
"Jangan berkata apa pun lagi, Mel. Aku tahu kamu menginginkannya, aku tahu dari reaksi tubuh kamu." Aldino menarik puncak dada istrinya, Melani pun langsung menggelinjang.
Aldino tertawa, kemudian tangan kanan Aldino langsung mengunci pergerakan kedua tangan Melani, sedangkan tangan kirinya melucuti pakaian yang Aldino pakai.
Mata Melani sempat membulat kala melihat tubuh telanjang milik suaminya, tubuh yang sering di jamaah oleh wanita selingkuhannya.
Rasanya begitu mual ketika dia melihat tubuh itu, namun Melanie masih sangat sadar jika Aldino masih berstatus sebagai suaminya.
"Baiklah, Mas. Jika kamu menginginkan tubuhku, aku akan memberikan servis yang spesial untuk dirimu. Anggaplah ini sebagai tanda perpisahan dariku," ucap Melani dalam hati.
Melanie pun akhirnya pasrah ketika Aldino mulai menjelajahi tubuhnya dengan bibirnya, Aldino mulai mengecupi setiap inci wajahnya.
Lalu, Aldino melabuhkan ciuman yang terasa begitu lembut di bibir Melani. Sudah sangat lama sekali mereka tidak berhubungan suami istri, Melanie sampai lupa kapan terakhir mereka melakukannya.
Namun, kali ini Melani sangat suka saat Aldino melakukannya. Karena diam benar-benar berlaku sangat lembut.
Setelah puas memagut bibir Melani, bibir Aldino terlihat menyusuri garis leher istrinya. Kemudian berlabuh kepada dada istrinya.
Tangan kanan Aldino terlihat memijat dan meremat dada sebelah kanan Melani, sedangkan tangan kiri Aldino menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya dengan sangat lembut.
Bibirnya pun tak tinggal diam, bibir Aldino terlihat mengulum dan menyesap puncak dada Melani yang sebelah kiri.
Karena Aldino masih sangat ingat, jika letak kelemahan Melani ada di sana. Puas bermain dengan dada istrinya, bibir Aldino menciumi perut Melani dan berlabuh di area inti istrinya.
Aldino benar-benar sangat lihai bermain di area inti istrinya, bahkan Melani merasa jika Aldino sudah lebih pandai dalam memberikan sentuhan maja pada dirinya.
Mungkin saja hal itu adalah salah satu pengaruh, karena dirinya yang suka bermain dengan Nyonya Mariane.
"Aku udah ngga sabar banget, Sayang. Sekarang ya?" pinta Aldino.
Melani menatap wajah Aldino yang terlihat begitu menginginkan dirinya, Melani tersenyum lalu dia bangun dan mendorong tubuh Aldino hingga terlentang di atas kasur.
Melani langsung menaiki tubuh suaminya dan langsung melakukan penyatuan, Aldino begitu kaget saat Melani melakukan hal itu.
__ADS_1
Namun, dia juga sangat senang karena Melani terlihat sangat agresif. Aldino langsung maencengkeram bokong istrinya, sedangkan Melani terlihat memompa tubuhnya suaminya dengan gerakan yang sangat lihai.
Bahkan tangan Melani terlihat meremat dadanya dengan gerakan yang sangat sensual, hal itu membuat Aldino benar-benar merasa senang.
Aldino merasa jika baru kali ini dia melihat Melani yang bermain di atas tubuhnya dengan sangat agresif, membuat Aldino begitu mengagumi kelihaian istrinya tersebut.
"Terus, Sayang. Ya, seperti itu. Enak," racau Aldino.
Melani tersenyum mendengar racauan dari suaminya itu, Melani pun menuruti apa keinginan dari Aldino.
"Mas! Aku--"
Aldino bisa melihat dengan jelas, jika Melani sudah ingin sampai kepada puncaknya. Aldino yang tak rela pun, langsung mengangkat tubuh Melani dan membaringkan tumbuh istrinya dengan sangat lembut.
Aldino mengganti posisinya, hingga kini dialah yang berada di atas tubuh istrinya. Dia langsung menyatukan tubuhnya, dan memompanya dengan sangat lembut.
"Tunggu aku, Yang." Kata Aldino seraya mengayunkan pinggulnya.
Melani terlihat memancing hasrat Aldino dengan meremat kedua dadanya, lalu dia mendongakkan kepalanya dan menautkan bibirnya ke bibir Aldino.
Aldino dan Melani nampak menikmati sensasi percintaan yang baru saja mereka lakukan, tak lama kemudian Aldino nampak mengecup kening istrinya dan merebahkan tubuhnya di sampingnya.
"Terima kasih, Sayang. Kamu masih sama seperti dulu, selalu enak," kata Aldino sebelum memejamkan matanya.
Sepertinya Aldino begitu kelelahan, karena setelah bercinta dengan Nyonya Mariene, kini dia harus bercinta bersama Melani.
Setelah melihat Aldino yang terlelap dalam tidurnya, Melani langsung mengecupi setiap inci wajah suaminya.
Dia memandang wajah lelaki yang sudah 10 tahun ini menemani hari-harinya, tanpa terasa air mata Melani pun langsung meleleh.
Antara sedih, benci dan juga cinta campur aduk menjadi satu. Ya, Melani masih sangat mencintai Aldino. Namun, dia sudah tak ingin lagi untuk meneruskan rumah tangganya.
"Selamat tidur, Mas. Semoga mimpi indah dan semoga kamu bahagia dengan jalan yang kamu pilih, karena aku sudah tidak sanggup lagi mengikuti semua permainan kamu," ucap Melani lirih.
__ADS_1
Melanie sempat melihat jam digital yang berada di atas nakas, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 02.00.
Melanie langsung memeluk tubuh suaminya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, dengan cepat melani pun ikut terlelap. Karena dia pun, memang merasa sangat lelah.
Pukul lima pagi Melani kembali terbangun dari tidurnya, rasanya masih sangat lelah. Namun ada hal yang harus dia lakukan dengan cepat.
Melani segera bangun dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat agar lebih segar, setelah selesai dengan ritual mandinya, Melani. langsung memakai baju dengan rapih.
Setelah itu, Melani pun langsung mengambil tas ransel yang disembunyikan di bawah ranjang. Dia berjalan dengan sangat perlahan menuju luar rumah, kemudian dia pun memasukkan tas ransel tersebut kedalam mobilnya.
Saat dia masuk ke dalam rumah kembali, dia berpapasan dengan mertuanya. Nyonya mesti pun langsung bertanya kepada Melani.
"Dari mana, Sayang?" tanya Nyonya Mesti.
"Dari luar, Mah. Ngecek mobil, aku mau pergi sekarang soalnya." Mendengar ucapan Melani, sotak Nyonya Mesti langsung melirik jam yang ada di ruangan tersebut.
"Baru pukul enam, Sayang," kata Nyonya Melani.
"Aku sedang buru-buru, Mah. Maaf ngha bisa bantuin bikin sarapan," kata Melani.
"Ya, ngga apa-apa," kata Nyonya Mesti.
Setelah berbicara dengan Nyonya Mesti, Melani langsung masuk kedalam kamarnya. Dia mengambil jaket, mengambil kunci mobil beserta dompet dan juga ponsel miliknya.
Setelah itu, Melani langsung melajukan mobilnya menuju Caffe yang dia kelola bersama dengan Reni sahabatnya.
Kebetulan dia lantai dua memang ada dua kamar khusus yang biasa digunakan oleh Melani dan juga Reni ketika mereka penat, mereka akan beristirahat di sana.
Sampai di Caffe, Melani langsung menyimpan barang-barangnya di kamar pribadi miliknya. Kemudian, setelah itu dia pun segera melajukan mobilnya menuju ke perusahaan milik keluarga Pranadtja.
Tentu saja dia ingin meminta pertolongan kepada Gia dan juga Ajun, dia ingin segera lepas dari jerat cinta Aldino.
Sampai di kantor Gia, ternyata waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Melani pun langsung meminta izin pada security untuk menunggu Gia di kursi tunggu yang ada di loby.
__ADS_1
Tentu saja security tersebut mengizinkan, karena Melani berkata jika dia adalah adik sepupunya Ajun.