Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Belum Boleh


__ADS_3

Hari-hari yang Gia lalui terasa begitu menyenangkan, walaupun dia belum bisa memasuki istrinya. Namun, setidaknya dia bisa lebih menghabiskan banyak waktu bersama dengan Elsa.


Setiap hari wajahnya selalu terlihat ceria, dia tak lagi merasa iri pada Ajun bila Gadis datang untuk mengajak Ajun makan siang.


Karena Gia pun selalu bisa pulang di saat makan siang, bahkan dia pun selalu mencuri waktu hanya untuk sekedar bermesraan bersama dengan istrinya.


Kedatang Bi Narti di rumah utama tersebut, ternyata benar-benar membantu. Ternyata Bi Narti orangnya sangat cekatan, dia bukan hanya mengurus Baby Adelia, tapi juga membantu mengurus Aurora dan juga Aurelia.


Sebenarnya Elsa melarang Bi Narti untuk membantu mengurus Aurora dan juga Aurelia, karena menurutnya tugas Bi Narti hanyalah mengurus Baby Adelia.


Namun ternyata, Baby Adelia terlihat begitu anteng dalam kesehariannya. Bahkan anak itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur, sehingga Bi Narti merasa jenuh karena tidak mempunyai kegiatan.


Akhirnya Elsa pun mengijinkan Bi Narti untuk mengurus Aurora dan juga Aurelia, yang terpenting menurutnya Bi Narti tidak mengabaikan Baby Adelia.


"Yang, hari ini Mas ngga kerja ya?" kata Gia.


"Memangnya kenapa?" tanya Elsa.


"Kita ke dokter kandungan saja," kata Gia.


Mendapat usulan dari suaminya, membuat Elsa heran. Untuk apa pikirnya ke Rumah Sakit, apa lagi ke dokter kandungan, karena dia sedang tidak hamil.


"Mas, untuk apa ke Rumah Sakit?" tanya Elsa dengan raut wajah penuh dengan tanda tanya.


Mendengar pertanyaan dari istrinya, Gia langsung menghampiri istrinya dan memeluknya dengan erat. Lalu, dia pun langsung berbisik tepat di telinga Elsa.


"Hari ini tepat usia baby Adelia empat puluh hari, jadi... ehm-ehm," Gia terdengar berdehem, lalu dia kembali bersuara. "Sudah sepantasnya jika kita berkunjung ke dokter kandungan, tentu untuk menanyakan alat kontrasepsi yang bagus untuk kamu," kata Gia.


Mendengar ucapan Gia, suaminya. Elsa pun langsung menepuk jidatnya, ternyata suaminya itu benar-benar menghitung masa nifasnya.


"Jadi, Mas maunya apa?" tanya Elsa.


" Aku mau ngajakin kamu ke Rumah Sakit buat nganter kamu pasang alat kontrasepsi," jawab Gia.


"Ya Tuhan, Mas! Baru juga genap empat puluh hari, memangnya kamu udah mau langsung minta?" tanya Elsa tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Mungkin buat kamu empat puluh hari hanya sebentar, Yang. Tapi bagi aku itu sangat lama banget, punya aku udah kelojotan, Yang." Gia melihat ke arah miliknya yang sudah lama tidur karena tak bisa masuk ke dalam liang kelembutan milik istrinya.


Elsa hanya bisa menggelengkan kepalanya, namun dia juga tak bisa menolak keinginan suaminya tersebut. Lalu, Elsa pun nampak melerai pelukan Gia dan dia pun menatap wajah Gia dengan lekat.


"Bukannya Mas pengen aku nambah momongan lagi ya? Kenapa harus pakai alat kontrasepsi?" tanya Elsa.


"Jangan, Yang. Jangan nambah momongan dulu, nanti aja. Aku kasihan sama kamu kalau langsung punya Baby lagi, kamu kan baru ngelahirin masa langsung hamil lagi," ucap Gia beralasan.


Mendengar ucapan suaminya, Elsa hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Elsa sangat tahu jika itu bukan alasan utamanya, yang pasti yang Elsa tahu, Gia takut jika dia tak bisa mendapatkan jatahnya.


"Ya udah, kita ke dokter. Mas maunya aku pakai alat kontrasepsi apa?" tanya Elsa.


"Pakai kontrasepsi apa saja, yang penting bikin nyaman," kata Gia.


"Baiklah, aku bersiap dulu. Aku juga mau siapin susu buat Baby Adelia," kata Elsa.


"Ya, Sayang," jawab Gia.


Gia tersenyum senang, karena akhirnya keinginannya pun dituruti oleh Elsa. Setelah semuanya siap, akhirnya dia dan juga Elsa pergi menuju Rumah Sakit. Sedangkan Baby Adelia diasuh oleh Bi Narti.


"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Pranadtja. Ada yang bisa saya bantu," ucap Dokter Gaby.


"Begini, Dok. Istri saya mau pasang alat kontrasepsi, kira-kira bagusnya pake alat kontrasepsi apa, ya?" tanya Gia antusias.


"Alat kontrasepsi itu banyak, Tuan. Tinggal Tuan dan Nyonya saja yang menentukan pilihan," jawab Dokter Gaby.


'Lalu, alat kontrasepsi apa saja yang biasa digunakan?" tanya Gia.


Dokter Gaby sempat menggelengkan kepalanya, karena sedari tadi Elsa hanya diam saja. Sedangkan Gia terus saja bertanya dengan sangat antusias.


Akhirnya dokter Gaby pun dengan gamblang menjelaskan semua hal tentang alat kontrasepsi, dari mulai pil sampai pemasangan alat kontrasepsi di dalam rahim.


Akhirnya Elsa pun memilih untuk melakukan suntik KB selama 3 bulan, karena dia merasa takut jika harus menanamkan alat kontrasepsi di bagian tubuhnya.


Gia pun setuju, karena menurutnya jika Elsa merasa nyaman dia pun akan merasa tenang. Elsa sempat meringis kesakitan saat jarum suntik menyentuh bagian kulitnya.

__ADS_1


Gia hanya bisa mengatupkan mulutnya menahan tawa saat melihat ekspresi wajah istrinya, dia takut jika Elsa akan tersinggung kalau dia tertawa.


"Jadi, setelah melakukan suntik KB, kami sudah boleh melakukan hubungan suami istri kan, Dok?" tanya Gia.


Dokter Gaby langsung tersenyum menanggapi pertanyaan dari Gia, dia ingin sekali tertawa karena sedari tadi dia begitu antusias bertanya kepadanya.


"Maaf ya, Tuan. Nyonya Elsa kan baru saja empat puluh hari melahirkan, setidaknya anda harus menunggu sampai satu minggu agar bisa melakukan hubungan intim kembali," jawab Dokter Gaby.


"Jadi, nanti malam kita belum boleh itu?" tanya Gia.


"Belum, Tuan. Takutnya nanti KB'nya malah percuma," jawab Dokter Gaby.


"Astaga!" keluh Gia seraya menepuk jidatnya.


Elsa dan dokter Gaby langsung tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan dari Gia, mereka sudah tak tahan lagi dengan tingkah Gia.


*/*


Sepulang dari Rumah Sakit, Gia terlihat cemberut. Karena dia merasa kecewa dengan apa yang dia dengar, Elsa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang kekanak-kanakan, menurutnya.


"Udah dong, Mas. Jangan cemberut aja, kan cuma nunggu satu minggu," ucap Elsa ketika sudah memasuki kamar utama.


"Tapi Masnya udah ngga tahan, Yang. Empat puluh hari loh, Yang!" protes Gia.


"Sabar ya, Sayang." Elsa memeluk Gia dari belakang, lalu menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.


Untuk sesaat Gia memejamkan matanya, menikmati benda bulat nan besar itu menyentuh punggungnya dengan tekanan yang cukup kuat.


Karena sudah tak tahan, Gia pun langsung membalikkan tubuhnya. Dia menatap Elsa dengan tatapan memuja.


"Sekarang aja, ya, Sayang. Aku udah ngga tahan, dia udah bangun." Gia langsung menjatuhkan pandangannya pada miliknya yang kini membuat sesak celananya.


"Ya ampun, Mas. Katanya akunya ngga boleh hamil dulu," ucap Elsa.


"Aku keluarin di luar," kata Gia.

__ADS_1


__ADS_2