
Selepas kuliah, Aurelia mengajak Aurora untuk pergi ke butik. Tentu saja tujuannya adalah untuk membeli gaun yang akan mereka pakai di acara ulang tahun perusahaan milik sang ayah.
Selama dalam perjalanan menuju butik, Aurora nampak tidak bersemangat. Dia sungguh sangat malas untuk pergi ke acara ulang tahun perusahaan ayahnya, apa lagi harus memakai gaun malam yang sama dengan adiknya.
Bukan hanya itu yang membuat dia tidak nyaman, dia juga harus berdandan dan semuanya harus sama dengan Aurelia.
"Jangan cemberut terus, nanti cantiknya ilang." Aurelia memeluk kakak kembarnya dari samping.
Walaupun merasa kesal, tetap saja dia menyayangi adik kembarnya tersebut. Dia terlihat membalas pelukan adiknya dan mengelus lembut punggung adiknya tersebut.
"Iya, Kakak engga akan cemberut lagi," kata Aurora.
*/*
Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam, akhirnya mereka sampai di butik ternama di pusat kota.
Dengan penuh semangat Aurelia menggandeng tangan kakak kembarnya untuk masuk ke dalam butik.
Walaupun hatinya merasa tidak suka, namun Aurora berusaha untuk memberikan senyuman termanisnya untuk sang adik.
"Gaunnya bagus-bagus, Kak." Mata Aurelia nampak berbinar.
"Iya, pilihlah sesukamu. Kakak manut," kata Aurora.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Kakak kembarnya, Aurelia terlihat sangat senang sekali. Dia bahkan sampai memeluk Aurora dengan erat dan mengecup pipi Kakak kembarnya tersebut beberapa kali.
Hal itu membuat Aurora risih, sehingga dia mendorong pelan tubuh adiknya tersebut.
"Sudah jangan berlebihan, sekarang pilihlah gaun yang kamu inginkan!" kata Aurora.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kakak cukup duduk manis di atas sofa. Biar aku yang memilihkan," kata Aurelia.
Aurora menurut, dia nampak duduk dengan tenang di atas sofa sambil berselancar dengan ponselnya.
Berbeda dengan Aurelia yang kini terlihat sedang sibuk sekali memilih gaun yang akan dia kenakan bersama dengan sang kakak di acara ulang tahun perusahaan milik sang ayah.
Setelah lama mencari, akhirnya matanya tertuju kepada gaun malam berwarna merah marun berlengan panjang dan panjangnya lima senti di atas lutut.
Dia benar-benar merasa tertarik dengan gaun tersebut, dia langsung mengambilnya dan segera menunjukkannya kepada Aora.
Awalnya Aurora tidak setuju dengan gaun tersebut, karena menurutnya itu sangat pendek sekali.
Namun, Aurelia meyakinkan jika itu adalah gaun yang pas dan sangat bagus untuk mereka kenalkan. Karena tidak ingin mengecewakan adiknya, akhirnya Aurora menyetujuinya.
"Baiklah, semuanya terserah kamu, adikku." Aurora tersenyum walau hatinya ingin berteriak.
Setelah mendengar ucapan dari Aurora, mereka nampak mencoba gaun tersebut. Ternyata gaunnya sangat pas di badan mereka.
"Yeeeyyyy, aku seneng deh kalau Kakak mau pakai gaun yang samaan kaya gini. Aku udah ngga sabar menunggu malam minggu nanti," kata Aurelia.
__ADS_1
"Ya, sekarang kita pulang saja. Kaka sudah lelah," kata Aurora.
"No, kita ke kantor ayah," kata Aurelia.
"Baiklah, aku menurut," kata Aurora pasrah.
Setelah mencoba dan membayar gaun yang menjadi pilihan dari Aurelia, akhirnya kedua adik-kakak tersebut nampak pergi menuju perusahaan milik sang ayah.
Tiba di sana, Aurelia terlihat begitu senang sekali. Dia langsung masuk ke dalam ruangan Gia dan memeluk sang ayah dengan sangat erat.
Bahkan, Aurelia nampak mengecupi setiap inci wajah dari Gia. Melihat akan hal itu, ada rasa senang dihati Aurora, karena dia bisa membuat adiknya bahagia.
"Ada apa ini? Kenapa kamu terlihat sangat senang sekali?" tanya Gia.
Aurora langsung menghampiri Gia dan mengecup kening ayahnya tersebut.
"Lihatlah Ayah, Kakak ke sini bersamaku dan apa ayah tahu? Sebelum ke sini kami ke butik terlebih dahulu, aku sudah memilihkan gaun yang cocok untuk aku dan kakak kenakan nanti," lapor Aurelia.
"Waah, jadi anak tomboy Ayah beneran bersedia memakai gaun?" tanya Gia seraya memandang putri sulungnya.
"Iya, aku bersedia," kata Aurora.
"Ayah dengar itu? Aku jadi tidak sabar menantikan malam minggu tiba," kata Aurelia antusias.
Gia langsung tertawa mendengar ucapan dari Aurelia, sedangkan Aurora hanya diam saja.
"Hey, di sini masih ada aku. Kenapa kalian tidak menyapaku?" tanya Ajun.
Gia, Aurora dan Aurelia nampak saling pandang saat mendengar ucapan Ajun, tak lama kemudian mereka nampak tertawa.
"Oh, ayolah kedua putri cantikku. Peluklah Daddy!" pinta Ajun seraya merentangkan kedua tangannya.
"Baiklah, Daddy. Jangan menangis," kata Aurora.
Aurora dan Aurelia nampak menghampiri Ajun, mereka langsung memeluk Ajun dari sisi kanan dan kirinya.
Rona bahagia terlihat jelas di wajah Ajun, setidaknya dia masih bisa merasakan pelukan dari kedua putri cantik Gia. Walau pada kenyataannya dia tidak memiliki anak perempuan.
Ajun terlihat melerai pelukannya, kemudian dia menatap wajah Aurora dan juga Aurelia secara bergantian.
"Daddy sangat ingin sekali mempunyai anak perempuan, apakah diantara kalian ada yang mau menjadi menantu Daddy?" tanya Ajun.
Untuk sesaat Aurora dan Aurelia nampak saling pandang, kemudian mereka menggelengkan kepalanya.
"No, Daddy!" tolak mereka berdua.
Mendapatkan penolakan dari kedua putri Gia, Ajun terlihat memegangi dadanya. Wajahnya dia buat semenyedihkan mungkin.
"Oh Tuhan, malang sekali nasibku. Apakah pesona Kenzie, Kenzo dan juga Keenan sangat kurang?" tanya Ajun.
__ADS_1
Aurora dan Aurelia langsung menggelengkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan dari Ajun.
"Lalu, kenapa kalian tidak mau menjadi menantuku? Apa karena aku hanya bawahan dari Ayah kalian?" tanya Ajun sendu.
"No, Daddy. Walaupun Daddy hanya bawahan dari Ayah, tapi mom Gadis sangat kaya." Aurora mengelus lembut tangan Ajun.
"Alasannya cuma satu, kami tidak menyukai berondong." Aurelia langsung tertawa setelah mengatakan hal itu.
Mendengar penuturan dari kedua putri kembar Gia, Ajun langsung menggelengkan kepalanya.
"Kalian tega!" ucap Ajun pura-pura merajuk.
"Sudahlah! Lagian mereka masih anak-anak, lebih baik kamu ajarkan mereka cara bekerja yang baik. Bukan mengajari mereka masalah perjodohan," kata Gia.
"Ya, ya, ya," jawab Ajun.
*/*
Pukul empat sore Aurora dan Aurelia nampak keluar dari gedung Pranadtja, Gia dan Ajun masih belum bisa pulang. Karena masih ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Kak!" panggil Aurelia saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Apa?" tanya Aurora.
"Kita ke Danau dulu, yu. Sudah lama sekali kita tidak pernah ke sana," ajak Aurelia.
"Tapi ini sudah sore, aku sudah lelah. Bisakah nanti saja?" tanya Aurora.
Wajah Aurelia terlihat berubah sendu ketika mendengar jawaban dari Aurora, padahal dia sangat ingin sekali pergi ke Danau. Karena sudah sangat lama mereka berdua tidak pernah mengunjungi Danau kembali.
Melihat perubahan wajah dari adiknya tersebut, Aurora menjadi tak tega. Dia langsung memeluk adiknya seraya berkata.
"Pak, kita pergi ke Danau sekarang!" ucap Aurora pada sang sopir.
"Ah, iya, Non. Jangan lupa telepon nyonya," kata Pak sopir.
"Siap, Pak," jawab Aurora.
Wajah Aurelia nampak berbinar ketika mendengar ucapan dari kakaknya tersebut, dia bahkan sampai mengecup pipi Aurora beberapa kali.
Aurora nampak terkekeh dan kemudian dia mengambil ponselnya, lalu dia menelepon Elsa. Tentu saja tujuannya dia ingin memberitahukan bahwa mereka akan pulang telat, karena bermain terlebih dahulu di tepi Danau.
BERSAMBUNG....
*
*
Selamat siang, selamat beraktifitas. Semoga kalian sehat selalu, jangan lupa tinggalkan jejak, yes.
__ADS_1