Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Lebih Segar


__ADS_3

"Mas, aku mau sekarang," pinta Elsa.


Gia terkekeh mendengar permintaan dari istrinya, Gia menurut. Dia langsung mengarahkan miliknya dan memasuki istrinya dengan gerakan perlahan.


Elsa mengangkat pinggulnya agar bisa lebih merasakan milik suaminya yang kini telah masuk dengan sempurna.


"Jangan gerak-gerak! Inget, ada baby yang sedang tumbuh di sini," ucap Gia seraya mengusap perut Elsa.


"Maaf, abisnya enak." Elsa terlihat malu-malu.


Gia terkekeh, lalu dia pun mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan. Karena dia takut menyakiti Elsa dan babynya.


Baik Elsa ataupun Gia, mereka terlihat begitu menikmati kegiatan panas yang sedang mereka lakukan.


Dua bulan tak melakukan pergumulan panasnya, membuat mereka terlihat begitu menikmati moment tersebut.


"Miring, Yang." Gia langsung mnecabut miliknya.


Elsa pun menurut, dia memiringkan tubuhnya. Lalu, Gia pun dengan gerakkan perlahan menghentak istrinya dari belakang.


Elsa dan Gia langsung memejamkan matanya, mereka benar-benar merasa buncahan kenikmatan datang menggulung secara cepat menghantam tubuh mereka.


Surga yang katanya abadi dan hanya akan mereka temui setelah meninggal nanti, terasa begitu nyata nikmat dan indahnya.


"Enak, Yang." Gia terus saja menghentak istrinya dari belakang seraya menggigit lembut pundak istrinya.


Hingga tak lama kemudian, Gia terlihat memperdalam miliknya dan menyeburkan cairan vanilla miliknya ke dalam rahim istrinya.


"Terima kasih, Sayang." Kecupan hangat dia labuhkan di bibir istrinya.


"Sama-sama," jawab Elsa.


*/*


Pagi telah menjelang, Elsa mengerjapkan matanya. Dia duduk dan mulai meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


Seulas senyum terbit di bibirnya kala mengingat pergumulan panas antara dirinya dan suaminya, Gia.


Matanya mengedarkan pandangan, mencari sosok lelaki yang sudah memberinya suguhan kenikmatan malam tadi. Sayangnya, netranya tak menangkap sosok suaminya tersebut.


"Kemana dia?" tanya Elsa lirih.

__ADS_1


Tak lama kemudian, telinganya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Elsa melihat jam yang ada di atas nakas, waktu menunjukkan pukul enam pagi.


Pantas saja pikirnya, jika sang suami sedang melakukan ritual mandinya. Untuk mempersingkat waktu, Elsa bangun dan memakai kimono mandinya.


Dia mengusap wajahnya, mengikat rambutnya dan segera keluar. Dia berniat untuk mandi di kamar tamu saja, takutnya kelamaan kalau harus menunggu Gia.


Tak lama setelah Elsa keluar dari dalam kamar, Gia keluar dari dalam kamar mandi. Dia memcari sosok wanita yang selama ini sudah memberinya kebahagiaan.


"Yang, kamu di mana?" tanya Gia setengah berteriak.


Gia yang hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya tak berani untuk mencari istrinya di luar kamar, dia segera masuk ke dalam walk in closet untuk segera memakai baju dan keluar dengan tergesa.


"Bu, Elsa mana?" tanya Gia ketika melihat Bu Anira yang baru saja keluar dari kamar twins A.


"Ibu ngga lihat, mungkin dia ingin menghirup udara segar di taman," kata Bu Anira.


"Tidak mungkin, dia tidak memakai baju," jawab Gia cepat.


Mendengar ucapan menantunya, dahi bu Anira terlihat mengernyit. Apa yang dimaksud oleh menantunya tersebut, membuat dia tidak merasa paham.


"Maksudnya?" tanya Bu Anira.


Mendengar pertanyaan dari mertuanya, membuat dia malu sendiri. Dia tidak mungkin bercerita jika mereka tadi malam telah bercinta, dia pun segera meralat ucapannya.


Baru saja ia hendak berpamitan kepada mertuanya, tiba-tiba saja dia melihat pintu kamar tamu terbuka.


Dia melihat Elsa keluar dari kamar tersebut dengan wajah yang lebih segar, Elsa juga terlihat hanya menggunakan kimono mandi saja dengan handuk kecil yang menutupi kepalanya.


"Yang." Segera Gia menghampiri Elsa.


"Kenapa?" tanya Elsa bingung.


"Mas khawatir sama kamu, habisan dari tadi mas cariin kamunya ngga ada," jawab Gia.


"Aku mandi, nunggu kamu takut kelamaan," jawab Elsa.


Gia terlihat memperhatikan wajah Elsa yang terlihat berseri, bahkan cara berjalannya pun sudah seperti biasanya.


Padahal dalam sehari-harinya, Elsa harus dibantu para pelayan jika dia ingin bangun atau pergi ke suatu tempat yang dia inginkan.


Tak jauh dari Elsa dan juga Gia, bu Anira terlihat memperhatikan kondisi kesehatan putrinya. Dia merasa jika keadaan Elsa sudah lebih baik, dia pun tersenyum senang.

__ADS_1


"Kamu sudah sehat, Yang?" Gia terlihat mengelilingi tubuh istrinya.


"Hem, badanku terasa lebih segar. Enak banget kayaknya, aku juga ngga nyangka bisa merasakan kondisi normal kembali," kata Elsa dengan senyum manisnya.


Mendengar penuturan dari istrinya, Gia tersenyum. Lalu, dia memiringkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Elsa.


"Sepertinya goyangan Ayah Gia mampu membuat Bunda berenergi kembali, kalau begitu... nanti malam Ayah mau longokin lagi ah." Gia menegakkan tubuhnya lalu memandang Elsa dengan tatapan nakalnya.


"Apa sih? Aku mau pake baju dulu, Mas ke ruang makan saja. Pasti ketiga putri kita sudah menunggu," kata Elsa tersipu.


Dalam hati Elsa seakan membenarkan ucapan Gia, karena setelah bercinta dengan suaminya, badannya terasa lebih segar.


Tak ada puyeng, tak ada rasa lemas. Hanya ada rasa enteng di badan dan terasa lebih berenergi.


"Siap, Nyonya." Gia mencium bibir Elsa lalu pergi ke ruang makan dengan wajah yang berbinar.


Elsa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya, berbeda dengan Bu Anira. Dia merasa sangat bahagia, saat melihat binar bahagia di mata putrinya.


Padahal, bu Anira dulu pernah menyangka jika Elsa akan membesarkan kedua putrinya sendirian, tanpa adanya sosok laki-laki yang mau bertanggung jawab terhadap dirinya.


Namun ternyata, Tuhan maha baik dan maha penyayang. Karena sosok lelaki yang telah menghamili Esa dengan cara paksa, mau bertanggung jawab.


Bahkan, lelaki yang dulu dia sebut sebagai lelaki bejat dan sangat jahat, sekarang menjadi sosok suami yang sangat diidam-idamkan oleh para kaum hawa.


Selepas kepergian Gia, Elsa pun langsung masuk kedalam kamarnya. Lalu, dia pun segera memakai baju dan mematut dirinya di depan cermin.


Tak lupa rambutnya pun dia keringkan memakai hair dryer agar lebih cepat, karena dia sudah rindu dengan ketiga putrinya.


Apa lagi dengan putri ketiganya Adelia, dia begitu merindukan balita yang menggemaskan tersebut. Dia juga rindu ingin menggendong Adelia dan mengajak jalan-jalan ketiga putrinya.


Setelah merasa selesai dengan kegiatannya, Elsa keluar dari kamarnya dan langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


Saat melihat Elsa, Aurora, Aurelia dan juga Adelia langsung memeluk bundanya. Mereka benar-benar merasa senang karena bisa melihat wajah bundanya yang kembali ceria.


"Bunda!" teriak Aurora dan Aurelia bersamaan.


"Una," kata Adelia tak mau kalah.


"Bunda rindu kalian," ucap Elsa seraya mengecupi wajah Aurora dan Aurelia secara bergantian.


Elsa sudah seperti seorang ibu yang sudah lama meninggalkan ketiga putrinya.

__ADS_1


Lalu, Elsa menunduk dan mengangkat tubuh balita menggemaskan yang sedang memeluk kakinya. Dia mengangkat Adelia dan langsung mengecupi setiap inci wajahnya.


Balita cantik nan menggemaskan itu nampak terkikik geli, mendapatkan perlakuan manis dari bundanya.


__ADS_2