
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, pak Galuh terlihat gelisah. Karena Gadis tak kunjung pulang, padahal selepas bertemu dengan Tuan Alfonso, pak Galuh hanya keluar sebentar untuk membeli lauk untuk mereka makan malam.
Karena hari ini pak Galuh merasa enggan untuk masak, biarlah sekali-sekali membeli lauk matang pikirnya. Namun saat dia pulang, kedai sop buah sudah tutup, Gadis juga tak ada.
"Aduh, saya harus gimana ini? Kenapa Neng Gadis ngga pulang-pulang? Ngga biasanya dia pergi ngga bilang-bilang," keluh Pak Galuh.
Pak Galuh kembali mengambil ponselnya, dia mencoba untuk menghubungi Gadis. Namun tetap saja seperti sebelum-sebelumnya, panggilannya tak diangkat sama sekali. Pak Galuh pun menjadi bingung dibuatnya.
"Aduh, Neng. Kamu teh ke mana? Bapak teh jadi hawatir pisan," ucap keluh Pak Galuh.
Pak Galuh lalu keluar dari rumahnya, dia pun kembali mondar-mandir di depan rumahnya. Berharap jika Gadis akan cepat pulang.
Namun tetap saja tak juga pulang, Pak Galuh yang merasa khawatir pun langsung menelepon Ajun. Hanya lelaki itu pikirnya yang selalu dekat dengan Gadia.
"Ya halo," terdengar suara Ajun dari seberang sana.
"Maaf kalau Bapak mengganggu malam-malam begini, saya lagi bingung ini. Neng gadis nggak pulang-pulang," ucap pak Galuh.
"Memangnya Gadis pergi ke mana, Pak?" tanya Ajun.
" Justru itu, Bapak tidak tahu. Saat Bapak pulang gadis sudah tidak ada di rumah, Bapak jadi khawatir," ucap Pak Galuh.
"Bapak tenang saja, nanti biar Ajun bantu cari," Jawab Ajun.
"Ya udah kalau begitu, Bapak tunggu kabar baiknya," ucap Pak Galuh.
Setelah mendapatkan telepon dari pak Galuh, Ajun selalu mencoba untuk menghubungi Gadis. Namun ternyata Gadis tak mau menerima panggilan telepon darinya, Ajun jadi merasa khawatir.
Ajun pun langsung melacak keberadaan Gadis lewat GPS, dahi Ajun terlihat mengernyit kala mengetahui keberadaan Gadis.
"Untuk apa dia malam-malam di sana?" tanya Ajun.
Ajun segera menyambar jaketnya, lalu dia juga mau bawa kunci mobilnya. Dengan cepat dia melajukan mobilnya ke tempat Gadis berada.
Pukul 9 malam Ajun pun sampai di tepi Danau buatan di pinggir taman kota, Ajun segera memarkirkan mobilnya. Setelah itu, dia pun lalu mencari keberadaan Gadis di sana.
Tak perlu waktu lama untuk Ajun mencari Gadis, Ajun melihat Gadis di pinggir Danau sendirian. Dia terlihat menangis sendirian, wajahnya terlihat sangat sedih.
GREP!
"Aaaaaaa!" jerit Gadis kala tiba-tiba ada yang menarik tubuh Gadis.
"Diamlah, aku hanya ingin memeluk kamu." Ajun. menenggelamkan wajah wanita yang dia sayangi pada dada bidangnya.
__ADS_1
Gadis yang sangat mengenali suara Ajun, langsung mendongakkan kepalanya.
"Om, di sini." Seulas senyuman terukir dari bibir Gadis.
"Hem, kamu ngapain di sini?" tanya Ajun seraya mengusap lembut pipi Gadis.
Gadis langsung menunduk, dia bingung harus berbicara seperti apa kepada Ajun.
Ajun langsung menaikan dagu Gadis dengan telunjuk tangannya, "tatap mata aku. Kamu. kenapa, hem?"
"Gadis lagi bingung, Om." Kembali air bening itu mengalir di pipi Gadis.
"Kenapa? Cerita sama aku," pinta Ajun.
Gadis terlihat menarik nafas dalam, lalu dia menghembuskannya secara perlahan.
"Jadi begini, Om.... "
Gadis pun menceritakan semuanya kepada Ajun, sedangkan Ajun hanya diam menyimak semua ucapan Gadis. Sesekali dia terlihat menganggukkan kepalanya, dia paham dengan apa yang dialami oleh Gadis.
"Jadi, bagaimana kalau Tuan Alfonso adalah Ayah biologis kamu?" tanya Ajun.
"Aku bingung, Om." Gadia mengeratkan pelukannya, dia menghirup aroma tubuh Ajun yang terasa menenangkan.
"Jadi, aku harus apa?" tanya Gadis.
"Kamu harus pulang, terus tanya baik-baik saja Bapak kamu," ucap Ajun.
"Baiklah, Ayo kita pulang." Gadis melerai pelukannya, lalu dia menuntun Ajun menuju motor matic kesayangannya.
Ajun hanya diam dan menurut, dia sadar kalau dia membawa mobil. Namun, ngga salah, kan kalau dia pergi naik motor bersama dengan Gadis.
Gadis terlihat memakai helemnya, lalu dia pun mengambil helm yang satunya.
"Nunduk, Om."
Ajun menurut, dia pun menundukkan wajahnya. Gadis pun langsung memakaikan helm pada Ajun. Ingin sekali Ajun tertawa karena helm yang dia pakai bermotif kucing.
"Ini Om, kunci motornya." Gadis menyerahkan kunci motornya pada Ajun.
"Aku ngga bisa bawa motor," jawab Ajun singkat.
"Ya Tuhan, masa aku yang bawa motornya. Om tinggi besar, pasti jomplang banget kelihatannya," keluh Gadis.
__ADS_1
Ajun hanya beralasan, tentu saja dia bisa bawa motor. Hanya saja, memanfaatkan keadaan rasanya boleh iya, kan?
"Udah makin malem ini, kalau ngga buru-buru pulang Bapak kamu keburu nangis," ucap Ajun.
"Ish, Om nyebelin. Keren doang naek motor ngga bisa," keluh Gadis.
Gadis langsung menaiki motor matic kesayangannya, lalu menstater motornya dengan cepat. Ajun tersenyum, lalu dia pun ikut menaiki motor Gadis dan langsung memeluknya dari belakang.
"Yang penting Om, bisa naikin kamu." Ajun langsung merekatkan pelukannya.
"Om!" pekik Gadis.
Gadis nampak tersipu, wajahnya pun terlihat memerah.
"Jalan, Sayang. Nanti Om ngga tahan, dia terus naikin kamu di sini." Ajun sengaja menggoda Gadis, biar dia tak sedih lagi.
"Ngga bisa gitu, Om. Om halalin aku dulu, baru boleh--"
"Apa?" tanya Ajun.
"Om, MESUMM!" teriak Gadis.
"Jangan teriak, nanti kalau ada yang denger nanti kita malah digerebek warga. Ayo pulang," ajak Ajun.
"Iya', Om mesummku," jawab Gadis.
Gadis pun langsung melajukan motornya menuju rumah pak Galuh, hatinya ketar-ketir. Dia takut jika dia akan mendengar penuturan dari pak Galuh yang akan membuat dirinya kecewa.
"Jangan pernah takut, Tuhan pasti akan memberikan jalan yang terbaik untuk umatnya," ucap Ajun sebelum dia mengajak Gadis untuk masuk ke rumah Pak Galuh.
"Ya Tuhan, Neng. Bapak teh khawatir pisan sama kamu, kamu kemana aja? Bikin Bapak kalang kabut," ucap resah Pak Galuh.
Pak Galuh langsung menghampiri Gadis, lalu dia menarik tubuh Gadis ke dalam pelukannya. Dia mengusap punggung Gadis dengan lembut lalu mengecup kening Gadia dengan penuh kasih sayang.
"Gadis hanya main di Danau," ucap Gadis singkat.
"Masuk, Sayang. Biar Bapak bikinin teh hangat," ucap Pak Galuh.
Pak Galuh langsung menuntun Gadis untuk masuk kedalam rumahnya, dia mendudukkan Gadis di ruang tamu.
Lalu kemudian, dia pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Sedangkan Ajun, dia duduk di samping Gadis dan mengusap lembut kedua tangan Gadis.
Dia mencoba untuk menenangkan wanita yang sudah menguasai hatinya itu, "jangan tegang. Sebentar lagi, kita akan tahu yang sebenarnya. Ingat, nanyanya harus pelan-pelan, jangan emosi."
__ADS_1