
Pada hakikatnya manusia memang diciptakan berpasang-pasangan, seorang wanita akan mencari pasangan terbaik dalam hidupnya.
Begitu pun dengan lelaki, ada juga di antara mereka yang mencoba memperbaiki diri agar mendapatkan pasangan yang terbaik untuk hidupnya.
Ada juga manusia yang mengharapkan jodoh terbaik, namun dirinya tak pernah ingin berubah menjadi lebih baik.
Sejatinya manusia sama saja, mereka ingin mendapatkan kebahagiaan dengan jalannya masing-masing.
Begitu pun dengan Melani, dulu dia begitu bersemangat menerima cinta Aldino karena Aldino terlihat begitu tulus mencintainya.
Bahkan, Aldino benar-benar memperjuangkan cintanya walaupun mendapat penolakan dari ibunda Melani.
Karena kegigihannya, akhirnya ibunda Melani pun mengizinkan Aldino untuk menikahi putri semata wayangny.
Tentunya dengan syarat, Aldino harus setia dan sealu mencintai Melani sampai ajal datang menjemput.
Aldino pun dengan yakin mengiyakan kala itu, karena memang Melani merupakana wanita yang spesial menurutnya.
Banyak wanita yang datang dalam hidupnya, namun tak sepengertian Melani. Banyak wanita yang datang, namun tak setulus Melani.
Mereka pun akhirnya menyatukan ikatan cinta mereka, lewat pernikahan. Pernikahan yang sederhana, namun terasa khidmat.
Bahkan mereka menikah di Rumah Sakit, karena keadaan ibunda Melani yang sedang sekarat.
Melani bahagia bukan main kala itu, karena pada akhirnya lelaki yang dia cintai, lelaki yang memperjuangkan dirinya akhirnya menjadi suaminya.
Namun setelah enam tahun mereka menikah, sifat Aldino berubah drastis terhadapnya. Aldino masih memperlakukan Melani dengan baik, namun dia berubah menjadi dingin.
Aldino akan berangkat pagi-pagi sekali dan akan pulang saat hampir tengah malam. Melani sampai jarang sekali bertemu dan berkomunikasi dengan Aldino.
Hal itu membuat dirinya sangat sedih, namun dia berusaha tegar. Karena dia tidak ingin membuat kedua buah hatinya sedih, dia juga tidak ingin membuat mertuanya ikut kepikiran.
Melani yang selalu diperlakukan spesial oleh Aldino, menjadi serba salah. Dia sering merasakan rindu yang luar biasa, dia sering merasa rindu dengan belai hangatnya Aldino.
Jika malam tiba, Melani akan meringkuk di balik selimut tebal. Rasa ingin bercinta terkadang timbul dan membuatnya resah tak bisa membuat matanya terpejam.
Andai saja tak malu, ingin rasanya Melani membeli alat bantu sekss untuk menuntaskan hasratnya.
Tiga tahun diabaikan bukan waktu yang sebentar, membuat Melani sering menangis dalam diam.
Padahal, masih teringat dengan jelas kala mereka baru saja menikah. Aldino meminta izin untuk mbawa Melani menuju puncak, katanya sebagai acara bulan madu untuk mereka.
Karena kala itu Aldino masih bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta, tak ada uang. Tak ada kemewahan, namun Melani suka akan ketulusan Aldino saat itu.
__ADS_1
"Maaf ya, Sayang. Aku belum bisa membuat kamu senang, Aku janji kalau punya uang nanti kita akan berlibur keluar negeri."
"Jangan pernah tinggalkan aku, karena kamu adalah bidadari hatiku. Tak akan ada wanita lain yang bisa mengantikan posisi kamu di dalam hati aku."
Namun semuanya seakan bualan semata, Karena Aldino malah berselingkuh dengan wanita lain.
Awalnya Melani diam, namun karena sudah tak kuat Akhirnya dia pun memutuskan untuk bercerai.
"Mel, Melani!" teriak Reni.
"Hah! Apa?" tanya Melani kaget.
"Ya Tuhan, Melani. Caffe sedang ramai, jangan terus melamun. Tolong bantu aku," kata Reni.
"Ah, iya." Melani langsung menyimpan akte cerai yang baru saja dia dapatkan dari pengadilan agama.
Ya, Melani dan Aldino kini sudah resmi bercerai. Padahal pada dasarnya perceraian itu akan berjalan selama enam bulan, paling cepat tiga bulan.
Itu pun jika tidak ada perdebatan atau tidak ada yang mempersulit diantara kedua belah pihak.
Melani pun sebenarnya tidak mengerti, apa yang dilakukan oleh Andrew. Karena baru saja sebulan, tapi akte cerainya sudah turun.
Setelah mendapatkan teguran dari Reni, Melani pun langsung membantu untuk melayani pengunjung.
"Mau pesan apa, Nona?" tanya Melani.
"Kopi mocca satu, cup cakenya dua." Tunjuk wanita itu pada cake yang berada di cake showcase.
"Apa ada lagi?" tanya Melani.
"Tidak ada," ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.
Setelah mencatat pesanan dari wanita tersebut, Melani pun dengan cepat menyiapkan pesanan dari wanita tersebut.
"Silakan, Nona." Melani menata pesanan wanita itu di atas meja.
"Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama," kata Melani.
Setelah melayani wanita cantik itu, Melani nampak melayani pengunjung yang lainnya. Hingga beberapa saat kemudian, dia mendengar pertengkaran antara seorang lelaki dan juga perempuan.
Melani nampak mengedarkan pandangannya, lalu dia pun melihat sosok lelaki yang dia kenal sedang berdebat dengan perempuan yang beberapa saat tadi memesan kopi mocca.
__ADS_1
"Dokter Irawan," ucap Melani lirih.
"Pantas saja aku seakan pernah melihat wanita itu, ternyata wanita itu yang pernah bertemu denganku saat membawa Fajri berobat." Monolog melani dalam hati.
Awalnya Melani nampak diam saja, namun semakin lama perdebatan kedua manusia itu semakin sengit.
Hal itu membuat pengunjung yang lain terlihat terngganggu, Melani pun memutuskan untuk menghampiri pasangan yang sedang berdebat tersebut.
"Maaf Nona, maaf Tuan. Jika anda ingin berdebat mohon jangan di Caffe saya, karena pertengkaran anda mengganggu pengunjung yang lainnya. Jika ada masalah tolong diselesaikan secara baik-baik," ucap Melani.
Mendengar perkataan Melani, dokter Irawan dan juga perempuan tersebut langsung terdiam.
Perempuan tersebut terlihat menahan amarahnya dengan mengepalkan kedua tangannya, sedangkan dokter Irawan terlihat malu saat melihat Melani' lah yang menegurnya.
"Maaf, maafkan atas ketidaknyamanan yang sudah saya lakukan." Dokter Irawan nampak menarik tangan wanita tersebut untuk keluar dari Caffe milik Melani.
"Tunggu," kata wanita itu.
Setelah mengatakan hal itu, wanita tersebut nampak mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang seratus ribuan dan langsung menyimpannya di atas meja.
"Terima kasih untuk pelayanannya, maaf karena sudah mengganggu," ucap perempuan tersebut.
Setelah mengatakan hal itu, perempuan tersebut langsung mendahului dokter Irawan dan pergi dari sana.
Dokter Irawan nampak menggelengkan kepalanya, namun dia pun ikut mengekori langkah wanita tersebut.
Setelah kepergian dua insan rupawan tersebut, Melani nampak mengelus dadanya. Dia merasa bersyukur karena sejahat apa pun Aldino terhadap dirinya, namun dia tak pernah membentak dirinya di depan orang banyak.
"Maaf atas ketidak nyamanannya, silakan lanjutkan kembali," kata Melani kepada para pengunjung Caffe.
Setelah mengatakan hal itu, Melani pun nampak melanjutkan pekerjaannya kembali. Sampai sore hari Caffe sangatlah ramai, sampai-sampai dia lupa untuk mengecek ponselnya.
Sore hari pun telah tiba, Melani terlihat sangat kelelahan. Dia lalu mencuci mukanya lalu memoles wajahnya dengan make up agar tak terlihat kusut, pikirnya.
Setelah itu, dia pun memoles kembali bibirnya dengan gincu berwarna merah muda.
"Ya Tuhan, seharian ini aku lupa tidak mengecek ponselku," ucap Melani.
Melani pun lalu segera mengambil ponselnya, dia melihat ada pesan dari mantan mertuanya. Ada juga pesan dari Aldino dan ada pesan dari Andrew.
Tentu saja yang pertama kali dia buka adalah pesan dari mantan mertuanya, alangkah kagetnya Melani saat membaca pesan dari mertuanya tersebut.
"Asam lambung Mamah kumat, maaf karena Mamah tidak bisa datang untuk mengasuh Fajri."
__ADS_1