
"Bukan, bukan itu maksud aku. Bentuk tubuh kamu itu gedenya, pas," ralat Kiandra.
"Beneran?" tanya Aurora.
"Iya, bener. Jangan parno kaya gitu, lagian aku hanya bercanda," kata Kiandra.
"Kamu tuh nyebelin!" kata Aurora.
"Tapi ngangenin, kan?" tanya Kiandra.
"Apanya yang ngangenin, mendingan juga Kan Jef daripada kamu," kata Aurora.
"Bener, ya? Kalau begitu mulai besok kamu belajar lukisnya sama Jefri aja, jangan sama aku," kata Kiandra.
"Tuh, kan. Kakak nyebelin emang," kata Aurora kesal.
*/*
Gia merasa jika Kiandra terlalu lama mengajak Aurora untuk berbicara, akhirnya Gia memutuskan untuk menyusul putri sulungnya.
Gia berjalan beriringan dengan Ajun, Aurelia terlihat berjalan dengan Elsa. Cristian yang merasa penasaran terlihat mengekori langkah mereka dari belakang.
Tiba di taman, Gia melihat Kiandra yang tengah duduk berdua di bangku taman dengan putrinya, Aurora.
Gia langsung menghampiri mereka dan duduk tepat diantara Aurora dan juga Kiandra, Gia terlihat merangkul pundak Aurora lalu menatap wajah Kiandra dengan lekat.
"Apa yang kalian obrolkan? Kenapa lama sekali?" tanya Gia.
Mendapatkan pertanyaan dari Gia, pria berusia dua puluh dua tahun itu langsung berkata.
"Hanya obrolan biasa, obrolan dari pertemuan pertama kita bertemu," kata Kiandra.
Mendengar jawaban dari Kiandra, Gia terlihat memicingkan matanya. Kemudian, dia memalingkan wajahnya dan menatap wajah Aurora.
__ADS_1
"Memangnya kapan kalian pernah bertemu?" tanya Gia.
Aurora terlihat mengusap dagunya, alisnya terlihat bertaut. Dia seolah sedang mengingat kapan pertemuan pertamanya dengan Kiandra.
"Sudah sangat lama, kalau tidak salah saat Bunda melahirkan baby Adelia. Kami bertemu di Rumah Sakit," kata Aurora.
Kiandra tersenyum karena Aurora masih mengingat pertemuan pertama mereka.
"Ya, saat itu aku sedang mengantar Ibuku untuk berobat, dia tidak pernah bilang sakit apa. Dia hanya berkata jika dia mau cek kesehatan," kata Kiandra sendu.
"Hey! Sudahlah, kita di sini untuk bersenang-senang. Untuk apa bersedih, lagi pula Ibumu sudah bahagia di sana. Sudah tidak merasakan sakit lagi," tutur Gia.
"Tuan, Benar!" sahut Kiandra.
"Sebentar lagi acaranya mau selesai, bergabunglah dengan yang lainnya," kata Gia.
"Nanti, saya masuk!" kata Kiandra.
"Ehm, Ayah. Aku sudah lelah, mau pulang saja boleh?" tanya Aurora.
"Aku sudah tidak betah, mau ganti baju." Aurora merengek sambil menghentakkan kakinya.
"Baiklah, minta pak Sopir untuk mengantar kamu pulang," kata Gia.
"Mas, aku juga pulang saja, ya?" pinta Elsa.
"No, kamu harus nemenin aku. Ini acara penting kita, Sayang." Gia menolak.
"Baiklah!" kata Elsa pasrah.
"Ehm, Tuan Gia. Bagaimana kalau saya saja yang mengantarkan Nona Aurora pulang?" tawar Kiandra.
Gia terlihat menatap Kiandra dengan tatapan tajamnya, Gia seolah sedang menelisik apa maksud dari tawaran Kiandra.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku sangat menyukai putri anda, Tuan. Anda pasti tahu prinsip seorang pria terhadap wanita yang dia sukai," kata Kiandra.
"Baiklah, aku percaya. Awas saja kalau sampai ada se--"
"Mas!" panggil Elsa.
"Oke, Sayang. Mas percaya pada pria muda ini," kata Gia seraya menepuk pundak Kiandra.
Setelah mendapatkan izin dari Gia, Kiandra langsung mengantarkan Aurora untuk pergi menuju kediaman Pranadtja.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Pranadtja, Aurora hanya diam saja. Kiandra pun sama, namun dalam diamnya dia terus saja memperhatikan wajah Aurora.
Semakin hari rasanya wajah Aurora semakin cantik saja, bahkan kalau saja Aurora sudah cukup umur, rasanya Kiandra ingin langsung meminang Aurora.
Selama ini dia selalu merasa kesepian, mungkin dengan menikahi Aurora dia akan mempunyai teman berbagi rasa, pikirnya.
"Ehm! Nona Aurora, di usia berapa kamu akan menikah?" tanya Kiandra.
Aurora langsung memalingkan wajahnya dan menatap wajah Kiandra.
"Maksudnya aku? Menikah?" tanya Aurora.
"Ya," jawab Kiandra.
"Berpacaran saja aku belum boleh, bagaimana bisa aku menargetkan diri untuk menikah?" tanya Aurora.
"Jadi, di usia berapa kamu untuk menikah?" tanya Kiandra.
"Setelah ayah memberikan izinnya, itupun kalau aku menemukan pria yang cocok untuk menjadi suamiku," jawab Aurora.
"Kalau begitu, aku harus mendekati ayahmu dan meminta restu padanya," celetuk Kiandra.
"Maksudnya?" tanya Aurora.
__ADS_1
"Nanti kamu akan tahu," jawab Kiandra.