
Clarista terlihat begitu sangat kesal, dia keluar dari ruangan dokter Irawan dengan wajah memerah menahan amarah.
Dia sangat kesal karena berkali-kali ditolak oleh dokter Irawan, padahal Clarista benar-benar menyukai dokter Irawan sejak dia kecil.
Namun dia memang tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya, karena dia sadar jika mereka hanya saudara sepupu.
Akan tetapi semua berubah, ketika dia tahu jika ayahnya hanyalah adik angkat dari ayahnya dokter Irawan.
Perbedaan usia mereka hanya satu tahun dan mereka selalu bermain bersama dari sejak kecil, hal itu membuat Clarista menyukai dokter Irawan.
Bahkan, Clarista rela tak menikah sampai sekarang karena dia menunggu dokter Irawan untuk menikahinya.
Walaupun dia tahu jika dokter Irawan selalu saja bermain dengan banyak wanita, namun dia seolah tak peduli karena yang terpenting baginya dokter Irawan mau menikahinya.
Namun, hari ini harapannya seakan pupus karena dokter Irawan memperkenalkan seorang wanita sebagai calon istrinya.
Akan tetapi, dia tak akan putus asa. Dia sudah bertekad dalam hati akan merusak hubungan dokter Irawan dengan wanita yang sudah diperkenalkan kepada dirinya sebagai calon istrinya tersebut.
"Lihat saja nanti, akan aku pastikan jika kamu tidak akan bisa berpaling kepada wanita mana pun. Karena hanya akulah yang pantas untuk menjadi istrimu," ucap Clarista seraya masuk kedalam mobilnya.
Selepas kepergian Clarista, Anita masih menatap wajah dokter Irawan dengan tatapan tidak percaya. Dia merasa jika dokter Irawan sedang mengucapkan lelucon di depannya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dokter Irawan.
Mendengar pertanyaan dari dokter Irawan, Anita seakan tersadar dari lamunannya. Dia langsung mendorong tubuh dokter Irawan dan mengusap-ngusap tubuhnya.
Melihat kelakuan Anita yang seakan merasa jijik terhadap dirinya, dokter Irawan pun merasa kesal dibuatnya.
"Hei! Berhentilah bersikap seperti itu, karena aku bukan kotoran," ucap dokter Irawan kesal.
"Lagian dokter itu aneh, sudah mengatakan aku calon istri kamu, lalu dengan seenaknya merangkulku!" ucap Anita kesal.
Dokter Irawan langsung mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa dingin, dia pun menyadari kesalahannya. Dia dengan sengaja memanfaatkan keberadaan Anita untuk mengusir Clarista.
"Maaf, habisnya kalau tidak seperti itu dia tidak akan pulang."
Dokter Irawan nampak duduk di kursi kebesarannya, Anita pun segera menggendong Fajri yang masih tertidur di bed pasien.
"Terima kasih, karena sudah membantu," kata Dokter Irawan.
"Sama-sama, sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Anita.
"Menebus obat untuk Fajri, sebentar aku tulis dulu resep obatnya," kata Dokter Irawan.
"Ok!" jawab Anita.
__ADS_1
Setelah menebus obat untuk Fajri, Anita pun langsung pulang. Sebagai bentuk rasa terima kasih, dokter Irawan pun nampak mengantarkan Anita. Tentunya dokter Irawan bertanya terlebih dahulu di mana rumah Anita.
"Sekali lagi terima kasih, maaf karena sudah memanfaatkan keadaan," sesal Dokter Irawan.
"Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan seperti itu. Bicarakan baik-baik kalau punya masalah, takutnya akan menjadi masalah baru kedepannya," ucap Anita bijak.
"Berapa usiamu?" tanya Dokter Irawan.
"Dua puluh tahun," jawab Anita.
"Bekerja atau--"
"Kuliah, semester lima," jawab Anita.
Sebenarnya Anita terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan dokter Irawan, dia seakan sedang diinterogasi. Namun demi kesopanan, dia pun tetap menjawabnya.
"Ternyata benar, usia memang tidak bisa menjamin tingkat kedewasaan seseorang." Dokter Irawan nampak terkekeh.
Dokter Irawan mengingat usia Clarista yang sudah mencapai tiga puluh tiga tahun, tapi dia seakan masih belum dewasa.
Pikirannya masih seperti anak-anak, emosinya tidak stabil. Terkadang dia akan marah dan sedih tanpa bisa mengandalikan dirinya.
Berbeda sekali dengan wanita yang baru saja dia temui hari ini, Anita berkata jika usianya baru dua puluh tahun. Namun menurut dokter Irawan, Anita terlihat dewasa dan juga bijak.
"Sudah sampai," kata Dokter Irawan.
Anita nampak tersenyum, lalu dia pun turun dari mobil dokter Irawan.
"Terima kasih," ucapnya sebelum dia masuk ke dalam rumahnya.
Dokter Irawan nampak tersenyum melihat Anita yang masuk ke dalam rumahnya, setelah memastikan Anita telah masuk ke dalam rumahnya, dokter Irawan pun segera kembali menuju kliniknya.
Di lain tempat.
Andrew dan Melani sedang menikmati waktu honeymoon mereka di kota Vanice, kota yang dijuluki kota yang paling romantis di dunia.
Melani dan Andrew terlihat sedang mengelilingi kanal dengan menggunakan gondola, mereka terlihat bahagia sekali.
Melani terlihat memeluk erat tubuh Andrew seraya menyandarkan kepalanya di pundak suami brondongnya itu.
Sesekali Andrew terlihat mengecupi puncak kepala istrinya, Andrew benar-benar berubah menjadi pria yang sangat romantis menurut Melani.
Malam harinya Andrew mengajak Melani untuk pergi makan malam di Restoran Osteria La Gensola, Restoran yang menyediakan semua olahan sea food.
Dia tahu jika Melani sangat menyukai makanan laut, maka dari itu Andrew pun mengajak Melani kesana.
__ADS_1
Melani dan Andrew terlihat makan dengan lahap sekali, karena mereka memang sangat lelah an lapar karena seharian penuh mereka lakukan untuk berjalan-jalan.
Bahkan siang harinya mereka tak sempat makan siang, karena terlalu sibuk menghabiskan waktu untuk menikmati keindahan kota Roma.
"Cape," keluh Melani setelah tiba di kamar hotel.
"Kalau cape kamu harus cepat beristirahat," kata Andrew.
Setelah mengatakan hal itu, Andrew langsung membantu istrinya membuka gaun malam yang dia kenakan.
Lalu, setelah itu dia pun menggendong Melani dan merebahkan tubuh polosnya di atas kasur.
"Karena kamu terlihat sangat kecapean, maka izinkan aku untuk memberikan terapi khusus untuk kamu," ucap Andrew.
Mendengar ucapan suaminya, Melani nampak mengernyitkan dahinya.
"Terapi apa?" tanya Melani.
"Terapi yang bisa membuat kamu relaks dan tenang," kata Andrew.
Setalah mengatakan hal itu, Andrew langsung membuka kain yang melekat di tubuhnya. Lalu, dia pun mulai mengecupi setiap inci wajah istrinya.
"Tunggu dulu, Mas." Melani nampak mendorong pelan dada Andrew.
"Ada apa?" tanya Andrew.
"Kalau seperti ini yang ada akunya jadi tegang, bukan rileks!" keluh Melani.
"Nanti setelahnya langsung rileks, bobonya juga bisa pules," kata Andrew.
"Itu sih bisa-bisanya kamu, bilang saja kamu mau," kata Melani.
"Sangat, Sayang. Aku sangat menginginkan dirimu, abisan kamu enak banget. Aku kan jadi ketagihan," kata Andrew seraya meremat dada istrinya.
Melani nampak tersenyum, lalu dia pun bangun dan mendorong tubuh Andrew hingga jatuh terlentang.
Andrew nampak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Melani, dia menyangka jika Melani kecapean dan tak ingin melakukan itu lagi dengan dirinya.
"kenapa, kamu cape?" tanya Andrew.
Melani terlihat menggelengkan kepalanya, lalu dia naik ke atas tubuh Andrew dan mulai mengecupi dada suaminya.
Andrew mulai paham, jika istrinya sedang ingin memberikan kepuasan untuk dirinya. Tak lama kemudian, dia merasa jika miliknya terasa dicengkam kuat dengan milik Melani.
Dia langsung memejamkan matanya, bibirnya terbuka karena begitu menikmati sensasi kenikmatan yang disuguhkan oleh Melani, tangannya pun langsung meremat bokong istrinya.
__ADS_1