
Tiba di Caffe Melani terlihat tak bersemangat, dia masih saja mengingat Andrew yang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Rasa bersalah langsung menyeruak ke dalam hatinya, entah kenapa dia ingin sekali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, untuk apa juga. Melani sendiri yang memutuskan untuk tidak berhubungan dengan lelaki itu, karena Melani merasa tak percaya diri.
Melani merasa tak pantas untuk Andrew, dia hanya janda beranak dua yang sebentar lagi akan berusia tiga puluh satu tahun.
Berbeda dengan Andrew yang masih terlihat sangat muda dan tampan, bahkan usianya pun baru dua puluh dua tahun.
Melani benar-benar merasa minder, dia pun jadi berpikir kedepannya nanti. Bagaiamana kalau dia menopause nanti, sedangkan Andrew masih sedang inginnya melakukan percintaan panas dengan dirnya.
Sudah pasti dia akan merasa sangat kecewa karena tidak bisa memuaskan hasrat suaminya tersebut.
Lalu, bagaiamana kalau Andrew merasa tak tahan dan mencari wanita lain? Pasti Melani akan merasa sakit hati lagi.
"Mel, kenapa sih setelah elu bercerai malah sering melamun gitu?" tanya Reni.
"Eh? Maaf, aku--"
Melani terlihat bingung, dia bingung harus berbicara dari mana. Dia juga bingung harus berceritakah atau tidak.
"Cerita sama gue, sebenernya elu kenapa? Kali aja gue bisa bantu," kata Reni.
Dia benar-benar penasaran, ada apa sebenarnya dengan sahabatnya itu.
"Hehhh!" terdengar helaan napas dari bibir Melani.
Awalnya Melani terlihat enggan untuk menceritakan masalahnya, namun setelah dipikir-pikir, mungkin saja menceritakan masalahnya dengan Andrew kepada Reni, bisa membuat dirinya lebih tenang dan bisa lebih berpikir jernih.
Siapa tahu juga Reni bisa memberikan solusi terbaik untuk dirinya, atau mungkin sekedar memberikan saran yang berarti.
"Jadi begini, Ren--"
Melani pun pada akhirnya menceritakan masalahnya bersama dengan Andrew, dari mulai pertemuannya di masa kuliah dulu, pertemuannya di hotel berbintang saat dia memergoki Aldino sedang berselingkuh dengan Nyonya Mariane dan pertemuannya saat dia sedang meminta bantuan Gadis untuk menggugat cerai Aldino.
Namun dia malah tak sengaja bertemu dengan Andrew di kantor Tuan Alfonso.
__ADS_1
Melani juga tak segan-segan menceritakan tentang Andrew yang mengajaknya untuk menikah dengan caranya yang unik.
Reni terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa, karena setiap Melani bercerita menurutnya itu adalah hal yang lucu, baginya.
Apa lagi Melani seorang janda beranak dua, namun ada seorang brondong yang begitu terobsesi ingin menikahi Melani.
Antara ingin tertawa dan juga senang, karena ternyata ada yang begitu peduli terhadap temannya tersebut.
Bahkan Reni langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengarkan cerita Melani tentang kedua buah hatinya yang begitu dekat dengan Andrew.
Apa lagi mendengar cerita Fajri yang begitu lengket dengan Andrew, bahkan Fajri seakan benar-benar menganggap Andrew sebagai ayahnya, bukan Aldino.
"Gue lagi kesel, kenapa elu malah ketawa kaya gitu? Nyebelin!" kata Melani seraya memukul tangan Reni.
Temannya itu seakan sedang meledek dirinya, padahal tidak seperti itu.
"Lucu, Mel. Ya ampun, elu hebat banget bisa menjerat berondong muda. Ganteng lagi, gimana, udah nyicip belum?" tanya Reni.
Mendengar pertanyaan dari Reni, Melani nampak mengerinyitkan dahinya. Dia tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh Reni.
"Maksud elu apaan sih? Gue nggak paham?" tanya Melani.
Mendengar ucapan dari Reni, Melani nampak membulatkan matanya dengan sempurna. Dia tidak menyangka jika temannya itu akan menanyakan hal seintim itu.
Untung dia tak menceritakan tentang Andrew yang mencium bibirnya sebanyak dua kali, kalau dia ceritakan pasti diketawain.
"Gue ngga nyangka, ternyata teman gue ini udah mulai ngga waras." Melani langsung meninggalkan Reni untuk melayani pengunjung.
Reni hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu, kalau memang benar ada yang mau serius dengan temannya itu, Reni ikut bahagia.
Brondong pun tak masalah, pikirnya. Yang penting dia bahagia.
Di lain tempat.
VB terlihat begitu bersemangat menjalani hari ini, karena pulang kerja nanti dia akan mendapatkan haknya kembali sebagai seorang suami.
Ternyata empat puluh hari berpuasa bisa dia lalui dengan baik, walaupun dia harus menahan hasratnya dengan susah payah.
__ADS_1
Apa lagi jika mengingat Dina yang terlihat begitu kesakitan saat melahirkan putranya, dia benar-benar merasa kasihan terhadap istrinya.
Perjuangan seorang istri untuk memberikan keturunan kepada suaminya, ternyata memerlukan pengorbanan yang luar biasa.
Bahkan, tak jarang seorang wanita meninggal karena harus berjuang untuk melahirkan buah cintanya dengan sang suami.
Sore pun menjelang, VB pulang dengan senyum manis yang terus saja tersungging di bibirnya. Dia benar-benar sudah tak sabar untuk bertemu dengan istri tercintanya.
Bahkan di pertengahan jalan dia meminta pak sopir untuk menepikan mobilnya di sebuah toko bunga, dia membeli buket bunga mawar besar yang terlihat sangat indah.
Biarlah orang berkata norak, pikirnya. Yang penting istrinya suka, semoga saja seperti itu, do'anya.
Tiba di depan rumahnya, VB turun dengan dahi yang mngernyit dalam. Pasalnya di rumah keluarga Fahreza terdengar sangatlah ramai.
Saat VB masuk ke dalam rumah, ternyata ada keluarga dari teman-teman Nyonya Miranda. Mereka terlihat asik berkumpul dan mengobrol bersama.
Saat VB menghampiri Mom'nya, Nyonya Miranda terlihat tersenyum dengan sangat manis sekali.
"Ya Tuhan, ternyata putraku mengingat hari ulang tahunku. Terima kasih kadonya, Sayang." Nyonya Miranda langsung mengambil buket bunga besar dari tangan VB, lalu melabuhkan kecupan hangat di pipi VB.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Nyonya Miranda, VB langsung menepuk jidatnya. Dia benar-benar melupakan jika hari ini adalah hari ulang tahun Mom'nya.
Jika saja dia mengingat hari ini hari spesial untuk Mom'nya, sudah dapat dipastikan jika dia akan membelikan barang yang lebih mahal dan juga mewah.
Namun sepertinya Nyonya Miranda tak menginginkan barang mewah dan juga mahal, yang penting putranya tersebut mengingat hari istimewanya.
Dalam hati dia mengucap syukur karena membeli sebuket bunga, walaupun niat awalnya bukan untuk diberikan pada Mommynya.
"Kok diem aja, Mas. Ngga ngucapin apa gitu sama Mommy?" tanya Dina yang datang sambil menggendong Baby ABC.
"Ah, sorry Mom. Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, sehat selalu, pokonya semoga yang Mommy inginkan bisa segera terwujud," ucap VB tulus.
"Terima kasih, Sayang." Nyonya Miranda nampak memeluk VB dengan erat.
Nyonya Miranda nampak melerai pelukannya, lalu kemudian dia pun mengajak ke VB untuk bercengkarama bersama dengan keluarga dari teman-teman Mommynya tersebut.
Sebenarnya dia merasa sangat enggan untuk
__ADS_1
ikut berkumpul bersama, namun dia juga tak enak hati jika harus meninggalkan Mommynya.
Karena walau bagaimanapun juga, ini adalah hari istimewa untuk Mommynya.