Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Gugatan Cerai


__ADS_3

"Hai, Sayang. Kamu sudah pulang?" tanya Ajun.


Ajun lalu mengecup kening istrinya dan mengambil handuk, kemudian dia pun langsung berlari ke kamar mandi.


Gadis terlihat keheranan melihat kelakuan suaminya, karena memang tak biasanya Ajun bersikap seperti itu.


Padahal dia belum sempat menjawab pertanyaan dari suaminya, namun dia berusaha bersikap biasa saja dan berpikir positif tentang apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut.


Sepuluh menit kemudian, Ajun terlihat keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.


Ajun lalu menghampiri istrinya dan duduk tepat di samping Gadis.


"Hubby, kamu kenapa sih tadi tiba-tiba saja berlari ke kamar mandi?" tanya Gadis.


"Ini semua gara-gara si Gia, bos sialan itu. Sudah dibilangin kalau dia harus berhati-hati, masih saja nggak mau denger!" kesal Ajun.


Gadis terlihat keheranan mendengar ucapan Ajun, dia pun jari bertanya-tanya, apa hubungannya Ajun dengan bosnya itu.


"Terus, apa hubungannya Tuan Gia sama Hubby yang pulang-pulang langsung mandi?" tanya Gadis seraya memicingkan matanya.


Ajun langsung menoyor jidat Gadis, Ajun sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran istrinya itu.


"Jangan berpikiran yang macam-macam, tadi Gia dikasih obat perangsang oleh mantan pacarnya. Selama perjalanan pulang, saat aku mengantarnya. Dia terus saja berusaha untuk memelukku dan juga menciumku, kan jadinya aku merasa jijik," kata Ajun.


"Oh, aku kira Hubby--"


"Apa?" tanya Ajun cepat.


"Tidak ada!" jawab Gadis cepat.


"Aku masih normal, aku masih menginginkan istriku yang cantik inu," ucap Ajun.


Tanpa basa-basi Ajun langsung mengangkat tubuh Gadis dan membawanya ke atas tempat tidur.


"Hubby mau apa?" tanya Gadis.


Mendengar pertanyaan dari istrinya, Ajun langsung tersenyum. Lalu, Ajun pun langsung melemparkan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Aku mau membuktikan kalau aku masih normal," ucap Ajun.


"Aku percaya kalau Hubby sangat normal, kalau ngga normal, mana mungkin maunya nyelup mulu setiap hari," kata Gadis.


"Nakal!"


Ajun terlihat tidak sabar, dia langsung membuka semua kain yang melekat di tubuh istrinya.


Setelah semuanya terlepas, Ajun terlihat tersenyum. Lalu, Ajun pun mulai menakutkan bibirnya ke bibir istrinya.

__ADS_1


Tangannya pun mulai merambat naik meraih puncak dada istrinya, dia memainkan puncak dada istrinya dengan penuh semangat.


Tak lama kemudian, terdengarlah suara yang menurut Ajun sangat indah untuk dia dengar dari bibir istrinya tersebut.


"Sekarang ya, Sayang?" kata Ajun memohon.


Gadis langsung menganggukkan kepalanya, "iya Hubby," jawab Gadis.


Ajun terlihat sangat senang sekali, dia pun segera mengarahkan miliknya ke dalam liang kelembutan milik istrinya.


Namun, baru saja miliknya bersentuhan dengan milik istrinya. Pintu kamar mereka terdengar diketuk dari luar, Ajun langsung saling pandang dengan Gadis, kemudian mereka pun melihat kearah pintu.


"Siapa?" tanya Ajun.


"Ini Mbak Minah, Tuan. Tuan dan Nona disuruh turun, katanya Tuan Besar mau berbicara," kata Mbak Minah.


Ajun terlihat berdecak, dengan cepat dia pun turun dari tubuh istrinya. Setelah itu, Ajun pun langsung mengambil baju santai dan segera memakainya.


Gadis hanya bisa tersenyum melihat kelakuan suaminya tersebut, dia pun ikut bangun dan segera memakai baju.


Setelah terlihat siap, mereka pun langsung turun untuk menemui Tuan Alfonso. Ajun terlihat turun dengan wajah yang ditekuk, sedangkan Gadis hanya bisa mengatupkan mulutnya menahan tawa.


Di lain tempat, Aldino terlihat sedang prustasi karena Nyonya Mariene terus saja mengikuti dirinya.


Kini Aldino sedang duduk santai di pinggir Danau, niatnya dia ingin menenangkan pikirannya.


Namun sayangnya, dia tak bisa tenang. Karena Nyonya Mariene tetap saja mengikuti dirinya, dia terus membujuk Aldino untuk segera menikah dengan dirinya.


Nyonya Mariene bersikeras jika Aldino harus menikahinya, karena Tuan Jhon sudah menceraikan dirinya.


Namun Aldino tidak mau, karena menurutnya lebih baik kembali pada Melani. Dari pada harus menikahi wanita tua seperti Nyonya Mariene.


"Ayolah, Aldino, Sayang. Jangan munafik seperti itu, lagi pula kamu selalu menikmati setiap permainan yang aku suguhkan. Lebih baik kita menikah saja, segeralah ceraikan istrimu itu," kata Nyonya Mariane.


"No, aku lebih baik mempertahankan rumah tanggaku dengan Melani, dia lebih baik darimu." Aldino terlihat bangun dan ingin meninggalkan Nyonya Mariene.


"Enak saja, kamu harus tetap menikah dengan aku. Lagi pula kamu tidak usah takut, walaupun aku sudah bercerai. Tapi, uangku banyak. Kita nikah ya?" bujuk Nyonya Mariene.


Aldino terlihat memutar bola matanya, tentu saja dia lebih memilih Melani dari pada berumah tangga dengan Nyonya Mariene.


Apa lagi Nyonya Mariane sudah mempunyai anak gadis yang berumur 19 tahun, dari pada menikahi Nyonya Mariene, lebih baik menikahi putrinya pikirnya.


Aldino langsung bangun dan pergi dari Danau tersebut, walaupun Nyonya Mariene terdengar terus memanggil namanya.


Namun, Aldino seakan menulikan telinganya. Dia seakan menyalahkan Nyonya Mariene tentang kehancuran rumah tangganya.


Padahal, rumah tangganya hancur karena dirinya yang bermain api dengan Nyonya Mariene. Bukan hanya karena Nyonya Mariene semata.

__ADS_1


Karena jika pendirian Aldino tidak goyah, Nyonya Mariene pun tak akan punya kesempatan untuk masuk ke dalam kehidupan Aldino.


Aldino terlihat melajukan mobilnya menuju kediaman Nyonya Mesti, tiba di sana Aldino merasa bukan hanya rumahnya yang terasa sepi, tapi hatinya pun terasa sangat sepi.


Aldino langsung masuk kedalam kamarnya, dia menyusuri ruangan tersebut. Dia terlihat tersenyum kecut, karena tak menemukan Melani di sana.


Biasanya dia akan melihat Melani yang sedang tersenyum hangat kepadanya, walaupun dirinya terkesan mengabaikan Melani.


Aldino terlihat mengambil baju Melani yang masih tersimpan di dalam lemari, lalu dia kecup dan dia cium baju tersebut.


"Mel, Mas kangen." Tanpa terasa air mata Aldino pun langsung luruh begitu saja.


Ternyata setelah wanita yang dia cintai memilih untuk pergi dan bercerai dari dirinya, hati Aldino terasa sakit dan sangat sepi.


Padahal Aldino sangat sadar, jika selama 3 tahun ini Aldino selalu mengabaikan istrinya tersebut.


Aldino bukan tak sadar, dia sering melihat rasa rindu di mata Melani. Dia sering melihat hasrat yang begitu besar di mata Melani, namun dia seolah mengabaikannya.


Karena dia selalu mendapatkan kebutuhannya itu dari Nyonya Mariene, bahkan Aldino hampir setiap hari melakukan hal tersebut dengan Nyonya Mariene.


Jika ada kesempatan, di kantor pun mereka akan melakukannya. Tentu saja dengan bantuan petugas Cctv, karena Nyonya Mariene dan Aldino sangat sadar jika di perusahaan tersebut dikelilingi oleh Cctv yang terpasang.


"Kembalilah pada, Mas, Sayang. Mas janji akan bersikap lebih baik lagi, Mas akan memperbaiki sikap Mas yang sudah salah." Aldino terlihat terisak, dia sudah seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.


Saat Aldino sedang meratapi nasibnya, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk dari luar. Aldino pun langsung membuka pintu tersebut, berharap jika Melani' lah yang datang.


Sayangnya yang datang bukan Melani, tapi Nyonya Mesti. Dia terlihat datang dengan membawa amplop coklat di tangannya.


"Ada apa, Mah?" tanya Aldino.


"Tidak apa-apa, Mamah hanya ingin memberikan ini kepada kamu," ucap Nyonya Mesti datar.


Nyonya Mesti terlihat menyerahkan map berwarna coklat yang dia bawa kepada Aldino, Aldino pun langsung mengambil map berwarna coklat tersebut dari tangan Nyonya Mesti.


Dengan perlahan Aldino pun membuka map berwarna coklat tersebut, matanya langsung membulat dengan sempurna kala melihat apa yang diberikan oleh Nyonya Mesti.


Ternyata itu adalah surat gugatan cerai dari Melani, tubuh Aldino terlihat sangat lemas. Bahkan kakinya seakan tak bisa menopang bobot tubuhnya sendiri.


Tubuh Aldino langsung luruh ke lantai, dia menangis sambil memeluk berkas yang diberikan oleh Nyonya Mesti.


Nyonya Mesti hanya diam saja, dia pun tak bisa berkata apa-apa. Karena dia sangat tahu jika semua kejadian ini berawal dari kesalahan yang dilakukan oleh anaknya sendiri.


Nyonya Mesti hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Melani, namun tetap dalam hatinya dia selalu berdo'a, semoga Melani mau menekan egonya dan mau kembali bersama dengan putranya.


"Mah, Melani ngga mau lagi hidup sama aku." Mendengar ucapan dari putranya, Nyonya Mesti langsung berjongkok dan memeluk tubuh putranya.


Dia sebenarnya sangat tak tega melihat keadaan putranya tersebut, namun dia pun tak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Karena Melani terlihat sudah sangat bulat dengan keputusannya, sepertinya Melani sudah benar-benar memikirkan semuanya dengan matang.


__ADS_2