
Dina terlihat sangat bahagia karena bisa mengandung lagi, begitupun dengan VB. Namun, ada satu hal yang mengganjal di dalam hatinya.
Selama dua bulan ini Dina selalu mendapatkan tamu bulannanya, namun tidak lancar seperti biasanya.
Hanya berupa flek coklat, itu pun tidak lama. Hanya tiga hari dan selalu membuat pinggang Dina terasa panas, juga bagian perut bawah Dina terasa sakit.
Maka dari itu Dina tidak menyangka jika di dalam rahimnya kini ada janin yang sedang berkembang, bahkan sudah berusia dua belas minggu.
Karena penasaran, akhirnya Dina paun bertanya kepada dokter yang kini sedang tersenyum karena melihat kebahagiaan di wajah VB.
"Ehm, Dok. Aku mau tanya," kata Dina pada akhirnya.
Dokter wanita itu tersenyum hangat, lalu dia menganggukkan kepalanya.
"Silakan!" kata Dokter wanita itu seraya membuka lebar kedua telapak tangannya.
"Ehm, itu Dok. Selama dua bulan ini saya selalu datang bulan, hanya saja tidak banyak. Apa itu berbahaya untuk janin yang saya kandung?" tanya Dina.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Dina, VB pun membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Selama dua bulan ini memang Dina selalu datang bulan, hanya saja tidak lama.
"Anda tenang saja, Nyonya. Menurut hasil pemeriksaan, baby yang anda kandung sangat sehat. Masalah menstruasi itu tidak akan terjadi jika Nyonya sedang hamil, hal itu bisa saja terjadi karena anda melakukan aktivitas berlebih. Atau bisa juga karena suami anda terlalu bersemangat dalam--"
Belum juga dokter wanita tersebut menyelesaikan ucapannya, namun pipi VB sudah berubah menjadi merah.
Antara malu dan juga merasa bersalah bercampur aduk menjadi satu, dia merasa tidak enak hati karena sudah membuat istrinya megalami hal yang tidak seharusnya.
"Ehm, Dok. Jadi, selama istri saya mengandung saya tidak boleh itu?" tanya VB malu-malu.
Dina yang berada di samping VB nampak malu akan pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya itu.
Berbeda dengan dokter perempuan yang ada di hadapan mereka, dia terlihat tersenyum hangat lalu dia pun berkata.
"Anda tetap boleh melakukan hubungan suami istri seperti biasanya, hanya saja jangan terlalu sering. Melakukannya juga harus dengan lembut," kata Dokter.
VB langsung menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal, untuk urusan yang satu itu memang VB jarang bisa mengontrol hasratnya.
Awalnya saja dia akan bermain lembut, kalau Dina tidak mengingatkan, pasti dia akan melakukannya dengan sesuka hatinya.
"Lalu, apakah istri saya boleh pulang sekarang ke Ibu kota?" tanya VB.
Dia tidak enak hati terhadap para sahabatnya, karena harus mengundur jadwal kepulangan mereka menuju ibu kota.
__ADS_1
Mereka sudah berlibur selama satu minggu, tentunya banyak pekerjaan yang mereka tinggalkan.
Walaupun pada dasarnya memang ada orang kepercayaan mereka yang mengelola perusahaan milik mereka tersebut, namun tetap saja VB merasa tak enak hati.
"Boleh, Tuan. Tapi istirahat sejenak, biar obat yang istri anda minum bekerja terlebih dahulu," jelas Dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih," kata Dina.
*/*
Setelah menunda perjalanan pulang selama tiga jam, akhirnya kini mereka memutuskan untuk segera berangkat.
Selama perjalanan pulang, VB terus saja memeluk istrinya. Dia elus puncak kepalanya dengan penuh kasih, sesekali dia kecup keningnya.
Beruntung Axelle seakan paham jika bundanya sedang kurang enak badan, bahkan dia seolah paham jika bundanya sedang mengandung lagi.
Dia bahkan berkata kepada babysitternya, jika dia ingin memiliki adik perempuan yang cantik dan mirip dengan Aurora.
Sontak hal itu membuat Aurora kesal, namun dia tidak bisa berkata yang aneh-aneh. Karena dia berpikir jika Axelle masih kecil, jadi wajar rasanya jika dia berkata seperti itu.
Pukul dua siang, mereka sudah tiba di rumah masing-masing. Mereka langsung beristirahat, karena tubuh mereka yang terasa lelah.
*/*
Aurora dan Aurelia kini sudah bersiap untuk pergi menuju universitas ternama di ibu kota, sebenarnya mereka ingin sekali melanjutkan kuliah di luar negeri.
Karena selain fasilitasnya yang sangat bagus, mereka juga ingin merasakan bertahan hidup tanpa adanya orang tua.
Walaupun pada dasarnya Gia pasti akan memenuhi semua kebutuhan kedua putri kembarnya tersebut.
Sayangnya Gia tidak mengizinkan, karena kedua putri kembarnya itu adalah perempuan. Gia merasa tidak sanggup berjauhan dengan kedua putrinya itu.
Tentu alasan utamanya adalah Gia tidak mau terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap kedua putrinya tersebut.
Walaupun dia sangat tahu jika kedua putrinya itu sangat pandai dalam menjaga diri, bahkan mereka berdua sudah menguasai jurus-jurus bela diri taekwondo.
Namun, tetap saja dia merasa takut jika akan ada lelaki yang memanfaatkan kecantikan dan kepolosan kedua putrinya. Apalagi kedua putrinya itu baru berusia enam belas tahun.
Di usianya yang masih sangat belia, kedua putrinya sudah masuk Universitas ternama di pusat kota.
Tentu saja Itu semua karena kepintaran yang mereka miliki, sehingga pada usianya yang masih dini mereka sudah merasakan yang namnya kuliah.
__ADS_1
"Yakin Kalian ngga bakal nyesel karena udah masuk fakultas manajemen bisnis?" tanya Gia kepada kedua putri kembarnya.
"Tidak, karena Rere menyukai bisnis," jawab Aurelia.
"Rere juga, yakin. Tapi, Ayah harus izinkan Rere untuk belajar seni lukis setelah pulang kuliah," pinta Aurora.
"Ya, boleh. Pulang kuliah nanti, kamu minta Bunda buat anter kamu ke sanggar seni lukis milik anak teman Ayah. Di sana juga banyak yang belajar melukis, tentunya banyak yang berhasil," kata Gia.
Mendengar permintaan Aurora yang dikabulkan, Aurelia nampak menghampiri Gia, memeluk ayahnya dari samping seraya menyandarkan kepalanya di pundak ayahnya tersebut.
Gia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, karena tetap saja dari dulu jika putrinya menginginkan sesuatu, pasti hal itulah yang akan dilakukan.
"Mau apa?" tanya Gia.
Aurelia nampak mendongakkan kepalanya, kemudian dia menatap wajah ayahnya dengan lekat.
"Boleh ngga kalau pulang kuliah nanti aku ke kantor Ayah?" tanya Aurelia.
Mendengar permintaan dari putri keduanya, Gia nampak mengernyitkan dahinya. Dia merasa aneh, karena tidak biasanya putrinya meminta untuk datang ke kantor miliknya.
"Mau apa memangnya?" tanya Gia.
"Mau belajar terjun langsung ke dunia bisnis sama Ayah dan om Ajun," ucap Aurelia.
Senyum di bibir Gia langsung mengembang, karena ternyata putri keduanya benar-benar berniat untuk belajar bisnis.
Berbeda dengan putri pertamanya yang masih terlihat gamang, karena Aurora lebih condong pada seni lukis daripada mendalami bisnis.
"Baiklah, lakukan apa yang kalian inginkan. Yang terpenting jangan nakal," kata Gia.
"Terima kasih, Ayah." Kedua putri cantik Gia langsung memeluk dan mengecup pipi Gia.
*
*
BERSAMBUNG....
Selamat malam kesayangan, terima kasih untuk kalian yang selalu setia membaca dan memberikan jejak di karya Othor yang satu ini.
Kisah untuk Gia dengan juga Elsa sudah berakhir ya guys, kita masuk ke season dua, ya....
__ADS_1
Kita akan menceritakan tentang kisah dari Aurora dan juga Aurelia, putri kembar dari Ayah Gia dan juga Bunda Elsa.