Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Pilihan


__ADS_3

"Om!" pekik Gadis.


Gadis terlihat memeluk Ajun dengan erat, dia takut jatuh karena tiba-tiba saja Ajun menggendong Gadis seperti anak koala. Tubuh Gadis terasa menempel dengan sempurna di tubuh Ajun, bahkan bokongnya terasa diremat dengan kencang.


Ajun hanya tersenyum mendengar nada protes dari Gadis, saat ini Ajun merasa begitu senang karena dia bisa bersama dengan wanita yang dia suka.


Bahkan Ajun baru pertama kalinya merasakan begitu bahagia bisa bersama dengan seorang wanita, dulu saat Ajun mencintai wanita untuk pertama kalinya rasanya tidak sebahagia ini.


Namun setelah mengenal Gadis, mengenal wanita yang begitu bar-bar dan berkelakuan nyeleneh, membuat Ajun merasa sangat bahagia.


Bahkan setelah mengenal Gadis, Ajun pun mulai bisa tersenyum kembali. Dia merasa kembali hidup seperti dahulu, dia merasa hidupnya terasa berwarna setelah mengenal Gadis.


Dia merasa tak peduli walaupun Gadis seorang wanita yang telah ternoda sekali pun, bagi Ajun itu tidak masalah.


Bukankah dia di perkosa... dia kini menjadi perempuan yang tak suci bukan serta merta karena sengaja menjajakan tubuhnya. Dia, hanya korban.


Ya...semua itu karena keterpaksaan, dia tak bis menghindar atau pun melawan. Dia hnya bisa pasrah dan menerima semuanya walau dengan berat hati


"Jangan teriak-teriak! Nanti aku lepas," canda Ajun.


Gadis langsung menatap Ajun lekat dan memelototkan matanya, dia benar-benar takut dan juga kesal saat ini.


"Ngga lucu, Om. Gadis takut," ucap Gadis.


"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti kamu. Justru aku akan...."


"Apa!?" tanya Gadis ketus.


"Aku akan membuat kamu bahagia," ucap Ajun.


Gadis langsung terdiam, dia sedang mencerna ucapan Ajun. Lalu Gadis pun menenggelamkan wajahnya di pundak Ajun.


"Kamu terlalu baik untuk aku, Om. Aku engga pantes buat kamu, lelaki sempurna sepertimu bisa mendapatkan wanita yang lebih segalanya dari Aku." Gumam Gadis dalam hati.


Ajun langsung membawa Gadis dari ruangan tersebut, lalu dia pun meminta kepada salah satu anak buahnya untuk mengantarkan Ajun kedalam ruangan di mana Danish disekap.


Dengan senang hati anak buah Ajun pun langsung menunjukkan di mana letak ruangan Danish disekap, ternyata Danish disekap di sebuah ruangan sempit yang berada di gedung terbengkalai tersebut .


Dia terlihat duduk tak sadarkan diri di sebuah bangku besi dengan kondisi tangan dan kakinya diikat dengan sangat kencang, Ajun pun menurunkan Gadis dari pangkuannya dan mendudukkan dia di salah satu bangku yang disiapkan oleh anak buahnya.


Lalu Ajun pun menghampiri Danish dan memperhatikan keadaannya, Danish nampak menghawatirkan.


Di pipinya bahkan terlihat bekas tamparan dan disudut bibirnya pun terlihat berdarah.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Ajun.


"Dia memberontak terus, Bos. Bahkan dia berteriak-teriak terus, udah terikat seperti itu aja dia masih sok berkuasa. Bahkan dia masih saja mengancam kami dengan kekuasaan Dadnya." Ucap jelas salah satu anak buah Ajun.


"Lalu, kenapa dia bisa pingsan begini?" tanya Ajun.


"Sorry, Bos. Kami membekapnya dengan saputangan yang dia pakai untuk membekap Nona Gadis," ucap salah satu Bodyguard tersebut


Ajun pun langsung tertawa, lalu dia meminta salah satu anak buahnya untuk membawakan seember air untuknya.


"Robert! Tolong ambilkan seember air kesini," pinta Ajun.


Awalnya Robert terlihat mengernyitkan dahinya, dia bingung kenapa Ajun meminta dirinya untuk mengambilkan seember air.


Kalau misalkan memang Bosnya itu mau mandi, kenapa tidak ke kamar mandi saja? Kenapa malah meminta seember air yang bahkan untuk cebok pun rasanya akan kurang?


Namun tetap saja Robert tak bisa membantah, dia pun segera mengiyakan keinginan Bosnya itu.


"Siap, Bos," jawab Robert.


Dengan cepat robert pon keluar dari ruangan tersebut dan tak lama kemudian, dia pun kembali dengan membawa seember air yang diminta oleh Ajun.


Ajun terlihat tertawa senang, kemudian dia meminta Robert untuk menyimpan air tersebut tepat di depan Danish.


Tanpa Robert duga, Ajun langsung mengambil air tersebut dan menyiramkannya ke arah Danish yang sedang tidak sadarkan diri.


Saat air menyentuh permukaan kulitnya, Danish langsung gelagapan. Dia langsung tersadar dan langsung menatap Ajun dengan sangat lekat.


"Siapa elu, bangsad!? Berani banget elu nyiram gue?!" tanya Danish.


Ajun tak menjawab, dia hanya diam sambil memperhatikan lelaki muda yang ada di hadapannya.


Dia terlihat sangat pemarah, egois, sok berkuasa, arogant dan sangat menyebalkan.


"Woy! Ngapain elu diem aja? Lepasin gue bangsad! Kalau berani jangan ngiket gue kaya gini, kita tarung satu lawan satu!" ucapnya lantang menantang pria perkasa di depannya.


Ajun tersenyum smirk, dilihat dari ukuran badannya saja tentu lebih tinggi Ajun. Bahkan Ajun yang memang sering nge-gym mempunyai bentuk tubuh yang bagus dan masa otot yang sempurna.


Badan Danish memang terlihat tak gemuk, dia seperti terlihat sering olah raga. Tentunya olah raga yang dia jalani adalah olah raga di atas kasur.


"Robert!" panggil Ajun.


"Ya, Bos." Robert menghampiri Ajun dan membungkuk hormat padanya.

__ADS_1


"Lepaskan ikatannya!" titah Ajun.


"Tapi, Bos--"


Sorot mata Robert penuh dengan tatapan protes, namun titah Ajun tak bisa dibantah. Dengan berat hati, Robert pun langsung membuka ikatan tangan dan kaki Danish.


Saat ikatannya terlepas, Danish langsung bangun dan menatap wajah Ajun dengan angkuh. Dia tidak menyadari jika tak jauh darinya ada Gadis yang sedang duduk sambil memperhatikan wajah sombongnya.


"Elu udah berani sekep gue, gue pastiin hidup lu enggak bakal selamat!" ancam Danish. Elu belum tahu kan siapa bokap gue? Dia adalah pejabat yang paling berkuasa di kota B, orang seperti elu nggak ada apa-apanya. Bentar lagi elu juga mampuss!" kata Danish lagi.


Ajun hanya tersenyum sambil memandangi wajah Danish yang begitu pongah, Danish yang mendapatkan tatapan seperti itu dari Ajun merasa tak terima, dia langsung menyerang Ajun dengan membabi buta.


Namun, Ajun terlihat sangat tenang dan terlihat terus menangkis setiap pukulan yang dilayangkan kepadanya.


Semakin lama Danish memukul Ajun, tapi tak satupun yang mengenai bagian tubuh dari Ajun. Danish pun terlihat sangat kesal, dia bahkan sampai mengambil kursi yang sempat dijadikan untuk menyandera dirinya.


Dia hendak menghantamkan kursi tersebut kepada tubuh Ajun, namun dengan cepat para Bodyguard mencegah hal tersebut.


Mereka langsung mengambil bangku dari tangan Danish dan juga menarik tubuhnya, Danish terlihat meronta.


Dia terus saja merangseg ingin memukuli Ajun, padahal sedari tadi pukulannya pun tak ada yang mengenai tujuh tubuh Ajun, Ajun hanya tersenyum lalu dia pun berkata.


"Danish Sastra Wijaya, anak pejabat bernama Beno Alif Wijaya. Dia sudah sering melakukan skandal dengan bacak perempuan, namun dia selalu saja bisa menutupi semuanya dengan uang. Aku bisa saja menjatuhkan karir orang tuamu dalam satu jentikan tangan," Ajun tersenyum sambil memandang rendah ke arah Danish.


Danish terlihat menelan salivanya dengan sangat susah, bagaimana bisa lelaki di hadapannya mengetahui tentang kebusukan dari Dadnya, pikirnya.


"Kamu tahu Danish? Dad kamu bukan hanya suka melakukan hubungan intim dengan para wanita yang dia jadikan budak sekssnya, namun dia juga suka memvideokan perbuatan asusilanya dan selalu dia putar saat dia sedang memiliki waktu luang." Ajun terlihat menghampiri dan menunjuk wajahnya.


Danish terlihat ketakutan, dia baru sadar jika dengan berurusan dengan pria di hadapannya bisa membuatnya dan juga keluarganya hancur seketika.


"Aku adalah seorang peretas hebat, aku bisa dengan mudah meretas video asusilanya milik Dadmu dan menyebarkannya ke ranah publik. Namun, aku masih berbaik hati jika kamu mau dan bersedia untuk tidak mengganggu Gadis lagi." Ajun menunjuk wajah Danish.


"Namun, bila kamu menolak. Aku tidak masalah, kamu tinggal memilih mau hancur dengan cara apa," lagi Ajun berucap.


Danish benar-benar terlihat ketakutan, nyalinya kini menciut. Lelaki arogan itu tak bersuara sama sekali, tubuhnya terlihat bergetar bahkan jangankan untuk memukul atau menghajar Ajun seperti tadi, untuk berucap pun bibirnya terlihat bergetar.


"Apa yang akan kamu pilih?!" tanya Ajun tegas.


+


+


+

__ADS_1


Malam kesayangan, untuk menemani kaleyan yang tak bisa bobo aku buatin satu bab lagi. Jangan lupa likenya ya, koment sama hadiahnya juga. Sukses selalu buat kita semua 😘😘😘😘😘


__ADS_2