Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Meminta Izin


__ADS_3

Pukul sebelas siang Ajun, Gadis dan juga Pak Galuh telah sampai di kota B. Pak Galuh langsung turun terlebih dahulu untuk membeli bunga, sedangkan Ajun masih duduk sambil menatap wajah Gadis yang masih terlelap.


"Kau baru tahu kalau setiap pergi jauh kamu pasti akan tertidur, pantas saja dulu juga kamu tidur dan sangat susah untuk dibangunkan." Ajun langsung menoel hidung bangir Gadis.


Namun dia tetap saja terlelap, Ajun pun tertawa. Kalau saja bukan mau ke kuburan almarhumah ibunda Gadis, pasti Ajun akan mengerjai Gadis.


Ajun lalu mendekatkan wajahnya, dia lalu berbisik tepat di telinga Gadis. Dia ingin sedikit mengerjai wanitanya.


"Bangun, Sayang. Kalau tetap tidur seperti itu, aku yakin aku akan meniduri kamu saat ini juga." Ajun menggigit kecil cuping telinga Gadis.


Gadis yang merasa terganggu langsung bangun, dia langsung berteriak karena melihat wajah Ajun yang seakan tak berjarak dengannya.


"Aaaaaaa, Om ngapain?" tanya Gadis.


Beruntung mobil Ajun kedap suara, kalau tidak, sudah dapat dipastikan akan bajyak orang yang datang ke sana.


Secara di sana banyak tukang kembang dan juga banyak pedagang minuman yang menjajakan dagangannya.


"Jangan teriak, aku belum ngapa-ngapain kamu." Ajun terlihat mengerling nakal, sedangkan Gadis terlihat salah tingkah.


Ajun langsung turun, lalu dia pun segera membukakan pintu mobilnya untuk Gadis.


"Silakan turun, tuan puteri." Ajun membungkuk hormat dengan tangan kanan di dadanya.


"Terima kasih, Om. Udah sampai ya?" tanya Gadis seraya mengedarkan pandangannya.


Sejauh mata memandang, hanya ada gundukan tanah yang ditancapkan batu nisan dengan tulisan sang pemilik jasad.


"Di mana, Bapak?" tanya Gadis.


"Tuh!" tunjuk Ajun pada Pak Galuh yang mendekat ke arah mereka.


Gadis langsung tersenyum kearah Bapaknya saat dia semakin dekat dengan membawa bunga di tangannya, Pak Galuh pun mebalas senyuman Gadis.


"Biar Gadis yang bawa, Pak." Gadis langsung mengambil bunga tersebut dari tangan Pak Galuh.


Pak Galuh langsung tersenyum, lalu dia mengelus lembut tangan Gadis.


"Ayo, Neng. Nanti keburu panas." Ajak Pak Galuh.


"Iya, Pak." Gadis langsung menggandeng tangan Pak Galuh.


Ajun langsung mendengus kala melihat Gadis yang malah lebih memilih untuk menggandeng tangan Pak Galuh, padahal dia sudah mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Gadis hanya tersenyum saat melihat wajah Ajun yang terlihat di tekuk, namun. walaupun seperti itu, Ajun tetap mengikuti langkah Gadis dan pak Galuh.


Saat mereka sudah dekat dengan kuburan Intan, Pak Galuh terlihat menghentikan langkahnya. Karena di sana ada seorang pria yang sedang duduk sambil mengelus batu nisan bertuliskan Intan Permata.


"Pak, itu siapa?" tanya Intan.


"Sepertinya itu Tuan Alfonso," tebak pak Galuh saat melihat perawakan dari Tuan Alfonso.


Gadis langsung menatap Ajun, dia seolah makin enggan untuk bertemu dengan Ayah kandungnya itu.


Ajun langsung merangkul pundak Gadis dan mengelus lembut punggungnya.


"Jangan pernah menghindar, itu bukan solusi. Walau kamu berlari menjauh, tetap saja kenyataannya Tuan Alfonso tetap Ayah kamu." Ajun mencoba menguatkan wanita yang kini tengah memenuhi relung hatinya.


"Tapi--"


"Hadapi, Sayang. Aku tahu kamu bisa, temui dia. Jangan membuat hati orang tua kamu terluka," ucap Nasehat Ajun.


"Tapi, Om harus nemenin Gadis terus," ucap Gadis.


"Memangnya aku mau kemana?" tanya Ajun.


"Takutnya Om ninggalin aku," kata Gadis.


Ajun juga menatap Pak Galuh, lalu dia tersenyum seolah memberikan kekuatan pada lelaki paruh baya tersebut.


"Ehm," Pak Galuh terlihat berdehem tepat di belakang Tuan Alfonso.


Tuan Alfonso terlihat menyeka air matanya, lalu dia pun membalikkan tubuhnya dan menatap Ajun, Gadis dan juga pak Galuh secara bergantian.


Tak lama kemudian, Tuan Alfonso pun bangun dan dia berdiri tepat di hadapan Gadis. Tanpa diminta, air matanya luruh begitu saja.


Dia begitu Ingin memeluk buah cintanya bersama dengan Intan Permata, wanita yang sangat dia cintai. Namun, dia sangat takut mendapatkan penolakan dari Gadis.


Tuan Alfonso hanya memandang Gadis dengan air mata yang berurai tiada hentinya, pak Galuh bisa merasakan betapa rindunya Tuan Alfonso terhadap putrinya tersebut.


Ajun pun bisa merasakan, betapa besar rasa cinta dan kasih sayang Tuan Alfonso terhadap Gadis. Ajun juga bisa melihat penyesalan yang begitu besar di mata tuhan Alfonso.


Pak Galuh dan juga Ajun langsung mengelus lembut lengan Gadis secara bersamaan, Gadis menatap Ajun dan pak Galuh secara bergantian.


Dia seakan meminta persetujuan, dia seakan meminta pendapat apa yang harus dilakukan saat ini. Ajun dan pak Galuh serentak menganggukkan kepalanya, Gadis pun yang ingin merasakan hangatnya pelukan dari ayah kandungnya langsung menghambur ke pelukan Tuan Alfonso.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Tuan Alfonso langsung mendekap tubuh Gadis dengan erat. Dia menangis sesenggukan sambil memeluk erat putrinya.

__ADS_1


"Intan, Sayang. Maaf karena dulu aku tidak mencari tahu apakah putri kita masih ada atau tiada, maaf karena selama 21 tahun ini aku membiarkan putri kita diurus oleh orang lain. Walaupun aku sangat tahu, jika mereka sangat menyayangi putri kita," ucapkan Tuan Alfonso lirih.


Mendengar ucapan Tuan Alfonso, Gadis semakin terisak di pelukan Ayah kandungnya. Dia bisa merasakan rasa kasih sayang yang begitu besar dari Tuan Alfonso, bahkan hatinya terasa menghangat kala mendengar perkataan dari Tuan Alfonso.


Gadis merasa jika dekapan Tuan Alfonso begitu tulus dari dalam hatinya.


"Maafkan Daddy, Gadis. Karena Daddy dulu terlalu kecewa pada diri sendiri, Daddy terlalu sedih saat mendengar Mom kamu meninggal. Oleh karena itu, Daddy tidak mencari tahu keberadaan kamu," ucap Tuan Alfonso.


"Tak apa, Daddy. Semuanya sudah berlalu," jawab Gadis.


Mendengar ucapan Gadis, rasanya Tuan Alfonso ingin bersorak. Dia ingin menari dan berguling-guling di sana, kala mendengar Gadis memanggilnya dengan sebutan Daddy.


"Oh, Sayang. Terima kasih karena sudah mau memanggil aku dengan sebutan Daddy," ucap Tuan Alfonso


Lelaki paruh baya itu lalu melerai pelukannya, kemudian dia mengecup kening Gadis beberapa kali. Gadis terlihat tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari ayah kandungnya, Ajun dan pak Galuh pun turut senang walaupun ada ketakutan Di hati dua pria tersebut.


"Ehm, Dad. Aku ingin bertemu dengan Mommy," ucap Gadis.


"Mari, Sayang." Tuan Alfonso lalu menuntun Gadis dan mendudukannya di tanah berbalut rumput jepang.


"Apa ini kuburan Mommy?" tanya Gadis.


"Ya, ini tempat peristirahatan terakhir Mom kamu Intan Paramita, wanita cantik yang mampu membuat Daddy jatuh cinta pada pandangan pertama," ucap Tuan Alfonso.


Gadis langsung tersenyum, dia menatap pusara terakhir Momnya. Lalu dia pun menyapa wanita yang telah melahirkannya kedunia.


"Hai Mommy, maaf Gadis baru datang berkunjung. Karena Gadis tak tahu kalau Mommy yang udah lahirin Gadis kedunia ini, Gadis ke sini sama Om Ajun juga Bapak. Di sini juga ada Daddy, lelaki yang Mommy cintai." Gadis melihat ke arah Ajun dan pak Galuh secara bergantian.


Ajun dan pak Galuh pun langsung menghampiri Gadis dan duduk tepat di hadapan Gadis.


"Hai, Nyonya. Namaku Ajun, aku sangat menyukai Gadismu, bolehkah aku meminangnya? Aku berjanji akan mencintainya seumur hidupku, menyayanginya dan membahagiakan Gadismu seumur hidupku." Ajun membuktikan ucapannya.


"Ya Tuhan, Sayang. Dia tak meminta izin padaku," ucap Tuan Alfonso.


Tuan Alfonso berpura-pura merajuk, dia terlihat menekuk wajahnya. Gadis langsung tertawa dibuatnya, sedangkan Ajun terlihat salah tingkah.


"Om!" ucap Gadis memekik.


"Ah, iya." Ajun. lalu menghampiri Tuan Alfonso, lalu dia pun langsung mengutarakan maksudnya.


"Saya ingin melamar anak Tuan, bolehkah?" tanya Ajun dengan bibir bergetar antara takut dan malu.


"Memangnya seperti ini melamar wanita?" tanya Tuan Alfonso.

__ADS_1


"Ah, sebentar." Ajun langsung berlari menuju mobilnya berada.


__ADS_2