
Tak lama nampaklah Gadis dengan baskom di tanganya, tentu saja isi dari baskom tersebut adalah buah melon pesanan dari Bapak'nya.
"Ini, Pak. Buah melonnya," ucap Gadis. Gadis langsung memberikan melon tersebut pada Bapaknya.
"Terima kasih, Neng. Tolong sekalian layanin Mas'nya dulu, minta dibungkus dia, Bapak kebelet." Ucapnya seraya berlari kebelakang.
"Ish, si Bapak aya-aya wae." Gadis sempat melirik ke arah Ajun, dia tersenyum lalu meracik sup buah pesanan Ajun.
Ajun hanya diam sambil melihat kelincahan Gadis, dia tak menyangka jika Gadis yang terlihat masih bocah terlihat begitu pandai saat meracik sup buah.
"Ini, Om. Sup buahnya, jangan lupa nanti datang lagi." Gadis memberikan sup buah ya pada Ajun, tentunya dengan senyumaj manisnya.
Ajun menerimanya dengan wajah datarnya, dia tak suka dipanggil Om, karena dia merasa belum tua. Tanpa banyak bicara, Ajun langsung memberikan uang berwarna biru pada Gadis.
"Sebentar, Om. Saya ambilkan kembaliannya," ucap Gadis. Ajun langsung menahan tangan Gadis, Gadis dengan cepat melihat tangan Ajun yang kini sedang memegang tangannya.
Senyumnya langsung terukir dengan cantik di bibir Gadis, dia sangat suka akan sentuhan dari pria dewasa di depannya itu. Lelaki tampan, gagah dan juga terlihat tampan di usianya yang terlihat sudah matang.
"Tidak usah, untuk kamu jajan aja." Ajun langsung melepaskan tangan Gadis dan pergi dari tempat itu, dia sudah sangat lapar.
Gadis hanya bisa menatap kepergian Ajun dengan tatapan penuh kekaguman, bahunya terlihat sangat lebar, badannya terlihat kekar. Rasanya ingin sekali gadis memeluk Ajun dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahunya Ajun.
"Dia kenapa tampan sekali? Sayangnya mukanya datar aja, ekpresinya lurus kaya jalan tol." Kata Gadis.
"Siapa, Neng?" tanya Bapaknya.
Gadis terlihat gelagapan, dia merasa kaget karena Bapaknya tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya.
"Bukan siapa-siapa, Pak. Gadis pergi dulu, mau kuliah. Masih ada yang harus Gadis kerjakan sebelum acara wisuda di mulai," pamit Gadis pada Bapaknya.
"Iya, hati-hati." Do'a Bapaknya sebelum Gadis pergi.
Di saat Gadis pergi menuju kampus, Ajun kini sudah berada di dalam ruangan Gia. Dia sedang menikmati sarapannya, yang tentunya sudah hampir menjelang makan siang.
__ADS_1
Awalnya Ajun mempunyai ruangan sendiri, tapi semenjak Gia mengalami ngidam aneh-aneh nya. Ajun kini diharuskan satu ruangan bersama dengan Gia.
Awalnya Ajun terlihat kesal, namun dia tak bisa membantah dengan apa pun yang diinginkan oleh bosnya itu.
*/*
Jika Ajun sedang bete karena ulah Gia dan juga ulah Gadis, lain halnya dengan VB. Sudah dua minggu dia tidak mendapatkan jatah, sungguh VB merasa sangat tersiksa.
Karena tiap malam dia harus tidur bersama dengan istrinya, namun sayangnya VB tak bisa memanjakan miliknya di dalam kelembutan milik istrinya.
Padahal, VB sudah benar-benar rindu akan kegiatan panas mereka. Setidaknya kalau memang VB tidak boleh melakukannya di sembarang tempat, VB sangat ingin melakukannya di atas ranjang saja.
Tentunya yang terpenting, dia bisa melakukannya dengan berbagai macam gaya. Sayangnya, Dina berkata jika dia harus libur selama 1 bulan.
VB pun makin merana mendengarnya, karena dia seakan sudah tak sabar ingin bercumbu mesra dengan istrinya tersebut. Sebenarnya 1 minggu beristirahat pun area inti milik Dina sudah sembuh.
Bahkan sudah bisa dimasuki oleh milik VB, namun Dina memang ingin mengerjai suaminya tersebut. Agar dia bisa menahan hawa nafsunya, namun melihat VB yang kian murung, Dina pun menjadi tak tega.
Dina pun sengaja memasak makanan kesukaan VB, dia ingin ke kantor VB. Dia ingin mengajak VB berjalan-jalan dan dia pun ingin memberikan hak VB sebagai suami.
Setelah masakannya matang, Dina pun langsung berpamitan kepada Nyonya Miranda.
" Mom, aku ingin pergi ke kantor Mas VB. Aku ingin membawakan makan siang untuknya," pamit Dina.
Nyonya Miranda nampak tersenyum, lalu dia menghampiri Dina dan mengelus lembut Puncak kepala menantunya itu.
"Pergilah, Nak. Mom tahu akhir-akhir ini dia terlihat sangat kusut, semoga saja dengan kehadiran kamu, VB akan lebih bersemangat lagi." Ucap Nyonya Miranda.
"Ya, Mom. Aku pergi," pamit Dina.
Dina pun langsung meminta Pak sopir untuk mengantarkannya ke kantor VB, saat sampai di perusahaan milik keluarga Fahreza, Dina pun langsung masuk kedalam perusahaan tersebut.
Semua karyawan langsung menunduk hormat kepada Dina, karena mereka sangat tahu jika Dina adalah istri dari pemilik perusahaan tersebut.
__ADS_1
Sampai di depan ruangan VB, Dina merapikan penampilannya lalu mendorong pintu ruangan VB dengan perlahan.
Saat pintu terbuka, Dina bisa melihat VB yang sedang duduk diatas kursi kebesarannya. Dia terlihat melamun, tangannya memegang berkas namun tatapan matanya terlihat kosong.
Dina pun makin merasa bersalah dibuatnya, dia langsung menghampiri VB. Menyimpan bekal makan siangnya di atas meja, lalu dia duduk di atas pangkuan VB.
VB begitu kaget saat melihat Dina yang kini sudah berada tepat di pangkuannya.
"Kenapa?" tanya Dina.
VB langsung memeluk Dina dengan sangat erat, dia rindu dengan istrinya. Apalagi dengan kegiatan panas mereka di atas ranjang.
"Mas rindu, mas mau cium. Boleh?" tanya VB.
Tanpa menjawab, Dina langsung menunduk dan menautkan bibirnya dengan bibir suaminya. VB terlihat sangat bahagia, dengan senang hati dia langsung membalas tautan bibir Dina.
Bahkan, tangan VB pun langsung masuk ke dalam baju Dina. Lalu dengan senang hati, VB meremat kedua benda kenyal favoritnya.
Dina membiarkan VB melakukan apapun sesuka hatinya, karena dia sudah berjanji dalam hatinya jika hari ini akan memberikan hak VB sebagai suami.
Karena tidak ada penolakan dari Dina, VB pun tersenyum senang. Bahkan bibir VB kini sudah turun ke leher jenjang istrinya, dia sengaja memberikan sentuhan-sentuhan manja yang bisa membuat Dina kelabakan.
VB bahkan menurunkan dress yang dipakai oleh Dia, sehingga menampilkan dada istrinya yang begitu menggoda di matanya.
VB pun dengan cepat mendekatkan wajahnya, dia sudah tidak sabar ingin menikmati puncak dan istrinya tersebut.
Namun, saat bibir VB hendak mengulum puncak dada Dina, Dina langsung mendorong kepala VB dengan pelan dan lembut.
VB terlihat sangat kecewa, dia pun menatap Dina dengan tatapan protesnya.
"Makan dulu, Mas. Baru nanti kita meneruskannya lagi," kata Dina.
Mata VB langsung membulat dengan sempurna kala mendengar ucapan dari Dina.
__ADS_1
"Memangnya boleh?" tanya VB, Dina langsung menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat VB terlihat sangat senang tiada terkira.