
Melihat Gia yang terlihat sedang asik mengobrol dengan seoaran perempuan muda, Elsa langsung menghampirinya.
"Mas, dia siapa??" tanya Elsa.
Gadis dan Gia terlihat salah tingkah, mereka bukan takut ketahuan karena telah berselingkuh. Namun, mereka takut jika Elsa akan salah paham.
Karena biasanya wanita hamil akan cepat tersinggung dan mudah berspekulasi sendiri, dengan cepat Gia pun langsung memberikan mangkok cilok yang tadi dia makan pada Gadis.
Lalu, Gia langsung berdiri dan merangkul istrinya. Dia mengajak Elsa untuk duduk tepat di bangku yang tadi dia duduki.
"Kamu duduk dulu, Sayang. Biar Mas jelaskan," Kata Gia. "Dia namanya Gadis Berliana, dia salah satu mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari perusahaan Daddy." Gia langsung mengelus lembut punggung Elsa.
Gadis hanya bisa menganggukan kepalanya, lalu tersenyum canggung pada Elsa.
"Saya Gadis, Nyonya." Gadis mengulurkan tangannya, Elsa pun memandang wajah Gia sebentar, lalu menerima uluran tangan Gadis.
"Saya Elsa, istri'nya Mas Gia." Elsa segala mempertegas kata Istri, agar Gadis tahu jika Elsa adalah istri dari pria yang sedang mengobrol dengannya.
"Ah, Iya, Nyonya. Saya tahu, selain istri Tuan Gia anda juga Bunda dari twins A 'kan?" kata Gadis setengah berbisik.
Elsa terlihat celingukan, dia jadi teringat pada kedua putinya. Dia takut jika kedua putrinya akan ketahuan dalam penyamarannya.
Namun, saat melihat kedua putrinya yang sedang asik makan jajanan, Elsa pun merasa tenang.
"Kamu kenal saya?" tanya Elsa.
Setahunya dia tak pernah mengikuti kegiatan kedua putrinya, mereka berdua selalu ditemani oleh Tuan Dirja dan juga manajernya kala berhadapan dengan publik.
"Saya pernah lihat anda bersama dengan kedua putri anda saat sedang berbelanja," jawab Gadis. "Saya ingin sekali menyapa, tapi Bodyguard'nya banyak banget." Gadis terlihat menatap Elsa dengan penuh kagum.
"Oohh..." jawab Elsa.
"Nyonya, ini sudah malam. Lebih baik Nyonya cepat pulang, ibu hamil tak boleh lama-lama kena angin malam." Gadis menatap perut buncit Elsa, rasanya dia ingin sekali memegang perut itu.
"Iya, aku tahu. Lalu, kenapa kamu menatap perutku seperti itu?" tanya Elsa.
"Perut anda lucu, sudah berapa bulan?" tanya Gadis.
"Lima bulan," jawab Elsa.
"Boleh aku mengelusnya?" tanya Gadis.
__ADS_1
Gadis terlihat begitu antusias, dia seperti sangat ingin mengelus perut Elsa. Bahkan matanya terlihat berkaca-kaca, kala melihat perut buncit Elsa.
Elsa merasa bingung ketika melihat Gadis yang terlihat seakan hendak menangis, karena tak tega, Elsa pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Boleh," kata Elsa.
Perlahan Gadis menghampiri Elsa, dia lalu berjongkok dan mengelus lembut perut Elsa.
"Baik-baik ya, Nak. Jangan nyusahin Bunda kamu, kamu harus kuat. Biar kamu bisa ketemu tante," kata Gadis.
Air mata Gadis turun tanpa permisi, ada kesedihan yang mendalam di sana. Elsa dan Gia saling pandang, mereka terlihat iba pada Gadis.
Gadis seperti menyimpan luka yang begitu dalam, tapi Gia dan Elsa tak tahu apa itu.
"Terima kasih, Nyonya. Anda baik sekali, semoga anda dan Babby yang ada di dalam kandungan anda sehat selalu." Gadia terlihat menyusut air matanya.
Ingin sekali Elsa bertanya, namun dia seolah tak tega. Takut-takut, Gadis malah akan tersinggung.
"Ehm... Sayang, kita pulang ya? Ini sudah mulai larut," ajak Gia.
"Iya, Mas." Elsa langsung bangun dan memeluk tangan kekar Gia.
"Kami pulang dulu," pamit Elsa.
Sebelum pergi dari sana, Gia pun menghampiri kedua putrinya. Lalu mengajak anak dan istrinya untuk segera pulang ke rumahnya.
Karena dia sadar, jika sekarang ini sudah larut malam. Tak baik untuk kesehatan Elsa yang sedang mengandung buah hati mereka.
Setelah kepergian keluarga kecil itu, Gadis pun memutuskan untuk segera pergi dari sana. Karena menurutnya, hatinya sudah merasa cukup tenang.
Apalagi setelah mengelus lembut perut buncit Elsa, membuat dirinya merasakan hal yang membuatnya sangat damai.
Namun, baru saja 2 langkah Gadis berjalan, tiba-tiba saja ada yang memanggil Gadis.
"Neng, tunggu! Jangan pergi dulu," panggilnya.
Gadis lalu membalikkan tubuhnya, dia mencari asal suara. Ternyata yang memanggilnya adalah Kang cilok yang sedaei tadi berada di balik gerobaknya.
"Ada apa, Kang?" tanya Gadis.
"Itu, Neng. Ciloknya belum dibayar," kata Kang cilok.
__ADS_1
Gadis langsung melongo tak percaya, mana mungkin pikirnya, orang sekaya Gia tak mampu membayar semangkuk cilok.
"Hah! Maksudnya gimana, Bang? Saya kan nggak mesen cilok?" tanya Gadis.
"Iya, Neng. Kamu emang nggak mesen, tapi tadi Mas'nya yang mesan. Terus dia belum bayar," kata Kang cilok lagi.
Gadis langsung menepuk jidatnya, dia baru sadar kalau saat dia bertemu dengan Gia. Giia memang sedang memakan cilok, dan sialnya ternyata cilok itu belum dibayar.
"Ah, sial! Katanya orang kaya, makan cilok aja nggak dibayar." Gadis terlihat menggerutu, sungguh menyebalkan, pikirnya. "Berapa Kang?" tanya Gadis.
"Sepuluh ribu aja, Neng." Kang cilok mengambil mangkoknya, lalu menunghu Gadis untuk membayarnya.
Gadis pun langsung merogoh saku celananya, kemudian dia pun memberikan uang selembar Rp10.000 kepada Kang cilok.
"Terima kasih, Neng. Nemg emang baik," kata Kang cilok.
"Ya Kang, sama-sama," kata Gadis.
Gadis pun segera berlalu dari tempat tersebut, dia berjalan menuju parkiran lalu dia menaiki motor matic kesayangannya.
Setelah itu, dia pun melajukan motornya menuju tempat yang selama ini menjadi tempat bernaung untuk dirinya dan juga bapaknya.
Selama perjalanan menuju pulang, pikiran gadis masih tertuju pada saat dia mengelus lembut perut Elsa. Hatinya terasa menghangat dan jantungnya seakan berdetak dengan sangat cepat.
Rasanya dia juga ingin merasakan kembali tangannya menyentuh perut buncit Elsa, apalagi saat gadis mengelus lembut perut Elsa, Babby di dalam kandungan Elsa melakukan pergerakan.
Membuat Gadis merasa ingin menyentuhnya kembali, dia berharap suatu saat dia bisa berkesempatan untuk mengelusnya kembali.
Gadis berkendara sambil melamun, hingga tanpa sadar dia hampir saja menabrak seorang pria yang sedang menyeberang jalan.
Gadia terlihat kaget, dengan cepat Gadis membanting setir ke arah kiri. Hal itu membuat Gadis terjatuh di pinggir jalan, gadis terlihat meringis kesakitan karena kakinya tertimpa body motor.
Pemuda yang tadi hendak menyeberang jalan pun, langsung berlari menghampiri Gadis dan berusaha untuk membantu mendirikan motor tersebut.
"Anda tidak apa-apa? Maaf tadi saya menyebrang jalannya tanpa melihat ke arah kanan dan kiri," ucap pria tersebut.
Gadis masih setia menunduk memegangi kakinya yang terasa nyeri, dia merasa bersyukur kala orang yang menolongnya ternyata tidak sadar jika dialah yang salah.
"Tak apa," jawab Gadis.
Gadis berusaha untuk bangun dengan memegang motor matic kesayangannya, lalu Gadis menatap pria yang sudah membantu mendirikan motornya itu.
__ADS_1
"Kamu?!" ucap Gadis dan pria itu bersamaan.