dan juga anak orang kaya. Apa kamu akan tetap bisa menjaga rasamu?"


Ya, Gadis ada di samping Ajun sedang tidur dengan lelap. Karena seperti biasanya, jika melakukan perjalanan jauh dia tak akan kuat lama membuka matanya.


Beruntung Ajun tak berniat sama sekali untuk menyentuh Gadis tanpa seijin darinya, tak lama kemudian mobil pun berhenti.


Ajun langsung mengedarkan pandangannya, ternyata mereka berhenti tepat di sebuah bangunan yang terlihat begitu megah.


Selama perjalanan pulang Ajun begitu fokus melihat Gadis, makanya dia tak begitu memperhatikan kemana Bodyguard Tuan Alfonso membawa mereka sekarang.


"Kenapa berhenti di sini? Kemana dia membawaku?"


"Ehm, maaf. Ini di mana, ya?" tanya Ajun pada Bodyguard yang menyetir mobil Ajun.


Ajun merasa bingung dengan tempat yang baru saja dia lihat.


"Kita berada di kediaman Mister Alfonso, Tuan," jawab Bodyguard tersebut.


Ajun semakin bingung dibuatnya, untuk apa Tuan Alfonso membawa dirinya dan Gadis ke sana.


"Oh, kenapa aku dibawa kesini?" tanya Ajun.


"Saya melakukannya sesuai dari perintah Mister Alfonso, maaf saya hanya menjalankan tugas," ucapnya lagi.


"Oh iya, tidak apa-apa," jawab Ajun.


Tak lama Ajun pun melihat Bodyguard tersebut keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Ajun.


Ajun pun hendak keluar dari mobilnya, namun sebelum itu dia pun membangunkan Gadis dari tidurnya.


"Bangun, Yang," ucap Ajun seraya menggoyangkan tangan Gadis.


Gadis langsung menggeliatkan tubuhnya dengan spontan, hal itu membuat dua benda yang membuat Ajun dari tadi penasaran langsung bergoyang.


"Gempa!" ucap Ajun lirih.


Dahi Gadis terlihat mengernyit, dia merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Ajun.


Ucapannya memang terdengar pelan, tapi dia masih bisa mendengar dengan jelas jika Ajun mengatakan 'gempa'.


"Maksud Om, apa sih?" tanya Gadis.


Dia terlihat lucu sekali di mata Ajun saat bertanya seperti itu.


"Oh, tidak. Tidak apa-apa," jawan Ajun terbata.


"Tapi tadi aku dengar jika Om, berkata 'gempa'," ucap Gadis. Dia berusaha menegaskan apa yang diucapkan oleh Ajun.


"Udah-udah jangan dibahas lagi, ayo kita turun," ajak Ajun.


Ajun sengaja menghindari ucapan Gadis, dia takut sekaligus malu jika Gadis tahu dengan apa yang dimaksud oleh Ajun.


Gadis pun menurut, dia turun lalu menggandeng tangan Ajun dengan mesra. Dia terlihat kaget, saat melihat bangunan megah di depannya.


"Ini rumah siapa, Om?" tanya Gadis.


"Ini rumah Mister Alfonso," jawab Ajun.


"Jadi ini rumah Daddy?" tanya Gadis seraya membelalakan matanya.


Dia merasa tidak percaya jika bangunan megah di depannya itu adalah rumah, namun lebih mirip dengan istana di negeri dongeng, menurutnya.


"Ya Tuhan, ini indah sekali, Om," ucap Gadis.


Ajun hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Gadis, dia merasa rendah diri sekarang. Dia takut jika Gadis tidak akan nyaman jika tinggal di rumah sederhana miliknya.


Melihat perubahan raut wajah Ajun, Gadis pun langsung mengerti. Cepat-cepat dia merapat ucapannya.

__ADS_1


"Tapi, Om. Gadis akan lebih senang tinggal di rumah sederhana, nanti bersihinnya juga nggak capek," ucap Gadis seraya tertawa.


Mendengar ucapan Gadis, Ajun terlihat bersemangat kembali. Dia langsung mengembangkan senyuman manisnya kepada Gadis.


"Benarkah?" tanya Ajun.


"Iya, Om," jawab Gadis.


Saat Ajun dan Gadis sedang asik mengobrol, Tuan Alfonso yang merasa jika anak dan calon menantunya tak segera masuk pun langsung menyusulnya.


"Hey, kenapa kalian lama sekali? Apa kalian tidak ingin masuk ke rumah Daddy?" tanya Tuan Alfonso.


Gadis dan Ajun saling pandang, lalu mereka pun langsung menghampiri Tuan Alfonso.


"Sorry, Dad." Gadis langsung melepaskan tangan Ajun dan menghambur ke pelukan Daddynya.


Ajun pun tersenyum, itu pasti Gadis lakukan karena takut jika Daddy'nya akan marah.


"Aku paham," ucap Tuan Alfonso. Tuan Alfonso terlihat membalas pelukan Gadis, "kita masuk, sebentar lagi hari akan gelap." Tuan Alfonso terlihat menuntun putrinya untuk segera masuk ke dalam ruang keluarga.


"Yes, Dad," jawab Gadis.


Tatapan mata Tuan Alfonso beralih pada Ajun, "Mari, Nak Ajun."


Ajun pun langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti, Ajun mengekori Tuan Alfonso dan juga Gadis dari belakang.


Gadis sempat berdecak saat melihat ruangan yang terlihat begitu megah dan juga mewah, betapa kayaknya Daddy'nya, menurutnya.


Namun dia juga merasa kasihan, jika mengingat akan Tuan Alfonso yang hidup dalam kesendirian.


Bahkan dia rela tak menikah lagi hanya karena begitu mencintai ibunya, Intan Permata. Dia pun jadi berharap, jika dia menikah dengan Ajun, Ajun akan benar-benar mencintai dan menyayanginya seperti Tuan Alfonso yang tak pernah berubah rasa cintanya terhadap Mommynya.


"Beristirahatlah, Daddy akan menyuruh koki untuk memasak." Tuan Alfonso beranjak dari tempat duduknya.


"Daddy mau kemana?" ta ya Gadis.


" Mau meminta pelayan untuk menyiapkan kamar untuk kamu, Sayang," jawab Tuan Alfonso.


"Mulai besok dia juga akan tinggal di sini, dia sedang pulang untuk membawa barang-barang miliknya," jawab Tuan Alfonso.


Senyum Gadis terlihat merekah setelah mendengar ucapan dari Daddynya, dia merasa sangat senang karena ternyata bukan hanya dirinya yang dia bawa ke sana, namun juga bapaknya.


Lelaki yang sudah membesarkan dirinya dari semenjak dia dilahirkan, senang rasanya yang dirasakan oleh Gadis.


"Terima kasih, Ya, Dad. Daddy benar-benar orang tua idaman," ucap Gadis.


"Sama-sama, Sayang." Tuan Alfonso terlihat memeluk Gadis sebelum dia pergi menuju dapur.


Selepas kepergian Tuan Alfonso, Gadis dan Ajun langsung duduk di satu sofa yang sama. Gadis langsung memeluk Ajun dari samping, lalu dia menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki yang sudah berhasil mencuri hatinya dari semenjak mereka bertemu.


"Om beneran sayang kan, sama aku?" tanya Gadis.


"Ya," jawab Ajun singkat.


"Kalau kita menikah nanti, Om Ajun akan setia kan sama aku?" Ajun terlihat menganggukkan kepalanya, "kayak Daddy yang begitu mencintaimu Mommy?" tanya Gadis lagi.


"Tentu, sayang. Justru saat ini aku yang takut, aku takut jika nanti kamu akan mencari pria yang lebih muda dari aku. Karena aku sadar jika umurku kini sudah mau 33 tahun," ucap Ajun.


"Jangan bersedih seperti itu, Om. Gadis benar-benar mencintai Om, Gadis sayang banget sama Om," ucap Gadis.


Gadis lalu mengeratkan pelukannya, dia seakan begitu enggan untuk berpisah dengan lelaki yang kini berada di pelukannya.


"Oh iya, Sayang. Nanti kalau setelah menikah kamu mau kan tinggal di rumah Om yang sederhana itu?" tanya Ajun.


"Tentu, Om. Jika kamu menikahi Gadis, maka kemana pun kamu pergi Gadis akan ikut," ucap Gadis mantap.


Ajun terlihat sangat senang sekali, karena wanita yang dia cintai benar-benar mau menerima keadaannya. Walaupun, Gadis tahu jika Ajun tak memiliki banyak harta seperti Tuan Alfonso.


"Terima kasih, Sayang. Karena kamu sudah mau menerima diriku yang apa adanya, aku bukan lelaki kaya raya yang akan memanjakanmu dengan harta. Aku hanya akan berusaha untuk membahagiakan kamu dengan cinta aku yang tulus, kamu tahu... sebenarnya aku sangat minder setelah tahu siapa Daddy kamu," ucap jujur Ajun.

__ADS_1


"Om Jangan berkecil hati seperti itu, Gadis pun sama. Gadis sangat bersyukur, karena Om mau menerima Gadis walaupun Om tahu Gadis sudah enggak perawan. Bahkan Gadis sempat keguguran, tapi Om mau menerima Gadis apa adanya. Terima kasih ya, Om," ucap Gadis.


"Ya, Sayang. Karena cinta itu memang untuk saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan masing-masing dengan kelebihan yang kita punya," ucap Ajun.


"Ya, Gadis setuju," ucap Gadis menimpali.


Gadis lalu mendongakkan kepalanya, "cium dong, Om."


Gadis langsung memonyongkan bibirnya, dia ingin sekali merasakan kembali ciuman yang pernah mereka rasakan.


Namun sayangnya, Ajun malah mendorong bibir Gadis dengan jari telunjuknya.


"Jangan macam-macam kamu, jangan membangunkan macan yang sedang tidur," ucap Ajun.


"Memangnya Om, Macan?" tanya Gadis.


"Kamu itu ya, enggak pengertian sekali. Kamu jangan salahkan Om, jika nanti Om tidak bisa menahan hasrat Om lagi," ucap Ajun.


"Aku kan nggak minta macam-macam, Om. Cuma minta cium doang, kayaknya kalau cuma ciuman doang itu udah menjadi hal yang biasa deh, anak-anak SMP aja kalau pacaran suka ciuman," ucap Gadis.


"Kamu itu bandel dibilanginnya, sebentar lagi kita akan menikah. Jangan coba-coba meminta apapun sebelum menikah, apalagi meminta hal yang aneh-aneh," 7ucap Ajun.


"Om itu aneh, aku tidak minta macam-macam. Aku cuma minta cium aja," ucap Gadis seraya memonyongkan bibirnya kembali.


Ajun langsung memundurkan kepalanya, dia merasa tak enak hati jika harus berciuman di rumah calon mertuanya.


Tanpa Ajun duga, Gadis malah langsung naik ke atas pangkuan Ajun dan dia langsung menunduk. Kemudian, Gadis langsung menautkan bibirnya ke bibir Ajun.


Ajun sempat membulatkan matanya, menurutnya Gadis sangat nekat karena detik ini juga jiwa kelelakian Ajun sudah bangun. Bahkan ada yang terasa begitu sesak di bawah sana.


Gadis begitu liar menciumnya, dia pun menjadi was-was dibuatnya. Bagaimana jika Tuan Alfonso tiba-tiba saja datang, pikirnya. Maka, tamatlah riwayatnya.


Namun, dia tak kuasa menahan kenikmatan yang datang dengan begitu cepat. Ajun pun langsung memejamkan matanya, dia menikmati tautan bibir yang di lakukan oleh Gadis.


Bahkan Ajun pun membalasnya dengan mesra, tangan Gadis sesekali terlihat menjambak rambut hitam legam milik Ajun. Sedangkan kedua tangan Ajun kini sudah berada di bokong Gadis dan merematnya dengan cukup kasar.


"Emph," terdengar lenguhan dari bibir Gadis.


Untuk sesaat Ajun melepas pagutannya, lalu dia menatap wajah Gadis dengan tatapan penuh damba.


"Kamu nakal, ucap Akun.


"Tapi Om, terlihat sangat suka," ucap Gadis.


"Ya, tentu saja aku sangat suka. Jangan salahkan aku jika nanti aku melakukan hal yang lebih dari ini," ucap Ajun.


Gadis langsung tergelak mendengar ucapan Ajun, dia tahu jika Ajun memang peria yang sudah berumur. Sudah pasti dia akan lebih menginginkan hal itu.


Ajun langsung mengangkat tubuh Gadis dan menghempaskannya ke atas sofa, Gadis terlihat kaget dibuatnya.


Namun dia sadar jika itu adalah kesalahannya, dia yang memancing hasrat Om Ajun. Dengan gerak cepat, Ajun. langsung mengurung tubuh Gadis dan mencium Gadis dengan rakus.


"Ehm," Tuan Alfonso langsung berdehem dengan kencang saat melihat Ajun yang sedang menindih Gadis dan menciumnya dengan rakus.


Sontak Ajun dan Gadis langsung bangun dan berdiri dengan kikuk, Tuan Alfonso langsung menghampiri mereka dan menatap mereka dengan tajam.


"Besok kalian harus menikah, Daddy tidak mau jika kalian sampai melakukan hal itu sebelum kalian mengucap janji suci pernikahan." Tuan Alfonso terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tuan Alfonso lalu merogoh saku celananya, lalu mengambil ponselnya. Dia terlihat menggulir layar ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.


"Reon!" panggil Tuan Alfonso.


"Siapkan pernikahan untuk anakku besok, aku mau semuanya sudah siap pukul empat sore. Biar langsung acara resepsi sekalian," ucap perintah Tuan Alfonso.


Ajun dan Gadis terdiam seribu bahasa, mereka tak bisa berkata apa pun.


*


*

__ADS_1


Halo semuanya, semoga kalian baik-baik saja. Di tempat Othor hujan gede banget, banjir lagi. Semoga kalian sehat selalu walaupun musim hujan telah tiba, tetap jaga kesehatan.


Jangan lupa like dan komentnya juga, Ya..


__ADS_2