
Dokter Irawan melajukan mobilnya menuju mall terbesar yang ada di pusat kota, dia ingin mengajak istrinya untuk menonton bioskop.
Karena menurutnya, itu adalah hal romantis yang biasa dilakukan oleh pasangan muda. Walaupun pada kenyataannya dia sudah tidak muda lagi, setidaknya dia harus menyesuaikan diri dengan Anita, sang istri.
"Mau nonton film apa?" tanya Dokter Irawan kala sudah berada di depan bioskop.
"Mau nonton film horor," jawab Anita.
Mendengar jawaban dari Anita, dokter Irawan nampak kaget. karena ternyata, istrinya itu menyukai film horor.
Berbeda dengan dirinya, dia tidak suka film yang membuat hidupnya merasa ketakutan. Baginya, dari pada menonton film horor lebih baik menonton film kartun saja.
"Jangan! Aku takut," kata Dokter Irawan.
Mendengar ucapan dokter Irawan, Anita langsung menatap suaminya itu dengan tatapan tidak percaya.
"Pak Dokter takut?" tanya Anita tak percaya.
"Ya, film romantis saja. Oke?" pinta Dokter Irawan.
"Baiklah," jawab Anita pasrah.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menonton film romantis, tentu saja hal itu dimanfaatkan oleh dokter Irawan.
Setiap ada adegan romantis, dokter Irawan pasti akan memeluk Anita dan menyandarkan kepalanya di pundak istrinya.
Sesekali dia terlihat mengendus dan mengecupi leher jenjang istrinya. Hal itu membuat Anita risih, namun dia tak berani melayangkan protesnya.
Karena, di dalam ruangan tersebut terdapat banyak orang. Dia hanya bisa memelototi suaminya itu, namun dokter Irawan tak menghentikan aksinya.
Dokter Irawan malah dengan sengaja menyusupkan tangannya di balik baju istrinya, tentu saja hal itu membuat Anita kegelian.
'Dasar pak dokter tua messum, awas saja nanti. Aku pasti akan membalasnya,' kata Anita dalam hati.
Melihat ekspresi wajah istrinya, dokter Irawan hanya bisa mengatupkan mulutnya menahan tawa. Namun dalam hati dia sangat senang, karena Anita tak memarahinya.
Setelah dua jam kemudian, akhirnya film pun telah berakhir. Dokter Irawan nampak merangkul pundak istrinya dengan posesif, dia mengajak Anita untuk berbelanja di butik dengan brand ternama.
"Mau pilih baju yang mana?" tanya Dokter Irawan.
Anita nampak melihat-lihat koleksi baju yang ada di butik tersebut, terlihat bagus dan dia sangat menyukainya.
Namun, saat dia melihat bandrolnya.
__ADS_1
"Astaga, baju tipis kaya gini dua juta? Ya ampun, ini kaos pendek kaya gini aja sepuluh juta. Mending uangnya gue tabung buat bikin usaha," ucap Anita lirih.
Dokter Irawan yang memdengar ucapan istrinya, langsung tertawa.
"Pak Dokter kenapa tertawa?" tanya Anita.
"Kamu lucu, Yang. Suamimu ini orang kaya, duitnya banyak. Mau yang mana tinggal pilih," kata Dokter Irawan.
Plak!
Satu pukulan mendarat di tangan dokter Irawan, namun baginya pukulan itu tak terasa sakit. Yang ada malah geli.
"Kalau Pak Dokter duitnya banyak, kasih aku duit dong buat modal." Anita terlihat mengayun-ayunkan telapak tangan kanannya.
"Mau berapa?" tanya Dokter Irawan.
"Yanga banyak!" jawab Anita.
"Berapa pun pasti aku kasih, tapi--"
"Apa?" tanya Anita.
"Kamu harus melahirkan keturunan buat aku," kata Dokter Irawan seraya mencuil dagu istrinya.
'Astaga! Jebol aja belum, sudah minta anak!'
"Ngga apa-apa, Pak Dokter. Dari pada beli baju, kita makan aja yu? Aku laper," kata Anita.
"Baiklah," jawab Dokter Irawan.
Dokter Irawan akhirnya mengajak istrinya ke sebuah Resto yang berada di mall tersebut, tentunya sebelum dia keluar dari butik tersebut, dia memesan tiga lingerie cantik dan meminta penjaga toko tersebut untuk mengantarkannya ke rumahnya.
Selapas makan siang, dokter Irawan mengajak istrinya untuk menghabiskan waktu untuk bermain di salah satu arena bermain yang ada di sana.
Mereka benar-benar sudah seperti sepasang abege yang baru saja jadian, setiap permainan yang ada di sana dia coba.
Puas dengan apa yang sudah mereka lakukan, dokter Irawan kembali mengajak Anita ke taman. Dia ingin menghabiskan waktu senjanya bersama sang istri seraya menikmati keindahan bungan yang sedang bermekaran.
"Sini deketan duduknya," kata Dokter Irawan ketika mereka duduk di bangku taman.
Anita menurut, dia duduk tepat di samping suaminya. Dokter Irawan tersenyum, lalu dia menarik lembut tubuh istrinya dan membawanya kedalam pelukannya.
"Semoga kamu ngga nyesel udah nikah sama aku," kata Dokter Irawan.
__ADS_1
"He'em, semoga kamu adalah lelaki terbaik yang Tuhan kirimkan buat aku." Anita mendongakkan kepalanya, lalu menatap wajah suaminya dengan intens.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dokter Irawan.
"Ternyata Pak Dokter suami messumku sangat tampan, walaupun sudah tua." Anita terkekeh.
"Ya Tuhan, kamu sedang memujiku atau menghina suamimu ini?" tanya Dokter Irawan.
"Memuji dong," jawab Anita seraya mengeratkan pelukannya.
Ternyata berpacaran setelah menikah dengan dokter Irawan sangat menyenangkan, pikirnya. Padahal Anita sempat berpikir, jika Dokter Irawan akan memaksakan kehendaknya.
Mengingat usianya yang memang sudah berumur, namun ternyata dia bisa menahan hasratnya.
Padahal Anita sangat tahu, jika milik suaminya itu selalu saja bangun saat sedang beduaan dengannya.
Apa lagi kalau dokter Irawan sudah mulai nakal memeluk dan mencium dirinya, Anita sangat sadar dengan milik suaminya yang langsung berdiri tegak.
Anita pun jadi berpikir, haruskah dia menjadikan dirinya sebagaia istri sesungguhnya untuk seorang dokter Irawan Khanza Handerson?
Cukup lama mereka berdua menghabiskan waktu di taman tersebut, hingga matahari tenggelam barulah mereka memutuskan untuk pulang.
Itu juga karena Anita beralasan kasihan jika mom Clara harus ditinggal terlalu lama dan harus makan malam sendirian.
Dokter Irawan menurut, karena dia pun memang mengakui jika mereka sudah lama tidak bertemu, mungkin sekaranglah kesempatan mereka untuk bisa saling meluapkan kerinduan diantara mereka berdua.
Tiba di kediaman dokter Irawan, mereka terlihat sangat kaget. Karena ternyata di sana sudah ada Clarista yang menunggu kedatangan dokter Irawan.
"Loh, kok kalian bisa dateng barengan?" tanya Clarista.
"Mom yang meminta Anita untuk datang," jawab mom Clara.
Mendengar ucapan mom Clara, Clarista nampak terlihat kesal. Dia bahkan langsung menatap wajah mom Clara dengan tatapan penuh protes.
"Aunty!" ketusnya seraya menghentak-hentakkan kakinya.
"Sorry, Sayang. Sekarang kamu pulanglah dulu, nanti kita bicarakan lagi," usir halus Mom Clara.
"Aunty jahat, lihat saja nanti. Aku pasti bales perbuatan Aunty!" setelah mengatakan hal itu, Anita langsung pergi dari sana dengan wajah memerah menahan amarah.
Sungguh amarahnya kini sudah di ubun-ubun, dia pun berjanji akan melakukan hal yang bisa membuat dokter Irawan dan mom Clara menyesal dalam seumur hidupnya.
"Jangan remehan aku Aunty, aku akan. melakukan apa pun untuk menjatuhkan kalian!" kesalnya.
__ADS_1
Brak!
Dia membanting pintu mobilnya dengan keras, sesaat setelahnya memasuki mobil miliknya. Tak lama kemudian ,dia pun nampak melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin menemui temannya untuk menjalankan rencananya.