
Danish benar-benar terlihat ketakutan, nyalinya kini menciut. Lelaki arogan itu tak bersuara sama sekali, tubuhnya terlihat bergetar bahkan jangankan untuk memukul atau menghajar Ajun seperti tadi, untuk berucap pun bibirnya terlihat bergetar.
"Apa yang akan kamu pilih?!" tanya Ajun tegas.
Tubuh Danish terlihat lemas, saat anak buah Ajun melepasnya. Tubuh Danish langsung luruh ke atas lantai yang terlihat sangat kotor.
Ajun langsung menghampiri Danish dan berdiri dengan angkuh sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Jadi... masih bisa berbicara asal lagi? Atau, mau segera mengambil pilihan?" tanya Ajun lagi.
Danish terlihat mendongakkan kepalanya, dia terlihat mengiba pada Ajun lewat tatapannya.
"Aku akan membiarkan kamu hidup tenang, tentunya dengan satu syarat. Pergilah dari kota ini, jangan pernah berani menyentuh Gadis walau hanya seujung kukunya saja. Jika kau berani melanggar aturanku, jangan salahkan aku jika hidupmu dan juga kedua orang tuamu akan hancur dalam sekejap mata." Ajun langsung memperingatkan Danish agar tak berani lagi menyentuh wanitanya.
Tanpa Ajun duga, Danish langsung bersujud di kaki Ajun dia menangis dan mengiba. Tak ada lagi Danish yang arogan, dia sudah seperti terpidana yang meminta ampunan.
"Ampuni saya, Tuan. Saya janji akan segera pergi dari kota ini, jangan apa-apakan saya dan keluarga saya." Danish langsung memeluk kaki Ajun, hal itu membuat Ajun risih.
Dia langsung menghempaskan tubuh Danish dan memundurkan tubuhnya, dia tak sudi kakinya tersentuh oleh lelaki arogan itu.
"Robert!" panggil Ajun.
"Ya, Bos." Robert langsung menghampiri Ajun dan membungkuk hormat.
"Bawa dia dari sini, segera ajak dia pergi dari kota ini. Dampingi terus sampai dia tiba di kota asalnya, tugaskan juga anak buah kita untuk memantau terus kegiatannya. Jika ada yang mencurigakan, segeralah lakukan tindakan!" ucap Ajun tegas.
Ada perasaan lega dan juga rasa takut yang menghinggapi hati Danish saat ini, namun dia masih merasa bersyukur kala diberikan ampunan.
Itu tandanya dia masih bisa menikmati kehidupannya, dan tentunya dia masih bisa menjalani kehidupannya walau tanpa Gadis.
"Siap, Bos!" ucap Robert.
Ajun lalu melangkahkan kakinya menuju tempat Gadis duduk, dia langsung menautkan tangannya dan mengajak Gadis untuk menghampiri Danish.
Danish terlihat kaget saat melihat Gadis yang berada di sana juga, dia tidak menyangka jika Gadis sekarang dilindungi oleh lelaki seperti Ajun.
Namun kembali lagi, dia pun merasa bersyukur karena dirinya dibebaskan walaupun dengan syarat.
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Ajun.
Gadis langsung menganggukkan kepalanya beberapa kali, memang ada yang sangat ingin dia sampaikan kepada Danish saat ini.
__ADS_1
"Gue harap setelah ini kita tidak akan bertemu lagi, dan gue harap walaupun suatu saat kita bertemu di mana pun, elu menganggap gue sebagai orang yang enggak pernah elu kenal," ucap Gadis.
Mendengar ucapan Gadis, Danish sebenarnya merasa keberatan. Karena menurutnya suatu saat kalau misalkan mereka bertemu, dia ingin hubungan mereka seperti dulu lagi.
Seperti saat mereka baru saling mengenal sebelum mereka pernah merasakan yang namanya pacaran, namun Danish tidak bisa menolak.
Apa lagi saat melihat tatapan mata Ajun yang begitu tajam, akhirnya dengan berat hati Danish pun langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah, aku setuju. Maaf, karena selama ini aku udah egois." Kembali Danish tertunduk menatap lantai marmer yang terlihat kotor dan berdebu.
Gadis dan Ajun pun langsung tersenyum setelah mendengar ucapan dari mulut Danish, Ajun pun meminta anak buahnya untuk segera mengantarkan Danish ke kota asalnya malam itu juga.
"Antarkan dia segera," ucap Ajun.
"Siap, Bos!" jawab Robert.
Danish pun diantar Kembali menuju kota asalnya saat itu juga, Gadis dan Ajun pun bisa bernapas lega. Kemudian Ajun pun mengajak Gadis untuk segera pulang, karena Pak Galuh pasti sudah menunggu mereka dengan cemas.
"Kita pulang," ajak Ajun.
"Iya, Om." Gadis mulai melangkahkan kakinya, namun baru saja dua langkah Ajun sudah menggendong Gadis.
Semua anak buah Ajun yang ada di sana nampak menundukkan kepala mereka, mereka tak berani untuk melihat kemesraan Bosnya itu.
"Diamlah!" ucap Ajun.
Gadis pun menurut, tapi dia merasa malu kala melihat banyak anak buah Ajun di sana. Walaupun dari mereka tak ada yang berani melihat ke arahnya.
Gadis pun memeluk Ajun dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ajun, Ajun langsung menyunggingkan senyumnya kala melihat Gadis yang nampak malu-malu.
Ajun langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Pak Galuh, walaupun dia ingin sekali membawa Gadis ke rumahnya.
Namun, dia sangat tahu dengan pasti, jika Pak Galuh pasti sangat menghawatirkan putrinya, Gadis.
Pukul sepuluh malam mereka pun tiba di kediaman Pak Galuh, lelaki paruh baya itu nampak sedang berdiri di pinggir jalan.
Dia terlihat sangat bahagia saat melihat Ajun yang membawa Gadis di dalam gendongannya, dia merasa berhutang budi pada Ajun.
"Langsung di bawa ke dalam saja," ucap Pak Galuh.
Pak Galuh langsung membukakan pintu kamar Gadis, Ajun pun dengan cepat masuk dan merebahkan tubuh Gadis di atas ranjang single berwarna pink.
__ADS_1
Pak Galuh seakan mengerti jika mereka butuh waktu untuk bicara, pak Galuh pun langsung berpamitan untuk keluar dari dalam kamar Gadis.
"Neng, Bapak keluar dulu," pamit Pak Galuh.
"Iya, Pak." Jawab Gadis disertai anggukkan.
Setelah kepergian pak Galuh, Gadis nampak duduk dan menyandarkan tubuhnya.
"Terima kasih, ya, Om. Om baik banget sama Gadis," ucap Gadis tulus.
"Sama-sama," ucap Ajun.
Ajun terlihat asyik memandang wajah Gadis, entah kenapa dia begitu suka melihat wajah Gadis. Bahkan rasanya dia tak ingin berpisah dari Gadis.
"Om, ini udah malem. Emangnya Om ngga mau pulang?" tanya Gadis.
"Kamu ngusir aku?" tanya Ajun.
"Bukan, Om. Mana berani Gadis usir, Om." Gadis terlihat mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
"Kamu ngga mau ngasih aku sesuatu gitu?" tanya Ajun.
Gadis nampak mengernyitkan dahinya, dia memandang wajah Ajun dengan lekat.
"Om minta upah?" tanya Gadis.
Ajun langsung menganggukkan kepalanya, "Iya."
Gadis terlihat langsung memukul lengan kekar Ajun, "iissh... Om tega, Gadis ngga punya uang buat ngupahin, Om."
"Ck! Aku tidak butuh uang, aku mau yang lain," jawab Ajun.
"Mau apa?" tanya Gadis bingung.
Ajun tak menjawab, dia langsung merapatkan tubuhnya. Lalu tangan kanannya menekan punggung Gadis, sedangkan tangan kirinya nampak menarik tengkuk leher Gadis.
Tanpa Gadis duga, Ajun langsung menautkan bibirnya. Gadis langsung melotot tak percaya, dia tak menyangka jika Ajun akan menciumnya.
Ajun tersenyum saat melihat reaksi Gadis, lalu Ajun pun mengusap mata Gadis agar menutup. Saat ini Ajun ingin sekali menikmati bibir tipis Gadis.
Cukup lama Ajun bermain dengan bibir Gadis, hingga beberapa detik kemudian. Gadis yang awalnya hanya diam saja, langsung membalas ciuman Ajun.
__ADS_1
Tangan kanan Gadis bahkan sudah naik dan mengelus rahang tegas Ajun, sedangkan tangan kirinya mencengkram kerah baju yang Ajun pakai.
Hal itu membuat Ajun menginginkan hal yang lebih, namun dengan cepat Ajun menepisnya.