
Hari ini wajah Gia terlihat berseri-seri, dia begitu senang karena akhirnya kemarin siang dia bisa berbuka puasa. Malahan, malamnya dia bisa mendapatkan jatahnya kembali.
Tentunya Gia melakukannya dengan sangat lembut, dia masih ingat jika Elsa baru pulang dari Rumah Sakit. Dia juga sangat ingat jika di dalam rahim Elsa ada janin yang sedang berkembang.
Buah hati yang menjadi bukti cinta mereka, buah hati yang begitu Gia harapkan kehadirannya. Rasanya Gia merasa sangat bahagia, karena dia tidak akan merasa kesepian lagi.
Akan banyak celotehan anak-anak di dalam rumahnya, tentu yang paling Gia inginkan adalah mengurus Babby'nya nanti dengan tangannya sendiri. Karena saat Elsa melahirkan Babby twins, dia tak sempat memberikan kasih sayangnya dan merawat kedua putrinya dengan benar.
Saat bekerja di kantor pun, Gia terus saja tersenyum. Ada bawahannya yang salah pun dia langsung dengan mudah memaafkan kesalahannya.
Padahal, Gia adalah orang yang susah untuk memberikan kata maaf apa lagi memberikan kesempatan pada orang yang sudah berbuat salah.
Para karyawan di kantor pun terlihat sangat bahagia dengan perubahan sifat bos mereka.
Jika kini Gia sedang terlihat bahagia, berbeda dengan VB yang terlihat sedang murung. Sudah satu minggu setiap dia melakukan hubungan intim dengan istrinya, Dina selalu mengeluh sakit di bagian perut bawahnya.
VB merasa khawatir, dia pun sempat mengajak istrinya untuk berobat. Akan tetapi, Dina berkata jika dia tak mau diperiksa dia takut jika harus berurusan dengan Dokter.
Karena khawatir, VB pun akhirnya meminta bantuan pada Elsa. VB tahu jika Elsa sedang mengandung, akan tetapi dia merasa perlu untuk meminta tolong pada Elsa.
Karena Dina tak punya siapa pun lagi selain sahabatnya Elsa, Elsa pun menyanggupi. Mumpung kedua putrinya sedang pergi bersama dengan Kak Mellow, karena mereka sedang ada undangan untuk menjadi tamu di salah satu stasiun tv swasta.
Sebelum pergi ke kediaman Fahreza, tak lupa Elsa meminta izin dulu kepada suaminya. Beruntung Gia bukan tipe lelaki yang mengekang pergerakan istrinya, tentunya selama Elsa bisa menjaga kandungannya dengan baik.
"Siang, Aunty." Sapa Elsa saat tiba di kediaman Fahreza.
Seperti janjinya pada VB, dia berkunjung untuk mengajak Dina berobat.
"Siang, Sayang. Twins A, mana?" tanya Nyonya Miranda.
Tentu hal yang paling ingin dia tahu adalah keberadaan kedua putri cantik Elsa yang selalu terlihat menggemaskan di matanya.
"Lagi ada acara, boleh Elsa ketemu sama Dina, Aunty?" tanya Elsa sopan.
__ADS_1
Nyonya Miranda langsung tersenyum, ternyata Elsa terlihat sangat peduli pada Dina. Padahal, dia sendiri terlihat sangat kerepotan dengan dua malaikat kecilnya.
Apa lagi saat ini Elsa sedang mengandung, bahkan dia pun baru saja pulang dari Rumah Sakit. Nyonya Miranda merasa terharu, karena Elsa di rasa sangat perduli terhadap menantunya itu.
"Boleh, Sayang. Dia ada taman belakang, lagi ngadem katanya." Kata Nyonya Miranda.
Nyonya Miranda berkata dengan sangat lembut, sambil mengusap tangan Elsa.
"Ya udah, kalau gitu Elsa langsung ke belakang ya, Aunty." Pamit Elsa.
"Silahkan, Sayang." Nyonya Miranda menyempatkan diri untuk mengusap perut Elsa.
Elsa pun tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju taman belakang, sampai di sana. Elsa melihat Dina yang sedang duduk sambil melamun di bangku taman.
Elsa langsung menghampiri Dina dan duduk tepat di samping Dina.
"Sa..." panggil Dina saat sadar jika di sampingnya sudah ada sahabat terbaiknya.
"Na, elu kenapa melamun aja?" tanya Elsa.
"Ngga tahu, gue bingung." Jawab Dina, dia kembali memfokuskan pandangannya pada bunga yang berada tak jauh dari bangku taman tersebut.
"Kata VB, perut elu sering sakit. Apa ngga sebaiknya periksa, Na?" tanya Elsa hati-hati.
"Gue takut," ucap Dina.
"Ada gue, gue bakal temenin elu. Gue bakal dampingin elu, jangan takut." Elsa langsung memeluk Dina, dengan senang hati Dina pun membalas pelukan Elsa.
"Janji ya, elu bakal nemenin gue terus?" tanya Dina.
"Pasti, gue bakalan selalu ada buat elu." Ucap Elsa.
"Kalau gitu gue mau," ucap Dina.
__ADS_1
"Gitu dong, itu baru sahabat gue." Elsa langsung bangun dan mengajak Dina untuk pergi ke Rumah Sakit.
Dina pun menurut, mereka pun langsung berangkat menuju Rumah Sakit. Tentunya sebelum pergi mereka pamitan terlebih dahulu kepada Nyonya Miranda.
Sampai di Rumah Sakit, Elsa langsung mengambil no antrean. Sambil menunggu di panggil, Dina dan Elsa menunggu di bangku tunggu.
Dina terlihat sangat tegang, sungguh dia sangat takut jika dia mendapati dirinya mempunyai penyakit yang berbahaya.
"Gue takut," kata Dina.
Elsa langsung memeluk Dina dan mengusap lembut punggungnya, dia berusaha menenangkan hati sahabatnya.
"Gue kan udah bilang sama elu, elu enggak usah takut ada gue yang bakal nemenin elu." Jawab Elsa.
Elsa dan Dina pun saling memeluk hal itu sengaja mereka lakukan agar tidak ada ketegangan di dalam hati Dina, Dina merasa sangat bersyukur karena masih punya Elsa yang selalu perhatian padanya.
Tak lama kemudian, Dina pun dipanggil oleh seorang suster cantik dengan name tage Arini.
Dina yang mendengar namanya dipanggil pun langsung masuk ke dalam ruangan Dokter tersebut, tentunya Elsa dengan setia mendampingi Dina.
"Selamat siang, Nyonya Dina. Ada yang bisa saya bantu," ucap Dokter Isma setelah Elsa dan Dina duduk tepat di depannya.
"Begini, Dok. Sudah satu minggu ini kalau saya berhubungan intim dengan suami saya, perut bagian bawah saya suka sakit, Dok. Itu kenapa ya, Dok?" tanya Dina dengan raut wajah khawatir.
"Begini, Nyonya. Ada beberapa faktor penyebab sakit perut di bagian bawah saat melakukan hubungan intim, bisa jadi peradangan dingin ****** karena gesekan yang dilakukan oleh suaminya anda terlalu cepat dan dalam, bisa karena penyakit menular dan bisa juga karena posisi saat anda bercinta yang salah." Terang Dokter Isma.
"Maksud Dokter posisi saat kita bercinta juga berpengaruh?" tanya Dina.
Dina sangat ingat kegilaan suaminya itu, di mana ada kesempatan pasti dia mengajak Dina untuk bercinta. Bahkan VB selalu ingin mencoba gaya baru dan di tempat yang Dina rasa tak lajim.
Bahkan pernah saat menghadiri acara pesta pernikahan teman bisnisnya, dia mengajak Dina untuk melakukan percintaan kilat di dalam kamar mandi hotel.
Jika mengingat akan hal itu, Dina merasa malu. Rasanya Dina ingin segera pergi saja dari sana, dia takut kekonyolan suaminya akan terungkap di depan sahabat dekatnya.
__ADS_1
"Tentu, Nyonya. Untuk memastikannya, kita harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu." Ucap Dokter Isma menerangkan.
"Mampus!" satu kata yang terlontar di hati Dina.