
Pak Galuh terlihat membawa tiga cangkir teh hangat, untuk dirinya, untuk Gadis dan juga untuk Ajun.
"Diminum dulu atuh, Neng," kata Pak Galuh.
Gadis pun menurut, dia pun mau minum teh hangat yang dibuat oleh Pak Galuh. Begitupun juga dengan Ajun, dia ikut menikmati teh hangat tersebut.
"Pak, tolong jelasin sama Gadis. Sebenarnya Tuan Alfonso itu siapa?" Tanya Gadis to the point.
Dia sudah tidak sabar ingin mendapatkan penjelasan dari pak Galuh, wajah pak Galuh langsung berubah sendu.
Gadis Berliana adalah seorang putri yang dia gendong di hari kelahirannya, tentu dia mendapatkan Gadis dari tangan ibundanya tercinta.
Kini, anak perempuan itu sudah besar dan dia menanyakan lelaki lain, sosok ayah yang lain. Hal itu membuat pak Galuh merasa sangat sakit dan juga cemburu.
Namun, walau bagaimanapun juga, hadis harus tahu siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.
"Bapak kok diam aja, kenapa? Apq Bapak belum siap nyeritain semuanya ke Gadis? Kalau belum siap enggak apa-apa, nanti saja ceritanya. Lagian sekarang juga udah malam, Gadis akan menunggu sampai Bapak siap," ucap Gadis.
Pak Galuh terlihat menghela nafas dengan berat, kemudian dia pun menatap wajah Gadis dengan lekat. Dia mendekatkan diri kearah Gadis, dia mengusap tangan Gadis dengan lembut dan dia pun mulai berbicara.
"Jadi begini Nak--"
Pak Galuh pun menceritakan semuanya, dari awal Tuan Alfonso datang ke kota B hingga berkenalan dengan Intan, Ibu dari Gadis dan berakhir di pelaminan.
Pak Galuh juga menceritakan tentang perpisahan antara ibunya dan juga Tuan Alfonso yang bukan dikehendaki oleh mereka berdua, tetapi karena Tuan Alfonso yang dideportasi ke negara asalnya.
Pak Galuh juga menceritakan bagaimana sedihnya Tuan Alfonso kala kembali ke negaranya, dia langsung disambut dengan kematian kedua orang tuanya.
Pastinya, hal yang lebih menyedihkan lagi adalah saat Tuan Alfonso datang kembali keIndonesia. Ternyata dia harus menerima kenyataan bahwa istri tercintanya sudah meninggal saat melahirkan putri mereka.
Gadis hanya diam saja dengan wajah datarnya saat mendengarkan cerita dari pak galuh, sedangkan Ajun terlihat setia mendampingi Gadis.
Dia terus saja mengusap punggung Gadis, dia berusaha untuk menenangkan wanitanya.
__ADS_1
"Jangan marah sama Bapak, Bapak sayang banget sama kamu, Neng. Walaupun kamu sudah menemukan Ayah kandung kamu, Bapak harap kamu nggak melupakan Bapak." Ucap pak Galuh seraya terisak.
Gadis hanya diam, namun air matanya terus saja mengalir. Hal itu membuat pak Galuh bingung.
Apakah Gadis marah kepadanya atau bagaimana?
Dia tidak bisa menebaknya, karena wajah Gadis terlihat datar. Pak Galuh pun langsung memeluk Gadis dan mengecup kening Gadis dengan lembut.
"Maafkan Bapak karena selama ini tidak pernah jujur sama kamu, jujur Bapak sangat takut kamu tinggalkan, Neng. Karena bapak sama sekali tidak punya siapa-siapa lagi setelah kepergian ibu kamu, kamu sangat tahu, Neng. Hanya kamu yang Bapak punya," ucap Pak Galuh
Gadis membalas pelukan pak Galuh, lalu dia pun menangis sesenggukan di pelukan lelaki paruh baya yang sudah mengurusnya selama 21 tahun itu.
"Jadi, Tuan Alfonso itu Ayahku, Pak?" tanya Gadis memastikan.
"Ya, dia Ayah kandungmu." Pak Galuh semakin terisak.
"Kalau memang Mama sudah meninggal, di mana kuburannya, Pak?" tanya Gadis.
"Ada di kota B, Sayang. Di pemakaman umum Desa," jawab Pak Galuh.
"Ya, besok kita akan berkunjung." Gadis melerai pelukannya, lalu dia menatap Pak Galuh dengan lekat.
"Terima kasih karena Bapak sudah mau mengurus Gadis, bahkan Bapak begitu menyayangi Gadis seperti putri Bapak sendiri. Gadis bahkan tidak pernah menyangka, kalau Bapak adalah Bapak angkat Gadis. Karena Bapak begitu baik memperlakukan Gadis bersama dengan Ibu," ucap Gadis.
Kembali Gadis menangis, namun dengan cepat Ajun menariknya ke dalam pelukannya.
"Sudah, jangan menangis lagi, seharusnya kamu bersyukur karena ternyata kamu mempunyai dua orang Ayah. Itu tandanya kamu mempunyai anggota keluarga yang banyak."Ajun mengusap punggung Gadis dengan lembut.
"Om, benar. Tapi rasanya aku belum siap bertemu dengan Tuan Alfonso," ucap Gadis.
"Tak apa, Sayang. Nanti juga kamu akan terbiasa, tapi aku harap kamu mau segera bertemu dengan Tuan Alfonso. Kamu tahu kan kalau dia sudah tua? Bahkan dia sudah berpisah dengan kamu dari semenjak kamu ada di dalam kandungan Ibu kamu, dia pasti sangat merindukan kamu. Jangan pernah bersikap tidak baik terhadapnya," ucap nasehat Ajun.
"Iya, Om. Kalo Gadis bertemu sama Tuan Alfonso, pasti Gadis akan bersikap baik kepadanya. Walau bagaimanapun juga, Gadis ada karena ada dirinya." Ucap Gadis berusaha bijak.
__ADS_1
"Ya, kamu benar. Sekarang kamu harus tidur, besok aku akan mengantarkan kamu ke pemakaman ibu kamu di kota B." Ajun mengacak pelan rambut Gadis.
"Tidak usah, Om. Nanti Gadis naik mobil online aja," ucap Gadis.
"Nggak boleh, besok hari sabtu dan aku akan mengantarkan kamu sampai di tempat tujuan. Sekalian mau minta restu," ucap Ajun.
"Apaan si, Om? Om lebay deh! Apaan coba mau minta restu segala?" ucap cibir Gadis.
"Kan, aku mau nikahin kamu," ucap Ajun.
"Enak aja, aku nggak belum bilang mau nerima Om, ya... main mau minta restu-restu aja," cela Gadis.
"Tapi kamunya enggak nolak aku, walaupun kamu nggak berkata 'iya', tapi aku sangat tahu jika kamu suka banget sama aku." Ajun langsung mencubit gemas hidung Gadis.
"Ya ampun, Om. Ternyata dirimu itu percaya diri sekali," ucap Gadis.
Ajun langsung terkekeh mendengar ucapan dari Gadis, sedangkan Pak Galuh, dia terlihat sangat senang karena Gadis tak terlihat sedih lagi.
"Lagi pula ya, Om. Om belum melamar aku secara resmi," ucap Gadis.
" Ya, aku tahu," ucap Ajun.
"Kalau Om memang serius sama aku, lamar akunya yang benar, Om. Biarpun aku bukan perempuan yang sempurna, tapi aku pun ingin diperlakukan sama seperti perempuan lain. Aku juga ingin merasakan yang namanya bahagia, Om." Gadis berkata dengan lirih.
" Jangan berkata seperti itu, bagi aku kamu itu sangat istimewa." Ucap Ajun memberikan semangat kepada wanitany.a
Gadis terlihat sangat senang mendengar ucapan dari Ajun, dia merasa beruntung bisa mengenal Ajun.
"Ya sudah, sekarang kamu tidur. Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh, kamu dengar baik-baik, semuanya akan berjalan dengan lancar," ucap Ajun.
"Iya, aku percaya sama Om." Gadis langsung memeluk Ajun dan mengusakan kepalanya di dada bidang milik Ajun.
Setelah Gadis terlihat lebih ceria, Ajun pun memilih untuk segera pulang ke rumahnya. Lagi pula waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tidak mungkin juga dia akan terus disana
__ADS_1
Walaupun, hatinya menginginkan tetap bersama dengan Gadis.