
Sudah satu bulan Melani tinggal di rumah barunya yang sederhana namun terlihat asri dan begitu nyaman, kedua buah hatinya pun terlihat begitu senang dengan rumah baru mereka.
Melani bahkan mewujudkan semua yang ada di pikirannya, dia membuat taman mini di belakang rumah lengkap dengan mainannya.
Di depan rumahnya, dia tanami tanaman hias yang terlihat memanjakan mata. Banyak bunga yang selalu menyegarkan udara di sekitar rumahnya, banyak warna bunga yang dia tanam.
Mulai dari merah, putih, kuning dan juga ungu nampak memenuhi halaman depan rumahnya.
Setiap pukul tujuh pagi dia akan mengantar Merisaa sekolah dengan berjalan kaki, pukul delapan dia akan pergi ke Caffe untuk mengais rezeky.
Awalnya, Melani ingin mempekerjakan asisten rumah tangga untuk menjaga Fajri dan juga Merissa di saat dia bekerja.
Setidaknya, agar ada orang yang menjaga kedua buah hatinya di saat dia bekerja sampai dia pulang kembali.
Namun ternyata, Nyonya Mesti tidak mengizinkan. Nyonya Mesti malah menawarkan diri untuk mengasuh kedua cucunya, dia rela tanpa dibayar yang penting Melani tak memisahkan dirinya dengan kedua cucunya tersebut.
Sebenarnya dia merasa tak enak hati, karena walau bagaimanapun juga Nyonya Mesti adalah mantan mertuanya.
Namun sayangnya, Melani pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena dia tahu, jika dia tidak berhak untuk memberi jarak antara cucu dan neneknya tersebut.
Setiap pukul delapan pagi, Nyonya Mesti akan datang untuk menemani Fajri. Melani pun bisa tenang untuk berangkat bekerja, karena meninggalkan putranya bukan dengan orang lain.
Akan tetapi dengan neneknya sendiri, bahkan Nyonya Mesti selalu menjemput Merrisa saat pulang sekolah.
Dia akan berjalan dengan menuntun Fajri menuju sekolah Merissa, di saat Melani berkata jika Nyonya Mesti tak perlu menjemput pitrinya, dia selalu berkata.
"Mamah suka melakukannya, selain untuk membahagiakan cucu, Mamah, namun ini juga demi kesehatan Mamah. Hitung-hitung olah raga," ucapnya.
Sekali lagi, Melani pun pas hanya bisa pasrah. Karena walau bagaimanapun juga, mantan mertuanya itu sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.
Selama satu bulan itu, Melani pernah mendapatkan satu kali panggilan dari pengadilan agama.
Dia diharuskan mediasi bersama dengan Aldino, namun Melani tetap pada keputusannya yang ingin bercerai dari lelaki yang pernah menjadi sumber kebahagiaannya tersebut.
Katakanlah Melani kejam, walaupun Aldino sudah memohon-mohon. Bahkan dia sampai bersujud di kaki Melani, namun Melani yakin jika Aldino pasti akan melakukan kesalahan yang sama jika dia kembali lagi kepada Aldino.
Dia pun tidak tahu kenapa, apa alsannya. Namun, di hatinya dia begitu meyakini akan hal itu.
Bahkan ketika Aldino memohon ampun kepadanya pun, dia seolah tidak mendapatkan ketulusan di matanya Aldino.
Hanya ada rasa gengsi sebagai lelaki karena tidak bisa mempertahankan rumah tangganya, bahkan saat Aldino berkata.
__ADS_1
"Tolong maafkan aku, Sayang. Aku janji, aku tidak akan pernah menyakitimu lagi dan kedua buah hati kita. Aku janji akan memperlakukan kalian dengan sangat baik, tolong kasih aku kesempatan," ucap Aldino memelas seraya menatap mata Melani.
Melani menatap dalam-dalam mata lelaki yang telah begitu mengecewakan dirinya, tapi Melani ta menemukan ketulusan di mata itu.
Melani pun akhirnya bertekad untuk bercerai dari Aldino, apa pagi kini Merissa pun seperti sudah mengerti akan keputusan yang dia ambil.
"Sudah sore, Mel. Elu pulang saja, Caffe gue yang handle," kata Reni.
Selalu saja Reni bersikap dengan sangat baik kepada Melani, dia merasa tak enak hati. Namun dia juga sangat berterima kasih kepada temannya tersebut.
Reni selalu terlihat tulus dalam membantu Melani, bahkan dia selalu menawarkan Melani untuk tinggal bersama dengan dirinya rumahnya.
Namun dia selalu menolak, karena walau bagaimanapun, rumah sendiri biar pun kecil namun terasa nyaman.
pukul lima sore, Melani sudah sampai di depan rumahnya. Melani langsung turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
Saat dia masuk, dia merasa heran karena rumahnya terasa sepi. Bahkan setelah menyisiri setiap ruangan yang ada di dalam rumahnya, dia tak menemukan kedua buah hatinya dan juga mertuanya.
"Mah, Mamah di mana?" teriak Melani.
Tak ada sahutan, Melani nampak keluar dari dalam rumahnya. Tak jauh dari sana dia bertemu dengan Andrew, tetangganya yang ternyata hanya terhalang tiga rumah saja dengan dirinya.
Bedanya, rumah milik Andrew terlihat lebih besar. Karena dia tinggal bersama dengan ibu dan juga adik perempuannya.
Dia akan terlihat sangat manis saat berada di rumahnya, namun dia akan terlihat dingin dan jarang bicara saat di kantor.
"Ehm, selamat sore." Melani terlihat menyapa Andrew dengan ragu.
"Eh, Mbak Melani. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Andrew sopan.
"Em, itu. Saya sedang mencari--"
"Mereka ada di taman komplek," jawab Andrew seakan tahu dengan apa yang akan ditanyakan oleh Melani.
"Eh? Em, terima kasih," kata Melani.
Andrew tak menjawab, dia hanya tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
Setelah mengetahui di mana kedua buah hatinya dan juga mertuanya berada, Melani pun langsung berjalan menuju taman kompleks.
Tiba di sana, dia melihat ada Aldino yang sedang mencoba membujuk Fajri. Dia terlihat ingin menggendong putranya, namun Fajri malah bersembunyi di balik tubuh Nyonya Mesti.
__ADS_1
Melani merasa sangat wajar, jika Fajri terlihat ketakutan saat melihat ayahnya sendiri. Karena memang, Aldino benar-benar jarang sekali menyempatkan waktu hanya untuk sekedar menyapa putra mereka tersebut.
Berneda dengan Merrisa yang terlihat sedang asik memakan camilan, sambil duduk di bangku taman.
Melani dengan ragu-ragu melangkahkan kakinya untuk menghampiri mereka, saat menyadari kedatangan Melani, Fajri langsung berlari dan memeluk Melani dengan erat.
"Buna! I miss you," ucap Fajri dengan gayanya yang terlihat menggemaskan.
"Miss you too," ucap Melani seraya mengecup lembut keningnya.
Aldino terlihat tersenyum, lalu dia pun menghampiri Melani.
"Mel, kamu sudah pulang?" tanya Aldino.
"Sudah, Mas tumben kesini?" tanya Melani.
"Kangen sama anak-anak, sekalian mau jemput Mamah juga," jawabnya.
"Oh," hanya itu kata yang terucap dari bibir Melani.
"Oh iya, Sayang. Karena kamu sudah pulang, Mamah pamit pulang," kata Nyonya Mesti.
Dia sengaja berpamitan kepada Melani untuk pulang, karena Nyonya Mesti bisa melihat ketidaknyamanan dari Melani saat bertemu dengan Aldino.
Nyonya Mesti pun sangat paham, jika Melani pasti sangat sakit hati dengan perlakuan dari putranya tersebut.
Kalau saja Aldino bukan putra kandungnya, Nyonya Mesti pun sudah tak ingin lagi ber tegur sapa dengan dirinya.
"Kenapa buru-buru sekali, Mah?" tanya Melani.
"Ada yang harus Mamah kerjakan, Sayang. Mama pulang sekarang, ya? Ayo, Al." Ajak Nyonya Mesti kepada Aldino.
Aldino terlihat keberatan, dia masih terlihat ingin bersama dengan kedua buah hatinya dan juga Aldino terlihat ingin lebih dari sekedar menyapa Melani.
Namun, dia juga tak mungkin mengabaikan ajakan dari ibunya tersebut.
"Baiklah, aku pulang dulu ya, Mel," ucap Aldino.
Aldino terlihat memiringkan wajahnya, dia mengecup pipi Fajri dengan sayang, dan tanpa Melani duga Aldino pun mengecup pipi Melani.
Dia terlihat sangat kaget saat Aldino melakukan hal itu kepada dirinya, ingin sekali dia memarahi Aldino.
__ADS_1
Namun, itu tak mungkin dia lakukan karena ada kedua buah hatinya dan juga nyonya Mesti di sana.