Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Bukan Aku Yang Mengundangnya


__ADS_3

Setelah kepergian Clarista, mom Clara, dokter Irawan dan juga Anita langsung melangkahkan kaki mereka menuju ruang makan.


Mereka pun makan dalam keadaan hening, pikiran mereka masih tertuju kepada ancaman dari Clarista.


Entah apa lagi yang akan diperbuat oleh wanita seperti Clarista, wanita yang selalu berbuat nekat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Kalau saja tidak memandang tali persaudaraan, pasti dokter Irawan sudah memberikan pelajaran yang setimpal untuk Clarista.


Namun sayangnya sampai saat ini dokter Irawan masih menjunjung tinggi rasa persaudaraan.


Tak lama kemudian, acara makan malam pun telah usai. Mom Clara mengajak dokter Irawan dan juga Anita untuk berbicara di ruang keluarga.


Tentu saja Anita dan juga dokter Irawan menurut, kini mereka bertiga sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Bagaimana kegiatan yang kalian lakukan hari ini, apakah menyenangkan?" tanya Mom Clara.


Mendengar pertanyaan dari mom Clara, Anita nampak tersenyum-senyum malu, lalu kemudian dia pun menjawab.


"Sangat menyenangkan, Mom. Walaupun Pak Dokter suamiku ini sangat iseng," ucap Anita.


Mendengar penuturan Anita, baik dokter Irawan ataupun mom Clara langsung tertawa. Dokter Irawan sangat suka dengan sikap Anita yang


terkesan ceplas-ceplos dan apa adanya.


Begitu pun dengan mom Clara, dia menyukai Anita yang selalu berkata dengan jujur. Walaupun terkesan masih kekanak-kanakan.


"Mom lihat dari wajah kalian, sepertinya kalian sangat capek. Beristirahatlah, acara resepsi pernikahan kalian tinggal lima hari lagi. Kalian harus benar-benar fit," kata Mom Clara.


Dokter Irawan dan Anita nampak setuju dengan apa yang diucapkan oleh mom Clara, mereka pun segera berpamitan untuk masuk ke dalam kamar dokter Irawan.


"Aku pamit, sudah lelah. Tapi, pengen usaha dulu sebelum tidur," kata Dokter Irawan.


Mom Clara nampak tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh putranya, dia tahu betul dengan apa arti yang diucapkan oleh putranya tersebut.


Dia juga sangat tahu, jika putranya pasti sudah tidak kuat, karena harus satu kamar dengan istrinya namun tak bisa menjamahnya.


Berbeda dengan Anita yang memang masih polos, dia hanya tersenyum lalu berpamitan kepada mertuanya tersebut.


"Anita juga pamit ya, Mom. Mau bobo cantik dulu," pamitnya kepada Mom Clara.


"Ya," jawab Mom Clara.


Setelah kepergian anak dan menantunya, mom Clara pun nampak masuk ke dalam kamarnya. Dia pun ingin beristirahat, karena seharian ini dia nampak sibuk untuk mengerjakan urusan kantor, walaupun hanya dari rumah saja.


Di dalam kamar.


Dokter Irawan dan Anita baru saja sampai di kamar utama, tanpa Anita duga dokter Irawan langsung mengangkat tubuh Anita dan menghempaskannya ke atas ranjang berukuran big size miliknya.


Anita nampak kaget, apa lagi saat dokter Irawan naik ke atas ranjang dan langsung mengungkung tubuhnya.


"Pak Dokter mau apa?" tanya Anita.


Anita terlihat menutupi dadanya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Mau kamu," jawab Dokter Irawan.


Anita terdiam, dia ingin sekali berlari. Namun hatinya berkata lain. Dia ingin memberikan hak suaminya, dia ingin menjadi wanita seutuhnya, dia ingin menjadi istri yang sesungguhnya.


"Kalau diam, berarti boleh." Dokter Irawan mengusap pipi Anita dengan lembut sekali.


Anita hanya terdiam sambil memperhatikan wajah suaminya yang terlihat begitu menginginkan dirinya.


Dokter Irawan nampak tersenyum, kemudian dia pun mengecupi setiap inci wajah istrinya dengan sangat lembut, yang terakhir dia labuhkan sebuah ciuman manis di bibir istrinya tersebut.


Anita hanya diam seraya menikmati tautan bibir yang begitu lembut dari dokter Irawan. Tak lama kemudian, terdengar dessahan disela ciuman mereka.


Karena dokter Irawan tiba-tiba saja meremat salah satu dada istrinya, dokter Irawan nampak bersorak dalam hatinya karena ternyata Anita sudah mulai mau membuka dirinya, untuk menjadi istrinya yang sesungguhnya.


Tangan nakal itu benar-benar tak mau diam, terus saja berusaha untuk mencari titik-titik sensitif istrinya.


Hal itu membuat Anita menggelinjang dan menggeliat tak karuan, Anita yang baru pertama kalinya mendapatkan sentuhan dari seorang pria, membuat dirinya mengeluarkan suara-suara yang terdengar aneh di telinganya.


"Suka?" tanya Dokter Irawan.


Anita menganggukkan kepalanya. "Suka, Pak Dokter," jawabnya malu-malu.


"Boleh buka bajunya?" tanya Dokter Irawan.


"Ma--mau apa?" tanya Anita gugup.


"Mau nyicipin buah yang masih mengkel banget, penasaran rasanya kaya apa," jawab Dokter Irawan seraya mengusap dada Anita.


Anita tersenyum, dia tahu apa yang diinginkan oleh suaminya.


"Akhirnya!" Dokter Irawan bersorak.


"Ish! Pak Dokter jangan berisik, nanti Mom dengar." Anita memukul pundak suaminya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya, dokter Irawan nampak terkekeh.


"Kamar kita kedap suara, Sayang. Kamu mau menjerit sekencang apa pun Mom tidak akan dengar," jawab Dokter Irawan.


Anita terlihat malu-malu, lalu dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Dasar bocah," ucap Dokter Irawan.


Tanpa menghiraukan istrinya lagi, dokter Irawan langsung membuka kancing kemeja istrinya satu persatu.


Setelah tebuka semua, dokter Irawan nampak tersenyum karena ternyata ukuran dada istrinya tidak terlalu besar, namun pas saat dia pegang.


Anita terlihat menggigit bibir bawahnya saat tangan dokter Irawan sudah bermain di dadanya, bahkan dia langsung melenguh kala tangan dokter Irawan memilin dan menarik lembut ujung dadanya.


"P--pak Dokter!" Anita terlihat menggeliat seraya memejamkan matanya, dia terlihat menikmati rasa yang baru saja menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Apa, Sayang?" tanya Dokter Irawan.


Dokter Irawan terlihat begitu gemas kala melihat wajah istrinya yang begitu menggoda di matanya.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus usaha lebih keras lagi agar ukurannya bertambah besar," ucap Dokter Irawan lirih.


Setelah mengatakan hal itu, dokter Irawan langsung maremat kedua buah mengkel milik istrinya secara bergantian.


Bahkan bibirnya tak mau tinggal diam, bibir nakal itu terlihat mencicipi kedua buah mengkel itu secara bergantian.


Hal itu membuat Anita merasa geli dan nikmat secara bersamaan, Anita benar-benar merasakan hal yang sama sekali belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Aku pengen kamu sekarang, boleh?" tanya Dokter Irawan.


Anita tak bisa berkata apa pun, dia sudah menjadi seorang istri. Sudah kewajibannya memberikan hak dokter Irawan sebagai suaminya.


"Boleh," jawab Anita malu-malu.


Mendengar jawaban istrinya, dokter Irawan terlihat tersenyum bahagia. Lalu dengan cepat dia membuka semua kain yang melekat di tubuhnya.


Untuk sesaat Anita terdiam, dia begitu mengagumi tubuh suaminya yang begitu indah untuk dilihat.


Hingga saat dokter Irawan membuka kain pelindung miliknya, Anita langsung menutup matanya. Dia merasakan sesak napas saat melihat belalai milik suaminya.


'Ya Tuhan, besar sekali. Apa karena dia turunan bule jadinya gede banget?' tanya Anita dalam hati.


"Aku buka ya, Sayang?" tanya Dokter Irawan.


Anita menganggukkan kepalanya tanpa membuka matanya.


Dokter Irawan pun dengan semangat membuka kain penutup bawah istrinya, hingga saat dia membuka kain tipis yang melindungi milik istrinya, dahinya nampak mengernyit.


"Kamu datang bulan?" tanya Dokter Irawan.


Mendengar pertanyaan dari suaminya, Anita langsung membuka matanya. Kemudian, dia pun langsung duduk dan melihat kain tipis yang sedang dipegang oleh suaminya.


Ada bercak darah di sana, itu tandanya tamu tak diundang itu sudah waktunya untuk datang.


"Maaf Pak Dokter, sepertinya dia baru datang. Maaf loh, aku tidak berniat untuk mengundangnya saat ini. Jangan marah," ucap Anita tertunduk lesu.


Sebenarnya dokter Irawan sangat ingin sekali marah, karena hasratnya yang sudah di ubun-ubun tak bisa tersalurkan.


Namun, dia merasa tak tega saat melihat wajah istri kecilnya. Apa lagi ini semua bukan karena kesalahan dirinya, namun karena tamu sialan itu yang datang bahkan tanpa diundang.


"Heh!"


Dokter Irawan nampak menghembuskan napasnya dengan berat, bahkan miliknya yang sudah berdiri tegak nampak layu seketika.


Seperti tanaman yang sudah satu bulan tak disiram air, layu dan seakan tak bisa tumbuh kembali.


"Pergilah ke kamar mandi, aku akan meminta bibi untuk membelikan pembalut untuk kamu," ucap Dokter Irawan lesu.


Anita menurut, dia nampak berlari menuju kamar mandi.


'Ya Tuhan, masih harus menunggu satu minggu.' Dia berkata dalam hati.


Dokter Irawan segera turun dari ranjang, kemudian dia pun mengambil kimono mandi dan segera memakainya.

__ADS_1


Lalu, dia pun melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar tersebut. Karena, dia ingin meminta salah satu pelayan di sana untuk membelikan pembalut untuk istrinya.


__ADS_2