
Hari senin telah tiba, para sahabat dan juga keluarga yang menghadiri acara resepsi pernikahan Anita dan dokter Irawan memutuskan untuk pulang. Karena masih banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan.
Berbeda dengan dokter Irawan dan juga Anita, mereka sengaja memperpanjang waktu selama 3 hari untuk menikmati bulan madu.
Karena sudah dapat dipastikan jika dia sudah kembali ke ibu kota, dokter Irawan akan sibuk dengan pekerjaannya. Anita pun paham, dia menurut apa pun kata suaminya.
Selepas sarapan, dokter Irawan dan Anita mengantar kepergian sahabat dan keluarganya sampai di Bandara. Tentu saja sebelum mom Clara naik pesawat, dia pun menghampiri Anita dan memeluknya dengan erat.
Tak lama kemudian, dia mengurai pelukannya. Lalu ,dia pun berkata.
"Segeralah bawa kabar yang membahagiakan untuk Mom," kata Mom Clara.
Dahi Anita terlihat mengernyit dalam dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh mom Clara.
"Kabar apa itu, Mom?" tanya Anita.
Mom Clara nampak mengelus lembut perut Anita, dia ingin sekali menimang cucu. Karena usianya kini yang sudah mulai senja.
"Cucu, Sayang. Mom ingin segera mempunyai cucu," kata Mom Clara.
Mendengar kata mom Clara, wajah Anita nampak tersipu. Dia tidak menyangka jika di umurnya yang baru saja menginjak dua puluh tahun, dia sudah menjadi seorang istri.
Bahkan sekarang mertuanya meminta seorang cucu, melihat Anita yang hanya diam, saja dokter Irawan memeluk mom Clara, lalu dia pun berkata.
"Akan aku usahakan," jawab Dokter Irawan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, mom Clara langsung memukul lengan dokter Irawan. Dia sangat tahu bagaimana isi otak putranya tersebut, tanpa diminta pun dia sudah pasti mengakali istrinya agar bisa terus mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Jaga diri kalian, Mom pulang duluan," pamit Mom Clara.
Setelah mom Clara berpamitan, mama Anita pun nampak menghampirinya. Tentunya bersama dengan Melani, Andrew dan juga kedua buah hati Melani.
Mereka nampak berpamitan kepada Anita dan juga dokter Irawan, tak lupa mama Anita pun menitipkan putrinya tersebut kepada dokter Irawan.
"Mama harap kamu akan menjaga putri Mama, jangan pernah sakiti dia. Cintai dia dengan setulus hatimu," ucap Mama Anita.
__ADS_1
"Ya, Ma. Pasti," jawab Dokter Irawan.
Keluarga Ajun dan keluarga Gia pun tak lupa berpamitan kepada dokter Irawan sebelum mereka kembali ke ibu kota, bahkan mereka melempar candaan sebelum benar-benar pergi.
Hal itu membuat Anita malu, karena mereka benar-benar konyol, menurut dokter Irawan.
Setelah kepergian seluruh anggota keluarga dan juga para sahabatnya, dokter Irawan langsung mengajak Anita untuk kembali ke dalam kamar pengantin mereka.
Tentu saja yang ingin dokter Irawan lakukan saat ini adalah mengabulkan keinginan mom Clara, walaupun awalnya Anita terlihat keberatan, namun setelah dokter Irawan mengeluarkan jurus andalannya Anita pun hanya bisa pasrah dan menikmati setiap gulungan kenikmatan yang disuguhkan oleh suaminya.
*/*
Di kamar Clarista.
Clarista terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali, dia merasa kepalanya begitu berat. Badannya pun terasa sangat sakit, bahkan dia merasa tubuhnya sangat dingin.
Clarista pun berusaha untuk membuka matanya, setelah matanya terbuka dengan sempurna, mata Clarista nampak membulat dengan sempurna.
Dia merasa sangat kaget karena kini tubuhnya dalam keadaan polos, tubuhnya hanya ditutupi oleh selimut. Bahkan yang membuat Clarista lebih kaget lagi, kini di sampingnya ada Steven yang sedang tertidur dengan lelap.
Wajah lelaki itu terlihat sangat lelah sekali, bahkan terdapat lingkaran hitam di bawah matanya. Sepertinya Steven baru saja tidur dan masuk ke alam mimpinya.
Dia pun mulai bertanya-tanya di dalam hatinya sebenarnya apa yang tadi malam terjadi?
Seingatnya dia hanya mengajak Steven untuk masuk ke club dan minum, Iya... awalnya dia ingin minum sedikit saja minuman beralkohol tersebut.
Namun, lama-kelamaan dia malah menghabiskan minuman beralkohol tersebut dengan porsi yang sangat banyak.
Steven berulang kali mencegah Clarista, namun dia tetap saja meminum-minuman itu hingga dia benar-benar mabuk.
Dia pun mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam, wajahnya pun merona malu saat dia mengingat jika dirinya mendorong tubuh Steven ke atas tempat tidur.
Bahkan dia terlihat begitu bernaffsu, dia langsung membuka kain yang menghalangi tubuh Steven seperti orang kesetanan.
Bahkan seingatnya dia merobek baju yang dipakai oleh Steven, setelah itu dia pun merobek bajunya dengan tergesa, lalu dia langsung naik ke atas tubuh Steven dan mulai mencumbui lelaki itu.
__ADS_1
Berulang kali Steven mencegah apa yang dilakukan oleh Clarista, setelah itu dia pun tak mengingat apa yang terjadi selanjutnya.
"Ya Tuhan, apakah aku sudah memperkosa Steven?" tanya Clarista.
Clarista terlihat menyingkap selimutnya, dia memperhatikan tubuh polosnya. Lalu, dia juga memberanikan diri untuk menyingkap selimut yang menutupi bagian tubuh laki-laki itu, Steven hanya menggunakan celana Boxer saja yang menutupi area pribadinya.
Dia benar-benar merasa penasaran, apa yang sebenarnya telah terjadi diantara mereka berdua.
"Kalau misalkan Steven sudah mengambil keperawananku, pasti area inti lku akan terasa sakit," gumam Clarista.
Dia lalu menggoyangkan pinggulnya, lalu dia pun mengusap area intinya.
"Tidak sakit, biasa saja," ucapnya.
Clarista jadi berpikir, mungkin saja Steven tidak melakukannya. Dia hanya parno saja, pikirnya.
"Sebaiknya aku mandi saja," kata Clarista.
Setelah mengatakan hal itu, Clarista langsung turun dari tempat tidur. Dia mengambil kimono mandi dan segera berlari menuju kamar mandi.
Dia ingin segera membersihkan tubuhnya, dia juga ingin segera berpakaian. Rasanya sangat malu jika mengingat tubuh polosnya yang sudah dilihat oleh Steven.
Sepuluh menit kemudian, Clarista nampak keluar dari dalam kamar mandi. Dia hanya menggunakan kimono mandi saja, karena memang dia ternyata berada di kamar hotel milik Steven.
Tentunya tidak ada bajunya di sana, dengan sangat terpaksa dia pun hanya memakai kimono mandi saja.
"Heh! Mau keluar malu, masa cuma pake handuk doang," keluh Clarista.
Clarista lalu menatap baju miliknya yang teronggok di tepi ranjang, baju miliknya sudah tak terbentuk karena dia menyobek baju tersebut.
Wajahnya kembali merona kala mengingat hal yang dia lakukan tadi malam, sungguh dia merasa konyol jika mengingat kejadian tersebut.
"Kenapa kamu tersenyum-senyum seperti itu?" tanya Steven yang ternyata sudah bangun.
"Eh? Itu, anu. Maaf," ucap Clarista salah tingkah.
__ADS_1
"Ta apa, semuanya sudah berlalu. Kamu tahu, kamu sangat menyiksaku. Kamu naik ke atas tubuhku, merayuku dan memintaku untuk menyentuhmu. Setelah milikku bangun, kamu malah tidur dengan sangat pulas!" keluh Steven .
"Maaf," ucap Clarista seraya menunduk.