Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Panas Dingin


__ADS_3

Keadaan Ajun kini sudah berangsur baik, wajahnya sudah mulai berseri kembali. Apa lagi Ajun sudah makan sepiring nasi beserta lauk dan juga buahnya, tentu saja Gadis yang dengan setia menyuapinya.


Bujang tua itu mendadak berubah manja sekali pada calon istrinya, namun Gadis tak merasa keberatan sama sekali.


Justru dia sangat senang, karena Ajun yang terkesan dingin dan irit bicara itu kini nampak manja dan banyak bicara.


Rasanya ketampanan Ajun jadi bertambah berkali-kali lipat, apa lagi saat melihat Ajun tersenyum. Gadis bernar-benar dibuat terpesona.


"Kamu kenapa, sih, Yang?" tanya Ajun.


"Om panggil aku apa?" tanya Gadis.


"Sayang," jawab Ajun.


"Makin cinta deh sama, Om." Gadis langsung memeluk lengan kekar Ajun.


"Kamu jangan panggil aku Om lagi, kan udah mau nikah." Ajun mencuil dagu Gadis sambil menaik turunkan alisnya.


Gadis pun langsung tersipu dibuatnya, dia tidak menyangka jika Ajun akan melakukan hal itu padanya. Padahal sedari tadi Tuan Alfonso berada di sana bersama dengan pak Galuh, mereka terlihat sedang duduk di sofa sambil mengobrol.


"Pakein dulu dong cincin'nya," pinta Gadis.


Ajun pun tersenyum, lalu dia mengambil kotak kecil berwarna merah hati yang berada di atas nakas. Kemudian, dia mengambil cincin berlian tersebut dan menyelamatkannya di jari manis Gadis.


Gadis terlihat tersenyum senang, karena kini dia sudah terikat oleh cintanya Ajun lewat sebuah cincin berlian yang begitu indah menurutnya.


"Terima kasih Om," ucap Gadis.


"Ya, sama-sama Sayang," jawab Ajun.


"Terima kasih, Tuan Gia. Anda benar-benar pengertian, kalau saja anda tidak memberikan cincin ini. Pasti saya akan malu pada Tuan Alfonso," guna Ajun dalam hati.


Dua insan manusia yang tengah dimabuk Cinta itu nampak tersenyum bahagia, begitu pun dengan Tuan Alfonso dan juga pak Galuh.


Mereka ikut merasa senang melihat wajah Gadis yang berbinar, namun pak Galuh dan Tuan Alfonso pun merasa sangat sedih.


Tuan Alfonso merasa sedih karena dia baru saja bertemu dengan putri kandungnya, namun sebentar lagi dia harus berpisah dengan Gadis karena ada lelaki yang akan meminang putrinya itu.


Begitu pun dengan pak Galuh, dia merasa sangat sedih karena anak perempuan yang dia timang-timang sedari bayi kini sudah besar dan akan segera menikah.

__ADS_1


Tentunya dia berpikir jika Gadis akan lebih menghabiskan banyak waktu bersama suaminya dan dia juga merasa jika Gadis pasti akan sering menemui Tuan Alfonso dibanding dirinya.


Saat Ajun dan Gadis terlihat sedang terlibat percakapan yang sangat seru, Tuan Alfonso tiba-tiba saja menghampiri mereka.


Tuan Alfonso langsung berdiri di belakang Gadis, dia mengelus pundak Gadis dengan penuh kasih sayang.


"Ajun, Gadis, bolehkah Daddy berbicara dengan kalian?" tanya Tuan Alfonso.


"Tentu saja boleh," ucap Gadis.


"Begini Sayang, Daddy sudah tua. Daddy ingin kamu mengurus perusahaan milik Daddy, Daddy ingin kamu menjadi generasi penerus Daddy. Karena Daddy tidak punya anak lagi selain kamu Gadis," ucap Tuan Alfonso.


Gadis lalu menatap Ajun dan juga tuan Alfonso secara bergantian, Ajun lalu tersenyum dan menggenggam erat tangan Gadis.


Dia seolah berkata 'jika Gadis berhak menentukan pilihannya'.


"Tapi Daddy, Gadis tidak punya pengalaman bekerja," ucap Gadis.


"Tidak apa, Sayang. Nanti Daddy akan mengajarkan kamu sebelum Daddy pensiun, kalau misalkan Gia mengizinkan, Daddy juga ingin meminta Ajun untuk membantu kamu mengurusi perusahaan Daddy," ucap Tuan Alfonso.


"Tapi, Tuan. sepertinya Tuan Gia tidak akan mengizinkan saya pergi dari perusahaan milik keluarga Pranadtja tersebut," ucap Ajun.


"Baiklah, tak apa kalau kamu tidak mau bekerja di perusahaan Daddy. Namun, Daddy harap kamu tetap mau membantu Gadis. Walaupun kamu membantunya secara tidak langsung," ucap Tuan Alfonso.


"Kamu itu dari tadi manggil saya Tuan terus, kamu itu kan calon mantu saya enggak bisa apa bilang saya Daddy?" ucap tanya Tuan Alfonso merajuk.


"Ya, Daddy. Maaf," ucap Ajun seraya menuduk.


"Tadi Daddy bertanya pada Dokter, keadaan kamu katanya sudah membaik. Bagaimana kalau kita pulang saja?" tanya Tuan Alfonso.


"Ya, saya rasa pulang akan lebih baik. Karena beristirahat di rumah lebih nyaman," ucap Ajun.


"Ya, saya setuju," ucap Pak Galuh.


Akhirnya setelah perbincangan mereka selesai, Tuan Alfonso mengajak pak Galuh untuk pulang bersama dengan dirinya. Sedangkan Ajun sengaja dia suruh pulang bersama dengan Gadis, tentunya Tuan Alfonso tidak mengizinkan Ajun untuk menyetir terlebih dahulu.


Dia meminta salah satu Bodyguard-nya untuk menyetir mobil Ajun, dengan senang hati Ajun pun mengiyakan.


Tuan Alfonso sebenarnya sengaja mengajak pak Galuh dengan dirinya, agar Ajun dan Gadis bisa leluasa berduaan.

__ADS_1


Karena Tuan Alfonso pun bisa merasakan, jika hal yang paling membahagiakan adalah bersama dengan kekasih tercinta.


"Ingat Ajun, kamu belum menikahi anak saya. Kamu tidak boleh berbuat macam-macam," ucap Tuan Alfonso sebelum Ajun masuk ke dalam mobilnya.


"Ya, Daddy. Tidak akan!" jawabnya pasti.


"Bagus!" ucap Tuan Alfonso.


Ajun pun langsung masuk ke dalam mobilnya, Gadis pun ikut masuk dan langsung duduk di samping Ajun dan langsung memeluk lengan kekar Ajun sambil menyandarkan kepalanya di pundak Ajun.


Rasanya itu adalah posisi ternyaman untuknya, namun tidak untuk Ajun. Karena dada Gadis yang begitu menempel ke tangan Ajun, membuat dia menjadi gelisah.


Dia menjadi penasaran dengan bentuk dan rasanya seperti apa setiap kali dada Gadis bergesekan dengan tangan Ajun.


Dia merasa panas dingin, sepanjang perjalanan Ajun hanya diam saja. Dia takut sekali jika menatap kearah Gadis, sedangkan Gadis terlihat kebingungan saat melihat tingkah Ajun yang menurutnya sangat aneh.


"Om kenapa sih?" tanya Gadis.


"Tidak! Aku tidak apa-apa," jawab Ajun.


"Tapi muka Om, aneh. Kayak sedang menahan sesuatu," kata Gadis.


"Ah, tidak juga. Itu hanya perasaan kamu aja," jawab Ajun.


Sang Bodyguard yang sedang menyetir mobil milik Ajun berusaha untuk menahan tawanya, dia sangat paham kenapa Ajun bersikap seperti itu.


"Om aneh," ucap Gadis.


Disebut aneh Ajun pun merasa tak terima, lalu dia pun membungkuk dan berbisik tepat di telinga Gadis.


"Kalau kamu tidak mau melihat Aku aneh kayak gini, menjauhlah sedikit dariku," ucap Ajun.


Gadis merasa heran dengan permintaan dari Ajun, rasanya itu lebih aneh daripada tingkah Ajun. Gadis mendongakkan kepalanya, lalu dia pun ikut berbisik di samping telinga Ajun.


"Memangnya kenapa aku harus menjauh," tanya Gadis.


"Karena benda yang menempel di tanganku itu, membuatku merasa panas dingin," Ajun kembali berbisik sambil menunjuk dada Gadis dengan ekor matanya.


Gadis yang menyadari arah tatapan mata Ajun, langsung menggeser letak duduknya. Dia langsung melipat kedua tangannya di depan dada, bahkan bibirnya pun kini terlihat mengkerucut sempurna.

__ADS_1


Dia merasa tersinggung, malu, sekaligus marah terhadap Ajun. Ajun hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


"Dasar Om messum!" gerutu Gadis.


__ADS_2