Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Menjenguk Baby Tampan


__ADS_3

"Ah, Sayang. Ternyata usaha tak pernah menghianati hasil, dia tahu siapa yang selalu bekerja keras setiap malamnya." satu cubitan langsung VB dapatkan dari Nyonya Miranda.


VB dan Dina langsung terkekeh melihat kekesalan di mata Nyonya Miranda.


"Dasar anak nakal!" kesal Nyonya Miranda.


"Nakal-nakal begini juga kesayangan, Mommy." VB langsung mengecup pipi Nyonya Miranda.


Setelah mengatakan hal itu, VB langsung menghampiri Dina dan duduk tepat di samping istrinya. Dia terus saja memandangi lalu mengecup pipi putra tampannya.


Raut wajah VB terlihat begitu bahagia, dia terus saja mengecupi pipi gembil putranya. Dina dan Nyonya Miranda hanya bisa tersenyum melihat kelakuan dari VB.


VB memang sangat menyukai anak kecil, makanya saat melihat putranya sendiri, dia terlihat sangat bahagia. Bahkan wajahnya yang tadi terlihat memucat, kini sudah nampak berseri.


Tak lama kemudian, Gia, Elsa dan kedua putrinya nampak masuk ke dalam ruangan tersebut.


Wajah Gia terlihat lesu, tangannya pun terlihat di perban. Sedangkan Elsa terlihat datang dengan membawa kado di tangannya, Aurora dan Aurelia pun membawakan kado untuk Baby yang baru saja dilahirkan oleh Dina tersebut.


"Selamat ya Aunty, aku turut senang atas kelahiran putra Aunty." Aurora nampak memberikan kado kepada Dina.


Lalu, dia pun memeluk Dina dan mengelus lembut punggungnya. Aurelia pun tak mau kalah, dia langsung menghampiri Dina dan memberikan kado kepada Dina, lalu dia pun mengecup pipi kanan dan kiri Dina.


"Semoga Babynya suka dengan kado pemberian dari aku," ucap Aurelia.


"Trima kasih, Sayang. Kalian sangat baik karena sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini, padahal ini sudah malam loh!" ucap Dina.


Elsa nampak menghampiri Dina, dia menyimpan kado yang dia bawa di atas nakas. Lalu dia memeluk temannya tersebut dengan penuh kasih sayang.


"Gue sangat penasaran sama wajah putra elu, makanya gue segera ke sini. Selamat ya, karena elu sudah berhasil melahirkan seorang putra yang sangat tampan," ucap Elsa tulus.


"Terima kasih, Sa. Gue seneng banget karena gue udah jadi seorang ibu sekarang," ucap Dina.


"Iya, gue tahu dan gue berdo'a semoga elu bisa jadi ibu yang baik buat anak-anak elu nantinya," ucap Elsa.


"Terima kasih atas do'anya," kata Dina.


"Sama-sama," kata Elsa.


"Inget, Sa. Elu jangan ngiri karena engga punya yang ganteng seperti anak gue," ucap Dina seraya terkekeh.

__ADS_1


"Ngga akan, gue udah punya yang ganteng." Elsa terlihat menunjuk Gia dengan ekor matanya.


Dina langsung tertawa melihat tingkah temannya tersebut, sedangkan Gia terlihat tidak paham dengan apa yang diobrolkan oleh istri dan juga Dina


VB melihat ke arah Gia yang masih terlihat cemberut, lalu VB pun menghampiri Gia dan menepuk pundaknya.


"Bang, maaf ya karena gue sudah merepotkan elu," ucap VB.


Gia nampak cemberut, sedangkan VB setelah mengucapkan hal itu, dia pun berkata kembali kepada Gia.


"Terima kasih," ucap VB tulus.


"Hem," jawab Gia.


Lalu, dia melihat ke arah tangan Gia yang di perban. VB yang penasaran pun langsung bertanya.


"Tangannya kenapa, Bang?" tanya VB.


Mendengar pertanyaan dari VB, Gia pun langsung melihat ke arah tangannya. Lalu, dia mengelus tangannya yang masih terasa sangat sakit.


"Ini gara-gara bini elu, ngeden sih ngeden. Tapi tangan gue ngga harus jadi korban juga kan? Bahkan bukan hanya kulitnya saja, tapi daging tangan gue ampe terkelupas. Ini abis diobatin sama suster," adu Gia.


Dina pun menjadi tak enak hati, begitu juga dengan VB. Kalau saja dia tidak trauma terhadap darah, dia pun sudah dapat dipastikan pasti menemani istrinya untuk melahirkan.


"Maaf, Bang!" kata VB.


"Hem! Lagian elu lebay banget sih, sama darah aja takut," kata Gia.


"Gue trauma, Bang. Kalau lihat darah, bawaannya gimana gitu... tadi aja pas ngeliat darah, kepala gue langsung pusing. Pandangan gue langsung kabur, rasanya untuk bernapas pun sangat susah. Jadinya ya gitu deh," ucap VB


Mendengar ucapan VB, Gia langsung mencebik kesal. Sedangkan Elsa, Dina, twins A dan juga Nyonya Miranda terlihat menertawakan tingkah mereka berdua.


"Maaf ya Nak Gia, karena putra Tante sudah merepotkan. Tante juga mau ngucapin terima kasih, karena kamu sudah mau menemani menantu Tante saat melahirkan," kata Nyonya Miranda.


"Sebenarnya saya tidak ingin menemani menantu Tante saat melahirkan, saya merasa gimana gitu. Tapi karena Dina yang tidak mau melepaskan tangan saya, mau tidak mau saya jadinya harus tetap diam di sana," ucap Gia seraya mengusap lehernya yang terasa dingin.


Nyonya Miranda lalu menghampiri VB, dia mengelus lembut punggung putranya tersebut dengan penuh kasih sayang.


"Sekarang kamu sudah menjadi Ayah, Mommy harap kamu belajar untuk menaklukkan rasa trauma kamu. Apa kamu mau seperti ini terus?" tanya Nyonya Miranda.

__ADS_1


"Ngga mau, Mom." VB memeluk Mom'nya dengan manja.


"Lalu, bagaimana kalau Dina hamil lagi dan nanti melahirkan? Apa kamu mau istri kamu ditemani oleh lelaki lain lagi?" tanya Nyonya Miranda.


"No, Mom. Aku akan berusaha untuk mengobati rasa trauma ku," ucap VB.


"Harus, elu harus berusaha menyembuhkan rasa trauma itu. Elu ngga mau kan kalau nanti istri elu gue nikahi?" tanya Gia.


VB dengan cepat melerai pelukannya dengan Nyonya Miranda, lalu dia pun berkata dengan cepat.


"Jangan jadi pebinor, Bang. Elu udah punya bini, anak elu perempuan semua, Bang. Inget!" kata VB.


"Lagian elu jadi suami nyebelin, mana ada istri melahirkan ditemani suami temannya sendiri. Kan aneh!" kesal Gia.


"Bang, kalau ngomong jangan macem-macem. Gue sudah cinta mati sama bini gue, awas saja kalau berani macem-macem. Entar gue kebiri, tahu rasa!" ucap kesal VB.


Gia yang sedari tadi diam karena kesal, kini bisa tertawa dengan lepas saat mendengar ucapan VB.


Lagi pula siapa yang mau menikahi Dina, jika hatinya sudah terpaut kepada istri tercintanya. Gia langsung menghampiri Elsa, karena takut jika perkataannya akan menyinggung perasaannya.


Dia langsung mengelus pundak Elsa dengan lembut dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.


"Mas tadi cuma bercanda, kamu jangan tersinggung ya? Di hati Mas, sudah ada empat perempuan cantik. Sudah penuh dan sesak, tidak mungkin Mas berniat untuk menambah perempun lain lagi," ucap Gia


Elsa tersenyum, lalu mengelus lembut tangan Gia.


"Iya, Mas. Aku percaya, tadi kamu hanya bercanda saja untuk mencairkan suasana," ucap Elsa bijak.


"Kamu memang istriku yang terbaik," ucap Gia seraya mengecup bibir istrinya.


Aurora dan Aurelia terlihat memutar *** matanya, mereka terlihat malas melihat Ayahnya yang suka memanfaatkan situasi.


Mereka merasa jengah melihat Ayahnya yang selalu saja ingin bermesraan dengan Bundanya, di manapun dan kapan pun.


"Ekhm, Ekhm!" Aurelia pun langsung berdehem.


Dia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayah jangan suka kebiasaan," ucap Aurora menimpali.

__ADS_1


"Maaf, Ayah kelepasan," ucap Gia seraya memeluk kedua putrinya tersebut.


Ruang perawatan Dina pun menjadi ruang dengan tawa, sungguh suasana bahagia sedang meliputi hati kedua pasangan tersebut.


__ADS_2