
Jika Ajun bisa langsung beristirahat bersama dengan istrinya, berbeda dengan Gia. Saat mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan rumahnya, pak Sopir langsung membukakan pintu mobil tersebut untuk Gia.
Baru saja dia keluar dari mobilnya, Aurora dan Aurelia langsung berlari dan menghambur ke pelukan ayahnya.
"Ayah!" seru mereka bersamaan.
Mereka terlihat sangat merindukan ayahnya, padahal mereka belum genap satu hari tak bertemu. Namun, terlihat dengan sangat jelas Kerinduan di mata kedua putrinya itu.
Gia memang sangat lelah, dia ingin sekali beristirahat dan merebahkan tubuhnya. Namun melihat senyum ceria di bibir kedua putrinya, dia merasa sangat bahagia.
"Ya, Sayang." Gia langsung membalas pelukan kedua putrinya.
Rasa lelahnya pun menguap entah kemana, apa lagi saat melihat dua wanita cantik lainnya yang kini sedang berdiri di depan pintu.
Hal itu membuat Gia semakin bersemangat, Elsa terlihat menggendong Baby Adelia. Baby Adelia terlihat menggoyang-goyangkan kedua tangan dan juga kakinya.
Dia terlihat begitu senang kala melihat wajah Gia, dia Lalu mengecup kening kedua putri kembarnya secara bergantian.
Lalu, dia melerai pelukan kedua putrinya. Kemudian, dia pun menuntun kedua putrinya untuk segera menghampiri Baby Adelia yang terlihat tidak sabar untuk digendong oleh dirinya.
Benar saja, saat Gia tiba di depan Elsa. Baby Adelia langsung menarik-narik jas yang Gia pakai.
Gia pun dengan senang hati langsung menggendong putrinya tersebut, bayi berusia 5 bulan itu terlihat sangat senang saat berada dalam gendongan Gia.
Gia yang merasa gemas pun langsung mengecupi setiap inci wajah Baby Adelia. Yang terakhir, dia pun melabuhkan kecupan hangat di bibir istrinya.
"Yayaya, dadada, nanana," celoteh Baby Adelia.
Entah apa yang Baby Adelia ucapkan, namun dia terlihat serius menatap wajah Gia sambil mengatakan hal tersebut.
Bahasa yang sama sekali Gia tidak mengerti, Gia bahkan sampai menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, lalu kemudian dia pun menatap Elsa.
"Dia bilang apa, Sayang?" tanya Gia.
"Nggak tahu, Sayang. Mungkin dia sedang mengungkapkan rasa rindunya kepada kamu, Mas," kata Elsa.
"Ayah juga rindu pada kalian, Ayah cape banget. Mau mandi terus mau rebahan, boleh?" tanya Gia.
"Boleh, dong," jawab Elsa, Aurora dan Aurelia.
Setelah mendapatkan jawaban, Gia pun langsung menuntun keluarga kecilnya untuk masuk.
__ADS_1
Nampak Tuan Dirja dan juga Ibu Anira yang sedang duduk santai sambil menonton tv, Gia pun langsung menghampiri mereka.
"Sore Dad, sore Bu," sapa Gia.
Gia terlihat mengecup punggung tangan Ibu Anira, lalu kemudian dia terlihat mengecup kening Tuan Dirja.
"Sore, Sayang," balas sapa Tuan Dirja.
"Sore, Nak Gia," kata Bu Anira.
"Bagaimana kabarnya kantor kita?" tanya Tuan Dirja.
"Aman, Dad. Aku pamit ke kamar dulu, gerah." Gia terlihat melonggarkan dasinya.
Tuan Dirja tersenyum, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.
Aurora terlihat duduk dan langsung memeluk Tuan Dirja, sedangkan Aurelia terlihat duduk lalu memeluk Bu Anira.
Berbeda dengan Gia, setelah berpamitan Gia langsung masuk ke dalam kamarnya sambil menggendong putri kecilnya.
Elsa pun mengekori langkah suaminya tersebut, tentu saja dia ingin menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.
"Ayah mau mandi dulu, Sayang." Gia memberikan Baby Adelia pada Elsa.
Bibir Baby Adelia langsung mengkrucut, matanya berkaca-kaca dan kedua tangan dan juga kakinya langsung dia gerak-gerakkan.
Dia terlihat sangat menggemaskan sekali, Gia langsung mengambil putrinya kembali dan mengecupi setiap inci wajah putrinya itu.
"Ya ampun, puteri Ayah dalam mode manja. Kangen ya?" tanya Gia.
Baby Adelia terlihat senang bukan main, bahkan tawa di bibirnya terlihat makin mengembang.
"Maaf ya, Mas. Kamu pasti cape, tapi Baby Adelianya ngga mau lepas," sesal Elsa.
Gia tersenyum, lalu dia mendekap tubuh mungil Baby Adelia dalam pelukannya. Baby Adelia terlihat nyaman sekali, bahkan kepalanya dia sandarkan di dada bidang Gia.
"Ngga apa-apa, Yang. Tapi, kasih aku amunisi dulu." Gia langsung memonyongkan bibirnya.
Elsa terlihat menggelengkan kepalanya, namun dia tetap menurut. Ciuman hangat dia labuhkan untuk suami tercintanya, Gia pun dengan senang hati langsung membalas tautan bibir istrinya.
Di lain tempat.
__ADS_1
Sudah beberapa hari ini Caffe sangat ramai sekali, Melani terpaksa harus pulang pukul delapan malam.
Setiap Melani pulang, tentu saja Nyonya Mesti pun sudah pulang ke rumahnya. Sedangkan Merrisa dan Fajri selalu saja berada di rumah Andrew ketika Melani pulang.
Alasannya karena Fajri selalu saja berlari menuju rumah Andrew saat melihatnya pulang, jika Merissa melarangnya, Fajri akan menangis.
Beruntung Andrew tak keberatan, justru dia akan bermain dengan Andrew. Bahkan Andrew sampai membelikan mainan lego untuk Fajri, asal anak itu anteng saat bermain dengannya.
Seperti sore ini, saat Melani pulang rumahnya terlihat sepi sekali. Melani sudah dapat memastikan jika kedua buah hatinya pasti ada di rumah Andrew.
Benar saja, saat Melani berkunjung ke rumah Andrew, Fajri terlihat anteng menyusun lego dengan Andrew.
Merissa pun terlihat anteng mengerjakan tugas sekolahnya dibantu oleh adik perempuan Andrew, Alisa.
"Maaf kalau saya selalu merepotkan, Tante," ucap Melani penuh sesal.
"Tak apa, Nak. Justru Tante senang, rumah jadi rame," kata Mama Andrew.
Melani terharu dengan apa yang diucapkan oleh Mama Andrew, apa lagi saat melihat tatapan Mama Andrew yang penuh dengan ketulusan, membuat Melani senang dan tak enak hati secara bersamaan.
Setelah berbasa basi, akhirnya Melani pun mengajak kedua buah hatinya untuk pulang. Melani terlihat menuntun Merissa, sedangkan Fajri berada di dalam gendongan Andrew.
Anak itu seolah tidak mau lepas dari dekap hangat lelaki muda yang selalu dia panggil ayah itu, bahkan mata Fajri terlihat mulai terpejam.
Awalnya Melani akan membawa pulang sendiri putra tampannya itu, sayangnya dia tidak mau lepas dari Andrew.
Tiba di dalam rumahnya Melani, Merissa langsung berpamitan untuk masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Melani dan Andrew langsung masuk kedalam kamar Melani.
Andrew merebahkan tubuh mungil Fajri yang mulai terlelap, dia selimuti dan dia kecup keningnya dengan lembut.
Terlihat sekali jika Andrew sangat menyayangi bocah berusia dua tahun itu, Melani bakan sampai terharu dibuatnya.
Sifat Andrew begitu berbanding terbalik dengan Aldino, masih muda namun begitu perhatian.
"Terima kasih karena kamu sudah mau mengajak anak-anak aku untuk main di rumah kamu, maaf selalu merepotkan." Melani terlihat menunduk tak enak hati.
Andrew tersenyum, lalu dia mengangkat dagu Melani dengan jari telunjuknya. Tatapan mereka pun kini bertemu, Andrew terlihat tersenyum dengan sangat manis.
"Mbak, kita nikah yuk?" ajak Andrew.
"Hah?"
__ADS_1