
Kiandra terlihat berjalan beriringan bersama dengan Aurora, tiba di taman kantor Kiandra langsung mengajak Aurora untuk duduk.
"Duduklah!" kata Kiandra seraya menghempaskan bokongnya di bangku taman, Aurora nampak duduk di samping Kiandra.
"Mau bicara apa?" tanya Aurora.
Kiandra terdiam sesaat, dia terlihat seperti sedang merangkai kata. Kemudian dia berkata.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu itu kembar? Kenapa kamu membiarkan aku menyangka jika kamu mempunyai dua keperibadian?" tanya Kiandra.
Mendengar pertanyaan dari Kiandra, Aurora nampak tertawa. Dia memang sengaja tidak memberitahukannya kepada Kiandra, karena dia memang berniat untuk mengerjai Kiandra, tadinya.
"Tidak apa-apa, maaf," kata Aurora pada akhirnya.
Saat melihat Aurora tertawa, Kiandra nampak mendelik sebal. Dia merasa jika Aurora sedang menertawakan kebodohannya, karena tidak bisa membedakan antara dirinya dengan Aurelia.
Padahal mereka memang kembar identik, namun mempunyai sifat dan perilaku yang berbeda jauh.
"Kamu menyebalkan!" keluah Kiandra.
Aurora tersenyum, kemudian dia berkata.
"Kamu lebih menyebalkan, setiap bertemu mukanya selalu saja ditekuk. Padahal kalau tersenyum kamu sangat manis," kata Aurora seraya mengingat senyum Kiandra saat berkumpul bersama dengan anak-anak waktu di pulau B.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Aurora, Kiandra nampak bertanya dalam hatinya. Kapan Aurora melihat dia tersenyum, pikirnya.
"Kapan kamu melihat aku tersenyum?" tanya Kiandra.
__ADS_1
Aurora terlihat memalingkan wajahnya, lalu dia menatap wajah Kiandra dengan lekat.
"Enam tahun yang lalu, waktu kamu bermain dengan anak-anak di pulau B," jawab Aurora.
Kiandra nampak mengingat-ingat kejadian yang dialami saat enam tahun yang lalu, saat itu dia begitu bahagia karena diajak berlibur oleh kedua orang tuanya ke pulau B.
Namun hari itu juga merupakan hari yang menyedihkan untuk dirinya, karena di hari itu Ibunya meninggal dunia.
Saat itu Kiandra baru tahu jika Ibunya mengidap penyakit kanker, ayahnya ternyata sengaja mengajak dirinya dan juga ibunya ke pulau B untuk membahagiakan ibunya di saat-saat terakhirnya.
Awalnya Kiandra tidak pernah berpikir yang macam-macam saat dirinya sering diajak ke Rumah Sakit oleh Ibunya, karena Ibunya selalu berkata jika dia sedang mengecek kondisi kesehatannya.
Bahkan wajah Ibunya tidak pernah terlihat pucat, maka dari itu Kiandra tidak pernah curiga akan penyakit yang diderita oleh Ibunya
Namun, ternyata ibunya selalu memakai make up untuk menyamarkan wajah pucatnya.
Melihat kesedihan di mata Kiandra, Aurora menjadi tak tega dibuatnya. Dia berusaha untuk menenangkan hati Kiandra dengan mengelus lembut punggung lelaki itu.
"Maaf sudah membuat kamu sedih," kata Aurora.
"Tidak apa-apa, oiya... apa kamu mau membantu aku agar bisa sedikit lebih tenang?" tanya Kiandra.
Aurora menurunkan tangannya dari punggung Kiandra, kemudian dia pun bertanya.
"Caranya?" tanya Aurora.
"Peluk!" jawab Kiandra dengan cengir kudanya.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Kiandra, Aurora bahkan sampai memukul lengan Kiandra dengan kencang. Kiandra sampai mengaduh kesakitan.
"Ish! Kamu tuh ngelunjak, kamu ngga dengar kata ayah? Aku tuh masih kecil, ngga boleh macem-macem. Nanti ayah marah, terus kamu nanti digorok sama ayah," kata Aurora.
"Mana ada ya g seperti itu? Lagian aku hanya minta pelukan yang bisa membuat aku tenang, terus"--Kiandra terlihat memindai penampilan Aurora dari atas sampai bawah--"gede, kok. Ukurannya malah lebih gede dari yang seharusnya."
Aurora nampak mengernyitkan dahinya kala Kiandra menyebutkan kata 'gede', maksudnya apa yang gede, pikir Aurora.
"Apanya yang gede?" tanya Aurora.
"Eh? Itu, badan kamu gede," kilah Kiandra.
Mendengar jika badannya terlihat besar, Aurora nampak tersinggung. Kemudian, dia pun berkata.
"Jadi maksudnya aku gendut? Ya ampun, kalau gitu aku harus diet." Wajah Aurora nampak cemas.
Melihat raut wajah Aurora yang nampak cemas, Kiandra merasa bersalah dibuatnya. Karena pada dasarnya bukan badan Aurora yang terlihat besar, justru badan Aurora terlihat sangat bagus dan juga seksi.
Apa lagi bentuk dada Aurora yang terlihat besar untuk seumuran enam belas tahun, membuat Aurora terlihat sangat seksi sekali di mata Kiandra.
"Bukan, bukan itu maksud aku. Bentuk tubuh kamu itu gedenya, pas," ralat Kiandra.
"Beneran?" tanya Aurora.
"Iya, bener. Jangan parno kaya gitu, lagian aku hanya bercanda," kata Kiandra.
BERSAMBUNG....
__ADS_1