Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Males


__ADS_3

VB berangkat bekerja dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya, setidaknya dia sudah mendapatkan vitamin yang cukup untuk menyemangati harinya.


Sampai di kantor pun senyum VB terus mengembang, bahkan dia membalas senyuman setiap karyawan yang menyapa dirinya.


Berbeda dengan Gia yang hari ini harus kembali mengadakan meeting dengan Tuan Abidzar, rasanya dia begitu enggan untuk pergi.


Dia tak ingin bertemu dengan Melinda, wanita yang satu bulan yang lalu hampir saja membuat dirinya jatuh kepelukan sang mantan.


Wanita yang berotak licik dan tega membahayakan keselamatan orang lain, kalau daja dia tak ingat jika Melinda pernah menjadi wanita yang spesial dalam hidupnya, sudah dapat dipastikan jika Gia akan memenjarakan wanita itu.


"Hehh!"


Terdengar hala napas berat dari bibir Gia, dia benar-benar malas untuk pergi ke Caffe tempat diadakannya meeting dengan Tuan Abidzar.


Kalau saja bukan project besar yang sedang dia jalani dengan Tuan Abidzar, sudah dari awal dia membatalkan kerja sama tersebut.


Ajun yang melihat wajah murung Gia, langsung menghampirinya. Dia duduk tepat di depan Gia, lalu bertanya.


"Kenapa?" tanya Ajun.


Ajun merasa lucu melihat Gia yang terlihat merajuk seperti anak kecil, dia sudah tahu kenapa Gia tidak mau pergi.


Ajun hanya ingin berusaha untuk menjadi teman bicara yang baik saja untuk Gia.


"Males pergi," jawab Gia lemah.


Gia terlihat menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, dia terlihat benar-benar malas untuk pergi ke manapun. Moodnya seakan berubah jelek, semenjak dia sampai di kantor.


"Tapi pertemuan kali ini, Tuan harus ikut. Karena kita ada perjanjian kerja sama project baru dengan Tuan Abidzar," kata Ajun.


"Ya, aku tahu. Project kali ini lebih besar dari kemarin, tapi aku males banget. Aku males buat ketemu sama wanita uler itu," kata Gia.


Ajun terlihat mencebikkan bibirnya kepada Gia, saat Gia mengatakan Melinda sebagai wanita ular.


Dulu saja Gia terlihat begitu memuja Melinda, bahkan saat Ajun mengungkapkan tentang kejelekan Melinda, dia seolah tak percaya.


Gia malah marah terhadapnya, bahkan dia tak mau bertegur sapa dengan Ajun selama beberapa hari.

__ADS_1


Sekalinya dia melihat dengan mata kepala sendiri, dengan apa yang dilakukan oleh Melinda. Dia terlihat sangat frustasi.


Bahkan karena kekecewaannya terhadap Melinda, dia sampai melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Dia meminum-minuman yang gak pernah dia sentuh sama sekali, dia kesal. Dia mabuk, dia bahkan tak sadar sudah memperkosa wanita yang datang ke dalam rumahnya.


Beruntung wanita yang dia noda adalah Elsa, walaupun Elsa bukan terlahir dari keluarga ningrat, tapi dia merupakan perempuan baik dan mempunyai pendirian yang teguh.


Bahkan Elsa dengan lapang dada mempertahankan janin yang ada di perutnya, walaupun saat itu dia mendapatkan banyak cibiran dari setiap orang yang mengenalinya.


"Sudah jangan banyak bicara, bersiaplah. Kalau kamu malas bicara, nanti biar aku saja yang berbicara. Kamu cukup diam dan dengarkan, lalu tanda tangan. Beres, kan?" kata Ajun.


Gia terlihat menimbang-nimbang apa yang diucapkan oleh Ajun, kemudian dia pun mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan oleh asisten kepercayaannya tersebut.


"Baiklah, kita pergi sekarang juga." Gia terlihat bangun dan mengambil ponsel serta dompetnya.


Berbeda dengan Ajun, dia langsung merapikan berkas penting yang diperlukan. Lalu, Ajun pun langsung mengekori langkah Gia.


Mereka berjalan beriringan, sampai di depan lobby, seorang sopir langsung menyambut kedatangan Gia dan juga Ajun.


Dia langsung membukakan pintu untuk Ajun dan juga Gia, Gia nampak menoleh ke arah Ajun.


Gia hanya menggelengkan kepalanya, dia sudah bisa menebak apa yang terjadi tadi malam sehingga Ajun malas untuk mengendarai mobil.


Pasti itu semua bisa terjadi karena kegiatan yang dilakukan oleh Ajun bersama dengan Gadis, bujang lapuk itu pasti getol banget nengokin calon buah hati mereka, pikirnya.


"Ngga usah asem gitu mukanya, kaya ngga ngerasain aja enaknya kaya apa," kata Ajun seraya tergelak.


Gia terlihat memundurkan kepalanya, dia seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.


Ajun benar-benar berubah semenjak menikah dengan Gadis, pria pendiam dan jarang bicara serta berwajah dingin itu berubah total.


Dia sekarang terlihat lebih ceria dan hangat, bahkan wajahnya selalu terlihat berseri dalam setiap harinya.


"Aneh," kata Gia.


Mendengar ucapan Gia, Ajun kembali tergelak. Dia suka saat melihat Gia yang kesal karena ulahnya.

__ADS_1


Ternyata menikah dengan wanita bar-bar seperti Gadis banyak untungnya, hidupnya menjadi lebih ceria dan berwarna.


Setelah Ajun dan Gia duduk dengan nyaman, pak Sopir pun langsung melajukan mobilnya menuju Caffe tempat mereka janji temu.


Tiba di Caffe, Ajun terlihat berjalan terlebih dahulu. Gia malah terlihat bersembunyi di balik tubuh Ajun.


Padahal tinggi badan mereka sama, sudah bisa dipastikan jika Gia akan tetap terlihat.


"Selamat pagi," sambut Tuan Abidzar.


Tuan Abidzar terlihat mengulurkan tangannya, dengan senang hati Gia dan juga Ajun pun membalas uluran tangan Tuan Abidzar.


Setelah itu, Melinda terlihat seperti ingin mengeluarkan tangannya. Tapi merasa takut saat melihat tatapan mata Gia dan juga Ajun.


Melihat gerak-gerik Melinda yang terasa sangat aneh di mata Tuan Abidzar, dia pun langsung bertanya kepada Melinda, sang sekretarisnya itu.


"Kamu kenapa diam saja? Kenapa terkesan tidak sopan seperti itu? " tanya Tuan Abidzar.


"Anu Tuan, itu. Tangan saya sedikit sakit, maaf." Melinda nampak menundukkan kepalanya.


Dia benar-benar takut saat melihat tatapan mata tajam dari Ajun dan juga Gia. Dia sungguh takut jika mereka berdua akan melaporkan apa yang telah diperbuatnya kepada Tuan Abidzar.


Tentu saja dia sangat takut dipecat, karena saat ini dia hanya mengandalkan gaji dari pekerjaannya.


Sekarang Melinda sudah tidak bekerja sebagai model lagi, jaman sekarang sudah banyak artis-artis pendatang baru yang lebih cantik dan juga seksi. Sehingga wanita yang mulai berumur seperti Melinda mulai tidak dilirik lagi dalam dunia modeling.


"Oh, maaf kalau begitu. Silakan duduk Tuan Gia, Tuan Ajun," kata Tuan Abidzar.


Ajun dan Gia pun langsung duduk, Gia terlihat diam saja. Sesekali dia memberikan tatapan tajamnya kepada Melinda, sedangkan Ajun langsung mengeluarkan berkas-berkas penting yang dibutuhkan untuk kelangsungan meeting tersebut.


Begitu pun dengan Melinda, dia nampak mengeluarkan laptopnya. Setelah semuanya siap, mereka pun nampak melakukan meeting tersebut.


Melinda benar-benar tak berani melihat ke arah Gia sama sekali, karena Melinda sudah sangat tahu jika Gia pasti sangat marah terhadap dirinya.


Karena dia sudah berani untuk memaksa masuk kembali ke dalam kehidupan Gia, sedangkan Gia kini sudah bahagia dengan rumah tangganya bersama dengan Elsa.


Melinda pun menyadari kesalahannya begitu besar kemarin, dia begitu terobsesi karena masih merasa penasaran dengan Gia.

__ADS_1


Namun, saat ini Melinda sudah sangat tahu jika Gia benar-benar sudah melupakan dirinya. Gia sudah benar-benar merasa bahagia dengan kehidupan barunya bersama dengan Elsa dan juga ketiga putrinya.


__ADS_2