
Melani nampak tak enak hati kepada Andrew, kalau saja dia tahu jika Nyonya Mesti sakit dan tak bisa mengurusi Fajri, pasti dia akan membawa Fajri bersama dengannya.
Karena biasanya juga Fajri selalu anteng saat melihat Bundanya bekerja, paling dia akan merengek pada saat meminta susu.
"Ehm, maaf karena aku merepotkan kamu. Pasti kamu kerepotan harus pergi bekerja sambil membawa Fajri," ucap Melani penuh sesal.
Mendengar ucapan Melani, Andrew terlihat tersenyum hangat. Lalu, dia pun berkata.
"Tidak usah meminta maaf, aku senang membawanya pergi bersamaku. Aku jadi mempunyai teman saat perjalanan menuju ke luar kota," kata Andrew.
Andrew terlihat tersenyum hangat, sedangkan Melani nampak kikuk dan salah tingkah. Bukan karena sedang jatuh cinta, namun karena tidak enak hati.
"Tapi, pasti kamu kerepotan karena harus bekerja sambil mengurus putraku," kata Melani lagi.
Mendengar Melani berbicara seperti itu, Andrew langsung membela Fajri.
"Tidak, Fajri anak yang baik. Dia tidak merepotkan," kata Andrew.
"Ehm, bolehkah aku menggendongnya. Pasti kamu berat karena menggendong Fajri sedari tadi," kata Melani.
"Oh, biar aku antar saja. Kasihan dia sudah terlelap," kata Andrew.
Melani menurut, dia nampak menganggukkan kepalanya, lalu berjalan mendahului Andrew. Tak lupa sebelum pulang dia pun berpamitan terlebih dahulu kepada Mama Andrew.
Tiba di dalam rumahnya, Melani terlihat membukakan pintu kamar yang biasa dia tempati bersama dengan Fajri.
Melani memang sengaja tidur berdua dengan Fajri, karena jika malam hari Fajri masih mendapatkan asi eksklusif dari Melani. Sedangkan siang hari, dia kan meminum susu formula.
Berbeda dengan Merisaa yang memang sudah berumur 9 tahun, jadi Melani memberikan kamar sendiri untuk Merissa.
Setelah Melani membukakan pintu kamarnya, Andrew langsung masuk dan membuka gendongannya.
Lalu, dia pun merebahkan tubuh mungil Fajri ke atas tempat tidur dengan sangat hati-hati. Terlihat sekali jika Andrew begitu bersimpati kepada Fajri.
Bahkan, Andrew terlihat melabuhkan kecupan hangat di kening Fajri. Lalu, dia menarik selimut dan menutupi tubuh mungilnya.
"Mimpi yang indah," ucapnya.
Untuk sesaat Andrew terlihat memandang wajah Fajri yang terlihat menggemaskan, dia nampak tersenyum karena mengingat kebersamaannya bersama dengan Fajri seharian ini.
Fajri begitu anteng kala dia bekerja, setelah puas memandang wajah Fajri, pandangannya beralih pada Melani.
"Mbak, saya pulang dulu." Andrew terlihat terburu-buru pergi dari kamar Melani.
__ADS_1
Melani segera menyusul dan memegang tangan Andrew, Andrew nampak kaget saat tangannya disentuh oleh Melani.
"A-ada apa, Mbak?" tanya Andrew gugup.
Melihat kegugupan di wajah Andrew, Melani nampak tersenyum. Mungkin karena dia masih terlalu muda, pikirnya.
Jadi, baru disentuh saja sudah terlihat sangat gugup. Berbeda dengan pria yang sudah matang, bahkan akan meminta lebih bila sudah disentuh.
"Tidak ada, aku hanya mau mengucapkan terima kasih karena kamu sudah jagain anak aku seharian ini," kata Melani tulus.
Andrew nampak tersenyum kikuk sambil memandangi tangannya yang dipegang oleh Melani.
"Sama-sama, Mbak. Em, itu, anu. Bolehkah saya pulang sekarang?" tanya Andrew.
Mendengar pertanyaan dari Andrew, Melani nampak mengerutkan dahinya. Kalau memang mau pulang kenapa harus minta izin terlebih dahulu, tinggal pulang saja, pikirnya.
"Tentu, pulanglah," kata Melani.
Mendengar kata Melani, Andrew makin terlihat salah tingkah dibuatnya. Lalu, dia pun kembali berkata.
"Ta-tapi, saya tidak bisa pulang kalau Mbak megangin tangan saya terus," kata Andrew.
"Astaga! Maaf," ucap Melani seraya melepaskan tangan Andrew.
Andrew terlihat berjalan keluar dari rumah Melani dengan terhesa, hal itu membuat Merrisa tersenyum. Lalu, dia pun segera menghampiri Bundanya.
"Kamu kenapa senyum-senyum kaya gitu?" tanya Melani.
Merissa sebenarnya sangat ingin menertawakan tinggkah Andrew, tapi dia merasa tak enak hati karena ada Bundanya di sana.
"Aku tidak apa-apa, Buna. Justru aku mau bertanya, ada apa dengan om Andrew? Kenapa dia memegangi dada sebelah kirinya?" tanya Merissa.
Mendengar pertanyaan dari Merissa, Melani hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Karena dia pun tidak tahu kenapa Andrew bersikap seperti itu.
"Sudahlah, dari pada memikirkan Om Andrew, lebih baik kita makan malam. Ayo, kita lihat ada apa saja di kulkas. Biar Buna bisa cepat masak, karena Buna sudah sangat lapar." Melani terlihat mengelus perutnya.
Tentu saja Merissa setuju dengan usul bundanya, karena dia pun sama seperti Melani, sangat lapar.
Apa lagi seharian ini tak ada Nyonya Mesti di dalam rumah Melani, tentu saja tak ada yang membuatkan makanan untuk dirinya.
"Ya, Buna. Mer juga sudah sangat lapar," sahut Merissa.
Merissa dan juga Melani langsung melangkahkan kaki mereka menuju dapur, mereka pun mulai mencari bahan makanan yang bisa di masak.
__ADS_1
Mereka bekerja sama untuk membuat hidangan yang bisa cepat matang, karena. mereka benar-benar sudah sangat lapar.
Melani pun memutuskan untuk memasak udang asam manis dan juga tumis bayam, agar lebih cepat matang dan bisa dengan cepat makan.
Di klinik.
Seorang wanita cantik terus saja merajuk dan hal itu membuat dokter Irawan kesal. Pasalnya sudah satu bulan ini wanita cantik itu selalu saja datang dan membuatnya pusing.
"Wan, please... bantu aku, aku tidak mau menikah dengan pria pilihan papa." Wanita cantik itu nampak menggoyang-goyangkan tangan dokter Irawan.
"Ck! Sudah berkali-kali aku katakan, aku tidak mau menikah dengan kamu. Jadi, please... Jangan ganggu aku lagi!" kata Dokter Irawan tegas.
"Wan! Aku ngga bakalan pergi kalau kamu tidak mengatakan kata 'iya'," kata wanita cantik itu.
"Clarista Handerson, sudah aku katakan berkali-kali. Aku tidak mungkin menikah dengan sepupuku sendiri," kata Dokter Irawan.
"Tapi, Wan. Menikah denganmu akan terasa lebih baik, setidaknya aku hidup dengan orang yang aku kenal. Kalau kamu mau nikah sama aku, aku janji ngga bakal ikut campur urusan kamu di luar. Yang penting di depan aku kamu berperilaku sebagai suami yang baik," rengek Clarista.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Clarista, membuat dokter Irawan merasa geram. Dia memang sering bergonta-ganti wanita, dia bahkan sering tidur dengan wanita yang dia cinta.
Akan tetapi menurutnya pernikahan adalah hal yang sakral, tidak bisa dimainkan begitu saja.
"Ya Tuhan! Pernikahan itu bukan mainan, mana ada pernikahan yang seperti itu?!" kesal Dokter Irawan.
"Lagi pula kita saudara, jangan minta yang aneh-aneh!" Kembali Dokter Irawan bersuara.
"Hanya saudara tiri, kamu ingat? Ayahku adalah adik tiri ibumu," kata Clarista.
"Wanita sinting! Aku ngga bakalan nikahin kamu, jadi... please tinggalkan Indonesia sekatang juga, kembalilah ke asalmu," kata Dokter Irawan.
"Kamu tega, Wan! Pokoknya aku ngga bakalan nyerah buat dapetin kamu, karena a--"
"Maaf, Dok. Ada pasien," kata Suster yang tiba-tiba saja datang.
Dokter Irawan terlihat tersenyum senang, karena merasa terselamatkan. Berbeda dengan Clarista yang terlihat sangat kesal, dia langsung pergi seraya menghentak-hentakkan kakinya.
"Selamat," kata Dokter Irawan lirih.
"Kenapa, Dok?" tanya Suster.
"Tidak apa-apa, persilakan pasiennya untuk masuk," kata Dokter Irawan.
"Oke, Dok!" jawab Suster.
__ADS_1