Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Cilok Lagi Aja


__ADS_3

Niat hati ingin bersantai, karena kaki masih terasa nyeuri. Namun ternyata niatnya Gadis tak bisa terealisasikan, karena pagi ini sang dosen pembimbing menelponnya.


Dia diangkat menjadi ketua panitia perpisahan, setelah acara wisuda kelar di fakultas manajemen bisnis yang dia ambil akan mengadakan acara perpisahan yang akan dilaksanakan di puncak.


Kalau saja sedang dalam keadaan sehat dia pasti mau, namun dalam keadaan seperti ini... Uuuh, mending bobo cantik. Iya, kan?


Namun saat Gadis menolak dengan alasan sakit, dosen yang bernama Engkus Kusnaedi itu tak percaya. Maka dari itu, mau tak mau Gadis harus segera ke kampus untuk menunjukan kaki bengkaknya.


"Dasar Pak Kuskus sialan! Ngga percayakan banget sama gue," gerutu Gadis.


"Mau kemana, Nak?" tanya Pak Galuh kala melihat putrinya sedang berusaha untuk mendorong motornya.


"Kampus, Pak. Pak Kuskus ngga ngerti banget, nyuruh aku ke sana sekarang juga." Gadis memanyunkan bibirnya, tanda dia begitu kesal.


"Hati-hati atuh, itu kaki kamu masih bengkak begitu. Ke Dokter aja mendingan," kata Pak Galuh.


"Entar juga sembuh, Pak." Gadis memakai helmnya, lalu mulai menstarter motor matic kesayangan.


"Kamu tuh, kalau dibilangin suka susah." Pak Galuh menghampiri Gadis dan menyentil jidatnya.


"Sakit atuh, Pak." Gadis mengambil tangan kanan Pak Galuh dan mencium punggung tangannya dengan takzim.


Pak Galuh hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tahu jika putrinya memang keras kepala. Terlebih setelah kejadian dua tahun yang lalu, Gadis makin tambah keras kepala, dia memang terlihat periang dan suka ngebanyol.


Sayangnya, itu hanya untuk menutupi luka yang tak nampak di dasar hatinya.


*/*


"Tuan Gia keterlaluan, semenjak Nyonya Elsa hamil jadi suka males masuk kantor. Apa lagi kalau ngidamnya kumat," keluh Ajun.


Padahal pukul sepuluh mereka harus sudah sampai di Caffe BM, karena mereka sudah janji temu dengan klien. Namun, sudah pukul setengah sembilan Gia tak menampakkan batang hidungnya.


Terpaksa, Ajun pun merapihkan semua berkas dan bergegas untuk segera melajukan mobilnya menuju kediaman Pranadtja.


Sampai di sana, Ajun langsung memarkirkan mobilnya. Lalu dengan tergesa dia berjalan masuk, langkahnya sempat terhenti kala melihat Gia yang sudah terlihat rapih dengan setelan kerjanya.


Namun dia malah asik duduk sambil memeluk istrinya, Ajun hanya bisa memutar bola matanya. Ternyata selain ngidam, menurutnya Gia sudah menjadi budak cinta.

__ADS_1


Saat menyadari kedatangan Ajun, dengan cepat Elsa menepuk pundak suaminya.


"Yang, ada Ajun." Elsa mendorong pelan bahu Gia.


"Mengganggu!" ketusnya.


"Maaf, Tuan. Pukul sepuluh kita harus ke Caffe BM, ada pertemuan dengan klien penting. Tanpa bisa diwakili," ucap Ajun.


"Ck, padahal aku ingin rebahan saja. Ngga ada gairah buat kerja," ucap Gia.


"Sayang..." tegur Elsa.


"Maaf, Sayang." Gia langsung mengecup pipi Elsa dengan lembut.


Ajun hanya tersenyum sinis, ternyata cinta bisa membuat orang sepintar Gia bertindak bodoh pikirnya. Bahkan tanpa malu, bermesraan dengan istrinya di depan orang lain.


"Berangkat dulu sana, nanti pulangnya kamu bisa rebahan lagi." Elsa mengecup kening Gia, agar Gia lebih bersemangat.


"Oke, tapi cium dulu." Gia langsung memonyongkan bibirnya, membuat Ajun nampak jengah.


Elsa yang mengerti, langsung mendorong wajah Gia. Dia tahu jika Ajun masih jomblo, jadi sangat tahu bagaimana rasanya berada di tengah pasangan yang sedang bermesraan.


Dia seakan tak rela jika harus pergi bekerja, sedangkan Ajun terlihat acuh karena dia memang belum tahu seperti apa namanya mempunyai pasangan.


Ajun memang tak pernah berpacaran, namun dia juga pernah jatuh cinta. Sayangnya, saat dia mengungkapkan cintanya, wanita itu ternyata malah berkata lebih mencintai sepupu dari Ajun sendiri.


Sejak saat itu dia selalu mundur saat berdekatan dengan wanita, dia lebih baik tak mencintai mahluk yang bernama wanita dari pada harus kecewa untuk kedua kalinya.


"Sudah sampai, Tuan." Ajun membuka seat belt'nya lalu turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Gia.


"Terima kasih," ucap Gia. "Oiya, masih ada waktu dua puluh menit, tolong belikan aku cilok." Gia mengambil dompetnya dan mengambil uang seratus ribuan.


" Astaga, apakah tidak salah, Tuan?" tanya Ajun seraya menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal.


"No, aku ingin memakannya sekarang." Gia menunjuk tukang cilok yang berada di sebrang jalan.


Ajun hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya mengambil uang dari tangan Gia, kemudian dia pun langsung menyebrang jalan untuk membeli cilok pesanan Gia, sedangkan Gia langsung masuk ke dalam Caffe tersebut.

__ADS_1


"Dasar Bos sialan! Kalau saja sedang tidak ngidam, ogah gue." Ajun langsung menyebrang jalan, dia harus segera membeli cilok pesanan Bosnya itu.


Padahal makanan elite pun masih banyak, pikir Ajun. Kenapa pula Bosnya itu selalu saja menginginkan makanan yang terbuat dari aci itu, apakah perutnya tidak akan melar, pikirnya.


Ajun pun segera memesan cilok yang diinginkan oleh Bosnya itu, dia yang lupa bertanya rasanya pedas atau tidak, sengaja memesan tiga bungkus. Rasa asin, sedang dan pedas.


Saat hendak kembali ke Caffe , dia melihat Wanita yang sedang beradu argumen dengan seorang pria.


"Bukankah itu... ah, dia Gadis. Anak dari penjual sup buah," ucap Ajun.


Ajun melihat Gadis yang begitu kesal saat berbicara dengan pria itu, Bahkan terlihat sangat jelas sorot kebencian di mata Gadis.


Ajun yang penasaran pun langsung menghampirinya, tanpa mereka tahu, dia mendengarkan apa yang mereka debatkan.


"Kita harus bicara, gue ngga mau kita begini terus." Pria itu terlihat mencengkram tangan Gadis dengan kuat.


"Ngga mau, gue udah pernah bilang kalau gue ngga mau berurusan lagi sama elu!" ucap Gadis penuh penekanan.


"Sepuluh menit, Gadis. Hanya sepuluh menit!" ucap ketus pria itu.


"Ngga ada waktu buat elu, kalau elu terus maksa. Gue bakal teriak," ucap Gadis mengancam.


"Teriak sana, gue ngga perduli. Palingan elu yang malu sendiri," tantang pria itu.


Gadis terlihat celingukan, matanya melirik ke sana-kemari. Dia mencari pertolongan, dan... matanya langsung berbinar kala melihat Ajun yang sedang berdiri tak jauh darinya.


Gadis langsung menghempaskan tangan pria itu dengan kencang, lalu dengan langkah tertatih dia menghampirinya.


"Om," ucapnya memekik.


Tanpa Ajun duga, Gadis langsung memeluk Ajun dengan erat. Ajun hanya bisa mengangkat kedua tangannya tanpa berniat membalas pelukan Gadis.


Pria yang tadi terlibat adu argumen dengan Gadis, terlihat mengepalkan tangannya dengan sempurna.


+


+

__ADS_1


+


Selamat malam kesayangan, maaf upnya telat. Semoga di musim hujan ini, kalian sehat selalu. Jangan lupa tinggalkan jejaknya, i love you banyak-banyak untuk Kaleyan semua.


__ADS_2