
Clarista melakukan penerbangan menuju pulau dewata Bali bersama dengan Steven, awalnya dia ingin pergi sendiri. Namun, Steven yang tahu jika emosi Clarista yang sedang tidak stabil memaksa untuk ikut.
Dia tidak mau terjadi sesuatu dengan wanita yang dia cintai itu, walau memang Clarista tak pernah memandangnya sama sekali.
Baginya itu sudah tidak penting lagi, dia hanya ingin berusaha melindungi keselamatan dari diri Clarista.
Steven sangat tahu jika Clarista sudah marah dan kecewa, emosinya akan meningkat dan dia akan mengamuk juga berusaha untuk menyakiti dirinya.
Dia pernah mengajak Clarista untuk berobat ke dokter psikologis, namun dia menolak. Padahal, menurutnya Clarista membutuhkan terapi agar bisa sembuh.
Steven pun merasa jika Clarista itu sakit, bukan cinta yang terlalu dalam yang dia rasakan terhadap dokter Irawan.
"Berjalanlah dengan perlahan," ucap Seteven yang melihat Clarista berjalan dengan tergesa saat keluar dari Bandara.
Steven sedang mengambil kunci dari seorang pria yang mau menyewakan mobilnya untuk Steven pakai selama berada di Bali.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Irawan, aku ingin--"
Steven menyesuaikan langkahnya dengan Clarista, lalu dia pun memotong ucapan dari wanita keras kepala itu.
"Cla, aku sudah sering bilang. Itu bukan cinta, jika kamu mencintai dokter Irawan, kamu akan merelakan dia untuk berbahagia dengan wanita pilihannya," kata Steven.
Untuk sesaat Clarista menghentikan langkahnya, kemudian dia menatap Steven dengan tatapan tajamnya.
"Stev, aku sudah bilang untuk tidak pernah ikut campur urusanku!" ketus Clarista.
Setelah mengatakan hal itu, Clarista nampak melanjutkan langkahnya dengan tergesa. Steven pun kembali mengejar Clarista.
"Bagaimana aku tidak ikut campur, kalau kamu selalu datang padaku untuk meminta bantuan," keluh Steven.
Clarista tidak mendengarkan, dia langsung mengambil kunci mobil dari tangan Steven dan segera masuk kedalam mobil yang sudah mereka sewa dan duduk di samping kemudi.
Melihat Steven yang hanya diam saja, Clarista pun menurunkan kaca mobilnya. Lalu, dia pun menatap tajam ke arah Steven dan berkata.
"Ayolah, Stev. Aku sudah tidak sabar ingin segera pergi ke hotel itu, aku ingin segera bertemu dengan Irawan. Bisakah kita pergi sekarang?" ucap Clarista.
Steven mengalah, dia masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
__ADS_1
"Seperti keinginanmu, aku akan mengantarkanmu dan mengawasimu. Aku tidak akan membiarkan kamu mengganggu hubungan Irawan lagi, sudah cukup!" ucap Steven.
Mendengar nasehat dari Steven, Clarista hanya memutar bola matanya. Dia merasa jengah dengan nasehat yang selalu diucapkan oleh Steven.
Steven terlihat melajukan mobilnya menuju hotel di mana dokter Irawan berada, selama perjalanan menuju hotel mereka hanya saling diam.
Tiba di hotel, Steven langsung memarkirkan mobilnya. Lalu dia dan Clarista pun langsung turun dan segera pergi menemui resepsionis.
"Permisi, Mbak. Saya salah satu keluarga Handerson, saya terlambat hadir. Di kemar mana ya, mereka menginap?" tanya Clarista.
Untuk sesaat resepsionis tersebut nampak memperhatikan penampilan Clarista dan juga Steven, setelah memastikan tidak ada yang mencurigakan, wanita itu pun memberitahukannya.
"Terima kasih," jawab Clarista.
Setelah mengetahui di lantai berapa dokter Irawan berada, Clarista nampak berjalan dengan terburu-buru.
Dia sudah tak sabar ingin segera menemui lelaki yang sudah membuat dia kecewa, dia ingin segera melayangkan protesnya.
Tiba di depan kamar dokter Irawan, dia langsung mengetuk pintu kamar hotel itu dengan tak sabar.
Steven menarik lembut tangan Clarista, lalu Steven mengusap lembut jari tangan Clarista yang terlihat memerah.
"Sepertinya kamar ini kosong, mungkin mereka sedang jalan-jalan. Apa kamu juga ingin jalan-jalan terlebih dahulu?" tanya Steven.
Untuk sesaat Clarista terdiam, dia hanya bisa memandang wajah Steven dalam diam.
"Sepertinya kita harus jalan-jalan ke pantai, agar kamu bisa lebih berpikir jernih lagi. Karena sepertinya, setelah menghirup udara pantai akan membuat kita lebih tenang," ucap Steven.
Awalnya Clarista tidak mau, namun setelah Steven memberikan pengertian, Clarista pun menurut.
"Baiklah, kita ke pantai untuk mencari udara segar," ucap Clarista.
Steven tersenyum, lalu dia pun menuntun Clarista menuju pantai yang tak jauh dari hotel tersebut.
Steven mengajak Clarista untuk duduk di bawah pohon kelapa sambil menikmati pemandangan yang terlihat begitu indah.
Hari padahal masih pagi, waktu baru menunjukkan pukul delapan. Namun, banyak pengunjung yang sedang bermain air, ada anak-anak juga yang sedang asik bermain pasir.
__ADS_1
"Lihatlah, mereka terlihat begitu bahagia. Nikmatilah harimu dan berbahagialah," ucap Steven.
Clarista hanya melirik ke arah Steven sebentar, kemudian dia kembali memusatkan penglihatannya pada para pengunjung yang sedang bermain air.
Senyum nampak mengembang di bibirnya, namun... saat dia melihat dokter Irawan yang sedang menggendong Anita sambil bermain air di bibir pantai, membuat senyum di bibir Anita langsung menghilang.
Wajahnya terlihat muram, di matanya terlihat kilatan amarah. Dadanya terlihat naik turun dan tangannya terlihat mengepal dengan sempurna.
Cemburu!
Itulah yang dia rasakan saat ini, apa lagi saat melihat dokter Irawan menurunkan Anita dari gendongannya dan mencium bibir istrinya dengan mesra.
Otaknya seakan mendidih, dia yang merasa marah pun langsung bangun dan hendak menghampiri pasangan pengantin baru tersebut.
Namun, Steven dengan cepat mengejar Clarista dan memeluknya dengan erat. Clarista memberontak, dia bahkan memukul dada bidang Steven dengan kencang.
"Stop, Cla! Jangan biarkan amarah menguasai hatimu, kamu cantik, kamu menarik. Kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih segalanya dari Irawan, masih ada lelaki yang mencintai kamu dengan tulus," kata Steven.
"Ngga ada Stev, ngga ada yang mencintai aku. Semua orang membenciku, bahkan Mommy pun tak menyayangiku," ucap Clarista seraya menangis.
"Mommy sangat menyayangi kamu, kamunya saja yang tak pernah mau mendekatkan diri sama Mommy kamu. Kamu terlalu sibuk mencari cara untuk membuat Irawan jatuh cinta, bahkan kamu sampai tak sempat untuk melihat cinta yang besar di hatiku untuk kamu," ucap Steven.
Clarista terdiam, dia sedang mencerna apa yang telah diucapkan oleh Steven.
"Maksud kamu?" tanya Clarista.
"Aku mencintai kamu sejak lama, tapi kamu tak pernah memandang aku," ucap Steven.
"Stev, aku--"
Mendengar penuturan dari Steven, membuat Clarista jadi bingung dan salah tingkah. Dia tidak tahu harus berkata apa, dia hanya diam sambil menatap dalam mata Steven.
Clarista baru menyadari, jika dia bisa melihat cinta yang begitu besar untuknya. Hanya saja, dia terlalu memikirkan dokter Irawan.
"Aku mencintaimu, Clarista. Bisakah kamu melupakan Irawan? Bisakah kamu melihat cinta di mataku? Bisakah kamu menerima cintaku dan bisakah kita memulai hubungan?" tanya Steven.
Clarista mencoba melepaskan diri dari pelukan Steven, dia membelakangi Steven dan memegangi dadanya.
__ADS_1