Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Sudah Ridu


__ADS_3

Cukup lama Ajun bermain dengan bibir Gadis, hingga beberapa detik kemudian. Gadis yang awalnya hanya diam saja, langsung membalas ciuman Ajun.


Tangan kanan Gadis bahkan sudah naik dan mengelus rahang tegas Ajun, sedangkan tangan kirinya mencengkram kerah baju yang Ajun pakai.


Hal itu membuat Ajun menginginkan hal yang lebih, namun dengan cepat Ajun menepisnya. Dia tak boleh melakukan hal yang lebih, cukup beradu bibir saja, pikirnya.


Namun sayangnya pikiran seakan tak berjalan dengan apa yang mereka lakukan, bibir mereka terus saja saling membelit.


Ciuman yang awalnya terasa manis kini berubah menjadi panas, Ajun bahkan mengangkat tubuh mungil Gadis hingga dia kini berada di atas pangkuan Ajun.


Gadis terlihat menunduk, tangannya mencengkram erat pundak Ajun. Bibir mereka saling bertaut, nikmat... satu kata yang Ajun rasakan saat ini.


Saat sedang asik bertukar saliva, telinga Ajun mendengar derap kaki yang semakin mendekat. Ajun pun segera memutuskan pagutannya, dia yakin jika yang datang adalah pak Galuh.


Ajun langsung mendudukan Gadis di atas tempat tidur, lalu dia pun mengusap bibir Gadis yang terlihat basah dan terlihat sedikit bengkak.


Ajun tersenyum saat melihat hasil dari kelakuannya, sedangkan Gadis terlihat cemberut. Dia seolah sedang melayangkan protesnya lewat tatapan matanya.


"Tuan, diminum dulu teh hangatnya." Pak Galuh terlihat memberikan segelas teh hangat kepada Ajun, Ajun pun langsung tersenyum dan mengambil teh tersebut.


"Terima kasih, Pak. Bapak terlalu repot," ucap Ajun.


"Tidak masalah," jawab Pak Galuh.


Walaupun berkata demikian, akan tetapi Ajun tetap meminum teh hangat tersebut. Setelahnya, dia pun menyimpannya di atas nakas.


"Saya pamit pulang, Pak. Sudah malam," pamit Ajun.


"Iya, Tuan. Terima kasih karena sudah menyelamatkan anak saya dari jerat anak pejabat itu," ucap Pak Galuh tulus.


"Sama-sama, Pak. Oh ya, Pak. Panggil saya Ajun saja, jangan panggil Tuan," ucap Ajun.


Pak Galuh pun langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali, "iya".


Setelah berpamitan kepada pak Galuh, Ajun lalu duduk di samping Gadis. Dia mengelus lembut pundak Gadis, lalu dia pun berkata.

__ADS_1


"Aku pulang dulu, kalau kamu butuh apa-apa nanti boleh telepon," ucap Ajun.


"Ya," ucap Gadis singkat.


Ajun tersenyum lalu mengacak pelan rambut Gadis, setelah itu dia meninggalkan Gadis dan juga pak Galuh.


Selepas dari rumah pak Galuh, Ajun langsung melajukan mobilnya menuju kediamannya. Dia begitu lelah karena seharian ini dia begitu sibuk bekerja, bahkan pukul 11 malam dia baru tiba di rumahnya.


Rasanya dia ingin langsung mengistirahatkan tubuh lelahnya, namun badannya terasa begitu lengket.


Ajun pun langsung masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat, setelah mandi Ajun langsung ke dapur.


Dia meminum segelas susu, setelah itu dia memakan roti untuk mengganjal perutnya. Dia sangat malas untuk makan, namun perutnya terasa lapar.


Menurutnya yang penting ada yang mengganjal perutnya, pikirannya. Setelah merasa kenyang, Ajun pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuh lelahnya.


Sayangnya walaupun badannya terasa sangat lelah, namun dia terasa sulit untuk memejamkan matanya. Bayang-bayang ciuman panas antara dirinya dan Gadis, begitu melekat di pikiran Ajun.


Apalagi Ajun tidak pernah sama sekali berciuman dengan wanita manapun, baru kali ini dia merasakan yang namanya indahnya berciuman dan rasanya terasa sangat nikmat dan juga... Oh, Ajun tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.


"Semoga saja Gadis mau menjadi istriku, aku bukan pemuda yang mencari kesenangan lewat berpacaran. Aku sudah tua, aku ingin mencari istri yang mau menerimaku apa adanya dan semoga Gadis mau menjadi istriku," ucap Ajun sebelum dia memejamkan matanya.


*/*


Pagi-pagi sekali Ajun sudah terbangun dari tidurnya, wajahnya nampak begitu berseri. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Gadis, wanita yang akhir-akhir ini memenuhi hati dan pikirannya.


Ajun turun dari ranjang berukuran besar itu dengan perlahan, kemudian dia pun melangkah menuju kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya dengan air hangat, terasa sangat segar dan membuat matanya langsung terbuka dengan sempurna.


Selesai mandi, Ajun langsung bersiap memakai stelan kerjanya. Setelah itu, dia langsung membuat sandwich untuk dia sarapan, tentunya segelas susu putih yang tak pernah absen dia minum setiap harinya pun nampak dia buat.


"Ini saja sudah cukup," ucap Ajun dengan senyum manisnya.


Setelah selesai sarapan, Ajun langsung mengambil dompet, ponsel serta kunci mobilnya. Dia langsung melajukan mobilnya menuju ke kediaman pak Galuh, karena dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Gadis.


Tiba di depan rumah pak Galuh, dia baru saja keluar dari dalam rumahnya. Dia hendak pergi ke pasar dengan menaiki sepeda motornya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pak," ucap Ajun.


"Eh, nak Ajun. Selamat pagi juga," balas pak Galuh.


"Kok tumben pagi-pagi sekali--" Pak Galuh langsung melihat kearah jam yang melingkar di tangannya--"ini baru setengah enam loh. Nak Ajun ada perlu apa?" tanya Pak Galuh.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari pak Galuh, Arjun telihat menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


Dia bingung harus beralasan apa, lalu dia pun menjawab.


"Saya hanya ingin bertemu dengan Gadis, saya ingin melihat keadaan Gadis, apakah sudah baik atau belum?" ucap Ajun.


Pak Galuh seakan mengerti jika Ajun menyukai putrinya, namun dia tak banyak berkomentar dia hanya berkata.


"Gadis masih tidur, namun jika Nak Ajun mau bertemu dengan Gadis. Masuklah ke dalam, pintu kamarnya juga tidak dikunci," ucap Pak Galuh.


Dia sengaja mengizinkan Ajun untuk menemui Gadis di dalam kamarnya, karena Pak Galuh sagat percaya jika Ajun tidak akan melakukan hal yang tidak senonoh, pikirnya.


Dia juga bisa melihat dari sorot mata Ajun, dia begitu tulus menyayangi Gadis.


"Wah... benarkah? Bapak beneran kan saya boleh ini masuk ke dalam kamar Gadis?" tanya Ajun.


"Ya, boleh. Saya mau ke pasar dulu, kamu jagain Gadis dulu sebelum saya pulang nanti. Nanti saya belikan sarapan," ucap Pak Galuh.


"Oh iya, Pak. Siap!" jawabannya.


Setelah berpesan pada Ajun, Pak Galuh pun langsung melajukan motornya menuju pasar tradisional yang tak jauh dari sana.


Sedangkan Ajun dengan semangat 45 dia langsung masuk kedalam rumah Pak Galuh, tanpa ragu Ajun langsung masuk ke dalam kamar Gadis.


Benar saja Gadis masih tertidur dengan pulas, dia meringkuk sambil memeluk guling. wajahnya terlihat sangat menggemaskan di mata Ajun.


Kalau saja Dia tidak sedang tidur, rasanya Ajun ingin sekali mengajaknya berbicara dan melakukan hal yang seperti tadi malam.


Karena jujur saja, Ajun baru melihat bibir tipis Gadis yang begitu menggairahkan. Saat melihat bibir ranum milik Gadis, dia langsung terpancing hasratnya.

__ADS_1


Rasanya dia ingin sekali mengecup bibir ranum itu dan memainkannya dengan sesuka hati, sayangnya itu hanya angan belaka.


__ADS_2