Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Manten Anyar


__ADS_3

Anita terlihat menggeliatkan tubuhnya, sudah menjadi kebiasaannya jika hari libur tiba dia akan bangun siang.


Hari ini pun itulah yang dia lakukan, setelah merasa tubuhnya terkena hangatnya sinar matahari dia pun langsung berusaha untuk membuka matanya.


Dia terlihat beberapa kali mengusap matanya yang terasa masih berat, saat matanya terbuka dengan sempurna, dia melihat sosok lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


"Halu nih, gue. Pasti gue halu, masa iya pak dokter ada di kamar gue," ucap Anita.


Setelah mengatakan hal itu, kembali dia mengusap matanya. Lalu, dia pun kembali membuka matanya.


"Ya Tuhan, kenapa bayangan pria tua itu masih saja ada?" keluh Anita.


"Ya Tuhan, calon istriku. Kenapa kamu malah bilang aku bayangan? Ini aku, calon suamimu yang tua, sekarang bangun dan cepat mandi. Kita harus segera ke butik, membeli ba--"


Mendengar ocehan dari dokter Irawan, Anita langsung bangun dan menutup mulut calon suaminya tersebut.


Dia baru saja bangun dari tidurnya, tentu saja dia tidak mau mendengarkan ocehan dari calon suaminya tersebut.


"Aku akan mandi, kamu tunggu di luar saja. Oke?" ucap Anita.


Setelah mengatakan hal itu, Anita langsung melepaskan tangannya dari bibir dokter Irawan. Kemudian, dia melompat dari tempat tidurnya dan langsung berlari menuju kamar mandi.


Rasanya dia sangat malu sekali, karena belum menikah saja dokter Irawan sudah melihat penampilan terburuknya.


Sampai di dalam kamar mandi, Anita bahkan langsung mengusap bibirnya. Dia juga mengusap matanya, lalu dia pun segera berdiri di depan cermin.


Dia langsung memperhatikan pantulan wajahnya, tentu saja dia takut ada iler ataupun belek di matanya.


"Ish, untung aja ngga ada beleknya. Ilernya juga ngga ada, kalau ada kan malu banget." Anita mencebik kesal.


Sebenarnya dia masih merasa bingung, kenapa dokter Irawan bisa berada di dalam kamarnya. Dia pun jadi bertanya dalam hatinya, apakah dokter Irawan tadi memperhatikan keadaannya saat tidur?


Pasalnya jika tertidur, Anita tidak pernah memakai selimut. Dia hanya memakai celana pendek dan kaos longgar pendek saja.


Tentunya tanpa menggunakan dallaman, dia juga selalu tertidur dengan memeluk guling agar dia tidak merasa kedinginan.


Entah kenapa, jika tidur dengan menggunakan selimut dia merasa tidak nyaman.


Anita terlihat memandang pantulan wajahnya di depan cermin dan mengumpat dokter Irawan, dia benar-benar merasa kesal karena dokter Irawan sudah seenaknya masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Padahal mereka belum menikah, kenapa dia berani sekali pikirnya masuk ke dalam kamar seorang gadis?


Apa karena dia sudah berumur? Apa karena mereka akan menikah, sehingga dokter Irawan terlihat lebih berani untuk masuk kedalam kamarnya?


Lima belas menit kemudian, Anita terlihat keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang dia lilitkan sebatas dada.


Dia berjalan mengendap-endap seperti seorang maling, karena dia takut jika dokter Irawan masih berada di dalam kamarnya.


Bahaya pikirnya, jika dokter Irawan melihat penampilannya saat ini. Matanya terlihat mengarah ke setiap penjuru ruangan kamarnya, ternyata dokter Irawan tidak berada di sana.


Anita pun bisa bernapas dengan lega sambil mengelus dadanya, dia pun dengan cepat berjalan ke arah lemari dan segera mengambil pakaiannya.


Lima belas menit kemudian, Anita terlihat keluar dari kamarnya. Dia sudah terlihat cantik dengan gaya tomboynya seperti biasanya.


Saat dia melewati ruang tamu, di sana sudah ada ibunya dan juga dokter Irawan yang sedang menunggu kedatangan Anita.


Melihat Anita yang menghampiri ke arah mereka, dokter Irawan dan Ibunya pun langsung mendekat ke arah Anita.


"Kita berangkat sekarang," ajak ke Dokter Irawan.


"Kenapa terburu-buru?" tanya Anita.


Mendengar pertanyaan dari dokter irawan, Anita terlihat melirik jam dinding yang ada di ruangan tersebut.


Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, Anita hanya nyengir kuda sambil menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


"Baiklah, aku menurut," ucap Anita.


Setelah mengatakan hal tersebut, dokter Irawan, Anita dan juga mamanya langsung pergi ke butik tempat di mana ia akan langsung memakai baju.


Namun, saat tiba di butik ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.


Setelah makan siang, barulah dokter Irawan dan Anita langsung memilih baju pengantin yang mereka rasa cocok.


Setelah menemukan pilihan, dokter Irawan dan juga Anita langsung memakainya di sana. Bahkan ternyata di sana juga sudah tersedia jasa penata rias.


Alhasil Anita pun langsung didandani dari butik tersebut, sesekali dokter Irawan memperhatikan wajah Anita yang terlihat begitu cantik setelah memakai gaun pengantin dan dengan wajah yang sudah dirias.


'Kenapa dia jadi cantik sekali, mana seksi banget lagi!' batin dokter Irawan.

__ADS_1



Pukul 2 siang mereka pun langsung pergi menuju gereja, sesekali dokter Irawan terlihat melirik kearah Anita yang berada di sampingnya.


Menurutnya anita terlihat sangat berbeda siang ini, rasanya dia ingin mengingkari ucapannya sendiri.


Dia ingin segera merasakan indahnya malam pertama, dia jadi ingin merasakan bagaimana rasanya melakukannya dengan pasangan halalnya.


"Heh!"


Dokter Irawan terlihat menghela napasnya, dia berusaha untuk menstabilkan emosinya. Dia benar-benar takut akan khilaf karena melihat perubahan wajah Anita yang begitu cantik.


"Kenapa Pak Dokter?" tanya Anita.


"Tidak apa-apa," jawabnya.


Setelah mengatakan hal itu, dokter Irawan terlihat memalingkan wajahnya ke arah samping.


Dia lebih memilih untuk menatap jalanan dari pada menatap wajah Anita yang cantik, bukan karena tak suka. Justru dia melakukan itu karena takut jika dia tidak bisa mengendalikan dirinya.


Tak lama kemudian mobil yang mereka kendarai pun berhenti tepat di depan gereja, dokter Irawan pun dengan sigap turun dari mobil dan membantu Anita untuk turun.


Itu semua dia lakukan karena Anita terlihat kesusahan dengan baju pengantin yang dia kenakan.


Ibunya pun terlihat membantu Anita untuk memegangi gaun pengantinnya, tiba di dalam gereja ternyata di sana lumayan ramai.


Karena di sana ada Gia beserta keluarga kecilnya, ada Ajun bersama dengan keluarga kecilnya juga.


Di sana juga bahkan ada Melani, Andrew dan kedua buah hati Melani. Mereka terlihat begitu bahagia saat menyambut kedatangan Anita dan juga Dokter Irawan.


Tak lama kemudian janji suci antara Anita dan dokter Irawan pun telah terucap, Anita dan juga dokter Irawan kini sudah resmi menjadi suami-istri.


semua orang yang ada di sana nampak bahagia dan bertepuk tangan untuk pasangan pengantin baru tersebut.


Tak lama kemudian dokter Irawan terlihat memakaikan cincin pernikahan mereka di jari Anita, begitu pun dengan Anita.


Dia menyematkan cincin kawin di tangan dokter Irawan, tanpa Anita duga dokter Irawan langsung menautkan bibirnya ke bibir Anita dengan sangat lembut sekali.


Anita bahkan bisa merasakan jika dokter Irawan melakukannya dengan sangat tulus. Anita hanya diam dengan mata yang membulat dengan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2