
Setelah kepergian Bibi Asih, Dina pun langsung menyuapi VB dengan bubur yang sudah dibelikan oleh Bibi Asih.
Dina dengan telaten menyuapi VB dan VB pun dengan senang hati menerima setiap suapan dari istrinya. VB merasa sangat senang sekali, karena ternyata Dina bisa langsung memaafkan kesalahannya.
Dina juga dengan sabar mau mendengarkan penjelasannya, dan VB langsung berhenti mengunyah kala dia mengingat kado yang berisikan tespek dan juga foto USG serta hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa Dina positif hamil.
"Yang! Kamu hamil?" kata VB.
Dina menyimpan sisa bubur yang telah dimakan oleh VB di atas nakas, kemudian Dina pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya, Sayang. Aku hamil," ucap Dina.
"Ya Tuhan, Sayang. Aku sangat senang mendengarnya," ucap VB.
"Seneng, atau seneng banget?" tanya Dina.
"Aku sangat senang sekali, Yang." VB langsung mengecupi setiap inci wajah istrinya, lalu yang terakhir dia pun mencium bibir Dina dengan sangat mesra.
VB benar-benar tak menyangka, jika Tuhan begitu baik padanya. Tuhan langsung memberikan keturunan padanya, kini di dalam rahim istrinya sedang tumbuh janin buah cinta VB dan juga Dina.
"Aku senang, Yang. Karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah," kata VB.
"Ya, Mas. Aku pun senang," kata Dina seraya mengelus lembut perutnya.
VB pun langsung menunduk, dia mengelus lembut perut Dina sambil mengecupi perut istrinya yang masih rata.
"Maafkan Daddy ya, Sayang. Karena kemarin Daddy malah membuat Mom, kamu menangis dan pergi jauh dari Daddy. Daddy janji akan menjaga kamu dan juga Mom, kamu dengan baik-baik. Kamu jangan nakal di dalam perut Mommy ya, Sayang." Kembali VB mengecupi dan mengelus lembut perut Dina dengan penuh kasih sayang.
Hal itu membuat Dina sangat terharu, karena walaupun dia mempunyai suami yang usianya jauh dibawah Dina. Namun VB terlihat sekali sangat menginginkan keturunan dari dirinya.
Bahkan dari sebelum menikah pun, VB sudah berbicara dengannya jika dia ingin menikah muda dan mempunyai keturunan secepatnya.
"Aku mencintai kamu, Sayang." Tautan bibir VB kini langsung membelit bibir Dina.
Rasa rindu yang dia rasa ingin dia luapkan dengan memadu kasih bersama istrinya.
"Yang, Mas pengen." VB langsung meremat dua benda favoritnya yang masih terbungkus dengan sempurna.
__ADS_1
"Mas minum obat dulu, terus istirahat. Aku juga mau makan, Dede juga udah laper. Mau makan mujaer sambel tauco katanya," kata Dina.
"Yang," ucap VB memelas.
"Ck! Mas masih lemes, nanti pas lagi naek malah ambruk lagi." Dina langsung terkikik geli saat membayangkan VB yang jatuh karena lemas saat berada di atas tubuhnya.
"Yang! itu beda, Yang. Aku dari kemarin belum makan, aku nyusul kamu dan aku cuma sempat sarapan. Seharian aku nyariin kamu nggak sempet minum-minum acan, Yang." Kata VB seraya mengecupi punggung tangan Dina.
"Alasan! Bilang aja sekarang badan kamu udah lemah," ledek Dina.
"Yang!" kata VB dengan suara yang sudah naik satu oktaf.
"Iya-iya, kamu itu kuat orangnya. Sekarang minum obat dulu," Dina pun langsung mengambil obat dan menyodorkannya kepada pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Dengan muka yang ditekuk dengan sempurna, VB pun langsung meminum obat yang diberikan oleh Dina.
"Sekarang Mas tiduran dulu, ya Mas. Dede udah laper, Mas enggak kasihan sama Dede?" tanya Dina.
"Iya-iya, Mas akan sabar nunggu," kata VB.
"Baiklah kalau begitu, Mas boboan dulu. Aku mau ke dapur, mau makan sebentar. Mas Enggak apa-apa kan ditinggal?" tanya Dina.
Akhirnya Dina pun melangkahkan kakinya menuju dapur, sebelum itu Dina pun melabuhkan kecupan hangat di dahi VB. Lalu, dia pun sarapan di dapur dengan masakan yang sudah sangat diinginkan.
Lima belas menit kemudian, Dina pun kembali masuk ke dalam kamarnya karena merasa perutnya sudah sangat kenyang dengan makanan yang sangat ia inginkan tadi.
"Mas," panggil Dina.
Namun tak ada sahutan dari dalam kamar, dan saat Dina melihat kearah VB, ternyata VB sudah tertidur dengan sangat pulas.
Entah karena dia mengantuk karena semalaman dia tidak tidur, atau mungkin karena pengaruh dari obat yang telah dia minum.
Dina pun tersenyum, lalu dia menghampiri VB dan membenahi letak selimut yang dipakai.
"Selamat tidur, Mas," kata Dina seraya mengecup lembut kening suaminya.
Dina yang merasa rindu terhadap suaminya itu pun, dia langsung ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk suaminya dengan sangat erat.
__ADS_1
"I Love you, Sayang." Dina langsung mengecupi bibir VB dengan lembut.
Walaupun waktu baru menunjukan pukul sembilan pagi, tapi dua insan yang saling merindukan itu kini sudah tidur terlelap dengan saling memeluk satu sama lain.
*/*
"Maaf, Tuan. Kita harus segera berangkat ke kota B," ucap Ajun.
"Ck, aku sangat malas." Bukannya bangun, Gia malah menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Tapi, Tuan. Kita harus melakukan kunjungan ke salah satu anak cabang yang ada di sana, karena memang itu sudah kegiatan rutin kita setiap bulan," jelas Ajun.
"Apa kamu bisa mewakili diriku?" tanya Gia.
"Heh... " terdengar helaan nafas berat dari Ajun.
Gia langsung tersenyum, itu artinya dia bisa mengandalkan Ajun.
"Tolong, ya? Aku hanya takut mual saat sedang melakukan perjalanan, kamu tahu'kan kalau aku masih suka mual muntah?" Gia sengaja beralasan, agar dia tidak pergi.
Gia seakan tak rela untuk pergi ke luar kota, dia takut akan pulang malam atau malah akan menginap di Kota ini B. Gia tak ingin jauh dari Elsa, Dia ingin selalu dekat dengan istrinya.
"Ck, baiklah." Ajun langsung pergi dari ruangan Gia.
Ajun langsung masuk ke dalam ruangannya, dia lalu merapihkan berkas yang perlu dia bawa. Tak lupa dia juga membawa kunci mobil, dompet dan juga ponselnya.
"Dasar pemalas, bilang saja malas. Ngga usah ngidam dijadikan alasan," ucap gerutu Ajun.
Ajun langsung melajukan mobilnya menuju kota B, sebenarnya dia sangat malas pergi sendirian. Karena membutuhkan waktu yang lama untuk pergi menuju kota B.
Jika Gia tak ikut, itu artinya dia tidak ada teman bicara selama berada di dalam perjalanan. Walaupun dia jarang bicara, tetapi jika dia pergi bersama dengan Gia, Gia akan terus mengoceh sepanjang perjalanan.
Pukul satu siang, Ajun baru saja sampai di kota B, dia langsung menuju kantor cabang dan langsung melakukan eksekusi di sana.
Seperti biasanya, semua orang akan berada dalam mode silent jika Ajun datang. Tak ada yang berani bersuara, saat berhadapan dengan pria dingin yang sudah matang itu.
+
__ADS_1
+
Selamat malam tahun baru, semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Jangan lupa likenya ya..