
Aurora merasa tidak habis pikir, kenapa Axelle dan juga Kenzie begitu mengagumi dirinya. Padahal, selama ini dia selalu saja bersikap jutek kepada kedua teman dari adiknya, Adelia itu.
Bahkan Aurora lebih sering menghindar jika mereka berdua datang untuk mengajak Aurora bermain bersama, tidak pas selera mainnya dengan dirinya.
"Ish! Kalian ini selalu saja mengangguku, duduk sana! Aku cape," kata Aurora.
Mendengar umpatan dari bibir Aurora, bukannya merasa takut, Axelle dan juga Kenzie malah tersenyum manis sekali kepada Aurora.
"Kalau Kakak cantik cape duduk dulu, biar aku pijitin," kata Axelle.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Axelle, Kenzie pun tak mau kalah. Dia langsung mengurai pelukannya, lalu dia berucap.
"Iya, Kakak cantik duduk aja. Aku bikinin teh hangat untuk Kakak," kata Kenzie.
Kedua anak tampan itu terlihat menuntun Aurora untuk duduk di atas sofa yang ada di ruang keluarga tersebut.
Kenzie langsung berlari ke dapur karena ingin membuatkan teh hangat untuk Aurora, sedangkan Axelle terlihat berdiri dibelakang Aurora lalu dia mulai memijat pundak Aurora dengan lembut.
"Wah! Ternyata pijatan tanganmu enak juga," kata Aurora memuji.
Mendapat pujian dari Aurora, hati Axelle langsung berbunga-bunga. Bahkan senyum di bibirnya langsung mengembang dengan sempurna.
"Tentu dong, Axelle gitu loh." Axelle menepuk bangga dadanya.
Melihat akan hal itu, Adelia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia merasa heran terhadap kedua sahabatnya tersebut, karena mereka selalu saja memuji kakaknya Aurora.
Bahkan mereka selalu bersikap sangat manis sekali terhadap kakak sulungnya itu.
Padahal banyak teman sebayanya yang cantik dan juga sering menarik perhatian dari Axelle dan juga Kenzie, herannya tidak ada yang menarik di mata mereka.
Semua anak sebayanya mereka katakan bukan selera mereka, karena wanita idaman mereka adalah wanita cantik dan berusia lebih dewasa dari mereka berdua.
"Axelle dan juga Kenzie memang mahluk aneh yang pernah aku temui," ucap Adelia lirih.
Axelle terlihat memijat pundak Aurora sampai ke tangannya dengan telaten, Yang dipijat nampak memejamkan matanya karena keenakan.
Tak lama kemudian nampaklah Kenzie yang datang dengan membawa secangkir teh hangat untuk Aurora.
"Silakan diminum Kakak cantik," ucap Kenzie.
Aurora membuka matanya, dia tersenyum dan langsung menyambut teh hangat buatan dari Kenzie, lalu dia mulai menyesap teh buatan Kenzie tersebut.
__ADS_1
Saat dia menyesap teh hangat tersebut, dia menyunggingkan senyumanny. Karena ternyata rasa dari teh hangat biatan Kenzie pas dan tidak terlalu manis.
"Wah! Ternyata kamu pandai juga ya, membuat teh yang enak," puji Aurora.
Mendengar pujian dari Aurora, Kenzie nampak tersenyum bangga. Lalu dia pun berkata.
"Tentu dong, aku sering buatin teh hangat buat Mommy soalnya," kata Kenzie.
"Terima kasih, ya? Kalian berdua memang luar biasa," kata Aurora tulus.
"Sama-sama, Kakak cantik," kata Axelle dan Kenzie bersamaan.
Selama ini Aurora merasa selalu kesal jika kedua bocah tampan tersebut mendekati dirinya, namun sejak saat ini dia mulai berpikir. Tidak ada salahnya memanfaatkan kedua anak tampan tersebut, pikirnya.
Jika mereka datang mendekat, Aurora tinggal menyibukkan mereka dengan permintaannya.
"Ehm, sedang apa kalian?" tanya Gia yang datang dan langsung duduk di samping Aurora.
Wajah Gia terlihat berseri, dia sudah terlihat memakai baju santai ala rumahan dengan rambut yang terlihat masih basah.
"Sedang menyapa Kakak cantik," jawab kedua bocah tampan tersebut.
Namun, selama dalam batas wajar. Tidak masalah, pikirnya.
"Kalau begitu kalian belajar kembali dengan Adel, karena Om mau bicara sebentar dengan putri cantiknya, Om. Boleh?" kata Gia.
Kedua bocah tampan tersebut langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Tentu saja boleh," jawab kedua bocah tampan tersebut secara bersamaan.
Kenzie dan juga Axelle langsung bergabung kembali dengan Adelia, mereka kembali mengerjakan tugas prakarya yang sedang mereka buat.
Selepas kepergian kedua bocah tampan tersebut, Gia terlihat merangkul pundak Aurora dan bertanya kepadanya.
"Bagaimana acara hari ini? Apa menyenangkan?" tanya Gia.
"Tentu saja sangat menyenangkan," jawab Aurora.
Obrolan mereka terlihat berlanjut, Aurora menceritakan tentang kejadian saat dia belajar melukis di galeri seni milik Kiandra. Gia langsung tertawa mendengar akan hal yang diceritakan oleh putrinya tersebut.
Saat mereka sedang mengobrol, Elsa dan Aurelia datang menghampiri. Mereka langsung duduk tepat di hadapan Gia dan juga Aurora.
__ADS_1
"Karena kita sudah berkumpul, Ayah ingin bicara. Minggu depan adalah ulang tahun perusahaan Pranadtja, Ayah mau kalian semua hadir. Karena Ayah ingin mengenalkan kalian semua kepada rekan bisnis Ayah," ucap Gia.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Gia, Aurora nampak melayangkan protesnya.
"Tapi, Yah. Biasanya juga tiap tahun cuma Ayah doang sama Bunda yang datang, kita nggak usah ikut ya, Yah?" kata Aurora yang memang selalu malas kalau dalam urusan perusahaan.
"Tidak bisa seperti itu, Sayang. Semuanya harus ikut, ingat! Kamu juga adalah penerus keluarga Pranadtja, kamu harus belajar bisnis bukan hanya belajar melukis," kata Gia.
"Iya, aku akan belajar bisnis. Lagi pula belajar melukis hanya dua kali dalam seminggu, nanti yang tiga harinya aku akan ikut ke kantor bersama dengan Aurelia, adik cantikku itu," kata Aurora Seraya menunjuk Aurelia dan ekor matanya.
"Lalu, bagaimana dengan kamu, Sayang?" tanya Gia kepada Aurelia.
Mendengar apa yang ditanyakan oleh Gia, Aurelia nampak tersenyum. Dia jadi memiliki ide untuk mengerjai kakaknya tersebut.
Dari dulu dia ingin sekali memakai baju yang sama dan dan berpenampilan yang sama dengan kakak kembarnya tersebut.
Namun, Aurora selalu saja menolak. Karena memang selera mereka dalam berpenampilan berbeda, Aurora lebih casual sedangkan dirinya lebih feminim.
"Aku mau hadir dalam acara ulang tahun perusahaan, tapi ada syaratnya," kata Aurelia dengan seringai tipis di bibirnya.
"Syarat apa?" tanya Gia dan juga Elsa secara bersamaan.
"Aku mau hadir, kalau Kak Aurora memakai baju yang sama dan juga memakai riasan yang sama dengan aku. Jadi, tidak ada yang bisa membedakan kami," kata Aurelia.
Aurora langsung mencebikkan bibirnya, karena dia tidak suka jika harus memakai baju yang sama dengan adiknya tersebut.
Karena dia tahu, itu artinya Aurora harus memakai baju yang feminim. Dia juga harus berdandan dengan memakai make up yang membuat wajahnya merasa tidak nyaman.
Melihat akan hal itu, Gia langsung menarik lembut putri sulungnya ke dalam pelukannya. Kemudian, sebuah kecupan hangat Gia labuhkan di kening putrinya tersebut.
"Mau ya, Sayang? Lagipula tidak setiap hari," ucap Gia memohon.
"Baiklah! Demi Ayah dan Bunda," ucap Aurora.
BERSAMBUNG
*
*
Selamat siang, semuanya. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya.
__ADS_1