Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Rayuan


__ADS_3

Satu minggu sudah VB berada di kampung kelahiran istrinya, Dina. Dia begitu menikmati hari-harinya di sana, padahal di sana cuacanya sangat panas.


Namun, VB seolah tak merasakan keluhan sama sekali pada kulitnya. Padahal biasanya VB selalu mengeluh kala panas terik menyengat tubuhnya.


Takut item'lah, nanti kulitnya rusak'lah, takut pigmen rambutnya rusak'lah, selalu saja berkeluh kesah. Demi istri tercintanya, dia rela mengalah.


"Yang, besok kita pulang, ya?" rayu VB.


"Tapi, Mas. Aku masih betah tinggal di sini," ucap Dina.


"Kasihan Daddy, dia mengurus perusahaan bersama Lucas saja." VB langsung mengecupi pundak istrinya yang masih dalam keadaan polos.


Karena VB baru saja selesai membuat ranjang Dina berdecit, beruntung VB melakukannya dengan sangat lembut.


Kalau dia melakukan seperti biasnya, sudah dapat dipastikan kalau ranjang besi itu akan ambruk karena ulah VB.


VB sangat sadar jika istrinya kini sedang berbadan dua, ada janin yang harus di jaga. Maka dari itu, dia mulai belajar mengontrol keinginannya.


"Kamu benar, Mas. Daddy sudah berumur, dia butuh ketenangan di masa tua'nya. Tanpa terbebani oleh pekerjaan yang berat," ucap Dina.


"Ya udah, besok kita ambil penerbangan siang aja. Biar kamu'nya santai," ucap VB.


VB terus saja mengelus lembut perut Dina, dia begitu bahagia saat ini. Di usianya yang baru dua puluh dua tahun, Tuhan begitu baik padanya.


Tuhan mengirimkan wanita baik dan cantik, dan sekarang Tuhan juga mengirimkan janin di dalam perut istrinya. Rasanya hidupnya benar-benar terasa sempurna.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena sudah mau bersabar dalam menghadapi sikapku, terima kasih karena sudah mau menerima aku sebagai suami kamu. Terima kasih juga, karena kamu sudah mau mengandung benih aku." VB langsung menautkan bibirnya.


Dina langsung menyambutnya dengan senang hati, dia pun tak menyangka bisa berjodoh dengan lelaki brondong. Lelaki tampan, kaya dan juga begitu menyayangi dirinya.


"I love you," ucap Dina di sela tautan bibirnya.


"Me too," ucap VB.


Kembali mereka saling bertukar saliva, menikmati manisnya madu dengan tangan VB yang begitu nakal meremat dan memainkan ujung dada istrinya.


"Tidurlah," ucap VB.


"Hem," jawab Dina.


Dina langsung memeluk VB dan menelusupkan wajahnya ke dada bidang suaminya, tak lama kemudian Dina pun sudah terlelap.


VB tersenyum saat melihat wajah cantik istrinya yang terlihat damai, dia kecup bibir istrinya dan dia usap.

__ADS_1


"Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah," ucap VB.


VB mengeratkan pelukannya lalu memejamkan matanya, seebenarnya dia masih menginginkan tubuh istrinya yang dia rasa semakin menggoda saja.


Apa lagi ukuran dadanya terlihat lebih besar, bahkan tubuh Dina di bagian tertentu pun banyak yang terlihat menjadi lebih padat dan seksi.


Namun, VB juga menyayangi janin yang ada di dalam rahim istrinya. Jadi, VB benar-benar akan berusaha keras untuk menahan egonya.


Jika VB kini sudah terlelap dalam tidurnya, Ajun malah sedang asik melamun. Sesekali dia tersenyum lalu mengusap bibirnya.


"Ya Tuhan, baru mengecup keningnya saja terasa sangat manis, apa kabar dengan rasa bibirnya?" gumam Ajun.


Ajun kini sudah mulai terkena virus cinta kembali, setelah sekian purnama dia menutup hatinya untuk mahluk yang namanya wanita.


Dia selalu merasa insecure kala berhadapan dengan wanita, namun... setelah bertemu dengan Gadis, rasanya dia ingin kembali mengenal yang namanya cinta.


Ajun lalu terkekeh saat mengingat tingkah Gadis, dia merasa jika dirinya kini kembali ke masa dia berumur tujuh belas tahun.


"Gadis, namanya Gadis. Sayangnya kamu udah ngga perawan, tapi ngga masalah. Karena aku suka sama kamu, Gadis." Ajun berusaha memejamkan matanya, dia harus segera tidur.


Tentunya karena besok dia harus bekerja, dan pastinya, harinya akan lebih repot lagi dengan urusan Gia yang selalu saja mempersulit dirinya.


"Semoga saja besok si Bos ngga bikin repot, ah... hampir saja lupa." Ajun segera mengambil ponselnya, dia langsung menghubungi anak buahnya.


"Aku ingin kamu dan anak buahmu menjaga Gadia Berliana untukku," ucap Ajun.


"Gadis Berliana?" tanya dari sebrang telpon.


"Ya, akan segera aku kirim foto dan data dirinya."


Ajun langsung memutuskan sambungan telponnya, dia lalu mengirimkan data diri Gadis dan juga foto Gadis.


"Mulai sekarang kamu akan aman, Gadis. Tak akan ada lagi yang berani mengganggu kamu, apa lagi si anak ingusan itu." Ajun terlihat geram kala mengingat Danish yang menampar wajah Gadis.


"Sekali lagi dia berani menyentuh Gadis'ku, aku pastikan tanganynya akan patah!" ucap geram Ajun.


Setelah puas berkutat dengan pikirannya, Ajun langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur yang selalu menjadi saksi kesendiriannya.


Tak lama kemudian, Ajun pun langsung terbuai ke alam mimpinya.


*/*


Pukul empat pagi, Gia mengerjapkan matanya. Bibirnya langsung tersenyum kala melihat Elsa yang tengah memeluknya dengan posesif.

__ADS_1


Gia berusaha untuk melerai pelukannya, lalu dia pun mengecupi bibir istrinya. sudah beberapa hari ini Gia tak mendapatkan jatahnya dan hari ini Gia akan memintanya.


Beberapa kali Gia mencoba membangunkan istrinya dengan cara mengecupi setiap inci wajahnya, namun Elsa terlihat begitu pulas.


"Ck! Kenapa ngga bangun-bangun?" tanya Gia. "Ah, enen aja. Lumayan," ucap Gia.


Gia pun langsung membuka tiga kancing piyama milik istrinya, tentunya dengan gerakan lambat.


Setelah terlihat dada istrinya yang begitu besar dan menggoda, Gia langsung membuka pengaitnya.


Beruntung Elsa membeli bungkusan dadanya yang ada pengait depannya, jadi Gia bisa dengan mudah membukanya.


"Uuuh, tambah besar." Mata Gia langsung berbinar melihatnya.


Cepat-cepat Gia membuka mulutnya dan melahap benda kenyal tersebut bak melahap roti isi daging.


" Enak, Yang," bisik Gia.


Kembali dia bemain di sana, Elsa yang merasa terganggu pun langsung bangun. Dia sangat kaget saat melihat tingkah suaminya itu.


"Mas!" pekik Elsa.


"Maaf, Yang. Abisan Mas pengen banget, boleh ngga?" pinta Gia memelas.


Elsa terlihat menarik nafas dalam, lalu dia mengeluarkannya secara perlahan. Dia sangat tahu jika suaminya begitu menginginkan dirinya dari kemarin sore.


Namun karena dia harus membantu kedua putrinya, akhirnya kegiatan mereka jadi tertunda.


Karena merasa kasihan, akhirnya Elsa pun menganggukkan kepalanya.


"Iya, Mas. Boleh," jawab Elsa.


Wajah Gia terlihat sangat berbinar kala mendengar jawaban dari istrinya, dengan tak sabar dia pun langsung bangun dan melucuti setiap kain yang melekat di tubuhnya, bahkan Gia melempar bajunya ke sembarang arah.


Gia juga tak lupa untuk membuka kain yang melekat di tubuh Elsa, saat semuanya terlihat jelas di depan matanya, Gia berdecak senng.


Bahkan Gia langsung meraup kedua benda pavoritnya dengan serakah, dia mengulum dan menggigit ujung dada istrinya.


"Mas!" pekik Elsa.


Rasa kaget, sakit dan nikmat terasa menjadi satu.


"Jangan teriak, Yang. Ini baru mulai," goda Gia.

__ADS_1


__ADS_2