
Clarista terlihat menghentak-hentakkan kakinya seraya keluar dari ruang kelas Anita, bibirnya terlihat mengkerucut tajam dan kedua tangannya terlihat dia lipat di depan dada.
Amarahnya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun, kalau saja bukan di ruangan tempat Anita menimba ilmu, sudah dapat dipastikan jika Clarista akan berlaku kasar terhadap Anita.
Sayangnya dia tidak bisa melakukan hal itu, karena dia tidak ingin mempermalukan dirinya lebih dalam lagi.
Akhirnya dia pun memilih untuk pergi, setelah kepergian Clarista, Anita nampak bisa bernapas dengan lega.
Walaupun hatinya masih dongkol karena tiba-tiba Clarista berkata konyol, membuat moodnya kini benar-benar rusak.
Rektor yang sedari tadi memperhatikan masalah yang terjadi antara Anita dan Clarista pun langsung paham, jika Clarista hanya ketakutan.
Ketakutan yang tidak beralasan, karena pada dasarnya Anita tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah antara Clarista dan dokter Irawan.
Hanya saja Clarista seperti mencari orang untuk disalahkan dalam permasalahan yang dihadapi oleh Clarista.
Rektor tersebut pun nampak meminta maaf kepada Anita karena tak enak hati, dia terlalu gegabah karena menuduh Anita yang tidak-tidak.
Seharusnya dia bisa menyikapinya dengan bijak, seharusnya dia pun membuktikan terlebih dahulu ucapan Clarista itu benar atau tidak.
Jangan mudah terpengaruh kerena ucapan Clarista yang terkesan menyudutkan Anita.
"Saya minta maaf atas kesalahan yang telah saya lakukan, karena saya sudah salah sangka terhadap kamu," ucap Rektor tersebut. claris
Anota nampak tersenyum canggung, lalu dia pun menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia merasa sangat kesal terhadap orang yang mempunyai jabatan paling tinggi di Universitas tempat dia menimba ilmu itu.
Namun sebagai mahasiswi yang baik, dia pun tidak mungkin mengucapkan kata-kata kasar kepada Rektornya.
"lya, Pak. Saya mengerti," ucap Anita.
Lelaki yang mempunyai jabatan tertinggi di Universitas tersebut langsung mengundurkan diri setelah meminta maaf kepada Anita.
Anita masih terlihat sangat kesal, selama dia mengikuti mata kuliahnya, dia hanya cemberut sambil mengingat-ingat apa yang dikatakan oleh Clarista.
Dia pun jadi berpikir, bagaimana caranya supaya Clarista bisa merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.
Dua kali dipermalukan di depan orang banyak, beruntung para mahasiswa dan mahasiswi di sana tidak mudah termakan gosip. Sehingga mereka pun tetap bersikap biasa saja kepada Anita.
Pukul satu siang Anita sudah menyelesaikan kuliahnya, hatinya masih terasa kesal karena ulah Clarista tadi pagi.
__ADS_1
Dia jadi berpikir jika dia perlu untuk menenangkan diri, Anita pun memutuskan untuk pergi ke taman.
Mungkin saja dengan menghirup wangi bunga-bunga yang sedang bermekaran akan membuat hatinya lebih tenang, pikirannya.
Sampai di taman, Anita langsung merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau. Matanya terpejam, kedua telapak tangannya dia Jadikan bantal.
Walaupun matahari terlihat terik, namun dia merasa tak kepanasan. Karena angin yang berhembus kencang dan juga karena hatinya yang merasa panas.
Hampir satu jam dia berada di sana, setelah merasa lebih tenang, Anita pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dia takut jika mamanya akan menghawatirkan dirinya.
Anita terlihat memesan ojek online, lalu dia pun pulang ke rumahnya dengan menaiki ojek online tersebut.
Tiba di depan rumahnya, Anita terlihat kaget karena di sana sudah ada tiga mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.
Mobil Andrew juga ada di sana, Anita pun jadi bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa? Kenapa di rumahnya juga terasa sangat ramai?
Bahkan dia bisa mendengar jika di dalam rumahnya ada celotehan bayi dan suara anak-anak yang terdengar begitu riang.
Dengan langkah ragu, Anita pun masuk ke dalam rumahnya.
"Aku pulang!" ucap Anita.
Dia benar-benar merasa bingung karena rumahnya terlihat penuh dengan orang banyak, ada Gia, Elsa bersama ketiga putrinya.
Ada juga Gadis, Ajun bersama putra tampannya. Jangan lupa, di sana juga ada Andrew bersama Melani dan kedua buah hatinya.
Bahkan yang membuat Anita tak habis pikir, di sana juga ada dokter Irawan. Dia terlihat sedang duduk sambil tersenyum manis padanya.
"A--ada apa ini?" tanya Anita tergagap.
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang juga, kami sudah 1 jam menunggumu. Kemana saja? Padahal jam kuliah sudah lewat dari satu setengah jam yang lalu, kenapa kamu baru pulang?" tanya Andrew.
"Ya Tuhan, Kak. Bisa sedikit dikurangi pertanyaannya?" tanya Anita.
Mendengar nada protes dari Anita, dokter Irawan pun langsung bangun dan menghampiri Anita. Dia merangkul kedua bahu Anita dan menuntunnya untuk duduk.
Anita terlihat menggedikkan kedua bahunya, dia berharap rangkulan dari tangan dokter Irawan akan terlepas.
Sayangnya, dokter Irawan malah mempererat rangkulannya.
__ADS_1
"Duduklah dulu, ada yang ingin kami ucapkan. Terutama aku," ucap Dokter Irawan lembut.
Anita pun menurut, dia nampak duduk di sofa bersama dengan dokter Irawan.
"Sebelumnya aku mau minta maaf, karena datang tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Itu semua aku lakukan karena aku terlalu senang mendengar ucapan dari Clarista," kata Dokter Irawan.
Dahi Anita terlihat berkerut dalam, lalu dia pun bertanya kepada lelaki yang kini ada di sampingnya.
"Apa hubungannya kesenangan Dokter, dengan datang ke rumah ibu saya?" tanya Anita.
"Tentu saja ada hubungannya, bukankah Kamu sendiri yang bilang kepada Clarista, kalau kamu ingin menikah dengan saya?" tanya Dokter Irawan.
Untuk sesaat Anita nampak terdiam, namun beberapa detik kemudian dia pun langsung menganggukkan kepalanya kala dia mengingat percakapannya dengan Clarista pagi tadi.
"Tentu saja saya sangat bahagia saat mendengar hal tersebut, saya langsung membeli cincin untuk--"
"Untuk apa?" tanya Anita.
Melihat raut wajah Anita yang terlihat tak sabar, dokter Irawan langsung tersenyum. Kemudian, dia pun berkata.
"Sebenarnya saya ingin mengadakan acara lamaran, namun saya merasa sudah tua dan tidak pantas untuk melakukan hal seperti itu. Jadi, saya memutuskan untuk langsung meminta kamu saja ke hadapan orang tua kamu dan juga Abang kamu. Cincin ini hanya sebagai pengikat saja, yang menandakan kalau kamu sudah memilihku. Aku harap kita akan segera menikah," kata Dokter Irawan.
"Tapi aku masih kuliah, aku--"
Ucapan Anita terhenti kala dia melihat Andrew dan Mamanya yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
'Seharusnya aku tidak gegabah dengan berkata ingin menikah dengan dokter Irawan,' ucap sesal Anita dalam hati.
Dia benar-benar tidak menyangka jika ucapannya akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Jadi, ucapan kamu benar, kan? Kamu beneran ingin menikah denganku, kan?" Tanya Dokter Irawan.
Anita terlihat menggigit bibir bawahnya, dia jelas saja bingung harus menjawab apa. Dia benar-benar tak tahu harus berkata apa, semua orang yang berada di ruangan tersebut nampak terdiam.
Mereka melihat ke arah Anita dan mereka menunggu jawaban dari Anita.
"Kamu mau, kan, nikah sama aku?" tanya Dokter Irawan.
Tatapan dokter Irawan kini berubah sendu kala melihat raut wajah Anita yang terlihat tidak yakin.
__ADS_1
Bahkan semua orang yang ada di sana pun terlihat harap-harap cemas, saat melihat raut wajah Anita.