
Melani pun berusaha untuk pengingat wajah tampan lelaki tersebut, lalui ingatannya pun tertuju saat dirinya menangis di depan hotel berbintang dan saat itu ada seorang lelaki tampan yang mengulurkan sapu tangan kepada dirinya.
"Ah, dia lelaki yang memberikan sapu tangan padaku." Melani bergumam dalam hatinya.
"Selamat siang, Nyonya. Ini tamunya," ucap resepsionis tersebut.
Gadis lalu melihat kearah Melani yang terlihat sedang menggendong Fajri, terlihat balita berusia 2 tahun itu tengah tertidur lelap di pangkuan bundanya.
Padahal Fajri belum lama terbangun, namun saat Melani mengajaknya pergi menuju perusahaan Tuan Alfonso, Fajri malah tertidur kembali.
Mungkin anak itu kekenyangan setelah menghabiskan sarapan paginya, dengan segelas susu kesukaannya.
"Ah, kamu sudah sampai Kak Mel?" tanya Gadis.
Gadis lalu memperhatikan Fajri yang terlihat tertidur lelap dalam gendongan Melani, dia pun jadi membayangkan jika dirinya sudah melahirkan nanti.
"Sudah, Nyonya," jawab Melani.
"Ish! Jangan panggil aku seperti itu, aku masih muda. Panggil Gadis saja!" pinta Gadis.
"Baiklah, Gadis," ucapnya.
"Kak Mel silakan duduk, untuk Mbaknya boleh kembali lagi ke tempat kerjanya," titah Gadis.
"Siap, Nyonya," jawab resepsionis tersebut.
Resepsionis tersebut nampak keluar dari ruangan Gadis, sedangkan Melanie terlihat duduk tak jauh dari lelaki tampan yang kini berada di dekat Gadis.
"Oh ya Kak, Mel. Kenalkan, ini Kak Andrew. Dia adalah orang kepercayaan Daddy yang akan membantu Kakak," kata Gadis.
Melani nampak tersenyum kearah Andrew, kemudian dia pun mengulurkan tangannya. Dengan senang hati Andrew pun menerima uluran tangan dari Melani.
"Andrew!"
"Melani!"
"Apa semua berkasnya sudah siap?" tanya Andrew.
"Sudah, Tuan. Sudah siap semua," jawab Melanie seraya memberikan berkasnya kepada Andrew.
"Panggil saja saya Andrew, jangan panggil Tuan. Karena sepertinya saya lebih muda dari anda," ucap Andrew.
__ADS_1
"Ah, iya maaf," jawab Melani tak enak hati.
Andrew terlihat memeriksa berkas yang diberikan oleh Melani, sedangkan Gadis terlihat menoel-noel pipi gembil Fajri.
"Dia lucu sekali ya, Kak? Tampan dan menggemaskan, aku jadi tak sabar ingin segera bertemu dengan buah hatiku," ucap Gadis seraya mengelus lembut perutnya yang masih rata.
"Ya, dia sangat tampan dan menggemaskan. Dia juga merupakan penyemangatku," ucap Melanie seraya tersenyum getir.
"Mbak Melani!" panggil Andrew.
"Ya!" jawab Melani.
"Berkasnya sudah komplit, kita bisa langsung berangkat sekarang menuju Pengadilan Agama," kata Andrew.
"Ah, baiklah. Kalau begitu kita berangkat sekarang, lebih cepat lebih baik," ucap Melani.
"Oke!" jawab Andrew.
Andrew pun langsung merapihkan berkas yang diberikan oleh Melani, sedangkan Melani nampak berpamitan kepada Gadis.
Setelah berpamitan kepada Gadia, Melani pun langsung keluar dari ruangan Gadis. Lalu, dia mengikuti langkah Andrew menuju lobby kantor.
Untuk sesaat, Andrew terlihat memandang wajah Melani yang terlihat kesusahan saat menggendong Fajri.
lalu, tak lama kemudian dia pun mengulurkan tangannya meminta kunci mobil milik Melani.
"Kunci mobil Mbak mana? Biar saya yang nyetir, Mbaknya biar nyaman gendong anaknya," ucap Andrew.
"Kamu benar," kata Melani.
Melani lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada Andrew, dengan cepat dia pun menerima kunci mobil dari Melani.
Setelah mereka masuk kedalam mobil, Andrew pun langsung melajukan mobilnya menuju pengadilan agama.
Wajah Melani terlihat tegang sekali, dahinya bahkan sudah bercucuran dengan keringat. Padahal AC mobil sudah terasa sangat dingin, namun seakan tak berpengaruh untuk dirinya.
Sesekali dia mengusap dahinya dengan punggung tangan kirinya, sesekali dia juga mengusap punggung putranya yang terlihat terlelap di dalam dekapan hangatnya.
Andrew terlihat mencuri pandang ke arah Melani, dia merasa iba kepada ibu muda tersebut. Apa lagi dia pernah melihat Melani yang begitu merasa tersakiti dan menangis dalam meratapi nasibnya.
Jika Melani sedang pergi ke pengadilan agama bersama dengan Andrew, berbeda dengan Aldino yang kini tengah merasa resah karena tiba-tiba saja Tuan John datang ke perusahaan tersebut.
__ADS_1
Dia datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu, dia terlihat sangat marah. Wajahnya memerah seperti menahan amarah, kedua tangannya pun mengepal dengan sempurna.
Tanpa basa-basi dia langsung masuk ke dalam ruangan Nyonya Mariene, bahkan setelah dia masuk Tuan John langsung menutup pintu tersebut dengan sangat kencang.
Hal itu membuat Aldino begitu khawatir, dia pun berniat untuk menguping pembicaraan antara Tuan Jhon dan nyonya Mariene.
Beruntung ruangan Aldino dengan ruangan Nyonya Mariene bersebelahan, sehingga hal itu memudahkan Aldino untuk menguping pembicaraan tersebut.
Aldino membuka sedikit jendela penghubung antara ruangan dirinya dan ruangan Nyonya Mariene, sehingga dia bisa dengan jelas mendengarkan percakapan antara suami istri tersebut.
"Jelaskan padaku apa maksudnya dari semua ini?"
Tuan Jhon nampak melemparkan berkas ke arah wajah Nyonya Mariene, dengan cepat dia mengambil berkas tersebut.
Matanya Nyonya Mariene nampak membulat dengan sempurna, kala dia membaca berkas yang dilemparkan oleh suaminya tersebut.
"A--aku bisa jelaskan," ucap Nyonya Mariene tergagap.
Tuan Jhon nampak menggebrak meja kerja Nyonya Mariene dengan sangat keras, hal itu membuat Nyonya Marieni terlonjak kaget dibuatnya.
"Maksudnya menjelaskan apa? Mau menjelaskan kalau kamu berusaha mengambil alih semua hartaku dengan memalsukan semua tanda tanganku?!" tanya Tuan Jhon dengan penuh emosi.
"Ti--tidak seperti itu, Sayang. Aku, aku--"
Tuan Jhon yang yang terlihat tak sabar langsung mencengkeram leher Nyonya Mariene dengan keras, sangat jelas terlihat jika kemarahan Tuan Jhon kini sedang berada di ubun-ubun.
"Aku berusaha keras untuk melebarkan sayap agar perusahaan kita lebih besar lagi, tapi ternyata istriku malah menusukku dari belakang. Selain berselingkuh, kamu juga berusaha untuk mengambil semua aset berharga milikku," ucap Tuan Jhon dengan wajah murka.
Wajah Nyonya Mariene terlihat semakin cemas, sungguh saat ini dia sangat takut menghadapi kemarahan suaminya tersebut.
"Maaf, Sayang. Maafkan aku, aku akan memperbaiki semuanya." Nyonya Mariene terlihat berusaha melepaskan cengkraman tangan suaminya tersebut.
"Jangan harap aku akan memaafkanmu, sudah tidak ada lagi kata maaf bagimu. Benahi semua barang-barang dan segera pergi dari hadapanku!" Tuan Jhon nampak menghempaskan tubuh Nyonya Mariene hingga tersungkur di lantai.
Nyonya Marieni terlihat merangkak dan memeluk erat tubuh Tuan Jhon, dia terlihat meminta pengampunan terhadap suaminya tersebut.
"Maafkan aku, ku mohon?" Nyonya Mariene terlihat mengiba, namun hati Tuan John sudah tertutup untuk dirinya.
"Beruntung aku tidak menuntutmu, karena walau bagaimanapun kamu pernah menjadi wanita yang sangat aku cintai. Segeralah pergi sebelum aku berubah pikiran," ucap Tuan John seraya menunjuk pintu keluar.
Walaupun tubuhnya terasa lemas, Nyonya Mariene berusaha untuk berdiri lalu dia pun mengambil tasnya dan segera pergi dari sana.
__ADS_1