
Gadis terlihat menggeliatkan tubuhnya, lalu dia pun mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah matanya terbuka sempurna, Gadis lalu duduk dan meregangkan otot-ototnya yang terasa sakit karena kejadian tadi malam.
Setelah itu Gadis langsung mengedarkan pandangannya, dia terlihat sangat kaget. Karena dia kini berada di sebuah kamar yang tidak dia kenali, dia kini berada dalam kamar yang terlihat sangat rapi dan juga bersih.
Padahal, biasanya dia tidur di sebuah kamar yang terlihat berantakan dan di setiap dinding kamarnya terdapat foto-foto artis Korea. Lalu, di mana dia sekarang? Kenapa suasana kamarnya terasa aneh untuknya?
"Dimana ini?" tanya Gadis lirih.
Gadis lalu turun dari ranjang yang dia tiduri, kemudian dia berkeliling di dalam kamar tersebut. Lalu, Gadis pun duduk di depan meja rias, dia memandang wajahnya dari pantulan cermin.
Masih ada bekas luka tamparan di pipinya, saat dia memperhatikan apa yang dia pakai. Dia masih mengenakan jas milik Ajun, Gadis pun langsung tersenyum.
"Apakah Om Ajun membawaku ke rumahnya?" tanya Gadis dengan senyum di bibirnya.
Gadia lalu bangun dan berlari ke dalam kamar mandi, dia mencuci mukanya kemudian gosok gig. Setelah itu, dia pun merapikan penampilannya dan segera keluar dari dalam kamar tamu tersebut.
Dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Ajun, dia ingin bertemu dengan lelaki yang telah menyelamatkan dirinya tadi malam.
"Ya Tuhan, aku senang sekali karena tadi malam bertemu dengan Om Ajun. Coba saja kalau tidak ada dia, aku tidak tahu nasibku seperti apa saat ini," kata Gadis seraya melangkahkan kakinya menyusuri rumah besar tersebut.
Gadis terus saja mengedarkan pandangannya seraya berjalan, namun dia tak menemukan satu orang pun di dalam rumah tersebut.
"Kenapa rumah ini terlihat sangat sepi? Apakah tidak ada penghuninya? Atau hanya Om Ajun saja tinggal di sini?" tanya Gadis pada dirinya sendiri.
Karena penasaran, akhirnya Gadis pun memutuskan untuk mencari di mana letak kamar Ajun. Setelah dia berkeliling, akhirnya dia pun menemukan sebuah kamar yang terlihat besar dari kamar yang lainnya.
Gadis pun meyakini, jika itulah kamar Ajun. Dengan perlahan Gadia pun mendekati kamar itu dan mengetuknya.
Tok! Tok! Tok!
Gadis mengetuk pintu kamar Ajun beberapa kali, namun tak terdengar sahutan sama sekali dari dalam. Gadis mengernyit heran, kenapa di rumah ini seakan tidak ada penghuninya?
__ADS_1
Terasa sangat sepi dan hal itu membuat bulu kuduk Gadis berdiri, dia merasa takut jika dia ditinggalkan di rumah itu sendirian.
"Apakah Om Ajun sudah berangkat kerja?" tanya Gadis pada dirinya sendiri.
Kemudian Gadis melirik jam yang melingkar di tangan kirinyanya, ternyata waktu baru menunjukkan pukul 5.30 pagi.
Mana mungkin pikirnya, Ajun sudah berangkat bekerja sepagi ini. Akhirnya Gadis pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar milik Ajun, saat dia membuka pintu kamarnya Ajun.
Di sana tidak ada siapapun, Gadis pun. langsung masuk dan memperhatikan keadaan ruangan tersebut.
Gadia sempat merasa takjub saat melihat kamar tersebut, karena kamar tersebut terlihat sangat rapi. Dindingnya dicat dengan warna abu-abu, perabotannya didominasi oleh warna hitam. Terlihat sangat maskulin.
Ceklek!
Terdengar suara pintu dibuka, dengan cepat Gadis pun mengalihkan pandangannya. Matanya tak berkedip sama sekali kala melihat Ajun yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, Ajun hanya menggunakan handuk putih yang melindungi Area peribadi'nya.
Gadis terlihat menelan salivanya dengan sangat susah, karena di hadapannya dia harus melihat body Ajun yang menurutnya sangat 'WoW'.
Ajun yang tidak menyadari kehadiran Gadis langsung berjalan menuju walk in closet dan mengambil setelan kerjanya, tubuh Gadis seakan sulit untuk digerakkan.
"Ya Tuhan, ngga dosa'kan ya, lihat mahluk ciptaan'mu yang begitu sempurna ini?" tanya Gadis dalam hati.
Setelah selesai berpakaian, Ajun sangat kaget karena melihat Gadisyang kini tengah berdiri di samping tempat tidurnya.
"Hey! Ngapain kamu di situ?" tanya Ajun.
"A--anu, Om. Itu, Gadis mau bilang makasih karena Om udah nolongin, Gadis." Gadia langsung menunduk sambil meremat kedua tangannya secara bergantian.
"Mati aku, Mudah-mudahan si Om Ajun. ngga marah sama aku," gumam Gadis dalam hati.
Ajun langsung menghampiri Gadis dan menatapnya dengan lekat, "kamu ngga ngintipin saya mandi, kan?"
__ADS_1
Gadis langsung mendongakkan kepalanya, lalu dia menatap Ajun sambil menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja tidak, mana berani aku ngintipin Om." Gadis terlihat salah tingkah, karena sejujurnya dia sempat melihat Ajun tanpa busana tadi.
"Benarkah?" tanya Ajun seraya memicingkan matanya.
"Beneran, Om. Suer?!" ucap Gadis seraya mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
"Ya sudah, sekarang kamu keluarlah. Tunggu aku di meja makan," ucap Ajun.
"I--iya, Om. Saya keluar ya, Om?"
Tanpa menunggu jawaban dari Ajun, Gadis langsung keluar dari kamar tersebut dan berlari menuju arah dapur. Sungguh Gadis sangat takut jika dia akan ketahuan, bahwa dia menyaksikan Ajun saat berganti pakaian
Bahkan di mata, di otak dan pikirannya masih terbayang-bayang bentuk tubuh Ajun yang 'WoW' menurutnya.
"Oh My God! Oh My God! Oh My God! Manusia atau malaikat yang tadi aku lihat? Sempurna!" ucap Gadis seraya bergidig saat membayangkan bentuk tubuh Ajun dan Ekhm'nya mas Ajun.
Gadis terlihat patuh, dia duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan tersebut. Lalu, dia pun menumpukan dagunya di atas kedua kepalan tangannya.
" Ya Tuhan, tidur aja gede banget. Bagaimana bangunnya, ya?" tanya Gadis dalam hatinya.
"Ekhm, kenapa kamu mesem-mesem kaya gitu?" tanya Ajun yang ternyata sudah ada di samping Gadis.
"Eh? Ngga apa-apa, Om. Om udah siap?" tanya Gadis.
"Saya mau bikin sandwich buat kita sarapan, kamu mandi sana. Ini pakai baju saya dulu buat gantinya," kata Ajun.
Ajun memberikan kaos dan celana kepada Gadis, itu adalah kaos dan celana Ajun yang menurutnya paling kecil yang bisa dipakai oleh gadis.
Gadis sempat merentangkan baju yang diberikan oleh Ajun, mungkin menurut Ajun itu terlihat sangat kecil. Tapi bagi Gadis itu masih terlihat kebesaran, namun tak apa pikirnya. Yang penting dia bisa ganti baju, dari pada dia memakai baju semalam.
__ADS_1
"Terima kasih, ya, Om. Om memang sangat baik," Gadis terlihat tersenyum dengan sangat manis, lalu dia pun meninggalkan Ajun.
Ajun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Gadis, menurutnya umurnya saja yang bertambah. Akan tetapi, sikap Gadis masih terlihat seperti anak-anak yang duduk di bangku SMP.