
Sudah beberapa kali Gadis mencoba memejamkan matanya, sayangnya rasa kantuk tak kunjung datang.
Malahan matanya terasa bening, tak ada rasa kantuk. Justru perut pun malah terasa lapar, Gadis menggeliat sambil memperhatikan wajah Ajun yang terlihat lelap dalam tidurnya.
"Hubby, aku laper." Gadis mencoba untuk menggoyangkan tangan Ajun, sayangnya Ajun seakan tidak terganggu, dia tetap setia dalam posisi tidurnya.
Gadis terlihat berdecak sebal, kemudian dia pun bangun dan duduk tepat menghadap suaminya.
"Hubby, bangun. Aku laper," kata Gadis.
Gadis terlihat mengelus-ngelus lembut perutnya, dia benar-benar merasa sangat lapar. Namun sayangnya, Ajun seakan tak terganggu dengan ucapan Gadis.
"Hubby nyebelin, aku laper." Mata Gadis terlihat berkaca-kaca.
Dia benar-benar merasa sangat sedih karena Ajun tak merespon sama sekali, Ajun begitu lelap dalam tidurnya.
Walaupun beberapa kali Gadis mencoba membangunkannya pun, Ajun tetap saja diam dalam posisi tidurnya.
Karena Gadis sudah merasa tak tahan dengan rasa lapar yang mendera, Gadis pun langsung naik ke atas tubuh Ajun.
Dia menggoyang-goyangkan pinggulnya, berharap dengan bertingkah seperti itu Ajun akan segera bangun.
Sesuai dugaannya tak lama kemudian Ajun nampak mendesis. Gadis pun langsung tersenyum, dia menggoyangkan pinggulnya sedikit lebih cepat.
"Ssshh!"
Tak lama kemudian, Gadis merasa jika milik Ajun kini sudah bangun. Namun, sang pemilik masih terlihat tidur.
Bedanya, dia kini terlihat gelisah. Dia terlihat menggeliatkan tubuhnya, tak lama kemudian mata Ajun pun nampak terbuka.
Alangkah kagetnya Ajun, saat melihat istrinya sedang berada di atas tubuhnya. Apa lagi, dia melihat Gadis yang sedang tersenyum nakal ke arahnya.
Bahkan yang membuat Ajun lebih kaget lagi, ketika dia melihat istrinya sedang menggoyangkan pinggulnya dengan gerakkan sensual.
"Yang!"
Ajun memanggil istrinya dengan suara serak menahan hasrat, dia merasa tak tahan ingin langsung memasuki tubuh istrinya.
Setelah melihat suaminya terbangun, Gadis pun langsung turun dari tubuh suaminya. melihat tingkah Gadis, Arjun pun menjadi heran dibuatnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu turun, Yang? Bukankah kamu menginginkannya?" tanya Ajun.
Gadis langsung tertawa saat mendapatkan pertanyaan dari suaminya tersebut, dengan cepat dia mengambil jaketnya dan memakainya.
Setelah itu, dia pun segera mengambil dompet dan juga kunci mobilnya. Lalu, dia mendekati suaminya dan menyerahkan kunci mobilnya kepada Ajun.
"Loh, kok kamu malah ngasih aku kunci mobil? Maksudnya apa?" tanya Ajun tak mengerti.
"Aku lapar Hubby, kita keluar yuk, cari makan," ajak Gadis.
Mendengar ucapan Gadis Ajun langsung mendongakkan kepalanya dia menatap jam digital yang berada di atas nakas.
Waktu menunjukkan pukul 1 malam, mata Ajun langsung membulat dengan sempurna. Dia pun jadi teringat akan kelakuan duia yang sering terlihat aneh saat istrinya mengandung.
"Ya Tuhan, jangan bilang istriku sedang ngidam. Apa lagi kalau dia mintanya ngidam yang aneh-aneh, rasanya aku tidak akan sanggup," ucap Ajun lirih.
"Ayolah, Hubby. Jangan diam saja," ucap Gadis.
Ajun terlihat mendesaah mendengar ajakan istrinya, matanya Ajun masih terasa sepet. Kepalanya pun terasa sakit, apa lagi seharian tadi Ajun sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Badannya pun bahan terasa sangat sakit, rasanya Ajun ingin tidur saja dan tak melakukan apa pun lagi.
"Baiklah, Sayang. Tunggu sebentar, aku akan mencuci muka terlebih dahulu," kata Ajun.
Ajun melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kamar mandi, sungguh kalau boleh memilih dia tak ingin pergi kemana pun.
Namun, demi menuruti keinginan sang istri Ajun pun rela melakukannya. Apa lagi jika mengingat calon buah hati yang sedang dikandung oleh istrinya tersebut.
Lima menit kemudian, Ajun sudah keluar dari dalam kamar mandi. Dia terlihat sudah lebih segar, Ajun pun segera memakai jaketnya dan mengajak istrinya untuk segera pergi.
Wajah Gadis nampak berbinar melihat suaminya menuruti apa pun keinginannya, sebenarnya Gadis pun tak tahu ingin memakan apa.
Namun, yang terpenting Gadis bisa keluar rumah untuk berjalan-jalan di malam hari dan mencari makanan siap saji yang bisa dia makan malam ini.
"Mau makan apa?" tanya Ajun.
"Apa saja, Hubby. Apa pun yang kamu belikan, aku akan memakannya," ucap Gadis seraya tersenyum dengan sangat manis sekali.
Ajun yang sedang kesal pun menjadi luluh hatinya, dia sangat suka saat melihat senyum manis di bibir istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kita mencari Resto yang masih buka," kata Ajun.
Ajun pun langsung melajukan mobilnya membelah jalan yang terlihat sangat sepi sekali, sesekali ada motor dan mobil yang lewat.
Namun, dia tak menemukan Resto yang masih buka. Semuanya terlihat tutup, Ajun jadi bingung dibuatnya.
Sudah setengah jam dia mengukur jalan, namun Ajun belum menemukan juga Resto yang masih buka.
"Yang, pulang saja ya? Aku masakin masakin masakan yang enak," kata Ajun.
Sebenarnya Ajun bukan tak ingin menuruti apa keinginan istrinya, masalahnya ini sudah tengah malam. Tak ada satu pun Resto yang buka membuat Ajun putus asa.
"Kita mencoba keliling ke arah perumahan yang ada di sana dulu, Hubby." Tunjuk Gadis pada suatu perumahan sederhana yang ada di samping kanan.
"Oh, good." Ajun terlihat menepuk keningnya.
Gadis terlihat terkekeh melihat kelakuan suaminya, namun dia senang karena Ajun terlihat pasrah untuk menuruti semua keinginannya.
"Heh!"
Ajun terlihat kembali menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Walaupun kesal, dia tidak mungkin mengungkapkan kekesalannya terhadap istrinya tersebut.
Setelah berkeliling selama lima belas menit, akhirnya dia pun menemukan pedagang keliling.
Seorang pria kurus dan tua terlihat mendorong gerobak, dari gerobak tersebut terlihat kepulan asap tipis yang mengepul. Ternyata dia adalah seorang pedagang sate madura.
"Itu pedagang sate padang, Hubby. Aku suka," kata Gadis.
Ajun pun segera menepikan mobilnya, lalu dia pun keluar dari dalam mobilnya dan memberhentikan tukang sate madura tersebut.
Saat Gadis turun dan melihat pedagang sate tersebut, dia merasa Iba. Dia pun meminta pedagang sate tersebut untuk membuatkan 10 porsi sate madura.
Awalnya, Ajun terlihat kaget saat istrinya memesan begitu banyak sate madura tersebut. Namun setelah mengetahui alasannya, Ajun pun langsung mengangguk setuju.
"Kasihan dia, Hubby. Pasti dia masih berkeliling sampai semalam ini karena dagangannya belum habis," kata Gadis.
Ajun langsung tersenyum senang, lalu dia pun memeluk Gadis dan mengecup keningnya dengan sangat lembut.
Pedagang sate madura tersebut sempat melirik ke arah Gadis dan juga Ajun, lalu kemudian dia berdehem dan mengipasi sate yang sedang dia bakar.
__ADS_1
Ajun dan Gadis sempat saling pandang, lalu kemudian mereka pun tersenyum malu.