Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Menyebalkan


__ADS_3

Pukul setengah tujuh pagi Melani nampak mengantarkan putrinya menuju sekolahnya, mereka berjalan beriringan seperti biasanya dengan Fajri di dalam gendongannya.


Merissa nampak tersenyum dengan riang, karena walaupun tanpa Aldino, sang ayah. Tapi dia tak pernah merasakan kurang kasih sayang.


Karena Melani selalu memberikan kasih sayang yang melimpah padanya, begitu pun dengan Nyonya Mesti.


Walaupun Aldino dan Melani sudah bercerai, tapi perlakuan Nyonya Mesti terhadap Melani dan kedua buah hatinya tak pernah berubah.


Nyonya Mesti benar-benar membuktikan ucapannya, keputusan Aldino tentang bagaimana dengan rumah tangganya tak akan merubah rasa sayang Nyonya Mesti pada Mepani dan kedua buah hatinya.


Melani terlihat menundukkan wajahnya ketika melewati depan rumah Andrew, dia seolah masih merasa malu karena sudah berciuman dengannya malam tadi.


Andrew yang sedang mencuci mobilnya hanya tersenyum sambil memperhatikan langkah Melani yang terkesan menghindari dirinya.


"Kenapa dia selalu terlihat cantik dan menggoda?" tanya Andrew pada hatinya.


Andrew pun langsung mengusap dadanya yang terasa berdebar setiap kali melihat Melani.


"Ehm, kamu sudah mandi loh. Itu dadanya kenapa diusapin pake sabun cuci mobil segala?" tanya Mama Andrew.


Andrew terlihat menatap bajunya yang sudah basah dan penuh dengan busa, dia sampai tak sadar dengan apa ya g dia lakukan karena terlalu fokus saat melihat Melani.


"Em itu, Ma. Anu, apa ya." Andrew terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan dari Mamanya.


Mama Andrew sangat paham dengan apa yang ada di pikiran Andrew, bahkan Mama Andrew masih sangat ingat ketika Andrew berusia empat belas tahun.


Anak itu meminta dirinya untuk pergi mengantarkan dirinya ke kampus Melani, dia menanyakan tentang keberadaan Melani kala itu.


"Maaf, Mas. Mau tanya, kalau Melani Anastasya itu kelasnya di mana, ya?" tanya Andrew.


Padahal kala itu Andrew masih sangat kecil, tapi dia sudah terlihat begitu menginginkan Melani.


"Oh, dia sudah lulus. Hari ini bahkan dia akan melangsungkan janji suci ddengan Aldino, teman satu universitasnya."


Mendengarkan penuturan dari pria yang dia tanya, Andrew langsung terlihat lemas. Bahkan tubuhnya terlihat limbung dan hampir saja terjatuh kalau saja Mama Andrew tak menangkap tubuh anak lelakinya tersebut.

__ADS_1


"Ma, Andrew pengen lihat Mbak Melani walaupun untuk yang terakhir kalinya," kata Andrew kala itu.


Walaupun sebenarnya Mama Andrew terlihat tak setuju, namun tetap dia menuruti keinginan putranya tersebut.


Dia meminta alamat Melani kepada lelaki yang sudah memberikan informasi tentang Melani, setelah mendapatkan alamatnya, Mama Andrew bersama putranya langsung pergi menuju alamat yang sudah diberikan oleh lelaki tersebut.


Benar saja, saat mereka tiba di rumah Melani. Melani terlihat sedang mengucapkan janji suci bersama Aldino, Andrew kala itu sampai menangis.


"Kamu tega, Mbak. Aturan jangan bilang iya," ucap Andrew dengan raut wajah kecewa.


Bukan karena terharu, namun karena dia merasa kecewa karena wanita yang berjanji akan menikahinya itu telah berdusta pada Andrew.


Semenjak saat itu Andrew berusaha untuk melupakan Melani, bahkan saat dia kuliah dia pun mencoba untuk berpacaran dengan beberapa wanita.


Namun bayangan wanita yang berjanji akan menikahinya itu selalu saja terlintas di benaknya.


Awalnya Andrew merasa jika dia benar-benar tak ditakdirkan untuk bisa bersama dengan Melani.


Namun, setelah pertemuan tak sengajanya dengan Melani di depan hotel berbintang saat menghadiri sebuah pesta, membuat dia jadi berpikir.


Tak apa pikirnya mendapatkan seorang janda, yang penting cinta. Kesempatan seolah berpihak kepadanya, karena ternyata Melani benar-benar membutuhkan orang untuk membantu dirinya agar bisa bercerai dengan Aldino.


Andrew pun dengan senang hati membantu Melani, tentu saja ada keinginan yang terbersit di hati Andrew.


Dia berharap jika dia bisa menyembuhkan luka Melani yang terlihat begitu menganga lebar akibat ulah Aldino, tentunya dengan cara memberikan cinta kepada Melani dan menikahinya.


"Buruan cuci mobilnya, habis itu kita sarapan," kata Mama Andrew.


Andrew menurut, dia pun segera menyelesaikan pekerjaannya. Waktu seakan berpihak kepadanya, saat Andrew telah selesai mencuci mobilnya, Melani nampak kembali melewati rumah Andrew sambil menggendong Fajri.


Tentu saja Andrew tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dia langsung menghampiri Melani dan menegurnya.


"Hai cantik, hai tampan," sapa Andrew.


Andrew terlihat tersenyum dengan sangat manis, saat menyapa Melani dan juga Fajri.

__ADS_1


"Hai, Ayah." Fajri terlihat merentangkan kedua tangannya, dengan senang hati Andrew langsung menggendong Fajri.


"Ayah mau sarapan, kamu mau ikut?" tanya Andrew.


"Mau," kata Fajri.


Mendengar ucapan Fajri, Melani sebenarnya sangat kesal. Namun dia pun merasa kasihan kepada Fajri, mungkin dia melakukan hal itu karena tidak mendapatkan kasih sayang dari Aldino, pikirnya.


"Tidak usah, kamu sarapan di rumah saja sama Buna," ucap Melani menyelak.


Melani mencoba merayu putranya, karena dia tidak ingin merepotkan Andrew dan juga Mamanya.


"No, Dede mau salapan sama Ayah," kata Fajri.


Melani terlihat memberenggut kesal, karena Fajri lebih memihak kepada Andrew. Padahal dialah ibunya, namun Fajri malah terlihat lebih sayang kepada Andrew.


"Mbak kenapa kelihatan kesel begitu? Apa Mbak mau ikut sarapan juga? Kalau memang mau, nggak usah malu-malu, Mbak. Ayo kita ke rumah saja," ajak Andrew.


Melanie terlihat lebih kesal lagi setelah mendengar ucapan dari Andrew, kalau boleh memilih, dia tidak ingin bertemu dengan Andrew.


Apa lagi sampai terlibat percakapan seperti ini, rasanya dia masih merasa malu jika teringat kejadian tadi malam.


Karena walaupun Melani tak membalas tautan bibir Andrew, namun dia pun menikmatinya. Bahkan dia bisa merasakan jika bibir Andrew sangatlah manis.


Tanpa banyak bicara, Melanie langsung meninggalkan Andrew dan masuk ke dalam rumahnya.


Andrew terlihat tertawa sambil mendekap tubuh Fajri, dia tahu kenapa Melani bersikap seperti itu.


Sepertinya karena malu akan kejadian yang sudah mereka lalui tadi malam, Andrew merasa sangat bahagia karena dia bisa mencium wanita yang sangat dia puja.


Kalau saja Melani bersedia, dia ingin segera menikahi Melani secepatnya. Karena Andrew tak ingin kehilangan sosok wanita yang sudah dia damba sejak lama.


"Ish! Kenapa dia menyebalkan sekali? Lagi pula kenapa Fajri bisa begitu lengket kepadanya? Sebenarnya dia kenapa? Padahal terhadap Mas Aldino saja Fajri terlihat cuek," Melani terus saja menggerutu.


Namun karena waktu terus saja berjalan, Melani pun memutuskan untuk segera sarapan. Kemudian setelah itu, dia akan pergi menuju Caffe.

__ADS_1


Karena memang saat ini Caffe sedang ramai sekali, dia tidak mungkin terus membebani Reni. Karena perjanjian awal mereka, mereka membangun Caffe dengan modal bersama dan juga harus bekerja sama.


__ADS_2