Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Obat Anti Nyeri


__ADS_3

Menjelang sore, VB memutuskan untuk mengajak istrinya pulang ke kediaman Fahreza. VB bahkan sudah menelpon Dad dan Mom'nya, sepanjang perjalanan pulang VB tak hentinya menggenggam tangan Dina.


Sesekali dia melabuhkan ciuman di punggung tangan istrinya, bahagia... itulah yang dia rasa saat ini. Apa lagi bisa merasakan nikmatnya memadu kasih, membuat VB tak ingin jauh-jauh dari Dina.


Akan tetapi, dia sangat sadar. Dia harus mulai memperbaiki dirinya, agar tidak melakukan kesalahan lagi. VB juga merasa perlu belajar agar lebih dewasa, jangan terlalu mengedepankan egonya.


Selama ini hidupnya dia habiskan untuk bersenang-senang, jarang sekali dia membagi waktu untuk sekedar berkumpul dan bersantai dengan kedua orang tuanya.


Mulai hari ini, VB sudah berjanji akan banyak menghabiskan waktu untuk istri dan kedua orang tuanya. VB ingin berusaha untuk membahagiakan istri dan juga kedua orang tuanya.


Berbeda dengan VB yang terlihat begitu ceria, Dina malah terlihat menahan sakit di area intinya. Karena sebelum mereka memutuskan untuk pulang, VB kembali meminta haknya.


Membuat badan Dina terasa remuk dan tentunya **** *'nya terasa sakit, Dina pun merasa membutuhkan obat yang sudah dia lemparkan ke kolong ranjang.


"Ayang," panggil VB.


Dina menoleh lalu memandang wajah tampan suaminya, "apa?"


Dina kembali memalingkan wajahnya, dia masih kesal karena setiap VB memintanya tak cukup sekali. Miliknya masih saja berdiri kalau belum mendapatkan dua kali pelepasan.


"Maaf, Yang. Jangan marah lagi, kamu kan tahu sendiri kalau itu bukan mau ku. Tapinya mau anuku," ucap VB seraya mengatupkan mulutnya.


Dia juga sebenarnya merasa sangat kasihan pada istrinya, tapi miliknya seakan tak mau di ajak kompromi. Masih saja berdiri tegak kalau belum diberi jatah dua kali.


"Hem," hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Dina.


Tiga jam sudah perjalanan yang mereka lalui, mobil yang mereka kendarai kini sudah terparkir di garasi rumah utama Fahreza.


Senyum sumringah langsung terbit saat VB keluar dari mobil mewah kesayangannya, menuntun istrinya dengan penuh sayang dan masuk ke dalam ruangan keluarga.


Saat VB dan Dina masuk, Nyonya Miranda langsung menarik lembut tangan Dina dan mengajaknya untuk duduk.


Senyum di bibir wanita paruh baya yang terlihat masih cantik itu terukir, kala melihat beberapa tanda merah di leher Dina.


Dina memang tak menyadarinya, makanya tak menutupi area lehernya dengan apa pun.


"Minum ini, Sayang." Nyonya Miranda langsung memberikan segelas cairan berwarna kuning ke arah Dina.


Dina sempat mengernyit, tanpa penolakan dia mengambilnya. Meminumnya dengan perlahan, dengan raut muka yang aneh.

__ADS_1


Karena saat cairan berwarna kuning itu melintas di tenggorokannya, terasa aneh. Pahit, asem, ketir dan... terasa sangat aneh.


Persis seperti permen nano-nano, semua rasa bercampur menjadi satu. Sayangnya, Dina tak bisa menolak caiaran yang dia dapat daei mertuanya itu.


"Enak?" tanya Nyonya Miranda.


Dina menggeleng lemah, "ngga enak."


Nyonya Miranda langsung terkekeh, VB langsung menghampirinya dan merangkul pundak Dina dengan mesra. Lalu, dia pun langsung berbisik tepat di telinganya.


"Cuma punyaku yang enak, mau lagi?" tanya VB.


Dina langsung melotot, seakan bola matanya mau keluar dari pelupuknya. VB langsung bergidig dibuatnya, sedangkan Nyonya Miranda langsung tertawa melihat tingkah anak dan menantunya.


"Kalian pasti cape, sekarang tidurlah." Ucap Nyonya Miranda yang terkesan sebuah perintah.


VB mengedarkan pandangannya, dia tak melihat Tuan Alson di sana.


"Mom, Dad mana?" tanya VB.


"Dad, sedang keluar kota denga Gia. Mereka sedang ada project baru yang harus secepatnya diselesaikan." Jelas Nyonya Miranda.


VB tersenyum, lalu menghampiri Mom'nya dan memeluknya dengan erat.


"Vabriella!" sentak Nyonya Miranda. "Mom sudah tua, lagian rumah tangga itu tak melulu masalah ranjang. Banyak hal yang harus kalian pelajari lagi, tentang apa utu rumah tangga." Kata Nyonya Miranda.


"Iya, Mom jangan marah." Kata VB.


"Hem, sudah sana. Bikin cucu yang banyak buat, Mom." Nyonya Miranda berucap setengah memerintah.


VB merangkul pundak Nyonya Miranda," Mom, pernikahan tak melulu tentang membuat anak. Banyak hal lain yang harus aku lakuin bersama istriku," VB langsung berlari setelah mengucapakan kalimat tersebut.


Nyonya Miranda nampak mencebik kesal, Dina yang melihat kekesalan di mata Nyinya Miranda. Langsung menghampirinya dan memeluknya.


"Mas VB memang suka nakal, dia suka bikin sebel. Aslinya dia baik, Maafin ya, Mom?"


Dina mengelus lembut punggung Nyonya Miranda, kemudia melerai pelukannya.


"Dina tidur duluan, terima kasih untuk minumannya." Kata Dina, "memangnya itu obat apa?" tanya Dina penasaran.

__ADS_1


"Obat kuat, Sayang. Jadi kalau VB gempur kamu terus, badan kamu ngga akan merasa pegal. Mom, bikin dengan resep dari Nenek moyang. Dijamin manjur," dua jempol Nyonya Miranda angkat tepat di depan wajah Dina.


Dina langsung memeluk jidatnya, "Astaga, emang sama anak sama saja." Celetuk Dina dalam hati.


Tentu saja dia tak berani mengucapkannya secara langsung, bisa di pecat jadi mantu atuh.


Setelah berpamitan kepada mertuanya, Dina pun langsung masuk kedalam kamar VB. Kamar yang kini telah menjadi kamar mereka, saat Dina masuk ke dalam kamar VB, Dina sempat berdecak kagum.


Karena ternyata, kamar VB terlihat begitu rapi dan semua barang-barangnya juga tertata dengan sangat apik.


Dina bahkan sempat menyangka salah masuk kamar, kalau saja dia tak melihat Foto pernikahannya dengan VB yang tergantung di dinding kamar.


Dina bahkan sempat bertanya dalam hati, kapan VB memasang foto mereka?


Ah... saat ini rasanya itu tak penting, yang terpenting sekarang dia ingin tidur. Karena dari kemarin dia begitu sulit untuk beristirahat walaupun hanya sebentar.


Karena suami brondongnya akan terus mengganggunya dengan bibir atau pun dengan tangan nakalnya itu.


Ceklek!


Nampak lah VB yang baru keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk kecil yang dililitkan di pinggangnya.


Dina sempat terpaku, saat melihat otot-otot perutnya yang terlihat begitu seksi dan terlihat begitu liat.


"Pantes sulit buat dicubit, bentukannya aja kaya gitu." Gumam Dina dalam hati.


"Kalau mau bilang aja, Yang. Ngga usah diliatin aja, aku ini sudah jadi milik kamu seutuhnya."


VB langsung memeluk Dina dan menciumi leher jenjang istrinya, tangannya langsung mencari benda favoritnya dan langsung memainkan ujung dada istrinya.


"Mas, mau lagi. Boleh?"


VB terlihat begitu sulit untuk mengendalikan hasratnya, padahal dia sudah berjanji jika dia akan berusaha untuk mengendalikan dirinya.


"Hah?" kaget Dina seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh VB.


+


+

__ADS_1


+


Selamat malam, semoga kalian tak ada bosannya baca karya Othor ini. Sehat selalu dan semoga kalian selalu bahagia.


__ADS_2