
Sepertinya, istri kamu sedang kesambet Almarhumah Intan. Mungkin dia rindu memeluk dan mencium wangi tubuhku," ucap Tuan Alfonso.
"Bisa jadi," kata Ajun dengan raut wajah serius.
"Anak Daddy yang cantik, sekarang sudah pukul lima. Suami kamu sudah menunggu, pergilah! Laksanakan kewajiban kamu," ucap Tuan Alfonso.
Akhirnya dengan raut wajah terpaksa Gadis pun melerai pelukannya, lalu Gadis pun keluar dari ruangan Tuan Alfonso.
Tanpa menunggu Ajun, dia langsung masuk kedalam kamarnya dan duduk di atas sofa dekat jendela. Pandangannya lurus kearah taman yang berada di samping rumah.
"Yang, kamu kenapa sih?" tanya Ajun seraya duduk tepat di samping istrinya.
"Ngga tahu, Hubby. Aku kangen banget sama kamu, tapi kalau deket kamu terasa ngga nyaman," jawab Gadis.
Mendengar ucapan Gadis, dia jadi teringat akan ucapan Gia. Dia juga jadi mengingat tingkah Gia kala Elsa hamil, Ajun pun lalu tersenyum.
Ajun langsung memeluk Gadis dan mengecup kening istrinya tersebut, Gadis yang merasa tak nyaman langsung mendorong tubuh suaminya itu.
"Hubby, bau. Jangan peluk-peluk," kata Gadis.
"Masa sih, Yang?" tanya Ajun.
"Iya, Hubby. Mending kamu mandi deh, biar terasa lebih segar dan juga wangi," kata Gadis.
Mendengar ucapan Gadis, Ajun jadi semakin yakin jika istrinya itu tengah hamil. Senyum Ajun langsung mengembang, dia lalu mengangkat tubuh Gadis dan mengecupi setiap inci wajahnya.
"Ya Tuhan! Aku bilang Hubby bau, kenapa malah akunya diangkat-angkat kaya gini?"
Gadis bertanya dengan tatapan penuh protes, namun Ajun tak sedikitpun marah atau pun kesal. Justru senyumnya terus saja mengembang, hal itu membuat Gadis makin kesal.
Ajun menurunkan Gadis dengan perlahan, kemudian Ajun mendudukkan Gadis diatas sofa. Lalu, Ajun berjongkok tepat di hadapan Gadis.
Dia mengelus lembut perut rata Gadis dan mengecupinya, melihat tingkah Ajun, Gadis pun jadi kesal dibuatnya.
"Hubby, kamu itu aneh. Aku sedang kesal sama kamu, tapi kamunya malah ciumin perut aku kaya gini." Gadis bangun dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Ajun langsung panik dibuatnya, dia langsung melayangkan ucapan protes pada Gadis.
"Kamu ngga boleh kaya tadi lagi, Yang. Kalau mau apa-apa itu harus pelan-pelan!" Ajun berucap dengan nada penuh khawatir.
"Ya ampun, Hubby! Kamu kesambet apa sih, kenapa dari tadi sikap kamu jadi aneh?" tanya Gadis.
"Yang, ikut aku keluar sebentar yu? Ada yang harus aku pastikan," ajak Ajun.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Gadis.
"Pokoknya ikut saja," ucap Ajun.
"Baiklah, aku akan ikut. Tapi, Hubby ngga boleh deket-deket." Gadis lalu bangun dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya.
Ajun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya, Ajun segera mengambil jaket, dompet, ponsel dan juga kunci mobilnya.
Saat melihat Ajun dan Gadis turun, Tuan Alfonso langsung bertanya.
"Kalian mau kemana?" tanya Tuan Alfonso.
"Nggak tahu, Dad. Suamiku ini tiba-tiba ngajakin pergi," jawab Gadis.
Pandangan Tuan Alfonso lalu beralih kepada Ajun. "Memangnya kamu mau mengajak gadis ke mana?"
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu, do'akan yang terbaik ya, Dad." Ajun mengecup punggung tangan Tuan Alfonso dan mengajak Gadis untuk pergi.
Sepanjang perjalanan menuju tempat yang diinginkan oleh Ajun, Gadis hanya cemberut seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Berbeda dengan Ajun yang terlihat begitu bahagia, bahkan senyumnya tak memudar sedikit pun dari bibirnya.
Hal itu membuat Gadis curiga, namun dia begitu enggan untuk bertanya kepada suaminya tersebut.
Padahal Gadis berkata jika Ajun bau, dia juga berkata jika Ajunn harusnya mandi biar lebih segar dan wangi.
Namun sayangnya, Ajun tak mau menurutinya. hal itu membuat Gadis merasa semakin sebal, pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya tersebut.
Langit semakin gelap, warna jingga yang sedari tadi menghiasi langit telah berganti menjadi hitam. Kini cahaya matahari telah berganti dengan cahaya lampu, yang terlihat mendominasi.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Gadis.
Gadis merasa sangat heran, karena ternyata Ajun mengajaknya ke sebuah Rumah Sakit besar yang ada di pusat kota tersebut.
"Aku ingin memastikan sesuatu, Sayang. Jadi, ikut aku ya?" ajak Ajun.
"Terserah Hubby saja, aku menurut. Tapi, pulangnya beliin aku pecel lele yang ada di pinggir jalan sebelum taman kota," pinta Gadis.
"Apa pun keinginan Tuan Puteri, akan hamba berikan." Ajun langsung mendekat dan mencium bibir Gadis.
Gadis terlihat menahan napas karena tak suka dengan bau tubuh Ajun, menyadari akan hal itu Ajun pun dengan cepat melepaskan pagutannya.
"Maaf," ucap Ajun.
__ADS_1
"Em," jawab Gadis.
Ajun lalu turun dari mobilnya, lalu dengan cepat dia membukakan pintu untuk Gadis.
"Terima kasih, Hubby." Gadis tersenyum kaku pada Ajun.
"Sama-sama, Sayang," jawab Ajun.
Ajun hendak merangkul pundak Gadis, namun dengan cepat dia memundurkan tubuhnya. Ajun tak marah sama sekali melihat penolakan dari Gadis, justru dia malah tersenyum.
"Ya sudah, kalau nggak mau dipegang nggak apa-apa. Yang penting kamu ikutin aku ya," ucap Ajun.
Gadis hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Ajun tak mempermasalahkannya. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju Rumah Sakit tersebut.
Gadis terus saja mengikuti langkah suaminya, dahi Gadis mengernyit dalam kala Ajun melangkahkan kakinya menuju ruang Obgyn.
Saat Ajun hendak membuka pintu ruangan tersebut, Gadis langsung mencekal tangan Ajun. Lalu, dia pun bertanya kepada suaminya tersebut.
"Hubby, untuk apa kita ke sini?" tanya Gadis.
"Untuk memastikan sesuatu, menurutlah," ucap Ajun.
"Baiklah," jawab Gadis acuh.
Ajun hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya, tiba di dalam ruangan tersebut Ajun dan Gadis langsung di sambut oleh seorang dokter perempuan.
"Silakan duduk Tuan, Nyonya," ucap Dokter tersebut mempersilahkan.
Ajun dan Gadis pun menurut, mereka duduk tepat di depan dokter tersebut.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter.
"Begini, Dok. Saya mau meminta agar istri saya diperiksa," pinta Ajun.
"Baiklah, kita mulai pemeriksaannya ya, Tuan," ucap Dokter.
Ajun mengangguk, dia sudah tak sabar ingin cepat-cepat tahu hasilnya seperti apa.
Dokter tersebut lalu mengajak Gadis untuk berbaring di ranjang pasien, walaupun bingung Gadis tetap menurut. Lalu, dengan telaten dokter tersebut pun memeriksa kondisi kesehatan Gadis.
"Saya kasih tespek ya, Nyonya. Silakan tes urinenya di kamar mandi," ucap Dokter.
Gadis yang sudah tidak aneh dengan benda tersebut pun, langsung menurut. Dia segera pergi ke kamar mandi untuk melakukan tes urine.
__ADS_1
Kini dia sudah mulai paham, kenapa Ajun membawanya ke Rumah Sakit. Karena suaminya itu ingin membuktikan, Gadis hamil atau tidak.