Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Kembali Bersama


__ADS_3

VB terlihat sangat bahagia, senyum di bibirnya kian mengembang. Dia sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan istrinya, VB langsung meminta izin pada Mom'nya untuk menemui Dina di kamar tamu.


Tentu saja Nyonya Miranda mengizinkan, dia tak tega melihat wajah putranya yang terus mendung. Tentunya dengan catatan, jangan memaksakan kehendak pada istrinya.


Apa lagi Dina saat ini sedang sakit, apa jadinya nanti kalau VB terus memaksakan kehendaknya. Bisa-bisa Dina mengundurkan diri jadi istrinya VB.


"Sayang," panggil VB.


VB membuka pintu kamar tamu dengan perlahan, saat dia melihat istrinya yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya, VB langsung duduk dan memeluk Dina dengan erat.


Tak lupa, VB pun melabuhkan ciuman di setiap inci wajah istrinya. Tentunya, dia juga menautkan bibirnya dengan mesra. Padahal baru satu hari satu malam mereka berpisah, rasanya sudah satu abad.


"Mas, udah pulang?" tanya Dina basa-basi, tentunya setelah VB melepaskan tautan bibirnya.


Padahal Dina tahu jika VB sudah pulang dari tadi, bahkan VB melamun di taman belakang pun Dina sangat tahu. Dia hanya tak mau saja, jika suaminya itu akan tersinggung.


"Udah, Sayang. Mas kangen banget," VB kembali mengecupi wajah istrinya.


"Mas bau ih, mandi dulu gih." Dina melerai pelukannya, membuat VB langsung terlihat kesal.


Dia sudah terpisah dari istrinya, bahkan semalaman dia susah tidur karena tak ada kehangatan dari istri cantiknya itu.


"Masih kangen, Yang." Ucap VB manja.


Dina tersenyum lalu menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi suaminya, dia pun mengecup bibir VB beberapa kali.


"Iya, aku tahu. Sekarang Mas'nya mandi, mau disiapkan air hangat ngga?" tanya Dina.


Wajah VB yang sedari tadi terlihat di tekuk, langsung terlihat bersemangat. Bahkan dia terlihat sangat bersemangat.


"Mau..." jawab VB cepat.


VB langsung merangkul pundak istrinya dan membawanya ke dalam kamar mereka, VB sangat senang bisa kembali satu kamar dengan Dina.


Setidaknya, walaupun VB tak bisa memasuki tubuh istrinya dia masih bisa bersama dengan istrinya itu. Saling memeluk dan saling mencurahkan kasih sayang.

__ADS_1


Sampai di dalam kamar, VB langsung melepaskan setiap benang yang melekat di tubuhnya. Sedangkan Dina langsung menuju kamar madi, lalu menyiapkan air hangat untuk suami brondongnya itu.


"Mas..." Desahh Dina saat VB memeluk dan mengecupi pundaknya.


"Mas rindu, tapi ngga bisa masuk. Kamunya keluar aja, nanti aku'nya khilaf." VB membalikan tubuh istrinya lalu menciumnya dengan mesra.


"Aku keluar dulu," ucap Dina setelah melepaskan tautannya.


"Ya," jawab singkat VB.


VB langsung masuk kedalam bathup, dia merendam tubuh lelahnya dengan air hangat. Rasanya begitu menenangkan. Sedangkan Dina, langsung masuk ke dalam walk-in closet untuk menyiapkan baju ganti untuk VB.


VB terlihat sangat bahagia, bahkan di sela acara mandinya dia terus saja bersiul. Hal itu menandakan jika dirinya merasa sangat senang karena bisa kembali bersama dengan istrinya.


Berpisah satu hari saja kehidupannya terasa sangat kacau, apalagi kalau dia ditinggalkan lama oleh istrinya, dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada dirinya.


Setelah selesai dengan acara mandinya, VB dan Dina langsung keluar untuk makan malam. Lalu dilanjutkan dengan menikmati teh hangat dan juga camilan di balkon kamar mereka.


VB benar-benar melaksanakan janjinya, dia tidak berbuat macam-macam terhadap istrinya. Dia hanya berani memeluk dan mencium istrinya saja, dia seakan benar-benar takut kehilangan, dia takut akan terjadi sesuatu kepada istrinya jika dia terlalu memaksakan kehendaknya.


Jika VB sudah tak terlihat bahagia, berbeda dengan Gia yang masih merana. Dia harus tetap tiduran sepanjang hari dia di dalam kamarnya. Akan tetapi, malam ini Gia merasa jika tubuhnya terasa lebih segar.


Perutnya pun mulai merasa lapar, akan tetapi bukan makanan yang mengenyangkan yang dia inginkan saat ini. Akan tetapi, dia menginginkan rujak yang berasa sangat pedas.


Tentu saja Elsa kebingungan, pasalnya ini sudah malam dan waktu sudah menunjukkan pukul 10. Di mana dia harus mencari tukang rujak?


Elsa pun menjadi serba salah, karena Gia seakan tidak mengerti. Dia benar-benar merengek tanpa henti seperti anak kecil yang meminta dibekukan mainan oleh ibunya.


"Yang, aku mau rujak mangga." Gia memeluk lengan Elsa sambil terisak.


Elsa mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, dia menjadi bingung harus kemana dia mencari rujak mangga yang Gia inginkan.


"Tapi, Mas. Ini sudah larut, mau nyari tukang rujak di mana?" Tanya Elsa.


"Tapi, Mas'nya pengen. Pengen banget, Yang." Gia benar-benar membuat Elsa kesal. Kalau saja Gia bukan sedang mengalami syndrom simpatik, sudah pasti Elsa akan mengabaikannya.

__ADS_1


Akan tetapi, Elsa tak bisa diam saja. Karena ini juga karena Babby yang dia kandung.


Elsa hanya bisa mendesah pasrah, akhirnya dia pun meninggalkan Gia. Dia mencari pelayan untuk meminta bantuannya, Elsa ternyata sangat beruntung.


Karena ternyata, di belakang rumah Tuan Dirja ada pohon mangga yang sedang berbuah. Elsa pun dengan cepat meminta tukang kebun untuk memetikan buah mangga muda untuk yang mulia Raja.


Tukang kebun pun dengan sigap langsung memanjat dan memetik beberapa buah mangga yang masih muda.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan oleh VB, Elsa pun langsung membuatkan bumbu rujaknya. Tentunya dengan cabe yang lumayan banyak, karena VB ingin memakan rujak yang terasa pedas.


"Selesai," ucap Elsa.


Elsa langsung menuangkan bumbu rujak lalu memotong mangga muda yang telah dicuci, tak lupa dia juga menyiapkan air hangat untuk minum Gia.


Elsa hanya takut jika Gia akan sakit perut jika memakan rujak yang sangat pedas, makanya dia sedia air hangat untuk suaminya yang sedang ngidam itu.


"Mas..." Elsa langsung menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa.


Elsa juga langsung meletakan rujak yang sudah dia siapkan, "dimakan, Mas."


"Makasih, Sayang." Ucap Gia.


Gia lalu mengambil sepotong mangga, lalu dia colekan ke bumbu rujak yang sudah Elsa buat.


"Emph... enak, Yang." Kata Gia sambil mengunyah buah mangga muda yang telah Elsa siapkan.


Elsa hanya bisa meringis sambil menutup mulutnya, dia merasa ngilu saat mangga muda itu mendarat dengan mulus di bibir Gia.


Tak lama, Elsa melihat Gia mengangkat piring rujak tersebut. Dia mengendus buah mangga tersebut dan juga mencium bau dari bumbu rujak tersebut.


"Wangi banget, Yang. Mas suka, wanginya bikin seger." Gia kembali menciumi buah mangga muda tersebut.


"Kok mangsanya ngga dimakan lagi?" tanya Elsa.


"Mas udah kenyang, nyium wanginya aja perut terasa udah penuh." Jawab Gia.

__ADS_1


Jawaban Gia berhasil membuat Elsa mendelik sebal.


__ADS_2