
Setelah memastikan Dina merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang pasien, Gia pun langsung memutuskan untuk keluar dari ruang bersalin tersebut.
Seorang dokter perempuan yang bernama Mira dengan sigap langsung memeriksakan kondisi Dina, setelah diperiksa ternyata pembukaannya sudah sempurna.
Dina sudah siap untuk melahirkan, dokter Mira pun langsung keluar dari ruangan bersalin dan menemui Gia.
"Ya Tuhan, Istri anda hendak melahirkan. Kenapa anda malah asik-asik kan di luar?" ucap tanya Dokter Mira seraya menarik tangan Gia.
"Tapi, Dok. Saya--"
"sudah jangan berisik! Ayo, kasihan istrinya sudah siap untuk melahirkan." Dokter Mira tak mendengarkan apa pun penjelasan dari Gia.
Dia langsung menarik Gia untuk masuk ke dalam ruangan bersalin, saat Gia masuk. Terlihat Dina sudah mulai mengatur napasnya.
Tiba-tiba saja Dina merasakan kontraksi, perutnya terasa sangat sakit luar biasa. Dina pun refleks menarik tangan Gia dan mencengkeramnya dengan erat.
"Ya Tuhan," pekik Gia.
"Sabar ya, Bu. Sebentar lagi dede bayinya akan keluar, ayo ambil napasnya. Tahan lalu mengejan yang kuat," ucap instruksi Dokter Mira.
Dina pun menurut, dia mulai menarik napas panjang. Lalu dia mulai mengejan, saat dia mengejan cengkraman tangannya pun semakin kuat.
Tangan Dina seakan tak ingin lepas dari tangan Gia, dia terus saja mencengkram tangan Gia dengan erat. Bahkan kuku Dina pun sampai menancap di tangan Gia.
Gia hanya bisa terdiam sambil merasakan sakit yang luar biasa di area tangannya, bahkan saking kuatnya cengkraman tangan Dina, sampai-sampai kuku Dina pun menancap di kulit tangan Gia.
Semakin lama Dina mengejan, cengkraman tangannya pun semakin kuat. Karena sudah merasa tak tahan lagi, akhirnya Gia pun berteriak.
"Aaaaaa!" teriak Gia.
Berbarengan dengan Gia yang berteriak, Dina pun berhasil melahirkan seorang putera yang sangat tampan. Putra Dina pun, langsung menangis dengan sangat kencang.
"Owaa... Owaa...."
Gia dan Dina pun langsung menangis, Dina menangis karena terharu bisa melahirkan seorang putra dengan selamat, sedangkan Gia menangis karena tangannya kini terluka dan berdarah.
"Selamat ya, Pak. Istri anda melahirkan bayi berjenis kelamin pria dengan selamat, dia terlihat sangat tampan dan wajahnya mirip--"
Dokter Mira tak melanjutkan ucapannya, dia melihat Dina dan Gia secara bergantian. Namun wajah Baby yang dia pegang tak mirip dengan Gia ataupun Dina.
"Ah, sudahlah!"
__ADS_1
Dokter Mira terlihat membawa putra Dina untuk dibersihkan, dua orang suster langsung menghampiri Dina dan membantu membersihkan tubuh Dina.
Setelah membersihkan tubuh Dina, mereka pun membantu Dina untuk mengganti pakaiannya. Saat suster hendak mengganti pakaian Dina, Gia pun langsung berlari keluar dari ruangan tersebut.
Tidak mungkin bukan, Gia melihat Dina berganti pakaian. Padahal Dina bukalah istrinya, saat melihat Dina melahirkan saja detak jantung Gia seakan berhenti berdetak.
Karena baru kali ini Gia merasakan menemani istri orang lain melahirkan, kalau saja bukan karena VB yang pingsan, dia benar-benar tak mau menemani Dina melahirkan.
Tak lama kemudian, Nyonya Miranda langsung masuk ke dalam ruangan bersalin. Dia sudah tak sabar ingin melihat kondisi Dina.
Saat melihat menantunya baik-baik saja, Nyonya Miranda pun langsung memeluk dan mengecupi setiap inci wajah Dina.
"Terima kasih, Tuhan. Karena menantuku sudah melahirkan dengan selamat," ucapnya Miranda.
"Yes, Mom. Aku bersyukur karena bisa melahirkan secara normal," kata Dina.
"Mana cucu kesayangan Mom?" tanya Nyonya Miranda.
"Tunggu sebentar, Mom. Sedang dibersihkan," ucap Dina.
Tak lama kemudian dokter Mira pun datang membawa putra Dina, dia sudah sangat tampan dan juga sudah dibersihkan oleh dokter Mira.
Dokter Mira langsung menengkurapkan bayi tersebut di atas dada Dina.
"Iya, Dok," jawab Dina.
Dina langsung tersenyum kala melihat buah hatinya menggeliat dan mencari sumber makanannya, tak lama kemudian putra Dina terlihat lebih tenang setelah menemukan sumber makanannya.
Dina sempat meringis kala putranya menyesap ujung dadanya, Nyonya Miranda tersenyum melihat hal itu. Karena, itu adalah hal yang wajar yang dialami oleh setiap ibu.
Setelah sekitar 10 menit memperhatikan Dina menyusui putranya, Nyonya Miranda pun seakan tersadar jika di sana tak ada putranya.
Dia pun langsung menanyakan keberadaan putranya VB.
"Ya ampun, Sayang. Mom lihat tadi Gia yang keluar dari ruangan bersalin, ke mana VB?" tanya Nyonya Miranda.
Dina langsung terkekeh tatkala mengingat VB yang langsung pingsan saat melihat banyaknya darah yang keluar dari area intinya.
"Mom tahu, Mas VB malah pingsan saat melihat aku mengeluarkan darah yang banyak." Dina langsung tertawa saat mengatakan hal itu.
"Ya ampun, Sayang!" pekik Nyonya Miranda.
__ADS_1
Nyonya Miranda benar-benar habis pikir dengan kelakuan putranya, dia langsung mencebikkan bibirnya antara kesal, malu dan juga marah.
Itulah yang Nyonya Miranda rasakan, dia tahu jika putranya memanglah phobia akan darah. Karena saat VB kecil, dia pernah bermain pisau dan tangannya tersayat oleh pisau.
Lalu, bekas sayatannya mengeluarkan darah yang sangat banyak, VB juga sempat melihat dirinya pendarahan saat hamil anak keduanya.
Nyonya Miranda mengalami keguguran, karena terjatuh dari tangga. Sejak saat itu, VB semakin trauma kala melihat darah banyak.
"Maafkan VB ya, Sayang?" pinta Nyonya Miranda.
"Tak perlu minta apa, lagi pula aku sudah melahirkan putraku dengan selamat," kata Dina.
"Terima kasih ya, Sayang. Karena kamu telah memberikan cucu yang sangat tampan untuk Mom dan Dad," ucap Nyonya Miranda tulus.
"Yes ,Mom," jawab Dina.
Setelah obrolan penuh haru antara mertua dan menantu itu selesai, akhirnya Dina pun dipindahkan ke ruang perawatan.
Tentunya Nyonya Miranda dengan setia mengikuti menantunya tersebut, dia bahkan membantu Dina untuk merebahkan tubuhnya.
Tak berapa lama pintu ruangan Dina nampak terbuka, Dina dan Nyonya Miranda langsung melihat ke arah pintu tersebut.
Ternyata yang datang adalah VB, wajahnya terlihat sangat kusut. Raut penyesalan terlihat dengan jelas di wajah VB, padahal setiap malam BmVB selalu berkata kepada Dina, kalau dia ingin menemani istrinya tersebut untuk melahirkan.
Namun ternyata, rasa takut terhadap darah yang banyak, belum juga sembuh. VB benar-benar merasa bersalah kepada istrinya tersebut, dia benar-benar merasa jadi suami yang tidak berguna saat ini.
"Sayang! Maaf, aku ternyata belum sanggup untuk lihat darah banyak." VB terlihat mengecup punggung tangan istrinya beberapa kali.
Sungguh dia benar-benar menyesal karena tidak bisa menemani istrinya saat melahirkan, justru yang menemani Dina melahirkan adalah Gia.
Suami dari sahabat Dina sendiri, dia benar-benar merasa menjadi suami yang tidak berbunga saat ini.
"Sudahlah, Sayang. Nggak usah dipikirkan, yang penting aku sudah melahirkan dengan selamat. Kamu tahu, Yang? Putra kita sangat tampan," kata Dina.
"Benarkah, Sayang? Bolehkah aku melihatnya?" tanya VB.
"Tentu, Sayang. Lihatlah!" kata Dina menunjuk seraya menunjuk putra mereka yang sedang terlelap di atas box bayi.
VB langsung terrsenyum, dia bangun dan menghampiri putranya yang sedang tidur terlelap.
"Ah, Sayang. Ternyata usaha tak pernah menghianati hasil, dia tahu siapa yang selalu bekerja keras setiap malamnya." satu cubitan langsung VB dapatkan dari Nyonya Miranda.
__ADS_1
VB dan Dina langsung terkekeh melihat kekesalan di mata Nyonya Miranda.