
Aldino sebenarnya masih terlihat enggan untuk pergi meninggalkan Melani, namun dia juga tak bisa berlama-lama di sana.
Karena Melani sudah benar-benar tak ingin bersamanya lagi, sebenarnya Aldino masih ingin berusaha mempertahankan rumah tangganya.
Namun sayangnya, Melani tetap menolak. Karena Melani tak melihat ketulusan di mata Aldino.
Melani hanya melihat, jika Aldino hanya ingin mempertahankan dirinya dan kedua buah hatinya, tanpa ada tatapan penuh cinta seperti dulu.
Melani bisa melihat jika di mata Aldino tak ada rasa cinta yang luar biasa seperti dulu lagi. Entahlah, Melani melihat Aldino sangat berbeda saat ini.
"Pikirkan lagi, Mel. Dengan apa yang kamu ucapkan, karena masih ada dua buah hati kita yang sangat membutuhkan kasih sayang kita." Itulah kata yang artinya ucapan sebelum dia pergi.
Melani sampai tak habis pikir kenapa Aldino bisa berkata seperti itu, padahal selama tiga tahun ini tidak ada perhatian yang Aldino berikan kepada dirinya dan juga ke buah kedua buah hatinya.
Seharusnya Aldino yang lebih berpikir, kenapa dirinya bisa ingin lepas dari dirinya.
Selepas kepergian Aldino, Melani pun langsung masuk ke dalam kamarnya dia melihat Fajri dan juga Merissa sedang bermain bersama.
Melani merasa bersyukur karena mempunyai 2 buah hati yang sangat jarang sekali terlihat rewel, mereka selalu terlihat anteng dan juga akur.
Melihat kedatangan Bundanya, Merissa langsung menghampiri Melani dan mengajaknya untuk duduk di tepian ranjang.
" Ada apa, Sayang?" tanya Melani.
"Ayah, mana, Buna?" tanya Merissa.
"Ayah sudah pulang, Sayang." Melani terlihat mengelus lembut puncak kepala putrinya.
"Kenapa Ayah pulang, Bun? Apa Ayah sudah tidak mau hidup bersama dengan kita lagi?" tanya Merissa.
"Bukan begitu, Sayang. Tapi sepertinya kita tidak bisa tinggal lagi dengan Ayah, Ayah dan Buna sudah mempunyai jalan masing-masing," kata Melani.
__ADS_1
"Aku juga punya temen, Bun. Ayah dan ibunya berpisah, dia jadi tak pernah bertemu lagi dengan ayahnya. Apakah aku juga akan seperti itu?" tanya Merissa.
"Tidak, Sayang. Tidak akan seperti itu, karena kamu akan tetap bisa bertemu dengan Ayah kamu. Dia pasti akan sering mengunjungi kamu dan juga Dede," jawab Melani.
"Semoga saja," ucap Merissa.
Marissa terlihat memeluk Bundanya, dia begitu sedih mendengar Bundanya yang akan berpisah dengan ayahnya.
Dia jadi berpikir, apakah mungkin dia bisa bertemu lagi dengan ayahnya? Sedangkan saat masih bersama saja mereka sangat jarang bertemu.
Bahkan dalam satu minggu pun belum tentu dia bisa bertemu sampai 2 kali dengan ayahnya tersebut.
Apa lagi kalau sudah berpisah, pikirnya. Sepertinya dia harus bersiap untuk kehilangan sosok seorang ayah.
Ya, begitulah anak sekarang. Mereka memang tumbuh lebih cepat, mereka bisa mengerti dengan cepat. Bahkan mereka bisa paham dengan cepat pola pikir orang dewasa, mereka benar-benar sangat pandai.
Melanie terlihat melerai pelukannya, lalu dia pun menatap putrinya dengan penuh kasih sayang.
Mendengar ucapan Bundanya, Merissa terlihat berpikir, lalu dia pun bertanya lagi kepada Bundanya.
"Bunda, apakah kita akan terus tinggal di sini?" tanya Merrisa.
"Tidak, Sayang. Nanti kita akan mencari rumah untuk kita tinggali, walaupun sederhana yang penting kita bisa tinggal bersama," ucap Melani.
Merrisa terlihat mengeluarkan air matanya, dia begitu sedih dengan kehidupan yang dia alami saat ini. Melihat kesedihan di mata putrinya, Melani langsung memeluk putrinya tersebut dengan penuh kasih sayang.
Dia kecup seluruh wajahnya dan dia elus punggung putri kecilnya, rasa bersalah langsung menyeruak di dalam dadanya. Sungguh dia merasa sangat sedih.
Di lain tempat, Gia dan juga ajun sedang duduk di sebuah Caffe ternama di ibu kota. Mereka sedang menunggu klien, mereka akan melakukan meeting di sana.
Sayangnya sudah lima belas menit menunggu, klienyat ak kunjung datang.
__ADS_1
"Ck! Lama!" gerutu Gia.
"Sabar, mungkin mereka terjebak macet," kata Ajun.
Tak lama kemudian, orang yang mereka tunggu pun datang. Ada seorang pria paruh baya yang datang dengan asisten perempuannya, mereka Langsung menghampiri Gia dan juga Ajun.
"Selamat siang, Tuan Gia. Maaf telat," ucapnya penuh sesal.
"Tidak apa," ucap Gia dengan senyum yang dipaksakan.
Gia dan lelaki paruh baya tersebut pun lalu berjabat tangan, begitu pun dengan Ajun. Setelah itu Gia dan Ajun pun kini hendak bersalaman dengan wanita yang berada di samping lelaki paruh baya tersebut.
Alangkah kagetnya Gia saat melihat wanita tersebut, karena wanita tersebut ternyata adalah mantan pacarnya yang bernama Melinda.
"Mel, kamu?" tanya Gia.
"Ya, ini aku. Sekarang aku bekerja pada Tuan Abidzar," kata Melinda.
"Oh," kata Gia.
Melihat obrolan antara Gia dan juga Melinda, pria paruh baya tersebut pun langsung tersenyum dan menepuk lengan Gia dengan pelan.
"Wah! Ternyata kalian sudah saling mengenal," kata Tuan Abidzar.
Mendengar upat ucapan Tuan Abidzar, Gia hanya bisa tersenyum canggung. Setelah berbasa-basi dengan Tuan Abidzar dan juga Melinda, akhirnya meeting pun dimulai.
Hampir 1 jam mereka melakukan meeting dan selama waktu meeting Melinda terus saja menatap Gia tanpa berkedip.
Bahkan sesekali Melinda terlihat menatap Gia dengan tatapan nakalnya, namun Gia berusaha untuk tidak terpengaruh.
Karena baginya Melinda hanyalah masa lalunya dan masa lalu hanya untuk dikenang, bukan untuk diulang apa lagi diperjuangkan.
__ADS_1